Compartir

bab 4

Autor: Sora moon
last update Fecha de publicación: 2026-01-22 23:56:55

"Habis ngelonte di mana kamu? Jam segini baru pulang!"

Kan kataku juga. Orang paling menyebalkan di rumah, Kak Andre. Dia berkacak pinggang di depan pintu dengan mata menyorot tajam padaku.

Memang aku dan kakak laki-lakiku tidak pernah akur.

Dia selalu saja menggangguku dengan akhir yang tidak mengenakan. Dimarahi Mamah, padahal aku anak bungsu.

Konyol, kan?

"Ngomong apaan sih, Kak? Aku habis makan sama teman-teman."

Satu hal yang aku tidak mengerti dari Kak Andre, dia itu terlalu overprotective. Kalau aku telat pulang lima menit, pasti dituduh kabur dari rumah. Apalagi sekarang jam sembilan aku baru sampai.

Langsung dituduh ngelonte, kan?

"Bohong! Gak nyangka kamu bakal kayak gini! Apa Mamah pernah ngajarin kamu buat one night stand sama pria?! Jawab!"

Sakit jiwa Kak Andre! Kayaknya dia terjangkit sindrom sister complex tingkat akhir. Kalau benar, amit-amit deh.

"Jangan bicara seenaknya, Kak! Aku cuma makan sama teman!"

"Makan sampai lupa waktu! Besok kamu jangan berangkat ke kantor!"

Apaan sih dia? Seenaknya ngatur-ngatur.

"Aku gak habis pikir deh sama Kakak. Kenapa sih selalu ngekang aku? Ayah aja gak pernah marah-marah kayak gini."

Aku melangkah ke dalam rumah, tapi bentakan Kak Andre menghentikan langkahku.

"Karena Ayah gak peduli!"

Aku berbalik menatap tajam Kak Andre.

"Cuma Kakak yang peduli sama kamu."

"Iya, Kakak memang peduli sama aku. Cuma kepedulian Kakak membuat aku takut!"

Aku berlari naik ke atas menuju kamarku.

Baiklah, Nadia, lupakan masalah Kakakmu itu. Mari mandi dan segera tidur. Sepertinya ranjang itu ingin sekali kamu tiduri.

Tak butuh waktu lama untuk mandi. Akhirnya aku bisa rebahan dan segera menjemput alam mimpi.

"Nadia!"

Kak Andre lagi. Dia sangat tidak sopan mengetuk pintu kamarku, seolah ingin merusaknya. Jika sudah seperti ini, pasti masalah sedang menghampiri.

"Nadia, buka pintunya!"

Udahlah, pura-pura gak dengar aja. Mending tidur, walau jujur teriakan Kak Andre sangat mengganggu.

"Nadia! Buka!"

Lama-lama menyebalkan juga. Tapi siapa yang peduli? Kalau aku keluar, sama aja kayak masuk perangkap harimau.

"Kalau gak mau keluar, Kakak dobrak pintunya!"

Silakan aja kalau bisa.

Brak!

Eh! Beneran didobrak! Rusak dong pintu kamarku.

Baiklah, ayo kita mengalah lagi. Buka pintu itu dan usir dia kalau bisa.

Siapkan mental kamu, Nadia. Apa pun yang terjadi nanti, harus kuat.

Stay strong pokoknya!

Aku memutar kunci kamarku dengan sangat terpaksa dan membukakan pintu untuk Kak Andre.

"Apa?"

Dia kelihatan marah banget dan aura negatifnya menyebar keluar.

"Makan malam dulu."

Dobrak pintu hanya untuk itu? Seperduli itu dia sama aku? Benarkah kepedulian dia menakutkan?

"Tadi kan aku udah bilang aku baru pulang makan sama teman-teman. Aku capek, pengin istirahat."

Intonasi suaraku masih rendah, malas meladeni emosi yang meledak-ledak dari kakakku. Apa dia juga penderita Intermittent Explosive Disorder?

It’s so scary.

"Kamu masih mempertahankan kebohongan kamu?!"

