Beranda / Mafia / Mantan Kakak Tiri / Bab 3 Aku Akan Menjadi Neraka Untukmu

Share

Bab 3 Aku Akan Menjadi Neraka Untukmu

Penulis: Silentia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-19 16:05:40

Suara lonceng kecil di atas pintu kembali berbunyi, disusul langkah seseorang yang terbiasa datang setiap sore. Elara menoleh dan tersenyum tipis.

“Ah, kamu datang lagi, Arvid,” sapanya lembut sambil mengelap tangan di celemek. Ia meninggalkan Damian begitu saja.

Pemuda itu, dengan rambut cokelat muda dan wajah yang selalu tampak gugup di hadapan Elara, tersenyum kikuk sambil memegang setangkai bunga matahari. “Aku ingin bunga ini, cantik dan cerah sepertimu," ucapnya bercanda sembari membetulkan letak kacamatanya.

Elara terkekeh kecil. “Kamu pelanggan paling rajin yang pernah aku punya. Bahkan bunga-bunga di etalase hafal sama wajahmu dan candaanmu.”

Arvid tertawa pelan, matanya menatap Elara sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Ada kekaguman yang jelas, tapi tidak berani diungkapkan.

Namun sebelum Arvid sempat menjawab, suara berat memotong udara. Suara yang dalam, tenang, tapi membuat jantungnya langsung menegang.

“Menarik,” ujar Damian datar dari sudut ruangan. “Jadi sekarang kamu menjual bunga sambil tersenyum manis ke setiap pria yang lewat?”

Elara membeku. Ia lupa kalau masih ada Damian duduk di kursi dekat jendela, di balik bayangan cahaya sore menjelang malam yang menimpa wajahnya setengah gelap. Tangannya terlipat, kaki disilangkan santai, tapi tatapan matanya, tajam, menusuk, dan penuh peringatan.

Arvid menoleh, jelas tidak nyaman. “Maaf, aku tidak tahu kalau....”

“Kalau apa?” Damian bangkit perlahan, suaranya rendah tapi tegas. Ia mendekat, langkahnya berat dan tak terburu-buru, namun cukup untuk membuat udara di toko itu menegang. “Anak muda, pergilah sebelum aku...."

“Damian!” Elara berdiri cepat, menahan tubuh pria itu sebelum semakin dekat. “Dia pelanggan setia toko bungaku.” Ia ingin menghentikan kekacauan ini.

Damian menatap tangan Elara yang menahannya. Lama. Terlalu lama. Lalu perlahan mengalihkan pandangan ke arah Arvid lagi. “Kalau begitu, pelanggan ini harus tahu kapan waktunya pergi.”

Arvid menelan ludah. Ia menatap Elara seolah meminta izin, tapi Elara hanya bisa membalas dengan tatapan minta maaf.

“Maaf, Elara. Aku, aku ke sini besok saja,” katanya cepat, lalu melangkah keluar dengan gugup. Ia sungguh takut pada pria yang tengah bersama Elara saat ini.

Begitu pintu tertutup, Elara langsung berbalik, matanya tajam. “Kamu sadar kamu baru saja membuat pelanggan setiaku kabur?”

Belum ada satu jam ia bertemu dengan Damian, hidupnya terasa kacau. Padahal ia sudah sangat nyaman dengan kehidupan barunya saat ini.

Damian menatapnya tanpa rasa bersalah. “Kalau dia kabur hanya karena tatapan, berarti dia memang tidak pantas di dekatmu. Seorang pengecut tidak akan bisa melindungimu.”

“Dia tidak melakukan apa-apa, Damian!” Elara melangkah lebih dekat, suaranya meninggi. “Dia hanya membeli bunga, dan kamu menakutinya!”

“Aku hanya memastikan, tidak boleh ada yang menyentuh milikku." Damian berucap dingin.

Elara terdiam. Bibirnya gemetar menahan marah dan takut di saat bersamaan. “Aku bukan milik siapa pun.”

Damian mendekat. Setiap langkahnya membuat Elara mundur, sampai punggungnya menyentuh meja kerja di belakang. “Oh, tapi kamu salah besar, piccola,” ucapnya pelan, suara baritonnya menggetarkan udara di antara mereka. “Kamu milikku. Sejak hari kamu memutuskan tetap di sisiku meski tahu siapa aku sebenarnya.”

Elara menatapnya, matanya memerah karena emosi. “Itu dulu! Aku tidak akan kembali ke kehidupanmu yang penuh darah, Damian.”

Damian memegang dagunya, paksa, membuat wajah Elara menengadah menatap matanya. “Kamu pikir, kamu bisa kabur dariku begitu saja? Aku menunggumu bertahun-tahun, Elara. Mencarimu sampai ke kota-kota yang bahkan Tuhan pun mungkin enggan melihatnya dan sekarang kamu ingin bilang aku harus diam?”

“Lepas!” Elara mendorong dada Damian dengan keras. “Kamu tidak berhak lagi atas hidupku!”

Damian tak bergerak. Namun rahangnya menegang, tatapannya berkilat seperti bara api yang disiram bensin. “Sayangnya, Elara,” ujarnya pelan tapi tajam, “hak itu tidak pernah hilang. Kamu hanya berusaha berpura-pura kalau aku tidak pernah ada.”

Elara terdiam. Napasnya berat, matanya memanas oleh air mata yang tertahan.

