LOGINWanita itu berdiri diam di sebelah Hartono. Tangannya terkulai, tatapannya kosong. Di lehernya melingkar kalung perak berliontin merah, mirip yang dipakai Raka."Ibu..." suara Maman keluar sendiri, bergetar. Warna cokelat di matanya makin banyak, dan Eyang mulai kehilangan kendali."Namanya Laras," kata Hartono. "Kamu tidak ingat, tentu saja. Kamu baru enam tahun waktu itu.""Kenapa dia ada di sini?" tanya Ririn dengan suara tajam. "Kamu bilang dia meninggal.""Aku bilang dia tidak mati di kebakaran. Aku tidak bilang dia hidup bebas." Hartono menepuk bahu wanita itu pelan, seperti menepuk barang miliknya. "Dua puluh tahun dia tidur. Aku bangunkan tadi malam, khusus untuk reuni ini."Togel menyeka debu dari mukanya dan berdiri. "Kolonel, saya orang kecil, tapi saya tahu ini namanya kelewatan. Itu istri Bapak sendiri.""Mantan istri.""Tetap aja!"Hartono mengabaikannya. Ia menoleh pada Laras. "Sayang, anakmu pulang. Sapa dia."Laras mengangkat kepala pelan. Bibirnya bergerak. Tidak ada
Tidak ada yang bergerak. Hanya terdengar suara klik pelan dari belasan senapan yang siap."Kolonel," kata Maman pelan. "Jadi selama ini Bapak yang menyegel saya?""Aku yang memulainya," jawab Hartono tenang. "Bu Ratmi hanya menyempurnakan. Dia wanita baik, tapi terlalu penurut."Bu Ratmi menunduk. Bahunya bergetar.Togel maju satu langkah sambil mengangkat linggisnya. "Kolonel, saya mau tanya baik-baik. Bapak ini sebenarnya bos kami atau musuh kami? Soalnya gaji saya bulan lalu masih Bapak yang transfer.""Kamu lucu seperti biasa, Gel.""Itu bukan jawaban.""Jawabannya: aku orang yang membuat kalian semua bertahan hidup sampai hari ini." Hartono menutup kotak kayunya dan menyelipkannya ke saku. "Laboratorium Kreshna, kuntilanak Sukamati, gerbang Lawu. Menurut kalian siapa yang kasih kalian informasi dan akses selama ini?"Ririn berdiri di depan Maman, tubuhnya masih goyah. "Jadi semua itu kamu yang atur?""Tidak semuanya. Tapi aku memastikan Maman selalu berada di tempat yang tepat, d
Lisa menggeleng. Wajahnya pucat, ponsel masih di tangannya. "Aku nggak tahu, Man. Videonya putus sebelum Dina selesai bicara.""Telepon balik," kata Togel."Nomornya nggak dikenal. Sudah kucoba, nggak aktif."Maman mencoba duduk. Ririn menahan bahunya. "Jangan dulu, Man. Badanmu masih lemas.""Aku nggak apa-apa." Maman mengusap keningnya. "Yang penting sekarang anak-anak. Mereka dibawa ke mana?""Tangga belakang," jawab Togel. "Ayo kita cek, sebelum orang-orang berjubah itu balik."Mereka keluar lewat tangga belakang. Togel memapah Maman, sementara Lisa membantu Ririn berjalan. Tangganya mengarah ke halaman samping panti, dan di sana mereka berhenti.Tiga puluh dua anak berbaring rapi di atas rumput. Selimut tipis menutupi tubuh mereka, dan dada mereka naik turun dengan teratur. Bu Ratmi duduk bersandar di bawah pohon mangga, matanya tertutup."Mereka semua hidup," kata Ririn lega. "Dia memang menepati janji.""Bukan menepati janji," sahut Lisa. "Dia cuma nggak butuh mereka lagi."Tog
Raka mundur dua langkah, lalu memasang kuda-kuda. Tangannya terangkat, dan cahaya merah berkumpul di telapak tangannya."Siapa kamu?" tanyanya."Kamu tahu siapa aku." Suara dua lapis itu terdengar santai. "Kamu sendiri yang mencari aku selama ini. Cuma kamu nggak tahu aku tinggal di dalam adikmu."Raka tidak menjawab. Ia melempar bola energi merah ke dada Maman.Duar!Ledakannya menyapu debu. Togel menutup wajah dengan lengan, sementara Lisa merunduk di dekat Ririn.Saat debu mereda, Maman masih berdiri di tempat yang sama. Bajunya sobek di bagian dada, tapi kulit di baliknya mulus. Bola merah tadi terserap ke telapak tangan kanannya dan berubah jadi cahaya emas gelap."Lumayan," katanya. "Tapi ini energiku sendiri yang kamu curi dua puluh tahun lalu.""Tidak mungkin...""Kamu pikir kekuatan Rajah Bintang Panca itu warisan keluargamu? Itu cuma serpihan yang bocor dari segelku."Raka menggertakkan gigi. Ia menarik dua belati hitam dari balik mantel, lalu menerjang. Gerakannya cepat, be
Tidak ada yang bicara selama beberapa detik. Debu hitam bekas Pak Haryo masih berserakan di lantai."Lisa," kata Maman pelan. "Bilang itu bercanda."Lisa menurunkan alat pemindainya dan menaruhnya di lantai. "Aku juga ingin bilang begitu, Man. Tapi kamu terlalu pintar untuk dibohongi lama-lama.""Jadi benar?" Togel melangkah maju dengan mata merah. "Kamu yang kasih tahu dia soal rajahnya Maman?""Benar.""Selama ini?""Sejak sebelum kalian kenal aku." Lisa menatap Togel lurus. "Kalian pikir kenapa aku bisa masuk rumah aman dengan mudah? Kenapa laboratorium Kreshna bisa bocor tepat waktu? Kenapa semua teror itu selalu mengarahkan Maman ke tempat tertentu?"Ririn mengerang dari lantai. Garis merah di bahunya sudah menjalar sampai ke leher. Wajahnya makin pucat. Maman refleks berlutut dan memegang tangannya."Rin, tahan.""Aku... masih kuat," bisik Ririn. "Jangan lihat aku. Lihat dia."Maman menoleh kembali ke Lisa. Suaranya turun, dingin. "Kenapa?"Lisa mengusap wajahnya. Untuk pertama
Pak Haryo berdiri kaku di ujung barisan. Matanya merah menyala, kulitnya pucat, dan dadanya tidak naik turun seperti orang bernapas."Gel," katanya dengan suara datar. "Lama tidak ketemu."Togel mundur selangkah. Wajahnya yang biasa cengengesan berubah kosong. "Pak... Bapak kan sudah meninggal tiga tahun lalu. Aku sendiri yang ikut angkat petinya.""Raka bilang aku boleh pulang sebentar," jawab Pak Haryo.Maman melirik Togel. "Siapa dia, Gel?""Dulu aku gelandangan, Man. Pak Haryo yang mungut aku, kasih makan, kasih kerjaan. Dia yang ngajarin aku cara bertahan hidup." Suara Togel mulai bergetar. "Dia bukan orang jahat."Raka tertawa pelan dari tengah ruangan. "Tentu bukan. Dia hanya cangkang. Isinya perintahku."Empat sosok lainnya maju bersamaan. Maman mengenali mereka satu per satu. Bagong, Kacung, si Codet, dan Jali. Preman pasar yang dulu ia hajar habis-habisan di awal ceritanya, dan seharusnya sudah mati atau masuk penjara."Kalian semua dibangkitkan?" tanya Maman."Dipinjam," ja