"Kak, berapa kali sih aku harus bilang! Aku baru makan sama teman! Artinya aku kenyang, aku gak lapar. Jadi kalian makan aja, gak usah ajak aku."

Aku memberikan penekanan di setiap kata. Aku benar-benar sudah muak. Sudah gak bisa ditolerir.

"Kamu mau bikin Mamah khawatir!"

Astaga, apaan sih maksudnya? Cuma gak ikut makan malam aja selebay itu. Ini dunia nyata, please, jangan dilebih-lebihkan kayak sinetron.

"Khawatir apanya sih, Kak? Perasaan aku cuma gak ikut makan malam aja. Mamah tahu aku di rumah dalam keadaan baik. Kalau aku masih keluyuran di luar terus ada informasi aku ketabrak mobil, baru Mamah khawatir."

Aku melonjak kaget saat Kak Andre meninju dinding di sebelahku.

"Sependek itu pikiran kamu! Turun sekarang! Temuin Mamah!"

"Tapi aku masih kenyang, Kak,"

Aku berbisik sambil menunduk, masih takut melihat wajah marah Kak Andre.

"Kakak gak peduli! Mau kamu sudah kenyang atau kelaparan, setidaknya temuin Mamah. Kasih dia alasan kenapa kamu pulang telat!"

"Tapi tadi aku udah ngasih tahu Kakak, kan?"

"Tapi belum ngasih tahu Mamah! Kakak tunggu di meja makan."

Kak Andre melengos pergi.

Sudah mati aku. Mamah lebih menyeramkan dari Kak Andre.

Kayaknya dia yang ngasih tahu Mamah aku pulang telat. Dasar tukang ngadu.

Di meja makan, keluargaku berkumpul, termasuk Kak Shela, istri Kak Andre, yang menatap sinis dengan seringai menyebalkannya.

Dia pasti bahagia aku bakal dimarahin.

"Kata Andre kamu pulang telat, habis ngapain?"

Aku duduk di samping kanan Mamah. Aku menatap sinis Kak Andre yang sedang makan. Ayah dan Kak Nadin santai makan, seolah tidak melihat aku yang akan diinterogasi habis-habisan.

"Makan-makan sama teman, Mah."

"Makan di luar?"

"Iya."

"Apa kamu berpikir Mamah gak bisa ngasih kamu makan?"

Pertanyaan Mamah membuatku mati kutu.

Dari kecil aku memang jarang makan di luar, kecuali Mamah yang ngajak. Soalnya semua makanan yang diinginkan bisa Mamah buatin atau ART yang masakin.

I don’t know.

Itu aturan konyol keluarga ini. Alasan utama aku selalu bawa bekal ke kantor karena memang gak dibolehin makan di luar. Katanya gak higienis.

Padahal restoran pasti menjaga kualitas makanan. Tapi Mamah orang yang menomorsatukan kebersihan.

"Bukan gitu, Mah. Aku dipaksa sama teman-teman."

"Dipaksa?! Kamu masih punya mulut, kan? Kenapa gak nolak?!"

Seandainya Mamah tahu bagaimana aku di kantor.

"Gak bisa."

"Gak bisa karena kamu juga pengin! Benar, kan?"

Aku semakin menunduk. Tuduhan Mamah benar adanya.

"Gak gitu, Mah. Aku beneran dipaksa."

"Apa kamu pernah lihat Andre pulang telat karena makan di luar? Apa kamu pernah lihat Nadin makan di luar?"

Kak Nadin terlalu penurut. Jangan samakan aku dengannya.

Aku menggeleng pelan.

"Kalau teman-teman kantor kamu membawa pengaruh buruk, besok resign aja."

Aku menatap tak percaya pada Mamah. Hanya karena makan di luar aku sampai disuruh keluar?

"Gak bisa gitu dong, Mah!"

"Gak bisa atau gak mau!"

"Gak mau! Aku udah betah di sana. Aku gak mau resign!"

"Kenapa? Karena di sana banyak teman? Karena gajinya besar? Atau karena di sana kamu punya pacar?"

Semuanya benar, kecuali yang terakhir.

