Share

Bab 2

Author: Johny
Ibu mertuaku membantu Lyra berdiri sambil berkata, "Kamu itu orang yang berjasa bagi keluarga kami, mana bisa kamu menderita seperti ini? Cepat bangun."

Lyra bangkit dengan menggendong anaknya.

"Terima kasih, Nyonya," katanya kepada ibu mertuaku.

"Jangan panggil aku Nyonya, panggil ibu saja," sahut ibu mertuaku sambil tersenyum kepada Lyra. "Anak kalian masih begitu kecil, sedangkan kamu begitu lemah. Mana bisa kamu hidup terpisah dari Alden? Aku sudah buat keputusan. Kalian berdua harus tinggal bersama."

"Tapi ...." Lyra menggigit bibirnya, lalu menatapku dengan ekspresi sedih dan berujar, "Kak Freya sepertinya nggak menerimaku."

"Memangnya dia itu siapa!" Ibu mertuaku menatapku dingin dan mengancam, "Freya, kalau kamu nggak senang, tinggalkan saja Keluarga Kinjaya!"

"Ibu, jangan begitu. Freya itu istriku," kata Alden. Dia menyentuh bahuku, lalu melihat bekas tamparan di wajahku dan menghela napas sebelum berujar, "Kalau setuju dari awal, kamu nggak perlu menderita seperti ini."

Aku menatap lurus ke arah Alden. Dari masa mengenakan seragam sekolah sampai gaun pengantin, aku dan dia telah melewati sepuluh tahun paling berharga dalam hidup kami bersama.

Saat masih berkuliah, aku menemaninya belajar hingga larut malam di perpustakaan, sedangkan dia menemaniku ke berbagai wawancara kerja.

Alden bukanlah anak orang kaya yang hidup dari kekayaan keluarganya. Dia percaya pada pentingnya kerja keras dan mendukungku dalam mengejar karier.

Sebelum lulus, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan besar. Dia bahkan lebih gembira dariku, lalu mengundang semua temannya dan memesan restoran yang terkenal sulit direservasi di kota ini untuk merayakannya.

Setelah aku mulai bekerja, ayahku didiagnosis menderita kanker. Sebelum ayahku meninggal, Alden berlutut dan melamarku di samping tempat tidur ayahku.

Alden menggenggam tanganku dan berjanji kepada ayahku, "Aku akan selalu mencintainya, melindunginya, menghormatinya, dan memahaminya."

Dia juga berkata kepada ayahku, "Ayah, kamu tenang saja."

Setelah menikah, kami sangat bahagia. Satu-satunya penyesalan adalah kami tidak memiliki anak. Ketika aku merasa bersalah, Alden akan selalu memeluk dan menghiburku, "Nggak apa-apa. Kita tetap bisa hidup dengan baik tanpa anak. Freya, kamu nggak perlu merasa bersalah."

Aku mengingat janjinya, juga cinta dan perhatiannya kepadaku di masa lalu. Air mata mengalir di wajahku. Kami benar-benar pernah saling mencintai. Namun, bagaimana dengan sekarang?

Aku menatap anak itu, lalu teringat pada hari-hari dia berbohong kepadaku untuk bertemu Lyra. Apakah dia masih mencintaiku?

Aku tenggelam dalam pikiran. Rasa sakit yang mendalam membuatku pingsan.

...

Saat tersadar, Lyra dan anaknya sudah pindah ke rumah kami.

"Kamu sudah sadar?" Alden duduk di tepi tempat tidur dan berujar, "Pembantu kita ada urusan dan minta cuti. Freya, tolong jagain Lyra dan anaknya selama beberapa hari ke depan, ya."

Aku langsung membelalak. "Apa katamu?"

Aku curiga apa yang kudengar benar-benar adalah ucapannya. Sebab, aku tidak pernah menyangka dia akan memperlakukanku seperti ini. Aku barulah istrinya.

Alden menggenggam tanganku dan menjawab dengan nada tegas, "Kamu cuma perlu jaga mereka sampai pembantu kembali. Itu nggak akan lama."

Aku melihat ke sekeliling dan mendapati diriku berada di kamar pembantu.

