分享

Bab 54

作者: Joker Sarjana
last update publish date: 2026-09-03 11:57:21
Ririn terbaring telentang di atas kasur dengan mata terpejam rapat. Helaian rambut hitamnya yang panjang berantakan menutupi sebagian bantal, sementara kedua tangannya mencengkeram erat seprai kasur di sisi kanan dan kiri tubuhnya.

Rona merah masih jelas terukir di pipi mulus hingga ke leher jenjangnya, menyisakan sisa-sisa keterkejutan dan kenikmatan luar biasa yang baru saja ia rasakan untuk pertama kalinya seumur hidup.

Maman bergeser sedikit, menopang tubuh bagian atasnya dengan satu sik
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 139

    Tiga bulan kemudian, halaman Panti Asuhan Kasih Bunda penuh orang. Bangunan barunya sudah berdiri, dua lantai dengan cat kuning cerah dan taman kecil di depan. Di atas pintu masuk terpasang spanduk besar bertuliskan PERESMIAN PANTI KASIH BUNDA."Spanduknya miring," kata Ririn sambil menyipitkan mata."Kata siapa miring?" Rudi berdiri di atas tangga, memegang ujung spanduk. "Itu desain modern.""Rud, miring tuh miring.""Ini miring artistik.""Turun dulu, nanti jatuh.""Aku nggak akan jatuh. Aku sudah pengalaman diserang makhluk gaib, masa jatuh dari tangga?"Baru selesai bicara, tangganya bergoyang. Rudi berteriak dan memeluk tiang spanduk. Maman dan Lisa buru-buru memegangi kaki tangga."Tuh kan," kata Lisa. "Sombong sedikit langsung dihukum alam.""Itu bukan hukuman, itu... gangguan teknis!"Sari berlari menghampiri sambil membawa boneka kelinci biru. Telinganya sekarang utuh, dijahit rapi oleh Laras. "Kak Rudi, turun! Nanti Kakak jatuh beneran!""Iya, Sari. Kakak turun pelan-pelan.

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 138

    Maman membaca ulang pesan itu. Ririn ikut menunduk di sebelahnya."Dia nyebut nama Bayu," kata Ririn. "Padahal kamu baru tahu nama itu dua hari lalu.""Berarti dia tahu kejadian di bawah panti.""Atau dia memang bagian dari kejadian itu."Rudi berdiri sambil membawa nampan kosong. "Kalian bisik-bisik soal apa? Soal bakso? Kalau ada komplain, sampaikan langsung ke koki.""Bukan soal bakso, Rud." Maman menyodorkan ponselnya.Rudi membaca pesan itu, lalu melihat fotonya. Wajahnya langsung berubah. "K.S? Itu inisial cincin yang bikin kita naik gunung?""Iya.""Bukannya orangnya udah ditelan pilar?""Itu juga yang mau kita cari tahu."Lisa mengambil ponsel itu dan melacak nomornya dengan laptop cadangan. Ia mengetik cepat sambil menggigit bibir. Sepuluh menit kemudian, ia mengangkat wajah."Nomornya terdaftar atas nama Pak Kades Sukamati.""Kades yang anaknya Karta?" tanya Ririn."Iya. Dan lokasi ponselnya sekarang ada di desa itu."Rudi menjatuhkan nampannya. "Balik ke desa kuntilanak? Ak

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 137

    Maman berdiri kaku. Tangannya masih terangkat setengah, seperti baru akan memeluk."Bu," katanya pelan. "Ini aku. Bayu."Laras mengerutkan dahi, berusaha keras mengingat. "Bayu... nama itu rasanya kukenal. Tapi aku nggak bisa ingat wajah kamu. Maaf, Nak.""Nggak apa-apa.""Kamu kelihatan sedih.""Aku cuma capek, Bu."Surya mendekat dan menyentuh bahu istrinya. "Laras, kamu ingat aku?"Laras menoleh. Matanya langsung hangat. "Surya. Tentu saja.""Dan Raka?""Raka juga." Ia menatap Raka sambil tersenyum. "Kamu tinggi sekali sekarang.""Terus yang ini siapa, Bu?" tanya Raka sambil menunjuk Maman. Suaranya bergetar.Laras menatap Maman lama. Ada sesuatu di wajahnya, tapi ingatannya tidak mau muncul. "Aku cuma ingat... waktu itu aku hamil lagi. Anakku yang kedua. Tapi aku nggak ingat dia lahir.""Yang kedua itu Sari," kata Surya pelan.Sari melangkah maju sambil memeluk boneka kelinci kosong. "Ibu ingat Sari?""Ibu kenal kamu karena Mimi," jawab Laras sambil mengelus rambutnya. "Kamu hanga