Dan itu alasan aku belum mau ngenalin Leon ke orang tuaku.

"Iya. Kalau Mamah marah karena aku makan di luar atau pulang telat, aku minta maaf. Aku salah. Aku janji gak bakal ngulangin lagi. Tapi aku mohon, Mah, biarin aku kerja di sana."

"Keputusan Mamah sudah bulat."

"Tapi, Mah—"

"Masuk kamar!"

"Mah—"

"Mamah bilang masuk kamar!"

Aku bangkit menuju kamar. Lagi-lagi aku gak bisa ngungkapin apa yang aku mau.

"Besok gak usah ke kantor!"

TBC

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Manipulasi Hati CEO   bab 36

    Dua orang asisten butik dari label ternama berdiri dengan takzim, memegang rak dorong yang berisi barisan gaun malam yang dibalut plastik pelindung. Raka duduk di sofa kulitnya, menyesap espresso dengan tenang, sementara matanya tak lepas dari tiap helai kain yang dipamerkan. "Pilih yang paling kamu suka, Nadia. Tidak perlu melihat label harganya," ucap Raka datar, namun nada bicaranya tidak membantah. Aku melangkah mendekat, jemariku menyentuh permukaan kain satin yang dingin. "Untuk acara apa sebenarnya ini, Raka? Kamu bilang bulan depan ada hadiah, tapi kamu tidak bilang pesta apa." Raka meletakkan cangkirnya ke meja marmer dengan denting pelan. "Hanya sebuah pesta keluarga besar. Acara yang sangat penting untuk masa depan K-Inc. Aku ingin kamu tampil sebagai wanita paling bersinar di ruangan itu. Tanpa celah." Aku mengambil sebuah gaun berwarna merah marun dengan potongan backless yang berani. "Merah? Bukannya biasanya pesta keluarga lebih cocok dengan warna pastel atau emas?

  • Manipulasi Hati CEO   bab 35

    Matahari SCBD tidak pernah santai. Sinarnya menembus dinding kaca setinggi langit-langit di Penthouse lantai 60 ini, memaksa mataku terbuka meski nyawaku belum terkumpul genap. Aku mengerjap, menatap langit-langit yang dihiasi lampu kristal minimalis. Ini bukan unit studio sempit kemarin. Ini adalah istana gantung milik Raka Kusuma. Aku menoleh ke samping. Kosong. Bantal di sebelahku masih menyisakan lekukan kepala pria itu, tapi orangnya sudah lenyap. Aku bangkit, menyampirkan jubah mandi sutra berwarna gading. Begitu keluar kamar, aroma kopi yang sangat kuat menyeruak. Raka berdiri di balkon dalam, hanya memakai kaus oblong hitam dan celana santai. Pemandangan langka. Tidak ada jas zirah yang membuatnya tampak seperti robot pencetak uang. "Bangun juga akhirnya," tegur Raka tanpa menoleh. Dia sibuk menekan tombol pada mesin kopi otomatis. "Jam berapa sekarang?" suaraku serak khas bangun tidur. "Hampir jam sembilan. Kamu tidur seperti orang pingsan setelah makan malam tadi,"

  • Manipulasi Hati CEO   bab 34

    Restoran ini terletak di lantai paling atas sebuah gedung galeri seni. Tidak ada kerumunan, tidak ada suara denting sendok dari meja lain. Raka benar-benar mengosongkan tempat ini. Hanya ada satu meja di sudut dengan pemandangan 360 derajat ke arah kerlap-kerlip Jakarta yang tampak seperti hamparan berlian di bawah kaki kami. Raka menarikkan kursi untukku. Gerakannya tenang, tidak terburu-buru, sangat kontras dengan sosoknya yang biasanya memerintah dengan telunjuk besi. "Kenapa tempat ini sepi sekali, Raka? Kamu mengusir semua orang?" tanyaku sambil merapikan gaun sutra hitamku. "Aku cuma ingin makan malam tanpa harus mendengar bisikan orang soal saham atau gosip bisnis," sahut Raka santai. Dia duduk di hadapanku, melepas satu kancing kemeja teratasnya. "Malam ini, cukup ada aku dan kamu. Anggap saja hadiah karena kamu sudah jadi 'istri' yang sangat meyakinkan akhir-akhir ini." "Hadiah atau sogokan supaya aku tidak membongkar brankasmu lagi?" sindirku sambil tersenyum miring. R

