Beranda / Fantasi / Mandat Langit / Bab 9 — Hujan dan Burung Hitam

Share

Bab 9 — Hujan dan Burung Hitam

Penulis: Chouw
last update Tanggal publikasi: 2026-03-20 11:05:55

Malam turun cepat setelah senja, seolah langit tidak ingin memberi waktu untuk bersiap.

Aku baru saja duduk ketika Lin Suyin berkata bahwa orang-orang yang mengejarku bukan bandit. Kata-kata itu belum sempat kupahami sepenuhnya, tetapi tubuhku sudah lebih dulu merasakan bahaya. Udara di lorong penginapan terasa lebih berat, suara di bawah makin berkurang, dan entah kenapa, pelita-pelita di dinding tampak lebih redup daripada biasanya.

Lin Suyin berdiri dekat jendela, membuka celah kecil pad
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mandat Langit   Bab 14 — Orang Baik yang Datang Terlalu Cepat

    Paviliun Pengawas berdiri di sisi timur Yunling, sedikit lebih tinggi daripada Paviliun Samping. Tempat itu tidak besar, namun posisinya seperti mata yang menatap lereng gunung. Dari serambinya, aku bisa melihat jalan setapak menuju gerbang, barisan pohon pinus, juga kabut yang menggulung turun seperti ombak. Di sinilah orang-orang sekte menahan tamu yang “terlalu penting untuk dilepas” dan “terlalu berbahaya untuk dibiarkan bebas.” Aku disuruh duduk di dalam ruangan kayu yang cukup rapi. Tidak ada tali yang mengikat, tetapi dua murid berjaga di luar pintu, pedang mereka tidak pernah jauh dari tangan. Lin Suyin berdiri di sudut ruangan, punggungnya bersandar pada tiang, matanya menghadap ke luar jendela yang tertutup setengah. Ia tidak bicara. Ia tampak seperti patung yang diletakkan untuk mengingatkan bahwa aku tidak sendirian, tapi juga tidak bebas. Aku mencoba menenangkan detak jantungku. Kabut di luar bergerak pelan, namun pikiranku bergerak lebih cepat. Aku teringat kat

  • Mandat Langit   Bab 13 — Pedang yang Terhunus di Tengah Malam

    Malam di Yunling biasanya sunyi. Sekte pedang tidak suka suara berlebihan setelah lonceng malam berbunyi. Para murid kembali ke paviliun masing-masing, tetua beristirahat, dan hanya penjaga gerbang yang tetap berjalan di lorong-lorong batu, langkah mereka teratur seperti ritme napas. Namun malam ini, kesunyian itu patah. Aku mengikuti Lin Suyin keluar dari Paviliun Samping dengan jubahku yang basah oleh kabut dan keringat dingin. Di belakang kami, lentera paviliun bergoyang pelan, seolah ikut gemetar. Lin Suyin tidak memberi waktu untuk menenangkan diri, tidak memberi ruang untuk bertanya. Ia menggenggam lenganku kuat, menarikku berjalan cepat di bawah pohon pinus yang menjulang seperti bayangan. “Kau yakin harus sekarang?” bisikku. Lin Suyin tidak menoleh. “Sekarang atau terlambat.” Kami melewati jalan setapak yang naik ke Aula Pedang. Kabut makin tebal. Aku hampir tidak bisa melihat ujung langkahku sendiri. Di kejauhan, suara gong kecil terdengar sekali, lalu dua kali seba

  • Mandat Langit   Bab 12 — Paviliun Samping

    Langit di Yunling selalu tampak lebih dekat. Kabut menggantung di antara pohon pinus, menyapu pelan atap-atap bangunan sekte yang berjajar rapi di lereng gunung. Angin membawa aroma kayu basah dan daun, serta satu bau lain yang tidak pernah ada di istana, bau besi dari pedang yang sering disarungkan dan ditarik, bau keringat latihan, bau tanah yang diinjak ribuan langkah. Aku berjalan mengikuti seorang murid sekte menuju Paviliun Samping, tempat aku ditempatkan. Di belakangku, Aula Pedang sudah tertutup kembali, namun suasana barusan tidak hilang begitu saja. Kata-kata tetua masih menempel di telingaku. Mandat Langit. Aku bahkan tidak tahu sepenuhnya apa maksudnya, tapi aku tahu itu bukan istilah ringan. Istana tidak akan mengirim Burung Hitam, sekte tidak akan menghunus pedang di gerbang, hanya untuk sesuatu yang kecil. Murid yang membawaku tidak berbicara banyak. Wajahnya muda, mungkin baru belasan, tetapi langkahnya tegas. Di pinggangnya ada pedang pendek, tangannya sesek

