MasukSudah rebahan dengan berbagai gaya sampai salto, masih saja bosan. Di kamar dari semalam sampai menjelang sore tidak ada kegiatan selain rebahan. Ya, aku dikunci di luar, benar-benar tidak boleh keluar. Makanan diantarkan ART hanya karena hal sepele.
Menyebalkan, bukan? Lita, Riri, Reisa, bahkan ada nomor yang tidak dikenal meneleponku menanyakan keberadaanku. Dan sepertinya besok aku bakal dikasih SP satu. Andai aku bisa memilih ingin dilahirkan di keluarga seperti apa, atau andai saja aku tidak lahir di dunia ini. Tidak! Nadia bodoh, pemikiran macam apa itu? Harusnya kita bisa melewati rintangan ini. Kamu percaya akan ada pelangi setelah hujan? Benar, kan, Nadia? Kamu percaya dengan pepatah itu? Harus percaya! Walaupun entah kapan pelangi itu ada. Oh, ayolah, aku seperti orang gila karena mati gaya. Tok tok tok. "Nadia." Kak Nadin, sudah pulang kerja kah dia? "Masuk, Kak," aku berteriak supaya terdengar oleh Kak Nadin. "Dikunci." Lah, iya Kak Nadin polos banget sih. Dia tidak tahu dari pagi aku dikunci? "Memang, kuncinya di Mamah." Tidak ada sahutan. Pasti dia lagi minta kunci ke Mamah. Mamah mana bisa nolak kemauan anak kesayangan. Lihat saja, Kak Nadin sudah duduk di hadapanku dengan wajah polosnya yang menyebalkan. "Kamu kok dikunci di kamar?" Sudahlah, Kak Nadin. Polosnya tidak ada obat. Bukannya dia tahu sendiri semalam aku dimarahi? Dilarang pergi ke kantor sampai dikunci. "Kakakku yang cantik gini, aku melakukan kesalahan yang membuat Mamah marah. Bukannya kemarin malam Kakak juga dengar, kan? Bahkan satu meja saat aku dimarahi Mamah." Tuhan, selamatkan aku. Kenapa Kak Nadin kelihatan lagi mikir keras begitu. Aku yakin kalau Kak Nadin tidak punya kemampuan berhitung yang baik, dia pasti sudah lama dicoret dari kartu keluarga. "Benarkah? Kapan? Kamu dimarahi? Kenapa?" Sudahlah, hari damaiku hilang seketika. Kalau dipikir lagi, anggota keluargaku tidak ada yang benar. Kak Andre tidak bisa mengontrol emosinya, Mamah orang yang terlalu higienis, Kak Nadin terlalu polos, Ayah orangnya tidak pedulian, terakhir Kak Sheila psycho gila yang menjelma menjadi istri sempurna. Dan aku—ah, sudahlah. Fix, aku sudah tidak betah diam di rumah. "Kak Nadin, kemarin aku dimarahi saat Kakak dan Ayah asyik makan. Sudah ya, jangan tanya lagi. Yang Kakak tahu aku dikurung di sini. Sudah itu saja, oke." Kak Nadin tersenyum, mengacungkan jempolnya. Ya ampun. "Kak Nadin bawa kunci?" Kak Nadin mengangguk, tersenyum riang, memamerkan kunci di tangannya. "Bagus, boleh kasih ke aku?" Kak Nadin menyerahkan kunci kamarku kepadaku. "Anak pintar." "Kakak suka cokelat, kan?" Dia menatap berbinar padaku. Kakakku imut dan bodoh. Aku sayang kamu, kakak terbodohku. "Nadia punya." Aku memberikan satu kotak penuh persediaan cokelatku pada Kak Nadin. Aku juga suka cokelat, tapi demi melancarkan misiku, aku harus merelakan anak-anakku. Tanpa pikir panjang, Kak Nadin menyambar cokelat yang aku berikan. Selagi dia sibuk, aku memasukkan beberapa baju ke dalam koper. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya kabur dari rumah. Katakanlah aku gila, kenyataannya iya. Aku mengambil uang tunai di brankas. Ayolah, kabur dari rumah orang tua tanpa memblokir kartu rekening? Sebuah keimpossible-an. Tapi aku tidak bodoh, aku membuat rekening sendiri tanpa diketahui orang tuaku. "Kak Nadin, dengerin aku. Tadi di luar ada Mamah gak?" Kak Nadin menggeleng tanpa menghentikan kunyahannya. "Ke mana?" "Arisan." Dasar ibu-ibu sosialita. "Nice info. Kakak diam di sini, ya. Aku mau keluar ngambil minum dulu, oke?" "Ngambil minum kok bawa koper?" Ah, aku pikir dia tidak sadar. Aku lupa dia polos, bukan buta. Mau jawab apa, ya? Bingung aku. "Oh, kamu mau ngambil minum di rumah Grandma, ya?" Hah? Pemikiran macam apa itu? Rumah Grandma di Amerika, masa ngambil minum sejauh itu. Idenya Kak Nadin boleh juga. Aku kabur saja ke rumah Grandma. "Iya, benar, Kak. Kakak pintar banget sih." Dia nyengir lagi. Itu bukan pujian, sumpah. "Aku berangkat dulu, ya." Aku