Masuk
Seperti hari-hari sebelum hari yang sangat cerah ini, bagi sebagian orang kecuali aku. Karena menurut hatiku, mendung setiap hari.
Abaikan. Aku duduk di meja kerjaku, meja resepsionis lebih tepatnya. Wajah cantik berpakaian modis. Oh, siapa yang tidak terpikat olehku. Lihat saja sekarang, Bapak manajer yang telah beristri dan memiliki dua anak datang mendekat ke mejaku. “Nadia, sarapan bareng yuk, ke pantry,” kalian mendengarnya? Sangat menjijikkan, bukan? Tidak tahu malu! Kau pikir aku tertarik dengan laki-laki bangkotan. Sungguh bukan seleraku. “Maaf, Pak. Silakan duluan, kebetulan saya sudah sarapan di rumah,” aku tersenyum ramah. Kenapa? Kaget? Ya, beginilah aku. Memasang citra baik di hadapan banyak orang agar orang lain suka padaku. Cantik, baik, tidak norak, bukankah itu sempurna? Sayangnya, aku sama seperti kalian, suka memaki dalam hati. Iya, kan? “Halus banget suaranya. Atau mau aku ambilin kopi? Roti? Atau apa gitu?” “Oh, enggak, Pak. Makasih, saya bisa ambil sendiri,” aku tersenyum terpaksa, tentu saja. “Ngapain Bapak di sini pagi-pagi sudah menggoda perawan? Ingat umur, Pak. Sudah punya anak istri bukannya mikir,” seorang perempuan berambut pendek dengan poni menutupi dahinya berjalan ke arahku. Dia Riri, ketua divisi pemasaran. Dia memanggilku teman, tapi aku menganggapnya bukan. Aku ini orang yang individualis. Tidak butuh orang lain. Aku yang ramah, bertutur kata lembut, friendly. Semuanya hanya kepura-puraan. Hanya membentuk citra agar aku menjadi pusat perhatian, tidak lebih. Karena sejujurnya, aku benci semua orang. “Aduh, Bu galak banget. Iya, maaf, maaf, enggak lagi-lagi.” Setelah berkata begitu, pria bangkotan itu pergi entah ke mana. Aku tidak peduli. “Riri, untung kamu ada di sini!” Suara heboh yang pasti aku tahu siapa pemiliknya. Mbak Lita, manajer personalia. Single mom anak satu, sang primadona kantor. Walaupun umur sudah kepala tiga, tapi wajah masih seperti umur belasan. Wajah cantik dengan tubuh mungil berisi yang sering dia pamerkan tanpa tahu diri. Seperti betina yang birahi. Dia terkenal lucu, ceria, dan baik hati, tapi aku mengecap dia sebagai pick me. Walaupun digadang-gadang sebagai primadona, tetap saja yang paling digandrungi pria itu aku. Ya, memang seharusnya begitu. “Ada apa?” Siapkan telinga kalian, karena wanita bernama Lita itu selalu membawa gosip yang memuakan. “Tahu enggak, Ri, Nad? Katanya Pak Ari bakal pensiun. Anak keduanya bakal gantiin. Aku tahu dari Reisa. Dan yang kita semua tahu, anak Pak Ari itu ganteng-ganteng. Rasanya enggak pernah sesiap ini buat menikah.” Keganjenan banget. Muak juga dengar dia cerita heboh begini. “Penasaran enggak sih sama anaknya? Kayaknya dia belum pernah ke sini, kan?” Mbak Lita menceritakan sosok CEO tampan yang akan menggantikan Pak Ari dengan antusias. Tanpa dia tahu, anak kedua dari Pak Ari itu kekasihku. Leon Satya Kusuma. Pria yang mampu mengalihkan duniaku saat kami kuliah dulu. Kemarin malam dia memberitahuku jika ayahnya akan mengangkat dia sebagai direktur. Aku ingin melihat wajahnya. Sudah sepekan kami tidak bertemu dengan alasan sibuk. “Pak Ari baik sih, cuma sudah bangkotan. Syukur deh anaknya yang menggantikan.” “Bener, Ri. Kamu kan