  • Mandat Langit   Bab 11 — Gerbang Yunling

    Gerbang Sekte Pedang Yunling berdiri tinggi, terbuat dari kayu hitam tua dengan paku-paku besi besar. Di atasnya, papan nama sekte digantung, tulisannya tegas dan rapi, seolah setiap garis tinta merupakan sumpah yang tidak bisa ditarik kembali. Di sisi gerbang, dua patung batu berbentuk singa penjaga menatap ke bawah, matanya tajam meski hanya pahatan. Kabut gunung menyelimuti lereng dan merangkak di kaki tangga, membuat tempat itu tampak seperti batas antara dunia manusia dan dunia para pendekar. Namun yang paling membuat nafasku berat bukan gerbang itu. Melainkan orang-orang yang menunggu di depan gerbang. Lima pendekar sekte berdiri membentuk setengah lingkaran. Mereka masih muda, tetapi aura mereka tidak demikian. Jubah mereka berwarna putih kebiruan dengan sabuk gelap. Di pinggang masing-masing tergantung pedang Yunling, sarungnya sederhana, namun bentuk gagangnya seragam, menandakan kedisiplinan. Semua pedang mereka sudah terhunus. Itu bukan sambutan. Itu semacam vonis y

  • Mandat Langit   Bab 10 — Aturan di Dunia Jianghu

    Kami meninggalkan penginapan sebelum hujan benar-benar reda. Langit masih gelap. Awan menggantung rendah seperti kain basah yang tidak mau terangkat. Jalan batu yang tadi ramai kini berubah licin dan sunyi. Tidak banyak orang berani keluar pada malam seperti itu, kecuali mereka yang tidak punya pilihan atau mereka yang justru memilih gelap sebagai tempat tinggal. Lin Suyin berjalan lebih dulu, memimpin jalur yang tidak biasa, bukan jalan utama, melainkan jalur setapak di balik kebun dan ladang, melewati pagar bambu, menyusuri tepian hutan kecil yang dipenuhi bau tanah basah. Aku mengikutinya, meski langkahku berat. Setiap kali kakiku menginjak lumpur, sepatuku terasa semakin berat, seolah aku menarik masa laluku sendiri. Nafasku tidak teratur. Lututku masih nyeri karena jatuh dari jendela. Namun aku tetap berjalan karena rasa takut mengalahkan rasa sakit. Kami tidak bicara untuk waktu yang lama. Baru ketika kami melewati bukit kecil dan tidak lagi melihat cahaya penginapan d

  • Mandat Langit   Bab 9 — Hujan dan Burung Hitam

    Malam turun cepat setelah senja, seolah langit tidak ingin memberi waktu untuk bersiap. Aku baru saja duduk ketika Lin Suyin berkata bahwa orang-orang yang mengejarku bukan bandit. Kata-kata itu belum sempat kupahami sepenuhnya, tetapi tubuhku sudah lebih dulu merasakan bahaya. Udara di lorong penginapan terasa lebih berat, suara di bawah makin berkurang, dan entah kenapa, pelita-pelita di dinding tampak lebih redup daripada biasanya. Lin Suyin berdiri dekat jendela, membuka celah kecil pada daun kayu dan menatap keluar. Beberapa saat kemudian, ia menutup kembali jendela dengan gerakan cepat. “Hujan akan turun,” katanya. Aku menatapnya. “Itu masalah?” Lin Suyin tidak langsung menjawab. Ia memungut jubah luarnya yang tergantung di kursi, menyampirkannya ke bahu, lalu berkata, “Hujan menutupi jejak, tapi juga menutupi suara. Orang-orang yang datang tidak akan peduli apakah kau mendengar mereka atau tidak. Mereka hanya perlu tiba di tempatmu.” Jantungku berdetak keras. Aku in

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status