LOGINAku menghela napas lelah. Sudah seharian bekerja, harus beramah-tamah pada setiap tamu yang datang. Badan pegal karena seharian berdiri, yang seharusnya rasa pegal itu bisa langsung diobati oleh kasurku yang empuk. Tapi sekarang tidak, karena sekretaris Pak Ari yang sekarang berpindah menjadi sekretaris Pak Raka mengusulkan hal gila.
Mengadakan party penyambutan bos baru, katanya. Sialnya lagi, para staf kebanyakan setuju. Dan Bapak CEO yang terhormat mengatakan terserah dengan usulan itu. Sekarang aku terjebak di restoran sushi di Grand Indonesia Mall dengan para staf pemegang jabatan tertinggi, termasuk Reisa, Riri, dan Lita. Hanya aku dengan posisi terendah yang ikut party. Kalau bukan paksaan dari mereka bertiga, aku lebih baik langsung pulang ke rumah. Yang ikut hanya sedikit, tujuh belas orang termasuk Pak Raka. Hanya saja jabatan mereka membuatku sangat kecil di sini. Meja di sini hanya muat maksimal enam orang. Mereka membentuk circle yang terdiri dari enam orang, sedangkan kami hanya berempat. Syukurlah tidak kecampur dengan orang-orang itu. Sekretaris bilang mereka bebas memesan apa pun karena tagihannya akan ditanggung Pak Raka. Tapi, dilihat-lihat, sepertinya CEO itu belum datang. Kami memesan sesuka hati, dari yang termahal dan yang terenak. Jangan bilang aku rakus, karena Reisa yang memesan untuk kami. Setelah puas memilih, kami berbincang sambil menunggu pesanan datang. Tiba-tiba saja aku merasakan seseorang duduk di sampingku. Aku terkejut. Semua orang melotot melihat Pak Raka, CEO baru itu, duduk di sebelahku. Ya, di sebelahku. Gila banget. Mana auranya bikin aku merinding. Rasanya pengin pulang. “Selamat malam, Pak. Senang bertemu dengan Bapak,” Riri memulai percakapan. Dia duduk di seberangku, di sampingnya Lita, sedangkan Reisa duduk di samping kananku. Jadinya aku terhimpit di tengah. Aku tidak suka situasi ini, Tuhan. “Hm.” Tidak jelas banget responsnya. Sekaku itu kah? “Perkenalkan, Pak. Saya Riri dari divisi pemasaran. Ini Mbak Lita HRD kita, lalu ada Reisa, direktur keuangan, yang mungkin Bapak sudah tahu. Dan yang terakhir Nadia, resepsionis perusahaan.” Harus banget kenalannya sambil menunjukkan jabatan. Bikin aku makin insecure saja. Aku tersenyum, begitu pun yang lainnya. “Senang bertemu dengan Bapak." Pak Raka tidak menjawab. Hanya matanya yang melihat kami satu per satu. Kami semua terdiam, tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Tak lama, beberapa pesanan kami datang. Kami hanya diam. Entahlah, atmosfer di meja ini sangat tidak bersahabat. Aku memainkan sedotan di minumanku, sesekali meneguknya. Yang lain pun melakukan hal yang sama. “Tunggu apa? Jangan malu-malu. Makan saja,” kata Pak Raka. Kami serentak melihatnya. Riri tertawa canggung. “Iya, Pak. Kalau begitu, Bapak mau saya pesankan makanan dan minuman lain yang Bapak suka?” “Unagi sushi dan ocha.” Setelah mendengar pesanan Pak Raka, Riri bergegas menghampiri pelayan. Ternyata selain wajahnya yang tampan, entah kenapa suaranya bikin candu. Aku tidak akan munafik, aku cewek apa adanya. “Ayo makan.” Pak Raka melirik padaku. Aku tersenyum simpul, mengambil beberapa potong sushi dan menyimpannya di piringku, lalu menyerahkannya pada Pak Raka. “Silakan, Bapak, duluan.” Aku tersenyum semanis mungkin. Tapi Pak Raka menolak dengan mendorong pelan piringku. Sombong banget, nih, laki. Sudah diperhatikan, malah sok-sokan nolak. Aku tak lagi memedulikannya dan fokus pada makananku. Tentunya aku makan dengan anggun dan slay. Riri sudah kembali ke meja. Dia senyum-senyum tidak jelas. Kayak cewek gatal yang butuh perhatian. Tahu, kan, apa artinya kalau perempuan memainkan rambutnya? “Kalau boleh tahu, apa Bapak sudah memiliki pasangan?” Agak gila, kurasa. Orang bisa-bisanya bertanya seperti itu ke atasan. Ke bos besar. Tidak punya urat malu memang si Riri