Alden menyadari tatapanku dan menjelaskan, "Kamu tinggal dulu di sini beberapa hari ini. Dengan begitu, kamu akan lebih mudah mengurus anak itu waktu dia nangis di malam hari."

Aku tidak mengatakan apa-apa, juga sudah tidak tahu harus mengucapkan apa. Aku hanya berdiri, lalu mengambil tasku dan berniat pergi.

Alden menghentikanku. "Freya, kamu mau pergi ke mana?"

"Kerja." Aku menjawab, "Aku punya pekerjaan tetap dan nggak punya waktu untuk bantu kamu rawat orang lain."

Namun, Alden malah berkata, "Aku sudah gantikan kamu mengundurkan diri dari perusahaanmu."

Aku menatapnya dengan tidak percaya. Aku baru saja naik jabatan, tetapi Alden malah membantuku mengundurkan diri. Apa haknya?

"Cepat atau lambat, kamu harus berhenti kerja. Sekarang, kita sudah punya anak. Anak pada dasarnya butuh perawatan dan bimbingan ibu yang konstan. Kamu mana punya waktu untuk kerja lagi? Bagus juga pembantu rumah pergi untuk sementara. Kamu bisa lebih cepat terbiasa mengurus anak."

Aku menyahut dengan suaraku gemetar, "Itu bukan anakku. Alden, itu anakmu dengan orang lain. Apa hakmu minta aku mengurusnya?"

"Freya, kamu harus perlakukan dia seperti anakmu sendiri." Alden berujar, "Percayalah padaku. Waktu anak itu sudah besar, aku akan suruh Lyra pergi. Dengan begitu, kamu akan jadi ibu anak itu."

Air mata mengalir di wajahku. Aku langsung berbalik untuk pergi.

Alden meraih tanganku sambil berseru, "Freya, sadar dikit! Cuma dengan pertahankan anak ini, pernikahan kita baru bisa berlanjut. Kamu nggak bisa punya anak, dan ibuku sudah nggak tahan lagi denganmu. Aku berbuat begini sepenuhnya karena aku nggak mau pisah denganmu."

Kata-katanya terdengar tulus, tetapi sama sekali tidak memberikan penghiburan. Kata-katanya justru membuat hatiku makin hancur.

Aku masih bersikeras mencoba pergi.

Genggaman Alden mengencang. Dia memegang bahuku dan berkata dengan mata memerah, "Freya, dengarkan aku dengan tenang. Grup Kinjaya adalah perusahaan yang sangat besar dan nggak mungkin tanpa pewaris. Aku sudah berada di bawah tekanan ini begitu lama dan nggak tahan lagi."

"Kalau begitu, kamu nggak perlu bertahan lagi." Aku berujar dengan mata berkaca-kaca, "Kita cerai saja."

Mendengar kata "cerai", ekspresi Alden berubah marah. "Freya, apa kamu nggak ngerti? Aku mau seorang pewaris, tapi aku juga menginginkanmu! Saat hadapi rintangan, yang kamu pikirkan cuma melarikan diri?"

"Jadi, kamu mau aku jadi pembantu Lyra?" Aku berujar dengan berlinang air mata, "Kalau aku tinggal di kamar pembantu, dia akan tinggal di mana? Kamar utama?"

"Bukan begitu." Alden menenangkan diri dan menjawab, "Itu permintaan Ibu. Dia cuma akan tidur di sana. Aku nggak akan melakukan apa pun dengannya."

Dia menarikku ke dalam pelukannya dan melanjutkan dengan suara serak, "Freya, aku mencintaimu. Apa kamu nggak mencintaiku lagi? Kita sudah bersama selama bertahun-tahun, apa kamu mau tinggalkan aku karena hal sepele seperti ini?"

Air mata Alden menetes di bahuku. Aku merasakan kehangatan air matanya dan memahami kehancuran Alden.

"Kumohon, tinggallah di sini untuk jaga anak itu dan Lyra. Dengan begitu, kesan Ibu terhadapmu juga akan membaik. Demi aku, demi masa depan kita, tetap tinggal di sisiku, ya?"

