MasukAku sedang asyik di meja kerjaku, melihat orang-orang yang berlalu-lalang menyebut-nyebut nama Pak Raka. Ya, memang tampan, tapi apakah perlu seheboh ini? Rasanya memuakkan mendengar cekikikan suara-suara pujian yang dilontarkan untuk CEO baru itu. Dasar berisik.
Aku tersenyum saat pintu kaca otomatis itu terbuka. Sedikit terkejut melihat Leon dengan wajah yang terlihat marah memasuki kantor. Sepertinya ini pertama kali Leon menginjakkan kakinya ke sini. Dan jelas aku tahu tujuannya. Kak Angga yang seharusnya menjadi pengganti Pak Ari tidak tertarik mengurus perusahaan. Dia telah sukses di bidang kuliner. Hingga Leon optimis menjadi pewaris selanjutnya. Dia belajar giat, dia juga tidak pernah membicarakan tentang Pak Raka. Lalu tiba-tiba Pak Ari menunjuk Raka, yang aku juga tidak tahu siapa, menjadi CEO. Ya, jelas sudah pasti Leon marah. “Nadia, ayo ke kantin.” Aku hanya mengangguk mengikuti Lita dari belakang. Kami menuju meja yang bisa kami pakai. Di sana sudah ada Riri dan Reisa. Perusahaan sudah menyediakan makanan gratis dengan menu mewah setiap hari, tapi aku harus membawa bekal dari rumah. Karena ibuku yang seorang maniac kebersihan. “Ih, sumpah, ternyata anak kedua Pak Ari ganteng banget,” Riri membuka percakapan, tapi aku cuma terdiam karena aku tahu itu bukan anak keduanya, woy. “Tapi itu bukan anak kedua Pak Ari,” ucap Reisa santai. Kami bertiga sontak menatap Reisa. “Anak kedua Pak Ari itu Leon Satya Kusuma. Yang kalian dengar tadi namanya siapa?” “Pak Raka Satya Kusuma,” jawab Lita dan Riri serentak. “Nah, itu. Lihat aja di website.” Mereka berdua langsung membuka handphone. Kalau aku sih sudah tahu. “Lah, iya, terus Pak Raka siapa? Di sini cuma dua anak. Rei, kamu dekatkan sama keluarga Pak Ari, pasti kamu tahu sesuatu, iya kan?” tanya Lita. Aku mendengarkan karena aku juga penasaran. “Itulah, aku pun enggak tahu. Aku bersahabat dengan Leon, dan selama aku main ke rumahnya, aku tidak pernah mendengar nama Raka ataupun foto anak laki-laki. Yang aku tahu hanya Angga dan Leon.” “Ternyata kehidupan konglomerat penuh misteri juga ya. Jangan-jangan Pak Raka anak dari hasil hubungan gelap Pak Ari?” spekulasi Riri masuk akal juga. “Bisa jadi, karena hubungan gelap, jadi Pak Raka disembunyikan dari publik.” Aku jadi semakin berpikir. Teori konspirasi yang dibuat Riri sama Lita bisa jadi benar. “Enggak mungkin jika dari hubungan gelap. Kak Angga memang tidak tertarik untuk melanjutkan perusahaan, tapi Leon, aku tahu seberapa kerasnya dia berjuang. Lalu kenapa dia memberikan jabatannya ke Raka jika anak kandung, Leon bersedia meneruskannya?” Benar kata Reisa. Aku juga tahu seberapa besar keinginan Leon untuk menggantikan ayahnya. Ah, sepertinya aku harus bertemu Leon untuk menjelaskan semuanya. Sepulang kerja, aku mengirim pesan ke Leon untuk bertemu di kafe favorit kami. Di atas meja tersedia matcha dan cinnamon roll untukku, serta cappuccino dan croissant untuk Leon. Aku mengetuk-ngetuk meja pelan menunggu Leon. Sedang asyik