  • Manipulasi Hati CEO   bab 33

    Pagi ini Jakarta diguyur hujan sisa semalam. Suara rintiknya yang menghantam kaca jendela apartemen menciptakan irama yang menenangkan. Aku baru saja selesai mandi, masih memakai bathrobe putih handuk yang kebesaran, saat melihat Raka berdiri di depan mesin kopi. Dia hanya memakai celana bahan hitam dan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka. Tidak ada dasi, tidak ada jas kaku. Rambutnya bahkan sedikit berantakan, jatuh menutupi keningnya—pemandangan yang jauh lebih berbahaya bagi jantungku daripada saat dia memakai setelan bisnis triliunannya. "Berhenti menatapku seolah aku ini menu sarapanmu, Nadia," celetuk Raka tanpa menoleh, namun ada nada geli di suaranya. "Percaya diri sekali," sahutku sambil berjalan menghampiri. Aku mengambil cangkir kopi yang baru saja dia tuang. "Aku cuma heran, kok ada CEO yang bangun jam segini cuma buat bikin kopi sendiri." Raka berbalik, menyandarkan pinggangnya di konter dapur. Dia menatapku lama, tatapan yang tidak lagi tajam seperti di kant

  • Manipulasi Hati CEO   bab 32

    Lampu jalanan Jakarta berpendar cepat di balik kaca jendela Mercedes yang melaju menuju apartemen. Di sampingku, Raka terpejam, tapi aku tahu dia tidak tidur. Tangan kanannya masih menggenggam jemariku—sebuah gestur yang dulu kuanggap pelindung, namun kini terasa seperti borgol emas. Aku memalingkan wajah ke jendela, menatap pantulan diriku yang samar. Pikiranku justru melayang mundur ke Minggu pagi itu. Saat matahari belum sepenuhnya naik dan Raka masih terlelap karena pengaruh wiski semalam sebelumnya. Saat itu, aku berdiri di depan meja kerja jati miliknya. Jantungku berdegup seperti genderang perang. Klik. Suara mekanisme brankas itu terdengar begitu nyaring di kesunyian subuh. Aku menahan napas, melirik ke arah ranjang, memastikan si harimau tidak terbangun. Aman. Pintu baja itu terbuka perlahan, mengeluarkan aroma dingin logam dan kertas-kertas mahal. Niat awal hanyalah mengambil seratus juta untuk membungkam mulut Hardi. Namun, jemariku yang lancang justru menyentuh sebua

  • Manipulasi Hati CEO   bab 31

    Gedung pertemuan di pusat kota itu tampak megah dengan dekorasi bunga lili putih yang menjuntai di setiap sudut. Harum melati yang kuat menyambut kami begitu pintu ballroom terbuka. Aku mempererat kaitan lenganku pada Raka, menyesuaikan langkah dengan ritme sepatunya yang tegas. Malam ini, aku mengenakan gaun sutra berwarna champagne yang jatuh pas di tubuhku—elegan, tidak mencolok, namun tetap memancarkan kelas seorang istri pengusaha besar. "Ingat, Nadia. Cukup jadilah pendamping yang sopan. Tidak perlu drama," bisik Raka datar. Wajahnya lurus ke depan, rahangnya kokoh seolah-olah dia sedang menuju meja perundingan bisnis, bukan pesta pernikahan mantan. "Aku tahu protokolnya, Raka. Senyum, sapa, dan terlihat bahagia. Mudah," sahutku pelan dengan nada yang sangat lembut, hampir seperti bisikan seorang istri yang sedang bermanja. Kami menaiki anak tangga pelaminan. Di sana, Alika berdiri dengan gaun putih lebarnya. Di sampingnya stands Mark, pria berkebangsaan asing yang tampak ga

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status