pamit, tidak lupa mengunci pintu dari luar. Setelahnya, aku buang kunci itu entah ke mana. Maaf, Kak Nadin. Tidak lama kok, nanti saat makan malam dibuka lagi. Aku harus bergegas mengingat hari sudah mulai gelap. ****** "Lepasin!" Aku memberontak keras, memberikan penolakan pada tikus jalanan yang sok-sokan menjadi preman. Tidak lama setelah kabur dari rumah, aku berjalan-jalan bermaksud menikmati pemandangan kota saat malam hari. Sampai kejadian yang membagongkan terjadi. "Kenapa kita harus melepaskan kamu!" Sial, aku dikepung. Kalau satu dua masih oke, aku berani bantai. Lah ini enam. "Kenapa? Masih tanya kenapa? Kalian salah orang." "Kalian berurusan dengan salah satu anggota keluarga Wicaksono. Kalian tidak tahu saya siapa?" Aku tersenyum sinis melihat wajah mereka yang menganggap remeh padaku. Sumpah, aku mengarang siapa Wicaksono. "Peduli apa kami! Serahkan semua uangmu atau kami hajar kau di sini," ucap salah satu dari mereka. "Bos, bodinya bagus, wajahnya juga cantik. Gimana kalau kita main-main dulu?" "Ide bagus." Mereka berjalan mendekat ke arahku. Kini aku benar-benar terkepung oleh laki-laki berbadan tegap itu. Aku mengeratkan peganganku pada koper. Demi apa pun, aku tak akan gentar. "Kalian sentuh sedikit saja kulitku, akan kuadukan pada ayahku. Akan habis kalian semua. Jangan harap belas kasihanku." Aku menatap nyala mata salah satu preman yang dipanggil bos itu. "Berani melawan rupanya." Mereka mendekat. Dua orang di belakangku menahan kedua tanganku, sedangkan yang lainnya tertawa menjengkelkan. Orang yang dipanggil bos itu mendekat ke arahku. "Belum pernah, kan, main sama enam orang? Aku yakin kau pasti akan ketagihan." Dia berbisik tepat di telingaku. Aku menguatkan rahang. Tangan pria itu perlahan menyentuh bahuku. Dengan berani, aku meludahi wajahnya. "Kurang ajar!" Dia menampar pipiku. Aku berbalik menatapnya dengan tegas, tersenyum menatap pria menjijikkan itu yang sedang marah. Anak buahnya memegangi badanku dari segala sisi. Aku memberontak dan berteriak minta tolong. Tangan pria itu kembali terangkat, tapi belum sempat menampar wajahku, tangannya tertahan dan langsung kena bogem mentah di wajahnya. Aku menatap pria di hadapanku, laki-laki rapi dengan setelan jasnya. Kuakui tingkahnya keren, dan aku akan benar-benar berterima kasih padanya. Pertarungan tak imbang pun tak bisa terelakkan. Aku duduk meringkuk di pojokan dekat tong sampah. Walaupun tidak imbang, tampaknya laki-laki itu punya skill bela diri yang mumpuni. Aku meringis melihat keenam pria itu tergeletak di tanah. Laki-laki itu menghampiriku setelah mengalahkan para preman. "Bolos kerja saat bertemu sedang dikepung pria! Kau itu sedang apa?" Kalian berpikir dia siapa? Pak Raka? Memang iya. "Maaf, Pak, ngerepotin. Sama terima kasih." "Kabur dari rumah?" Pak Raka melihat tanganku yang terus memegang koper kecilku. Aku menggeleng pelan. "Saya diusir dari rumah, Pak." "Ikut saya." Good job, Nadia. Dengan ini kamu pasti mendapatkan perlindungan dan tempat tinggal gratis. Nice. TBCSudah rebahan dengan berbagai gaya sampai salto, masih saja bosan. Di kamar dari semalam sampai menjelang sore tidak ada kegiatan selain rebahan. Ya, aku dikunci di luar, benar-benar tidak boleh keluar. Makanan diantarkan ART hanya karena hal sepele.Menyebalkan, bukan?Lita, Riri, Reisa, bahkan ada nomor yang tidak dikenal meneleponku menanyakan keberadaanku. Dan sepertinya besok aku bakal dikasih SP satu.Andai aku bisa memilih ingin dilahirkan di keluarga seperti apa, atau andai saja aku tidak lahir di dunia ini.Tidak! Nadia bodoh, pemikiran macam apa itu? Harusnya kita bisa melewati rintangan ini. Kamu percaya akan ada pelangi setelah hujan? Benar, kan, Nadia? Kamu percaya dengan pepatah itu? Harus percaya! Walaupun entah kapan pelangi itu ada.Oh, ayolah, aku seperti orang gila karena mati gaya.Tok tok tok."Nadia."Kak Nadin, sudah pulang kerja kah dia?"Masuk, Kak," aku berteriak supaya terdengar oleh Kak Nadin."Dikunci."Lah, iya Kak Nadin polos banget sih. Dia tidak tahu d