melamun sambil menatap jendela, aku merasakan ada seseorang mengecup kepalaku. Sudah pasti Leon. Aku tahu kebiasaannya. “Kenapa lama?” Aku pura-pura ngambek, mengerutkan bibirku. Tentu saja aku tidak ingin benar-benar melakukannya. Leon terkekeh. “Maaf, tadi macet.” Alasan klasik. “Jadi bisa dijelaskan sekarang, sayang?” “Tentang Raka?” Aku mengangguk antusias. “Ya, dia anak kedua Papi, beda ibu.” “Lah, terus kok kayak disembunyikan gitu? Di portofolio Papi kamu pun cuma kamu sama Kak Angga.” “Panjang kalau dijelasin.” “Enggak apa-apa, aku bakal dengerin kok.” Catat ya, aku bukan manusia kepo, hanya sedikit penasaran. “Jadi dulu orang tuaku dijodohkan, sedangkan waktu itu Papi sudah punya cewek yang, kalau kata Mami, Papi bucin banget ke cewek itu. Tapi karena latar keluarga yang beda, keluarga Papi enggak merestui mereka nikah. Cewek itu ibunya Raka." "Oh, berarti Raka anak dari hubungan gelap Papi kamu?” “Dibilang bukan juga enggak tahu. Jadi dulu Papi baik banget sama Mami, enggak kayak pria yang dipaksa menikah. Sampai saat itu Mami hamil Kak Angga. Sejak Mami hamil, yang Mami tahu Papi sudah enggak pernah lagi berhubungan dengan ibunya Raka. Tapi ternyata Mami salah. Setelah Kak Angga berusia lima tahun dan Mami sedang mengandung aku, Mami mengetahui bahwa selama ini Papi selingkuh. Dan ternyata Papi sudah lebih dulu menikah dengan ibunya Raka tanpa sepengetahuan siapa pun. Mirisnya, saat Mami datang ke kediaman Papi dan ibunya Raka dalam kondisi hamil besar, dia melihat Papi yang sedang bermain dengan istri dan anaknya yang berusia dua tahun. Ya, itu Raka.” Oke, aku mengangguk-angguk mengerti. Benar juga, dibilang dari hubungan gelap juga bukan. Ibunya Raka justru istri pertama. “Jadi kenapa Raka kayak disembunyikan? Terus kenapa juga nama kamu sama kayak dia?” “Kayak yang aku bilang di awal, hubungan mereka tidak direstui keluarga. Oma pasti marah besar kalau tahu Papi masih berhubungan dengan ibunya Raka sampai punya anak. Jadi saat itu jalan tengahnya, Papi menceraikan ibunya Raka dengan tetap memberi nafkah untuk Raka dan ibunya. Tapi ibunya Raka sebisa mungkin harus menghindar dari Papi ataupun keluarga Papi. Jadi Raka itu enggak tinggal sama aku. Dia tinggal sama ibunya. Aku juga enggak tahu punya saudara lain selain kak Angga. Sampai akhirnya bulan kemarin ibunya Raka meninggal dan Raka dibawa ke rumah, lalu menjelaskan semuanya. Kalau soal nama kenapa bisa sama, aku enggak tahu. Karena Papi yang ngasih nama itu. Dan Raka enggak pakai nama Kusuma di belakang namanya.” “Oh, terus gimana ceritanya Papi kamu lebih milih Raka sebagai CEO daripada kamu?” “Papi itu adil ke anak-anaknya. Jadi dia pengin yang megang perusahaan awalnya anak pertamanya. Cuma kan Kak Angga enggak mau, jadi diturunkan ke anak kedua. Berhubung Raka juga anak Papi dan diakui, jadilah jabatan itu jatuh ke tangan anak kedua. Begitu.” “Terus kamu gimana? Selama ini kamu berjuang buat jabatan itu, tapi akhirnya malah kakak kamu yang dapat.” Leon tersenyum. “Kecewa