ini. “Belum,” jawab Pak Raka santai. Lihatlah betina birahi itu makin senyum-senyum tidak jelas. Ya ampun, aku tidak habis pikir sama kelakuannya. Centil banget, ya Tuhan. Tak lama, pelayan datang membawa beberapa pesanan Pak Raka yang Riri pesan. “Saya juga belum punya pasangan, Pak.” Pak Raka sekilas melihat Riri, lalu makan sushi dengan santai. “Saya tidak tertarik.” Sumpah, Ri, malu banget sih aku kalau jadi kamu. Sudah menggatal, tertolak mentah-mentah. Aku melihat Riri menunduk, mengerucutkan bibirnya. Kataku juga, Ri, mending makan saja tuh sushi. Tidak usah sok-sokan nanya hal tidak jelas. Aku tertawa melihat Riri. Syukurin. Muka tidak seberapa pengin dekatin CEO. Kagak bisa lah, Ri. Yang ada mereka ilfeel. “Tidak apa-apa tidak tertarik sekarang. Siapa tahu nanti Bapak berubah pikiran. Bisa berjodoh sama saya,” lanjutnya lagi. “Hm.” Pak Raka hanya bergumam, tidak banyak merespons. Sudah terasa lama kami makan dengan Riri yang terus berusaha menggoda CEO itu agar menjadikannya kandidat calon pasangan. Malu, Ri. Kami bertiga hanya terdiam melihat Riri yang terus mengoceh. Sesekali aku juga mendengar helaan napas dari Reisa. Mungkin dia juga muak. Kalau di situasi seperti ini, sepertinya kita tidak dulu menganggap kamu teman, deh, Ri. Tapi sejak kapan aku menganggap Riri teman? Bagiku mereka tak lebih dari rekan kerja. Aku melirik arloji yang baru menunjukkan pukul delapan malam lebih sedikit. Wajar saja, kami ke sini dari jam empat. Tapi ini bukan party, lebih ke piknik. Mereka yang ikut sibuk dengan circle masing-masing, sesekali menyapa Pak Raka. Sedangkan kami hanya diam mendengar ocehan Riri yang tidak jelas. Sebentar, bukannya sekarang sudah jam delapan? Jam delapan lebih. Gila, ya. Aku kan tidak boleh pulang lebih dari jam delapan. Apalagi nanti di perjalanan lama. Waduh, pasti kena omel orang rumah. Sebaiknya aku pulang sekarang. Tapi mau keluarnya ada Pak Raka. Gimana ini? “Rei, kayaknya aku harus pulang sekarang,” bisikku pada Reisa. “Baru jam delapan, loh, Nad. Lagian masih ada Pak Raka di samping kamu. Coba gimana keluarnya?” “Tinggal bilang permisi, kan. Bisa.” “Ya sudah kalau kamu tidak malu. Tapi aku tidak bisa bareng kamu. Aku dijemput pacarku.” “Tidak apa-apa. Lagian aku sudah pesan taksi online.” Jangan tertawa. Aku tidak bisa menyetir mobil ataupun motor. Lagian aku juga bukan dari keluarga kaya raya. Garasi rumahku saja tidak cukup. “Bapak, maaf, sepertinya saya harus pulang duluan.” “Hm.” Ngomongnya pelit banget, perasaan. Aku berdiri membawa blazer dan tasku. Aku melewati Pak Raka sambil terus mengatakan permisi. Aku juga berpamitan pada teman-temanku. Setelah itu, aku langsung bergegas pulang ke rumah. TBCSudah rebahan dengan berbagai gaya sampai salto, masih saja bosan. Di kamar dari semalam sampai menjelang sore tidak ada kegiatan selain rebahan. Ya, aku dikunci di luar, benar-benar tidak boleh keluar. Makanan diantarkan ART hanya karena hal sepele.Menyebalkan, bukan?Lita, Riri, Reisa, bahkan ada nomor yang tidak dikenal meneleponku menanyakan keberadaanku. Dan sepertinya besok aku bakal dikasih SP satu.Andai aku bisa memilih ingin dilahirkan di keluarga seperti apa, atau andai saja aku tidak lahir di dunia ini.Tidak! Nadia bodoh, pemikiran macam apa itu? Harusnya kita bisa melewati rintangan ini. Kamu percaya akan ada pelangi setelah hujan? Benar, kan, Nadia? Kamu percaya dengan pepatah itu? Harus percaya! Walaupun entah kapan pelangi itu ada.Oh, ayolah, aku seperti orang gila karena mati gaya.Tok tok tok."Nadia."Kak Nadin, sudah pulang kerja kah dia?"Masuk, Kak," aku berteriak supaya terdengar oleh Kak Nadin."Dikunci."Lah, iya Kak Nadin polos banget sih. Dia tidak tahu d
