LOGINCahaya matahari pagi menyusup melalui celah-celah tirai jendela kamar, memantulkan bias kekuningan di atas lantai kayu yang berserakan dengan pakaian yang terlepas sembarangan semalam.Di atas ranjang, Maman perlahan membuka kedua kelopak matanya. Rasa nyeri dan pegal-pegal akibat hantaman linggis preman di pabrik gula kemarin kini sudah jauh berkurang, tergantikan oleh sensasi hangat yang menyegarkan di sekujur tubuhnya.Di sebelah kirinya, Ririn tertidur pulas dengan posisi telungkup, wajahnya tampak damai sementara rambut hitamnya terurai berantakan menutupi separuh bantal.Di sisi sebelah kanan, Lisa memeluk lengan Maman dengan erat, napasnya teratur dan sesekali bibirnya yang kemerahan bergerak kecil dalam tidur lelapnya.Namun, ketenangan pagi itu tidak berlangsung lama.Tiba-tiba, telinga kanan Maman menangkap suara ketukan pintu pagar besi di halaman depan, disusul oleh suara deru mesin mobil sedan yang berhenti mendadak.Deg!Maman mempertajam pendengarannya, memfokuskan frek
Mereka baru saja tiba kembali di halaman rumah aman setelah kabur dari sergapan anak buah Juragan Surya di pabrik gula tua.Begitu mesin motor dimatikan, Maman langsung merosot turun dengan napas memburu dan peluh yang bercucuran di pelipisnya. Kotak besi peninggalan kolonial itu ia letakkan kasar di atas lantai teras."Sumpah, lengan kanan gua pegal banget, Gel," desis Maman sambil memegang bahunya yang terasa ngilu. Ia menyandarkan punggungnya ke tiang teras, meringis pelan.Togel yang ikut turun langsung terduduk di undakan tangga sambil mengelap keringat menggunakan lengan bajunya."Lu beruntung tadi nggak kena bacok, Man. Gua liat sendiri preman yang bawa linggis tadi hampir ngantam kepala lu kalau lu nggak nunduk pas di pojok ruangan. Nyaris banget!"Maman mengangguk lemah. Pertarungan barusan membuktikan bahwa dirinya tidak selamanya kebal.Melawan enam preman terlatih di ruang sempit nyaris membuat rusuknya retak akibat hantaman linggis besi.Tenaga fisik dan pendengaran super
"Sumpah ya, Man, bau tempat ini tuh kayak perpaduan antara bangkai tikus got sama mistis dukun beranak. Nggak ada aroma wangi gitu buat penyegar ruangan?" keluh Togel sambil menutup hidungnya menggunakan ujung kerah jaket. Ia berjalan mengendap-endap di belakang Maman, matanya awas menatap tumpukan karung gula usang yang berserakan di sudut bangsal pabrik tua."Udah, jangan banyak protes, Gel. Dinikmati aja suasananya. Kapan lagi lu diajak wisata sejarah gratis ke pabrik peninggalan Belanda sambil nyari harta karun?" sahut Maman santai, langkah kakinya tetap stabil menyusuri lantai semen pabrik yang berdebu tebal."Wisata sejarah kepala bapak kau! Ini mah wisata uji nyali namanya!" protes Togel lagi dengan nada setengah berbisik. "Kalau tiba-tiba ada noni Belanda lewat minta kenalan, gua duluan yang kabur!"Maman terkekeh kecil mendengar ocehan sahabatnya itu. Berdasarkan bisikan gaib yang ia terima tadi, kotak pusaka peninggalan kolonial itu terkubur tepat di bawah lantai beton ruang
Deru mesin motor trail yang dikendarai Maman membelah jalanan aspal kota kabupaten dengan kecepatan tinggi.Di belakangnya, Togel mengendarai motor satu lagi dengan napas memburu, berusaha mengimbangi laju Maman yang seolah terbakar oleh amarah.Panggilan panik dari Siska beberapa menit lalu masih berputar-putar di kepala Maman. Berani-beraninya anak buah Juragan Surya menyeret orang lain yang tidak tahu apa-apa ke dalam perseteruan mereka.Tidak sampai dua puluh menit kemudian, kedua motor itu tiba di kawasan ruko pasar yang mulai sepi.Suasana di sekitar blok toko barang antik milik Siska tampak lengang, namun di depan pintu rolling door toko yang setengah terbuka terparkir sebuah mobil minibus hitam mencurigakan—ciri khas kendaraan yang biasa dipakai oleh para pengawal bayaran Juragan Surya.Maman mematikan mesin motornya tepat beberapa meter dari toko tersebut. Ia turun dengan gerakan tenang namun penuh kewaspadaan, sementara Togel menyusul turun di sampingnya dengan wajah tegang.
Fajar menyingsing di balik punggung bukit utara Desa Watu Lemah, menyisakan sisa-sisa embun pagi yang menempel di ujung-ujung daun bambu.Suasana di halaman balai desa tampak lengang ketika Maman, Togel, Ririn, dan Lisa berdiri bersiap di samping dua unit motor trail seken yang kemarin mereka parkir di sana.Di hadapan mereka, Ketu dan Ki Ageng berdiri mengantar kepergian rombongan kecil tersebut dengan tatapan hormat."Ingat pesan saya, anak muda," ucap Ketu sambil menepuk pelan bahu Maman. "Koin ketiga yang ada di tangan kananmu itu baru permulaan dari rangkaian ujian yang jauh lebih besar. Semakin tinggi nomor koin yang kau dapatkan, semakin berat pula rintangan dan jenis musuh yang akan kau hadapi di luar sana."Maman tersenyum santai, membetulkan letak jaketnya. "Tenang aja, Kek. Selama jalannya lurus dan ada motor trail ini buat kabur, saya yakin semua beres. Makasih banyak ya tumpangan dan restunya selama di Watu Lemah."Ki Ageng mendengus kecil, meski kali ini tidak ada nada p
Sorot lampu senter dari lima pria berbadan kekar itu memantul liar di antara batang-batang pohon beringin tua.Di barisan paling depan, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh gempal dengan bekas luka sayatan di pipi kirinya—Bram, kepala pengawal kepercayaan Juragan Surya yang terkenal paling beringas.Bram menyeringai lebar, memperlihatkan deretan giginya yang kekuningan sambil menunjuk ke arah Maman dan Lisa dengan parang terhunus."Ketemu juga kalian tikus-tikus got!" geram Bram dengan suara menggelegar, memecah kesunyian malam di lembah Watu Lemah.Matanya melotot tajam menatap Lisa yang bersembunyi di belakang Maman. "Neng Lisa, jangan bikin malu keluarga besar Juragan Surya! Cepat kemari atau terpaksa kami seret pemuda desa kere ini dengan kondisi cacat seumur hidup!"Lisa merapatkan tubuhnya, mencengkeram erat ujung jaket Maman. Wajahnya pucat pasi ketakutan."Jangan, Man... Jangan dengar mereka..." bisik Lisa lirih, suaranya bergetar hebat.Maman menepuk pelan tangan Lisa yan