sih. Cuma gimana, aku enggak bisa berbuat banyak. Keputusan ada di Papi. Lagipula kata Papi, ilmu bisnis Raka lebih tinggi dari aku, dan aku masih harus belajar sama dia.” Aku bingung harus merespons bagaimana. Aku tahu Leon pasti benar-benar kecewa. Tapi benar jika semua keputusan tergantung ayahnya. Tapi, anak ini kelihatannya kayak enggak keberatan, seolah semua kerja kerasnya bukan apa-apa. “Terus sekarang kamu gimana?” “Enggak gimana-gimana. Aku disuruh ngurus dulu perusahaan yang di Surabaya di bawah pengawasan Raka.” “Lah? Jadi kita LDR, nih?” Aku tidak terlalu mementingkan hubungan ini sih. Walaupun sudah berhubungan lama, tapi rasanya hambar. “Iya juga ya. Kamu enggak apa-apakan kalau kita jauhan?” “Enggak apa-apa sih. Ini juga demi kebaikan kamu.” Leon tersenyum padaku. “Makasih ya, Nad. Aku janji enggak bakal lirik cewek lain di sana. Kamu juga awas aja kalau selingkuh dari aku.” “Iya-iya, enggak akan. Bawel.” Entahlah. Hubungan jarak jauh, mending cari yang lain saja, enggak sih? TBCSudah rebahan dengan berbagai gaya sampai salto, masih saja bosan. Di kamar dari semalam sampai menjelang sore tidak ada kegiatan selain rebahan. Ya, aku dikunci di luar, benar-benar tidak boleh keluar. Makanan diantarkan ART hanya karena hal sepele.Menyebalkan, bukan?Lita, Riri, Reisa, bahkan ada nomor yang tidak dikenal meneleponku menanyakan keberadaanku. Dan sepertinya besok aku bakal dikasih SP satu.Andai aku bisa memilih ingin dilahirkan di keluarga seperti apa, atau andai saja aku tidak lahir di dunia ini.Tidak! Nadia bodoh, pemikiran macam apa itu? Harusnya kita bisa melewati rintangan ini. Kamu percaya akan ada pelangi setelah hujan? Benar, kan, Nadia? Kamu percaya dengan pepatah itu? Harus percaya! Walaupun entah kapan pelangi itu ada.Oh, ayolah, aku seperti orang gila karena mati gaya.Tok tok tok."Nadia."Kak Nadin, sudah pulang kerja kah dia?"Masuk, Kak," aku berteriak supaya terdengar oleh Kak Nadin."Dikunci."Lah, iya Kak Nadin polos banget sih. Dia tidak tahu d
"Habis ngelonte di mana kamu? Jam segini baru pulang!"Kan kataku juga. Orang paling menyebalkan di rumah, Kak Andre. Dia berkacak pinggang di depan pintu dengan mata menyorot tajam padaku.Memang aku dan kakak laki-lakiku tidak pernah akur. Dia selalu saja menggangguku dengan akhir yang tidak mengenakan. Dimarahi Mamah, padahal aku anak bungsu.Konyol, kan?"Ngomong apaan sih, Kak? Aku habis makan sama teman-teman."Satu hal yang aku tidak mengerti dari Kak Andre, dia itu terlalu overprotective. Kalau aku telat pulang lima menit, pasti dituduh kabur dari rumah. Apalagi sekarang jam sembilan aku baru sampai.Langsung dituduh ngelonte, kan?"Bohong! Gak nyangka kamu bakal kayak gini! Apa Mamah pernah ngajarin kamu buat one night stand sama pria?! Jawab!"Sakit jiwa Kak Andre! Kayaknya dia terjangkit sindrom sister complex tingkat akhir. Kalau benar, amit-amit deh."Jangan bicara seenaknya, Kak! Aku cuma makan sama teman!""Makan sampai lupa waktu! Besok kamu jangan berangkat ke kantor