Tubuhku terasa kaku. Ini adalah pria yang telah kucintai selama sepuluh tahun. Demi mempertahankan pernikahan kami, dia memohon padaku seperti ini.

Alden telah membuka sebuah lubang di hatiku. Aku memejamkan mata sejenak, lalu menjawab, "Oke."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mandul, Lalu Dikhianati   Bab 8

    Aku kembali ke kampung halamanku. Di sini, aku menggunakan tabunganku selama bertahun-tahun untuk membuka restoran kecil. Sebelum dipaksa mengundurkan diri, aku bekerja di industri makanan dan memiliki minat yang mendalam dalam bidang ini. Saat masih kuliah, aku pernah berpikir untuk membuka restoran sendiri, tetapi keluarga dan teman-temanku menganggapnya terlalu sulit dan menyarankanku untuk terlebih dahulu mencari pekerjaan yang stabil.Setelah akhirnya berani mengambil langkah itu, aku menyadari bahwa meskipun pekerjaan itu sangat sibuk dan melelahkan, aku juga melakukannya secara sukarela karena itu adalah hal yang kusukai.Untungnya, sejak dibuka, restoran itu menjadi sangat populer di kalangan penduduk setempat. Aku tenggelam dalam pekerjaanku, juga merasa puas dan bahagia.Aku mengerti bahwa meskipun memiliki pernikahan yang gagal, itu bukanlah akhir dunia. Hidup akan terus berjalan.Alden tidak menikah lagi. Bertahun-tahun kemudian, dia terbang ke kampung halamanku untuk mene

  • Mandul, Lalu Dikhianati   Bab 7

    Setelah memukul Lyra, ibu Alden merasa putus asa. Jika putranya mandul, apa yang harus dilakukan mereka kelak? Dia tiba-tiba teringat Freya."Nak, di mana Freya? Suruh saja dia temani kamu pergi berobat. Kalau keadaanmu nggak bisa disembuhkan dalam negeri, kita pergi ke luar negeri. Kamu pasti bisa sembuh.""Ibu!" Alden berteriak seperti orang gila, "Apa kamu merasa Freya belum cukup celaka?""Kalau begitu, gimana dong? Bukannya dia itu wanita yang paling kamu cintai? Kalau nggak cari dia, kamu mau cari siapa lagi?" Alden merasa lelah. Menyadari bahwa dirinya tidak bisa membujuk ibunya dalam waktu singkat, dia menyerahkan surat kesepakatan cerai itu kepada ibunya.Begitu melihatnya, ibu Alden langsung berseru marah, "Dia mau cerai? Bernyali sekali dia!"Setelah beberapa saat, dia menatap Alden lagi dan bertanya dengan hati-hati, "Freya sudah tahu kamu mandul?"Alden tidak ingin berbicara dengan ibunya lagi."Ibu, aku akan pergi minta maaf ke Freya sekarang. Setelah aku bawa dia kembal

  • Mandul, Lalu Dikhianati   Bab 6

    Rowan adalah asisten Alden, sedangkan Lyra adalah sekretarisnya. Kedua orang itu adalah teman sekelas SMA dan pernah berpacaran. Begitu pulang kerja, mereka juga sering tidur bersama. Seiring waktu, Lyra pun hamil. Setelah bekerja untuk Alden selama bertahun-tahun, mereka tahu bahwa Alden dan Freya masih tidak memiliki anak setelah menikah. Jadi, niat jahat timbul dalam benak mereka. Rowan menyuap dokter di rumah sakit untuk mengganti hasil tes Alden dan Freya. Sementara itu, Lyra memanfaatkan kesempatan untuk membawa Alden ke hotel ketika Alden dibuat mabuk oleh seorang klien, agar bisa menciptakan ilusi mereka telah berhubungan intim dalam keadaan mabuk.Kemudian, Lyra menunjukkan hasil tes kehamilannya dan menangis sambil memohon kepada Alden untuk mempertahankan anak tersebut. Dengan begitu, mereka secara bertahap menjebak Alden hingga Lyra dan anak itu tinggal di rumah Alden.Tujuan Lyra dan Rowan adalah menjadikan anak itu sebagai pewaris Grup Kinjaya. Setelah itu, mereka akan

