LOGINRuangan tengah rumah aman yang tadinya terang kini berubah gelap gulita setelah aliran listrik diputus secara paksa.Hanya pendar cahaya keemasan dari rajah bintang panca di telapak tangan Maman yang menjadi satu-satunya sumber penerangan, memantulkan bayangan tegas di dinding ruangan.Ririn dan Lisa berdiri berdekatan di dekat sudut ruang keluarga, napas keduanya terdengar memburu akibat rasa panik yang mendadak menyerang.Togel langsung bergerak sigap, merangkul bahu kedua wanita itu sambil menarik mereka mundur perlahan menjauhi area pintu depan."Jangan jauh-jauh dari gua, Rin, Lis! Tetap di belakang badan gua!" bisik Togel setengah berbisik namun tegas, matanya awas menatap bayangan-bayangan hitam yang mulai merayap mendekati teras rumah lewat jendela kaca."Man, bagaimana ini? Mereka datang dalam jumlah banyak!" seru Lisa dengan suara bergetar ketakutan, menatap ke arah pintu depan yang mulai diguncang keras dari luar.Maman tidak langsung menjawab. Ia berdiri tegak di tengah ru
Malam perlahan merayap turun di kota, membawa serta angin sepoi-sepoi yang menyejukkan setelah seharian diterpa terik matahari.Di ruang tengah rumah aman, suasana terasa begitu tenang dan hangat. Lampu gantung kuning temaram memancarkan cahaya lembut ke sekeliling ruangan, menerangi Maman yang sedang duduk bersila di atas permadani, sementara Ririn dan Lisa sibuk membereskan cangkir bekas kopi di dekat meja makan.Togel sendiri, seperti biasa, tengah merebahkan diri di sofa empuk sambil memainkan ponselnya, mencari-cari video kuliner malam yang menggugah selera."Man, jujur ya, semenjak kita beresin urusan di Dusun Sumberrejo kemarin, rasanya badan tuh mendadak enteng banget. Nggak ada dering telepon dari Kolonel Hartono, nggak ada preman nyasar, nggak ada bos mafia yang ngajak adu jotos di pelabuhan. Kalo begini terus, berat badan gua bisa naik sepuluh kilo gara-gara kerjaannya cuma makan sama tidur," keluh Togel setengah bercanda, meletakkan ponselnya di atas dada.Ririn yang mende
Sinar matahari pagi menyinari genting-genting rumah di dusun Sumberrejo dengan kehangatan yang menenangkan.Burung-burung berkicau bersahutan di atas dahan pohon mangga, seolah merayakan hari baru yang bersih dari segala ancaman maupun teror.Di balai dusun, warga tampak sibuk bergotong royong menyiapkan hidangan sederhana untuk acara selamatan penutupan terowongan penambangan ilegal kemarin sore. Aroma sedap bawang goreng, ayam panggang, dan sambal terasi mengepul menggugah selera di udara pegunungan yang sejuk.Maman duduk di kursi kayu beranda balai dusun bersama Pak Kardi dan Slamet. Wajah kepala dusun paruh baya itu tampak jauh lebih segar, kerutan di keningnya seolah lenyap berganti senyuman lebar yang tak pernah surut dari bibirnya sejak semalam."Sumpah ya, Nak Maman, saya tadinya sudah pasrah kalau bukit belakang dusun bakal hancur digerus sama alat-alat berat penambang liar itu," ucap Pak Kardi penuh rasa syukur sambil menyeruput kopi hitamnya. "Tapi berkat pertolongan njen
Maman duduk bersila di atas bale-bale bambu di samping rumah, menikmati udara pagi sambil memejamkan mata.Di telapak tangan kanannya, rajah bintang panca kini tampak menyatu sempurna dengan kulitnya, tidak lagi memancarkan pendar cahaya yang menyilaukan, melainkan berdenyut lembut seirama dengan deru napasnya.Amanah baru yang diberikan oleh Kolonel Hartono dan Pak Baskoro beberapa hari lalu tidak membuatnya besar kepala, ia tetaplah Maman yang sederhana, pemuda dusun yang hanya ingin hidup tenang bersama orang-orang terkasihnya.Namun, ketenangan pagi itu tidak berlangsung lama ketika suara deru motor bebek tua yang sudah sangat familiar tiba-tiba memecah kesunyian jalan di depan rumah.Brangkang-brangkang... tretek-tretek!Motor Honda Supra berkondeksi mengenaskan milik Slamet berhenti mendadak di depan pagar kayu. Tanpa menunggu lama, Slamet langsung melompat turun dari motor dengan napas terengah-engah. Ia bahkan lupa menstandarkan motornya hingga motor bebek itu hampir roboh ke
Matahari pagi baru saja menyembulkan sinarnya di balik punggung bukit Dusun Sumberrejo, memancarkan bias keemasan yang menembus sela-sela rumpun bambu.Udara pegunungan terasa begitu sejuk, menyisakan tetesan embun pagi yang masih menggantung di ujung-ujung daun tebu.Di halaman balai dusun, motor trail Maman sudah terparkir rapi dengan mesin yang dibiarkan menyala stasioner, mengeluarkan bunyi deru halus yang khas.Togel tampak sedang sibuk mengikat ransel besarnya di bagian belakang jok motor, sementara Slamet berdiri di dekatnya sambil memegangi termos kecil berisi teh hangat—bekal tambahan untuk perjalanan pulang."Wah, beneran nggak mau nginep semalam lagi nih, Pak Maman? Padahal warga dusun sudah nyiapin acara syukuran lanjutan siang nanti, mau nanggap ketoprak keliling lho!" bujuk Slamet dengan muka melas, berharap sang pahlawan dusun itu mau memperpanjang masa tinggalnya.Maman yang sedang merapikan jaket kulitnya tersenyum tipis. Ia menepuk pelan bahu Slamet yang tampak engga
Warga yang tadinya ketakutan setengah mati kini berbondong-bondong keluar rumah, meluber ke halaman balai dusun untuk menyaksikan langsung sosok pemuda yang dianggap sebagai penyelamat kampung mereka.Di beranda balai dusun, Pak Kardi selaku kepala dusun menyuguhkan sepiring pisang kepok rebus hangat dan teko liat berisi teh pahit kepada Maman dan Togel.Wajah Pak Kardi tampak sumringah, garis-garis kerutan di keningnya sedikit mengendur dibandingkan kemarin."Wah, Nak Maman ini bener-bener pahlawan sejati buat dusun kami," ucap Pak Kardi penuh rasa syukur, menuangkan teh ke dalam cangkir keramik Maman. "Kami tadinya sudah pasrah kalau sumur keramat itu bakal ditutup permanen sama perusahaan sawit swasta siluman itu. Nggak nyangka bakal terbongkar secepat ini sama njenengan."Maman menyeruput teh hangatnya perlahan, lalu tersenyum tipis. "Sudah kewajibannya, Pak Kardi. Lagian cara mereka main kotor pakai racun limbah di sumur warga itu sudah keterlaluan. Untung saja ketahuan sebelum d