jomblo, kesempatan yang bagus nih. Pak Angga saja ganteng, apalagi adiknya.” Aku tersenyum menyimak pembicaraan mereka. Angga, kakaknya Leon. Pengusaha sukses di bidang kuliner. Dia sering banget ke kantor menemui ayahnya. Sayangnya, mereka tidak punya kesempatan untuk mendekati Pak Angga karena dia sudah punya istri dan anak. “Ah, bener-bener. Tapi pasti cewek kayak aku enggak akan dilirik. Lihat saja fisik aku, kalau dibandingkan sama Mbak Lita mah sudah kayak remah roti.” “Jangan gitu dong, ayo optimis. Kamu cantik kok.” Mbak Lita tidak bohong. Riri memang cantik. Tinggi semampai, rambut pendeknya bikin kelihatan dewasa. Cantik banget, pokoknya. “Mbak bisa saja. Lagian aku sudah punya target. Tanya Nadia tuh, dia juga jomblo.” “Nadia juga jomblo? Ya ampun, cantik-cantik masih alone.” Aku tersenyum mendengar candaan Mbak Lita. “Oy,” Reisa datang dengan sapaan khasnya. Dia adik dari kakak iparku sekaligus teman dan sahabat Leon. Aku melamar kerja di sini karena dia. Selain sahabat Leon, Reisa juga sahabatku. Walaupun demikian, posisi dia sebagai direktur keuangan membuatku agak segan berdekatan dengannya di lingkungan kantor. Meski dia humble dan friendly, karena jabatan itu aku sedikit jaga jarak. “Reisa, sayangku, informan berjalanku. Bagaimana kabarmu, sayang? Semalam tidur nyenyak?” Mbak Lita memeluk Reisa yang sepertinya tidak nyaman. Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka. “Apaan sih, Mbak. Lepasin, sesak, tahu.” “Sorry. Gimana, Rei? Bos kita yang digadang-gadang tampan itu kapan datang?” “Enggak tahu, Mbak.” “Loh, kok enggak tahu?” “Ya emang enggak tahu. Emang aku ibunya?” “Nadia, bagaimana menurut kamu wajah bos kita yang baru?” Aku yang sedang menyimak kergelutan tidak berfaedah mereka mengalihkan atensiku pada Riri. Aku memikirkan sejenak wajah Leon. “Hmm… enggak tahu.” “Lah, menurut kamu bakal ganteng enggak?” “Bisa jadi.” Aku tersenyum, berbeda terbalik dengan wajah Mbak Riri yang cemberut. Perdebatan Mbak Lita dan Reisa terhenti. Kantor menjadi hening, namun masih terdengar bisik-bisik kekaguman. Aku menatap terkejut siapa yang datang. Aku dan Mbak Riri segera berdiri kala Pak Ari masuk diikuti pria tampan di belakangnya. Jelas sekali wajah merona dan mata penuh damba yang diberikan Riri pada sosok pengganti Pak Ari. “Nadia, tolong umumkan. Sekarang kita adakan town hall meeting.” “Baik, Pak.” Setelah itu Pak Ari pergi dan aku menjalankan tugas yang diberikan. Semua staf telah berkumpul duduk dengan tenang, dengan Pak Ari dan CEO baru di atas mimbar. “Tanpa basa-basi, saya ingin memperkenalkan CEO baru yang menggantikan saya. Karena faktor umur, saya ingin menyerahkan jabatan saya kepada anak kedua saya, Raka Satya Kusuma.” Sejenak ruangan terasa menyempit. Anak kedua? Aku membeku. Leon anak kedua. Setahuku begitu. Tidak pernah ada nama lain selain Angga dan Leon dalam keluarga itu. Lalu siapa Raka? Aku menatap pria di samping Pak Ari. Wajahnya dingin, rahangnya tegas, matanya datar seolah tidak peduli dengan kekaguman yang menguar di sekelilingnya. Tidak ada senyum. Tidak ada keramahan. Bahkan tidak ada satu gerak pun yang berusaha terlihat menyenangkan. Berbeda. Sangat berbeda. Prok, prok, prok. Tepuk