  • Mandul, Lalu Dikhianati   Bab 5

    Alden tidur sangat lama di tempat tidur. Ketika dia bangun, Lyra sudah membawa anak itu ke kamar utama."Ada apa ini?" Dia bertanya pada Lyra, "Bukannya Freya yang menjaganya? Kenapa kamu bawa anak itu kemari?"Lyra menenangkan anak itu, lalu berkata kepada Alden, "Kak Freya nggak ada di sini."Alden mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"Lyra menjawab dengan ragu: "Kak Freya sudah pergi semalam."Alden melompat turun dari tempat tidur dan bergegas ke kamar pembantu. Kamar itu kosong melompong.Alden mengambil ponselnya dan menelepon Freya. Setelah panggilan terhubung, dia bertanya, "Kamu pergi ke mana? Kapan kamu akan kembali?""Aku nggak akan kembali lagi," jawab Freya.Firasat buruk muncul di hati Alden. Dia berkata kepada Freya, "Freya, aku yang salah. Aku nggak akan menyalahkanmu lagi. Tolong kembali, ya?"Freya terkekeh. "Alden, memangnya cuma itu kesalahanmu?" "Pak Alden, ada paket dokumen untukmu." Terdengar ketukan di pintu.Alden membuka pintu dengan masih menggenggam ponsel."

  • Mandul, Lalu Dikhianati   Bab 4

    Setelah langit gelap, Alden dan Lyra baru kembali.Aku bangkit dan melihatnya menggendong bayi itu sambil menghiburnya dengan lembut.Hatiku terasa sakit. Aku bergegas menghampirinya dan berkata, "Alden, aku nggak tahu anak ini alergi terhadap serbuk sari. Lyra yang minta aku memetik bunga."Alden menatapku dingin. "Maksudmu, Lyra mau sakiti anaknya sendiri? Freya, coba dengar apa yang kamu katakan. Apa itu masuk akal?"Aku pun terkejut. Dia tidak percaya padaku."Sudahlah, kembali saja ke kamarmu dan istirahatlah. Lyra bilang, dia nggak akan permasalahkan hal hari ini. Kelak, jangan ulangi lagi," tambah Alden.Aku berkata dengan berlinang air mata, "Alden, dengarkan penjelasanku ....""Cukup!" Alden menyela, "Kenapa kamu terus mengungkit hal ini? Sudah kubilang, semuanya sudah berlalu."Kemudian, dia meletakkan bayi itu dalam pelukanku dan menarikku ke kamar pembantu."Anak ini akan tidur bersamamu malam ini. Kumohon, ubahlah pola pikirmu dan rawat dia dengan baik. Anggap dirimu sebag

  • Mandul, Lalu Dikhianati   Bab 3 

    Aku tetap tinggal.Alden membantu memindahkan barang-barangku dari kamar utama ke kamar pembantu. Kemudian, dia berkata kepadaku, "Freya, aku ada urusan. Bantu aku tangani urusan di rumah, ya."Aku tidak menunjukkan ekspresi apa pun.Namun, Lyra menggendong bayi itu dan mengantar Alden ke pintu sambil berkata, "Alden, aku dan anak kita akan tunggu kamu di rumah."Alden mengangguk. "Hubungi aku kalau butuh sesuatu."Kemudian, dia pun pergi.Lyra menoleh ke arahku dan bertanya, "Kak Freya, boleh tolong bantu aku buatkan susu formula?"Melihat bayi di pelukannya, aku menahan rasa tidak senangku dan pergi ke dapur. Aku membuat susu formula dan memberikan botol itu kepada Lyra. Begitu dia menempelkan botol itu ke bibir bayi, bayi itu langsung menangis.Lyra segera meletakkan botol itu dan berkata kepadaku, "Kak Freya, aku tahu kamu nggak menyukaiku, tapi anak ini nggak bersalah. Kok kamu pakai air sepanas itu untuk buat susu formula?"Aku mengambil botol itu dan menyentuhnya. Kemudian, aku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status