"Habis ngelonte di mana kamu? Jam segini baru pulang!"Kan kataku juga. Orang paling menyebalkan di rumah, Kak Andre. Dia berkacak pinggang di depan pintu dengan mata menyorot tajam padaku.Memang aku dan kakak laki-lakiku tidak pernah akur. Dia selalu saja menggangguku dengan akhir yang tidak mengenakan. Dimarahi Mamah, padahal aku anak bungsu.Konyol, kan?"Ngomong apaan sih, Kak? Aku habis makan sama teman-teman."Satu hal yang aku tidak mengerti dari Kak Andre, dia itu terlalu overprotective. Kalau aku telat pulang lima menit, pasti dituduh kabur dari rumah. Apalagi sekarang jam sembilan aku baru sampai.Langsung dituduh ngelonte, kan?"Bohong! Gak nyangka kamu bakal kayak gini! Apa Mamah pernah ngajarin kamu buat one night stand sama pria?! Jawab!"Sakit jiwa Kak Andre! Kayaknya dia terjangkit sindrom sister complex tingkat akhir. Kalau benar, amit-amit deh."Jangan bicara seenaknya, Kak! Aku cuma makan sama teman!""Makan sampai lupa waktu! Besok kamu jangan berangkat ke kantor
Aku menghela napas lelah. Sudah seharian bekerja, harus beramah-tamah pada setiap tamu yang datang. Badan pegal karena seharian berdiri, yang seharusnya rasa pegal itu bisa langsung diobati oleh kasurku yang empuk. Tapi sekarang tidak, karena sekretaris Pak Ari yang sekarang berpindah menjadi sekretaris Pak Raka mengusulkan hal gila.Mengadakan party penyambutan bos baru, katanya. Sialnya lagi, para staf kebanyakan setuju. Dan Bapak CEO yang terhormat mengatakan terserah dengan usulan itu.Sekarang aku terjebak di restoran sushi di Grand Indonesia Mall dengan para staf pemegang jabatan tertinggi, termasuk Reisa, Riri, dan Lita. Hanya aku dengan posisi terendah yang ikut party. Kalau bukan paksaan dari mereka bertiga, aku lebih baik langsung pulang ke rumah. Yang ikut hanya sedikit, tujuh belas orang termasuk Pak Raka. Hanya saja jabatan mereka membuatku sangat kecil di sini.Meja di sini hanya muat maksimal enam orang.Mereka membentuk circle yang terdiri dari enam orang, sedangkan ka
Aku sedang asyik di meja kerjaku, melihat orang-orang yang berlalu-lalang menyebut-nyebut nama Pak Raka. Ya, memang tampan, tapi apakah perlu seheboh ini? Rasanya memuakkan mendengar cekikikan suara-suara pujian yang dilontarkan untuk CEO baru itu. Dasar berisik.Aku tersenyum saat pintu kaca otomatis itu terbuka. Sedikit terkejut melihat Leon dengan wajah yang terlihat marah memasuki kantor. Sepertinya ini pertama kali Leon menginjakkan kakinya ke sini. Dan jelas aku tahu tujuannya. Kak Angga yang seharusnya menjadi pengganti Pak Ari tidak tertarik mengurus perusahaan. Dia telah sukses di bidang kuliner. Hingga Leon optimis menjadi pewaris selanjutnya. Dia belajar giat, dia juga tidak pernah membicarakan tentang Pak Raka. Lalu tiba-tiba Pak Ari menunjuk Raka, yang aku juga tidak tahu siapa, menjadi CEO. Ya, jelas sudah pasti Leon marah.“Nadia, ayo ke kantin.”Aku hanya mengangguk mengikuti Lita dari belakang. Kami menuju meja yang bisa kami pakai. Di sana sudah ada Riri dan Reisa. P
Seperti hari-hari sebelum hari yang sangat cerah ini, bagi sebagian orang kecuali aku. Karena menurut hatiku, mendung setiap hari.Abaikan.Aku duduk di meja kerjaku, meja resepsionis lebih tepatnya. Wajah cantik berpakaian modis. Oh, siapa yang tidak terpikat olehku. Lihat saja sekarang, Bapak manajer yang telah beristri dan memiliki dua anak datang mendekat ke mejaku.“Nadia, sarapan bareng yuk, ke pantry,” kalian mendengarnya? Sangat menjijikkan, bukan? Tidak tahu malu! Kau pikir aku tertarik dengan laki-laki bangkotan. Sungguh bukan seleraku.“Maaf, Pak. Silakan duluan, kebetulan saya sudah sarapan di rumah,” aku tersenyum ramah. Kenapa? Kaget? Ya, beginilah aku. Memasang citra baik di hadapan banyak orang agar orang lain suka padaku. Cantik, baik, tidak norak, bukankah itu sempurna? Sayangnya, aku sama seperti kalian, suka memaki dalam hati. Iya, kan?“Halus banget suaranya. Atau mau aku ambilin kopi? Roti? Atau apa gitu?”“Oh, enggak, Pak. Makasih, saya bisa ambil sendiri,” aku







