로그인"Habis ngelonte di mana kamu? Jam segini baru pulang!"
Kan kataku juga. Orang paling menyebalkan di rumah, Kak Andre. Dia berkacak pinggang di depan pintu dengan mata menyorot tajam padaku. Memang aku dan kakak laki-lakiku tidak pernah akur. Dia selalu saja menggangguku dengan akhir yang tidak mengenakan. Dimarahi Mamah, padahal aku anak bungsu. Konyol, kan? "Ngomong apaan sih, Kak? Aku habis makan sama teman-teman." Satu hal yang aku tidak mengerti dari Kak Andre, dia itu terlalu overprotective. Kalau aku telat pulang lima menit, pasti dituduh kabur dari rumah. Apalagi sekarang jam sembilan aku baru sampai. Langsung dituduh ngelonte, kan? "Bohong! Gak nyangka kamu bakal kayak gini! Apa Mamah pernah ngajarin kamu buat one night stand sama pria?! Jawab!" Sakit jiwa Kak Andre! Kayaknya dia terjangkit sindrom sister complex tingkat akhir. Kalau benar, amit-amit deh. "Jangan bicara seenaknya, Kak! Aku cuma makan sama teman!" "Makan sampai lupa waktu! Besok kamu jangan berangkat ke kantor!" Apaan sih dia? Seenaknya ngatur-ngatur. "Aku gak habis pikir deh sama Kakak. Kenapa sih selalu ngekang aku? Ayah aja gak pernah marah-marah kayak gini." Aku melangkah ke dalam rumah, tapi bentakan Kak Andre menghentikan langkahku. "Karena Ayah gak peduli!" Aku berbalik menatap tajam Kak Andre. "Cuma Kakak yang peduli sama kamu." "Iya, Kakak memang peduli sama aku. Cuma kepedulian Kakak membuat aku takut!" Aku berlari naik ke atas menuju kamarku. Baiklah, Nadia, lupakan masalah Kakakmu itu. Mari mandi dan segera tidur. Sepertinya ranjang itu ingin sekali kamu tiduri. Tak butuh waktu lama untuk mandi. Akhirnya aku bisa rebahan dan segera menjemput alam mimpi. "Nadia!" Kak Andre lagi. Dia sangat tidak sopan mengetuk pintu kamarku, seolah ingin merusaknya. Jika sudah seperti ini, pasti masalah sedang menghampiri. "Nadia, buka pintunya!" Udahlah, pura-pura gak dengar aja. Mending tidur, walau jujur teriakan Kak Andre sangat mengganggu. "Nadia! Buka!" Lama-lama menyebalkan juga. Tapi siapa yang peduli? Kalau aku keluar, sama aja kayak masuk perangkap harimau. "Kalau gak mau keluar, Kakak dobrak pintunya!" Silakan aja kalau bisa. Brak! Eh! Beneran didobrak! Rusak dong pintu kamarku. Baiklah, ayo kita mengalah lagi. Buka pintu itu dan usir dia kalau bisa. Siapkan mental kamu, Nadia. Apa pun yang terjadi nanti, harus kuat. Stay strong pokoknya! Aku memutar kunci kamarku dengan sangat terpaksa dan membukakan pintu untuk Kak Andre. "Apa?" Dia kelihatan marah banget dan aura negatifnya menyebar keluar. "Makan malam dulu." Dobrak pintu hanya untuk itu? Seperduli itu dia sama aku? Benarkah kepedulian dia menakutkan? "Tadi kan aku udah bilang aku baru pulang makan sama teman-teman. Aku capek, pengin istirahat." Intonasi suaraku masih rendah, malas meladeni emosi yang meledak-ledak dari kakakku. Apa dia juga penderita Intermittent Explosive Disorder? It’s so scary. "Kamu masih mempertahankan kebohongan kamu?!" "Kak, berapa kali sih aku harus bilang! Aku baru makan sama teman! Artinya aku kenyang, aku gak lapar. Jadi kalian makan aja, gak usah ajak aku." Aku memberikan penekanan di setiap kata. Aku benar-benar sudah muak. Sudah gak bisa ditolerir. "Kamu mau bikin Mamah khawatir!" Astaga, apaan sih maksudnya? Cuma gak ikut makan malam aja selebay itu. Ini dunia nyata, please, jangan dilebih-lebihkan kayak sinetron. "Khawatir apanya sih, Kak? Perasaan aku cuma gak ikut makan malam aja. Mamah tahu aku di rumah dalam keadaan baik. Kalau aku masih keluyuran di luar terus ada informasi aku ketabrak mobil, baru Mamah khawatir." Aku melonjak kaget saat Kak Andre meninju dinding di sebelahku. "Sependek itu pikiran kamu! Turun sekarang! Temuin Mamah!" "Tapi aku masih kenyang, Kak," Aku berbisik sambil menunduk, masih takut melihat wajah marah Kak Andre. "Kakak gak peduli! Mau kamu