Aku menghela napas lelah. Sudah seharian bekerja, harus beramah-tamah pada setiap tamu yang datang. Badan pegal karena seharian berdiri, yang seharusnya rasa pegal itu bisa langsung diobati oleh kasurku yang empuk. Tapi sekarang tidak, karena sekretaris Pak Ari yang sekarang berpindah menjadi sekretaris Pak Raka mengusulkan hal gila.Mengadakan party penyambutan bos baru, katanya. Sialnya lagi, para staf kebanyakan setuju. Dan Bapak CEO yang terhormat mengatakan terserah dengan usulan itu.Sekarang aku terjebak di restoran sushi di Grand Indonesia Mall dengan para staf pemegang jabatan tertinggi, termasuk Reisa, Riri, dan Lita. Hanya aku dengan posisi terendah yang ikut party. Kalau bukan paksaan dari mereka bertiga, aku lebih baik langsung pulang ke rumah. Yang ikut hanya sedikit, tujuh belas orang termasuk Pak Raka. Hanya saja jabatan mereka membuatku sangat kecil di sini.Meja di sini hanya muat maksimal enam orang.Mereka membentuk circle yang terdiri dari enam orang, sedangkan ka
Aku sedang asyik di meja kerjaku, melihat orang-orang yang berlalu-lalang menyebut-nyebut nama Pak Raka. Ya, memang tampan, tapi apakah perlu seheboh ini? Rasanya memuakkan mendengar cekikikan suara-suara pujian yang dilontarkan untuk CEO baru itu. Dasar berisik.Aku tersenyum saat pintu kaca otomatis itu terbuka. Sedikit terkejut melihat Leon dengan wajah yang terlihat marah memasuki kantor. Sepertinya ini pertama kali Leon menginjakkan kakinya ke sini. Dan jelas aku tahu tujuannya. Kak Angga yang seharusnya menjadi pengganti Pak Ari tidak tertarik mengurus perusahaan. Dia telah sukses di bidang kuliner. Hingga Leon optimis menjadi pewaris selanjutnya. Dia belajar giat, dia juga tidak pernah membicarakan tentang Pak Raka. Lalu tiba-tiba Pak Ari menunjuk Raka, yang aku juga tidak tahu siapa, menjadi CEO. Ya, jelas sudah pasti Leon marah.“Nadia, ayo ke kantin.”Aku hanya mengangguk mengikuti Lita dari belakang. Kami menuju meja yang bisa kami pakai. Di sana sudah ada Riri dan Reisa. P
Seperti hari-hari sebelum hari yang sangat cerah ini, bagi sebagian orang kecuali aku. Karena menurut hatiku, mendung setiap hari.Abaikan.Aku duduk di meja kerjaku, meja resepsionis lebih tepatnya. Wajah cantik berpakaian modis. Oh, siapa yang tidak terpikat olehku. Lihat saja sekarang, Bapak manajer yang telah beristri dan memiliki dua anak datang mendekat ke mejaku.“Nadia, sarapan bareng yuk, ke pantry,” kalian mendengarnya? Sangat menjijikkan, bukan? Tidak tahu malu! Kau pikir aku tertarik dengan laki-laki bangkotan. Sungguh bukan seleraku.“Maaf, Pak. Silakan duluan, kebetulan saya sudah sarapan di rumah,” aku tersenyum ramah. Kenapa? Kaget? Ya, beginilah aku. Memasang citra baik di hadapan banyak orang agar orang lain suka padaku. Cantik, baik, tidak norak, bukankah itu sempurna? Sayangnya, aku sama seperti kalian, suka memaki dalam hati. Iya, kan?“Halus banget suaranya. Atau mau aku ambilin kopi? Roti? Atau apa gitu?”“Oh, enggak, Pak. Makasih, saya bisa ambil sendiri,” aku