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 136

    Hartono, atau sosok yang memakai tubuhnya, memutar leher sampai berbunyi. Mata ungunya menyapu semua orang di lapangan. "Ramai juga," katanya santai. "Padahal aku cuma mau lewat." "Lewat ke mana?" tanya Maman sambil berdiri di depan Ririn. "Ke bawah panti. Ke pintu." Ia menunjuk reruntuhan bangunan di seberang jalan. "Ki Dasar yang lembek itu memilih jadi teman. Aku tidak. Aku dibuat untuk menjaga pintu, dan aku benci setiap detiknya." "Jadi kamu mau membukanya?" "Mau melihat apa yang selama ini kujaga. Itu saja." "Dan kalau terbuka, dunia ini kena," sahut Surya dingin. "Itu bukan masalahku." Rudi, yang masih berlutut sambil memegangi leher, mengangkat tangan lemah. "Permisi. Boleh nanya?" "Diam, Rud," bisik Lisa. "Aku cuma mau tahu, kamu punya nama nggak? Soalnya dari tadi aku manggil kamu 'yang bukan Ki Dasar', capek juga." Sosok itu menoleh padanya. "Mereka menyebutku Si Penolak." "Kedengarannya kayak orang yang sering ditolak lamarannya." Ririn menahan taw

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 135

    "Sari! Sar, bangun!" Raka mengguncang bahu gadis kecil itu pelan-pelan. Tidak ada reaksi. Napasnya sangat tipis. Maman berlutut dan memeriksa nadinya. "Masih ada. Tapi lemah banget." "Eyang!" Ia memegang dadanya. "Ada cara?" *Ada,* jawab Eyang. *Tapi kamu nggak akan suka.* *Aku nggak peduli suka atau nggak. Bilang!* *Rajah putih itu kosong. Dia butuh sesuatu untuk mengisi, dan sesuatu itu harus sama jenisnya dengan yang menyegel.* *Maksudnya?* *Penjaga. Ki Dasar dulu dibuat jadi penjaga pintu. Kalau dia sekarang mau jadi teman, pintunya butuh penjaga baru. Kalau tidak, pintunya terbuka.* *Siapa yang jadi penjaga?* Eyang diam sebentar. *Aku.* Maman terdiam. *Apa?* *Aku sudah ratusan tahun hidup di tubuh keturunanku. Aku sudah terlalu lama. Dan aku berutang janji pada makhluk itu.* *Kalau Eyang pergi, Eyang nggak akan ada lagi di kepalaku?* *Betul.* *Eyang nggak boleh...* *Bayu.* Suara Eyang terdengar lembut. *Selama ini kamu merasa aku cuma mengganggu. Ta

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 134

    "Nggak," kata Maman cepat. "Nggak ada yang tidur selamanya." Sari menatapnya. "Kak Bayu, aku cuma bilang apa yang Mimi bilang." "Mimi itu boneka, Sar." "Mimi itu Ibu." Sari mengangkat boneka kelinci biru itu dan menatap Laras. "Ibu juga lihat, kan?" Laras berlutut dan memegang telinga boneka yang putus sebelah. Tangannya gemetar. "Ibu yang jahit boneka ini. Dua puluh tahun lalu, sebelum kebakaran. Ibu nggak sempat kasih ke kamu." "Ibu nyimpen jiwa Ibu di boneka itu?" tanya Raka. "Bukan Ibu yang sengaja." Laras menggeleng. "Waktu Ki Dasar mulai menarikku, bagian dari diriku masuk ke satu-satunya benda yang kupegang. Boneka itu." "Dan boneka itu ditemukan di depan gerbang panti bersama Sari," gumam Surya. "Karena Sari memang dilahirkan setelah itu," lanjut Laras pelan. "Aku nggak tahu bagaimana. Mungkin anak ini lahir dari sisa kekuatan yang nggak bisa dipakai Ki Dasar." Hartono yang berdiri di pojok ruangan menunduk. "Aku tahu soal ini." Semua menoleh. "Aku tahu La

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status