"Habis ngelonte di mana kamu? Jam segini baru pulang!"Kan kataku juga. Orang paling menyebalkan di rumah, Kak Andre. Dia berkacak pinggang di depan pintu dengan mata menyorot tajam padaku.Memang aku dan kakak laki-lakiku tidak pernah akur. Dia selalu saja menggangguku dengan akhir yang tidak mengenakan. Dimarahi Mamah, padahal aku anak bungsu.Konyol, kan?"Ngomong apaan sih, Kak? Aku habis makan sama teman-teman."Satu hal yang aku tidak mengerti dari Kak Andre, dia itu terlalu overprotective. Kalau aku telat pulang lima menit, pasti dituduh kabur dari rumah. Apalagi sekarang jam sembilan aku baru sampai.Langsung dituduh ngelonte, kan?"Bohong! Gak nyangka kamu bakal kayak gini! Apa Mamah pernah ngajarin kamu buat one night stand sama pria?! Jawab!"Sakit jiwa Kak Andre! Kayaknya dia terjangkit sindrom sister complex tingkat akhir. Kalau benar, amit-amit deh."Jangan bicara seenaknya, Kak! Aku cuma makan sama teman!""Makan sampai lupa waktu! Besok kamu jangan berangkat ke kantor
Aku menghela napas lelah. Sudah seharian bekerja, harus beramah-tamah pada setiap tamu yang datang. Badan pegal karena seharian berdiri, yang seharusnya rasa pegal itu bisa langsung diobati oleh kasurku yang empuk. Tapi sekarang tidak, karena sekretaris Pak Ari yang sekarang berpindah menjadi sekretaris Pak Raka mengusulkan hal gila.Mengadakan party penyambutan bos baru, katanya. Sialnya lagi, para staf kebanyakan setuju. Dan Bapak CEO yang terhormat mengatakan terserah dengan usulan itu.Sekarang aku terjebak di restoran sushi di Grand Indonesia Mall dengan para staf pemegang jabatan tertinggi, termasuk Reisa, Riri, dan Lita. Hanya aku dengan posisi terendah yang ikut party. Kalau bukan paksaan dari mereka bertiga, aku lebih baik langsung pulang ke rumah. Yang ikut hanya sedikit, tujuh belas orang termasuk Pak Raka. Hanya saja jabatan mereka membuatku sangat kecil di sini.Meja di sini hanya muat maksimal enam orang.Mereka membentuk circle yang terdiri dari enam orang, sedangkan ka
Aku sedang asyik di meja kerjaku, melihat orang-orang yang berlalu-lalang menyebut-nyebut nama Pak Raka. Ya, memang tampan, tapi apakah perlu seheboh ini? Rasanya memuakkan mendengar cekikikan suara-suara pujian yang dilontarkan untuk CEO baru itu. Dasar berisik.Aku tersenyum saat pintu kaca otomatis itu terbuka. Sedikit terkejut melihat Leon dengan wajah yang terlihat marah memasuki kantor. Sepertinya ini pertama kali Leon menginjakkan kakinya ke sini. Dan jelas aku tahu tujuannya. Kak Angga yang seharusnya menjadi pengganti Pak Ari tidak tertarik mengurus perusahaan. Dia telah sukses di bidang kuliner. Hingga Leon optimis menjadi pewaris selanjutnya. Dia belajar giat, dia juga tidak pernah membicarakan tentang Pak Raka. Lalu tiba-tiba Pak Ari menunjuk Raka, yang aku juga tidak tahu siapa, menjadi CEO. Ya, jelas sudah pasti Leon marah.“Nadia, ayo ke kantin.”Aku hanya mengangguk mengikuti Lita dari belakang. Kami menuju meja yang bisa kami pakai. Di sana sudah ada Riri dan Reisa. P
Seperti hari-hari sebelum hari yang sangat cerah ini, bagi sebagian orang kecuali aku. Karena menurut hatiku, mendung setiap hari.Abaikan.Aku duduk di meja kerjaku, meja resepsionis lebih tepatnya. Wajah cantik berpakaian modis. Oh, siapa yang tidak terpikat olehku. Lihat saja sekarang, Bapak manajer yang telah beristri dan memiliki dua anak datang mendekat ke mejaku.“Nadia, sarapan bareng yuk, ke pantry,” kalian mendengarnya? Sangat menjijikkan, bukan? Tidak tahu malu! Kau pikir aku tertarik dengan laki-laki bangkotan. Sungguh bukan seleraku.“Maaf, Pak. Silakan duluan, kebetulan saya sudah sarapan di rumah,” aku tersenyum ramah. Kenapa? Kaget? Ya, beginilah aku. Memasang citra baik di hadapan banyak orang agar orang lain suka padaku. Cantik, baik, tidak norak, bukankah itu sempurna? Sayangnya, aku sama seperti kalian, suka memaki dalam hati. Iya, kan?“Halus banget suaranya. Atau mau aku ambilin kopi? Roti? Atau apa gitu?”“Oh, enggak, Pak. Makasih, saya bisa ambil sendiri,” aku