tangan menggema. Aku ikut bertepuk tangan dengan jemari yang terasa kaku. Saat mereka meninggalkan ruangan, aku masih berdiri di tempat. Otakku sibuk menyusun kemungkinan yang tidak masuk akal. Apa Leon berbohong? Atau aku yang selama ini tidak benar-benar mengenal keluarganya? “Wah, Nad, kamu lihat enggak? Gantengnya bukan main,” Riri berdecak kagum di sampingku. Aku hanya tersenyum tipis. Aku berpisah dengan Riri di lift dan kembali ke lantai satu. Meja resepsionis menyambutku seperti biasa. Senyum, sapa, dan citra sempurna kembali kupakai. Namun kali ini ada sesuatu yang mengganjal. Bukan soal Raka. Melainkan Leon. Jika dia bukan CEO, lalu posisinya di mana? “Nadia.” Aku menoleh. Pak Jefri berdiri di depanku. “Direktur perusahaan cabang akan ke sini. Kamu sambut dengan baik, ya.” “Baik, Pak.” “Masih muda, seumuran kamu. Ganteng juga. Mirip Pak Raka, tapi ya tetap Pak Raka lebih ganteng nanti kamu sambut dengan–” “Ramah dan sopan santun, karena resepsionis adalah wajah perusahaan,” potongku halus, senyumku terangkat sempurna. “Saya paham, Pak.” “Bagus.” Pak Jefri melangkah pergi, lalu berhenti. “Oh iya,” katanya sambil menoleh, “namanya Leon.” Senyumku tidak runtuh. Tapi dadaku seperti ditinju pelan. Leon. Direktur cabang. Bukan CEO. Aku menatap lurus ke depan, ke pintu masuk perusahaan yang berkilau oleh cahaya pagi. Sepertinya… aku tidak benar-benar mengenali kekasihku sendiri. TBCSudah rebahan dengan berbagai gaya sampai salto, masih saja bosan. Di kamar dari semalam sampai menjelang sore tidak ada kegiatan selain rebahan. Ya, aku dikunci di luar, benar-benar tidak boleh keluar. Makanan diantarkan ART hanya karena hal sepele.Menyebalkan, bukan?Lita, Riri, Reisa, bahkan ada nomor yang tidak dikenal meneleponku menanyakan keberadaanku. Dan sepertinya besok aku bakal dikasih SP satu.Andai aku bisa memilih ingin dilahirkan di keluarga seperti apa, atau andai saja aku tidak lahir di dunia ini.Tidak! Nadia bodoh, pemikiran macam apa itu? Harusnya kita bisa melewati rintangan ini. Kamu percaya akan ada pelangi setelah hujan? Benar, kan, Nadia? Kamu percaya dengan pepatah itu? Harus percaya! Walaupun entah kapan pelangi itu ada.Oh, ayolah, aku seperti orang gila karena mati gaya.Tok tok tok."Nadia."Kak Nadin, sudah pulang kerja kah dia?"Masuk, Kak," aku berteriak supaya terdengar oleh Kak Nadin."Dikunci."Lah, iya Kak Nadin polos banget sih. Dia tidak tahu d
"Habis ngelonte di mana kamu? Jam segini baru pulang!"Kan kataku juga. Orang paling menyebalkan di rumah, Kak Andre. Dia berkacak pinggang di depan pintu dengan mata menyorot tajam padaku.Memang aku dan kakak laki-lakiku tidak pernah akur. Dia selalu saja menggangguku dengan akhir yang tidak mengenakan. Dimarahi Mamah, padahal aku anak bungsu.Konyol, kan?"Ngomong apaan sih, Kak? Aku habis makan sama teman-teman."Satu hal yang aku tidak mengerti dari Kak Andre, dia itu terlalu overprotective. Kalau aku telat pulang lima menit, pasti dituduh kabur dari rumah. Apalagi sekarang jam sembilan aku baru sampai.Langsung dituduh ngelonte, kan?"Bohong! Gak nyangka kamu bakal kayak gini! Apa Mamah pernah ngajarin kamu buat one night stand sama pria?! Jawab!"Sakit jiwa Kak Andre! Kayaknya dia terjangkit sindrom sister complex tingkat akhir. Kalau benar, amit-amit deh."Jangan bicara seenaknya, Kak! Aku cuma makan sama teman!""Makan sampai lupa waktu! Besok kamu jangan berangkat ke kantor
