Se connecterAroma wangi bunga melati dan dupa yang pekat mendadak semakin menyesakkan penciuman begitu lingkaran para wanita Desa Wanagiri semakin merapat.Maman berdiri di tengah-tengah kepungan itu tanpa sedikit pun menunjukkan kepanikan.Tangannya masih memegang erat setang motor trail, sementara telinga kanannya waspada menangkap setiap desiran napas dan gesekan kain dari puluhan wanita jelita di sekelilingnya.Wanita berkerudung kebaya merah yang berdiri paling dekat dengan Maman—yang belakangan diketahui bernama Nyi Kenanga, pemimpin adat di desa tersebut—tersenyum manis sambil menyentuh ujung kerah jaket kulit Maman.Tatapan matanya menyiratkan ketertarikan yang begitu dalam, namun ada kilatan dingin berbahaya di balik binar mata indahnya."Jangan tegang begitu, anak muda," bisik Nyi Kenanga lembut, jemarinya perlahan turun menyentuh dada bidang Maman. "Di Desa Wanagiri, tidak ada pria yang pernah kami perlakukan dengan buruk. Sebaliknya, kehadiranmu adalah berkah langka yang sudah puluhan
Udara pagi terasa jauh lebih lembap saat Maman memacu motor trailnya seorang diri membelah jalanan setapak berbatu yang kian lama kian menyempit.Sudah tiga hari berlalu sejak insiden penyerangan Juragan Surya di rumah aman yang berakhir dengan ketakutan luar biasa sang penguasa tanah tua itu. Namun, bukan berarti Maman bisa bersantai.Tepat semalam, bisikan gaib dari koin di telapak tangannya kembali bergetar hebat.Kali ini, frekuensinya berbeda dari biasanya—dengungan itu begitu tajam, menuntun Maman menuju sebuah kawasan terpencil yang konon dihindari oleh warga lokal karena dianggap sebagai tanah terlarang.Sebuah desa bernama Desa Wanagiri, yang terletak di balik lembah berkabut tebal.Maman sengaja tidak mengajak Togel, Ririn, maupun Lisa. Selain karena medannya yang terlalu berbahaya untuk perjalanan jarak jauh, instingnya mengatakan bahwa misi kali ini harus diselesaikan seorang diri.Setelah menempuh perjalanan melelahkan selama hampir empat jam menyusuri hutan lebat, motor
Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah-celah tirai jendela kamar, memantulkan bias kekuningan di atas lantai kayu yang berserakan dengan pakaian yang terlepas sembarangan semalam.Di atas ranjang, Maman perlahan membuka kedua kelopak matanya. Rasa nyeri dan pegal-pegal akibat hantaman linggis preman di pabrik gula kemarin kini sudah jauh berkurang, tergantikan oleh sensasi hangat yang menyegarkan di sekujur tubuhnya.Di sebelah kirinya, Ririn tertidur pulas dengan posisi telungkup, wajahnya tampak damai sementara rambut hitamnya terurai berantakan menutupi separuh bantal.Di sisi sebelah kanan, Lisa memeluk lengan Maman dengan erat, napasnya teratur dan sesekali bibirnya yang kemerahan bergerak kecil dalam tidur lelapnya.Namun, ketenangan pagi itu tidak berlangsung lama.Tiba-tiba, telinga kanan Maman menangkap suara ketukan pintu pagar besi di halaman depan, disusul oleh suara deru mesin mobil sedan yang berhenti mendadak.Deg!Maman mempertajam pendengarannya, memfokuskan frek
Mereka baru saja tiba kembali di halaman rumah aman setelah kabur dari sergapan anak buah Juragan Surya di pabrik gula tua.Begitu mesin motor dimatikan, Maman langsung merosot turun dengan napas memburu dan peluh yang bercucuran di pelipisnya. Kotak besi peninggalan kolonial itu ia letakkan kasar di atas lantai teras."Sumpah, lengan kanan gua pegal banget, Gel," desis Maman sambil memegang bahunya yang terasa ngilu. Ia menyandarkan punggungnya ke tiang teras, meringis pelan.Togel yang ikut turun langsung terduduk di undakan tangga sambil mengelap keringat menggunakan lengan bajunya."Lu beruntung tadi nggak kena bacok, Man. Gua liat sendiri preman yang bawa linggis tadi hampir ngantam kepala lu kalau lu nggak nunduk pas di pojok ruangan. Nyaris banget!"Maman mengangguk lemah. Pertarungan barusan membuktikan bahwa dirinya tidak selamanya kebal.Melawan enam preman terlatih di ruang sempit nyaris membuat rusuknya retak akibat hantaman linggis besi.Tenaga fisik dan pendengaran super
"Sumpah ya, Man, bau tempat ini tuh kayak perpaduan antara bangkai tikus got sama mistis dukun beranak. Nggak ada aroma wangi gitu buat penyegar ruangan?" keluh Togel sambil menutup hidungnya menggunakan ujung kerah jaket. Ia berjalan mengendap-endap di belakang Maman, matanya awas menatap tumpukan karung gula usang yang berserakan di sudut bangsal pabrik tua."Udah, jangan banyak protes, Gel. Dinikmati aja suasananya. Kapan lagi lu diajak wisata sejarah gratis ke pabrik peninggalan Belanda sambil nyari harta karun?" sahut Maman santai, langkah kakinya tetap stabil menyusuri lantai semen pabrik yang berdebu tebal."Wisata sejarah kepala bapak kau! Ini mah wisata uji nyali namanya!" protes Togel lagi dengan nada setengah berbisik. "Kalau tiba-tiba ada noni Belanda lewat minta kenalan, gua duluan yang kabur!"Maman terkekeh kecil mendengar ocehan sahabatnya itu. Berdasarkan bisikan gaib yang ia terima tadi, kotak pusaka peninggalan kolonial itu terkubur tepat di bawah lantai beton ruang
Deru mesin motor trail yang dikendarai Maman membelah jalanan aspal kota kabupaten dengan kecepatan tinggi.Di belakangnya, Togel mengendarai motor satu lagi dengan napas memburu, berusaha mengimbangi laju Maman yang seolah terbakar oleh amarah.Panggilan panik dari Siska beberapa menit lalu masih berputar-putar di kepala Maman. Berani-beraninya anak buah Juragan Surya menyeret orang lain yang tidak tahu apa-apa ke dalam perseteruan mereka.Tidak sampai dua puluh menit kemudian, kedua motor itu tiba di kawasan ruko pasar yang mulai sepi.Suasana di sekitar blok toko barang antik milik Siska tampak lengang, namun di depan pintu rolling door toko yang setengah terbuka terparkir sebuah mobil minibus hitam mencurigakan—ciri khas kendaraan yang biasa dipakai oleh para pengawal bayaran Juragan Surya.Maman mematikan mesin motornya tepat beberapa meter dari toko tersebut. Ia turun dengan gerakan tenang namun penuh kewaspadaan, sementara Togel menyusul turun di sampingnya dengan wajah tegang.