sudah kenyang atau kelaparan, setidaknya temuin Mamah. Kasih dia alasan kenapa kamu pulang telat!" "Tapi tadi aku udah ngasih tahu Kakak, kan?" "Tapi belum ngasih tahu Mamah! Kakak tunggu di meja makan." Kak Andre melengos pergi. Sudah mati aku. Mamah lebih menyeramkan dari Kak Andre. Kayaknya dia yang ngasih tahu Mamah aku pulang telat. Dasar tukang ngadu. Di meja makan, keluargaku berkumpul, termasuk Kak Shela, istri Kak Andre, yang menatap sinis dengan seringai menyebalkannya. Dia pasti bahagia aku bakal dimarahin. "Kata Andre kamu pulang telat, habis ngapain?" Aku duduk di samping kanan Mamah. Aku menatap sinis Kak Andre yang sedang makan. Ayah dan Kak Nadin santai makan, seolah tidak melihat aku yang akan diinterogasi habis-habisan. "Makan-makan sama teman, Mah." "Makan di luar?" "Iya." "Apa kamu berpikir Mamah gak bisa ngasih kamu makan?" Pertanyaan Mamah membuatku mati kutu. Dari kecil aku memang jarang makan di luar, kecuali Mamah yang ngajak. Soalnya semua makanan yang diinginkan bisa Mamah buatin atau ART yang masakin. I don’t know. Itu aturan konyol keluarga ini. Alasan utama aku selalu bawa bekal ke kantor karena memang gak dibolehin makan di luar. Katanya gak higienis. Padahal restoran pasti menjaga kualitas makanan. Tapi Mamah orang yang menomorsatukan kebersihan. "Bukan gitu, Mah. Aku dipaksa sama teman-teman." "Dipaksa?! Kamu masih punya mulut, kan? Kenapa gak nolak?!" Seandainya Mamah tahu bagaimana aku di kantor. "Gak bisa." "Gak bisa karena kamu juga pengin! Benar, kan?" Aku semakin menunduk. Tuduhan Mamah benar adanya. "Gak gitu, Mah. Aku beneran dipaksa." "Apa kamu pernah lihat Andre pulang telat karena makan di luar? Apa kamu pernah lihat Nadin makan di luar?" Kak Nadin terlalu penurut. Jangan samakan aku dengannya. Aku menggeleng pelan. "Kalau teman-teman kantor kamu membawa pengaruh buruk, besok resign aja." Aku menatap tak percaya pada Mamah. Hanya karena makan di luar aku sampai disuruh keluar? "Gak bisa gitu dong, Mah!" "Gak bisa atau gak mau!" "Gak mau! Aku udah betah di sana. Aku gak mau resign!" "Kenapa? Karena di sana banyak teman? Karena gajinya besar? Atau karena di sana kamu punya pacar?" Semuanya benar, kecuali yang terakhir. Dan itu alasan aku belum mau ngenalin Leon ke orang tuaku. "Iya. Kalau Mamah marah karena aku makan di luar atau pulang telat, aku minta maaf. Aku salah. Aku janji gak bakal ngulangin lagi. Tapi aku mohon, Mah, biarin aku kerja di sana." "Keputusan Mamah sudah bulat." "Tapi, Mah—" "Masuk kamar!" "Mah—" "Mamah bilang masuk kamar!" Aku bangkit menuju kamar. Lagi-lagi aku gak bisa ngungkapin apa yang aku mau. "Besok gak usah ke kantor!" TBCSudah rebahan dengan berbagai gaya sampai salto, masih saja bosan. Di kamar dari semalam sampai menjelang sore tidak ada kegiatan selain rebahan. Ya, aku dikunci di luar, benar-benar tidak boleh keluar. Makanan diantarkan ART hanya karena hal sepele.Menyebalkan, bukan?Lita, Riri, Reisa, bahkan ada nomor yang tidak dikenal meneleponku menanyakan keberadaanku. Dan sepertinya besok aku bakal dikasih SP satu.Andai aku bisa memilih ingin dilahirkan di keluarga seperti apa, atau andai saja aku tidak lahir di dunia ini.Tidak! Nadia bodoh, pemikiran macam apa itu? Harusnya kita bisa melewati rintangan ini. Kamu percaya akan ada pelangi setelah hujan? Benar, kan, Nadia? Kamu percaya dengan pepatah itu? Harus percaya! Walaupun entah kapan pelangi itu ada.Oh, ayolah, aku seperti orang gila karena mati gaya.Tok tok tok."Nadia."Kak Nadin, sudah pulang kerja kah dia?"Masuk, Kak," aku berteriak supaya terdengar oleh Kak Nadin."Dikunci."Lah, iya Kak Nadin polos banget sih. Dia tidak tahu d