Aku menghela napas lelah. Sudah seharian bekerja, harus beramah-tamah pada setiap tamu yang datang. Badan pegal karena seharian berdiri, yang seharusnya rasa pegal itu bisa langsung diobati oleh kasurku yang empuk. Tapi sekarang tidak, karena sekretaris Pak Ari yang sekarang berpindah menjadi sekretaris Pak Raka mengusulkan hal gila.Mengadakan party penyambutan bos baru, katanya. Sialnya lagi, para staf kebanyakan setuju. Dan Bapak CEO yang terhormat mengatakan terserah dengan usulan itu.Sekarang aku terjebak di restoran sushi di Grand Indonesia Mall dengan para staf pemegang jabatan tertinggi, termasuk Reisa, Riri, dan Lita. Hanya aku dengan posisi terendah yang ikut party. Kalau bukan paksaan dari mereka bertiga, aku lebih baik langsung pulang ke rumah. Yang ikut hanya sedikit, tujuh belas orang termasuk Pak Raka. Hanya saja jabatan mereka membuatku sangat kecil di sini.Meja di sini hanya muat maksimal enam orang.Mereka membentuk circle yang terdiri dari enam orang, sedangkan ka
Aku sedang asyik di meja kerjaku, melihat orang-orang yang berlalu-lalang menyebut-nyebut nama Pak Raka. Ya, memang tampan, tapi apakah perlu seheboh ini? Rasanya memuakkan mendengar cekikikan suara-suara pujian yang dilontarkan untuk CEO baru itu. Dasar berisik.Aku tersenyum saat pintu kaca otomatis itu terbuka. Sedikit terkejut melihat Leon dengan wajah yang terlihat marah memasuki kantor. Sepertinya ini pertama kali Leon menginjakkan kakinya ke sini. Dan jelas aku tahu tujuannya. Kak Angga yang seharusnya menjadi pengganti Pak Ari tidak tertarik mengurus perusahaan. Dia telah sukses di bidang kuliner. Hingga Leon optimis menjadi pewaris selanjutnya. Dia belajar giat, dia juga tidak pernah membicarakan tentang Pak Raka. Lalu tiba-tiba Pak Ari menunjuk Raka, yang aku juga tidak tahu siapa, menjadi CEO. Ya, jelas sudah pasti Leon marah.“Nadia, ayo ke kantin.”Aku hanya mengangguk mengikuti Lita dari belakang. Kami menuju meja yang bisa kami pakai. Di sana sudah ada Riri dan Reisa. P
Seperti hari-hari sebelum hari yang sangat cerah ini, bagi sebagian orang kecuali aku. Karena menurut hatiku, mendung setiap hari.Abaikan.Aku duduk di meja kerjaku, meja resepsionis lebih tepatnya. Wajah cantik berpakaian modis. Oh, siapa yang tidak terpikat olehku. Lihat saja sekarang, Bapak manajer yang telah beristri dan memiliki dua anak datang mendekat ke mejaku.“Nadia, sarapan bareng yuk, ke pantry,” kalian mendengarnya? Sangat menjijikkan, bukan? Tidak tahu malu! Kau pikir aku tertarik dengan laki-laki bangkotan. Sungguh bukan seleraku.“Maaf, Pak. Silakan duluan, kebetulan saya sudah sarapan di rumah,” aku tersenyum ramah. Kenapa? Kaget? Ya, beginilah aku. Memasang citra baik di hadapan banyak orang agar orang lain suka padaku. Cantik, baik, tidak norak, bukankah itu sempurna? Sayangnya, aku sama seperti kalian, suka memaki dalam hati. Iya, kan?“Halus banget suaranya. Atau mau aku ambilin kopi? Roti? Atau apa gitu?”“Oh, enggak, Pak. Makasih, saya bisa ambil sendiri,” aku