"Habis ngelonte di mana kamu? Jam segini baru pulang!"Kan kataku juga. Orang paling menyebalkan di rumah, Kak Andre. Dia berkacak pinggang di depan pintu dengan mata menyorot tajam padaku.Memang aku dan kakak laki-lakiku tidak pernah akur. Dia selalu saja menggangguku dengan akhir yang tidak mengenakan. Dimarahi Mamah, padahal aku anak bungsu.Konyol, kan?"Ngomong apaan sih, Kak? Aku habis makan sama teman-teman."Satu hal yang aku tidak mengerti dari Kak Andre, dia itu terlalu overprotective. Kalau aku telat pulang lima menit, pasti dituduh kabur dari rumah. Apalagi sekarang jam sembilan aku baru sampai.Langsung dituduh ngelonte, kan?"Bohong! Gak nyangka kamu bakal kayak gini! Apa Mamah pernah ngajarin kamu buat one night stand sama pria?! Jawab!"Sakit jiwa Kak Andre! Kayaknya dia terjangkit sindrom sister complex tingkat akhir. Kalau benar, amit-amit deh."Jangan bicara seenaknya, Kak! Aku cuma makan sama teman!""Makan sampai lupa waktu! Besok kamu jangan berangkat ke kantor
Aku menghela napas lelah. Sudah seharian bekerja, harus beramah-tamah pada setiap tamu yang datang. Badan pegal karena seharian berdiri, yang seharusnya rasa pegal itu bisa langsung diobati oleh kasurku yang empuk. Tapi sekarang tidak, karena sekretaris Pak Ari yang sekarang berpindah menjadi sekretaris Pak Raka mengusulkan hal gila.Mengadakan party penyambutan bos baru, katanya. Sialnya lagi, para staf kebanyakan setuju. Dan Bapak CEO yang terhormat mengatakan terserah dengan usulan itu.Sekarang aku terjebak di restoran sushi di Grand Indonesia Mall dengan para staf pemegang jabatan tertinggi, termasuk Reisa, Riri, dan Lita. Hanya aku dengan posisi terendah yang ikut party. Kalau bukan paksaan dari mereka bertiga, aku lebih baik langsung pulang ke rumah. Yang ikut hanya sedikit, tujuh belas orang termasuk Pak Raka. Hanya saja jabatan mereka membuatku sangat kecil di sini.Meja di sini hanya muat maksimal enam orang.Mereka membentuk circle yang terdiri dari enam orang, sedangkan ka
Aku sedang asyik di meja kerjaku, melihat orang-orang yang berlalu-lalang menyebut-nyebut nama Pak Raka. Ya, memang tampan, tapi apakah perlu seheboh ini? Rasanya memuakkan mendengar cekikikan suara-suara pujian yang dilontarkan untuk CEO baru itu. Dasar berisik.Aku tersenyum saat pintu kaca otomatis itu terbuka. Sedikit terkejut melihat Leon dengan wajah yang terlihat marah memasuki kantor. Sepertinya ini pertama kali Leon menginjakkan kakinya ke sini. Dan jelas aku tahu tujuannya. Kak Angga yang seharusnya menjadi pengganti Pak Ari tidak tertarik mengurus perusahaan. Dia telah sukses di bidang kuliner. Hingga Leon optimis menjadi pewaris selanjutnya. Dia belajar giat, dia juga tidak pernah membicarakan tentang Pak Raka. Lalu tiba-tiba Pak Ari menunjuk Raka, yang aku juga tidak tahu siapa, menjadi CEO. Ya, jelas sudah pasti Leon marah.“Nadia, ayo ke kantin.”Aku hanya mengangguk mengikuti Lita dari belakang. Kami menuju meja yang bisa kami pakai. Di sana sudah ada Riri dan Reisa. P
Seperti hari-hari sebelum hari yang sangat cerah ini, bagi sebagian orang kecuali aku. Karena menurut hatiku, mendung setiap hari.Abaikan.Aku duduk di meja kerjaku, meja resepsionis lebih tepatnya. Wajah cantik berpakaian modis. Oh, siapa yang tidak terpikat olehku. Lihat saja sekarang, Bapak manajer yang telah beristri dan memiliki dua anak datang mendekat ke mejaku.“Nadia, sarapan bareng yuk, ke pantry,” kalian mendengarnya? Sangat menjijikkan, bukan? Tidak tahu malu! Kau pikir aku tertarik dengan laki-laki bangkotan. Sungguh bukan seleraku.“Maaf, Pak. Silakan duluan, kebetulan saya sudah sarapan di rumah,” aku tersenyum ramah. Kenapa? Kaget? Ya, beginilah aku. Memasang citra baik di hadapan banyak orang agar orang lain suka padaku. Cantik, baik, tidak norak, bukankah itu sempurna? Sayangnya, aku sama seperti kalian, suka memaki dalam hati. Iya, kan?“Halus banget suaranya. Atau mau aku ambilin kopi? Roti? Atau apa gitu?”“Oh, enggak, Pak. Makasih, saya bisa ambil sendiri,” aku