Dan Damian, meski wajahnya tetap dingin, ada sesuatu di matanya, sesuatu yang bergetar di antara amarah dan rasa sakit yang terlalu lama ia simpan.

“pergi dan jangan coba-coba mengawasiku seperti dulu?” katanya pelan, nyaris seperti gumaman pada dirinya sendiri.

“Aku tidak mengawasimu, Elara. Aku hanya memastikan tidak ada yang berani menyentuh bunga yang sudah kutanam sendiri.”

Elara menatapnya tajam, menahan gemetar di tangan. “Kamu bukan Tuhan, Damian dan aku bukan milikmu.”

Damian mendekat, jarak di antara mereka nyaris hilang. Ia menatap mata Elara dalam-dalam, napasnya menyentuh wajah gadis itu..“Bukan Tuhan, ya,” bisiknya rendah. “Tapi aku akan menjadi neraka untukmu.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 98 Stabil Saja Tidak Cukup

    Lucas duduk sendirian di dalam mobilnya yang terparkir dua blok dari toko bunga Elara. Mesin sudah mati sejak lama, tapi ia belum juga turun atau pergi. Tangannya masih berada di atas kemudi, jemarinya mengetuk pelan tanpa sadar.Kata-kata Sofia tadi siang yang sempat ia dengar terus terngiang di kepalanya, meski ia pura-pura tidak mendengarnya.Pilih Lucas kalau ingin hidup normal.Normal, Lucas tersenyum miring. Ia tidak pernah hidup normal. Hanya saja, ia lebih piawai menyembunyikannya dibanding pria lain yang kini menjadi bayangannya.Damian. Nama itu seperti duri kecil yang tak terlihat, tapi selalu terasa bagi Lucas. Ia menyalakan ponselnya. Beberapa notifikasi bisnis menunggu. Laporan distribusi, pembelian lahan, dan satu pesan dari tangan kanan keluarganya yang menanyakan keputusan mengenai proyek hotel baru di pinggiran kota.Lucas menatap layar beberapa detik sebelum membalas singkat.Percepat. Aku ingin semuanya selesai sebelum akhir kuartal.Ia tahu kabar tentang ekspansi

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 97 Dia Masih Punya Tempat di Kepalamu

    Pagi di Firenze datang dengan cahaya lembut yang menyusup melalui tirai tipis toko bunga. Jalanan belum seramai biasanya. Hanya suara langkah beberapa pejalan kaki dan deru pelan sepeda yang melintas.Sofia mendorong pintu toko seperti biasa. Lonceng kecil berdenting ringan.“Aku datang,” kalimatnya terhenti.Elara sudah berdiri di balik meja kasir, padahal jam masih terlalu pagi untuknya membuka toko. Rambutnya terurai berantakan, matanya sembap, dan ada bayangan lelah yang tidak bisa ditutupi bahkan dengan senyum tipis yang ia coba paksakan.“Kamu tidak tidur,” kata Sofia tanpa basa-basi.Elara berusaha terdengar santai. “Aku tidur.”Sofia mendengus pelan. “Berapa jam?”Elara tidak menjawab.Sofia meletakkan tasnya, lalu berjalan mendekat. Ia sudah mengenal Elara cukup lama untuk tahu kapan gadis itu mencoba menyembunyikan sesuatu. “Apa dia datang lagi tadi malam?”Pertanyaan itu tidak menyebut nama tapi Elara sudah paham maksud dari pertanyaan itu. “Elara menarik napas. “Keduanya.

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 96 Aku Tidak Ingin Menjadi Pilihan Kedua

    Udara malam di Firenze terasa lebih dingin ketika mereka berjalan kembali menuju toko bunga kecil itu. Langkah mereka berdampingan, tapi tidak sepenuhnya selaras. Suara sepatu menyentuh batu jalan terdengar pelan, bercampur dengan gema tawa dari kafe-kafe yang mulai tutup.Lucas tidak berbicara selama beberapa menit pertama. Elara tahu itu bukan karena dia tidak punya sesuatu untuk dikatakan. Justru sebaliknya, mungkin banyak kata yang ingin Lucas katakan tapi dia memilih diam.Lampu-lampu toko sudah padam ketika mereka tiba. Tirai tipis di jendela bergerak pelan tertiup angin. Elara berdiri di depan pintu, mengeluarkan kunci dari tasnya. “Terima kasih untuk makan malamnya,” ucapnya pelan tanpa menoleh.Lucas mengangguk. “Sama-sama.” Nada suaranya datar, tidak dingin, tapi juga tidak hangat seperti biasanya.Elara memasukkan kunci ke lubang, memutar perlahan, lalu berhenti. Ia menoleh. “Kamu marah?”Lucas tersenyum tipis, senyum yang tidak benar-benar sampai ke mata. “Tidak.”“Kamu te

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 95 Aku Tidak Suka Kita Seperti Ini

    Toko bunga kecil Elara sudah tutup sejak satu jam lalu. Kelopak mawar yang tidak terjual telah dirapikan, ember-ember air diganti, dan tirai tipis di jendela ditarik setengah.Elara berdiri sendirian di tengah ruangan yang kini lebih sunyi daripada biasanya. Ada sisa wangi bunga yang bercampur dengan aroma kayu dan sedikit jejak kopi pagi tadi. Tangannya sedang menyusun catatan pesanan, tapi pikirannya tidak benar-benar berada di sana.Damian datang pagi tadi dengan sarapan dan pergi tanpa memaksa.Lucas belum datang sejak terakhir waktu itu dan ia merasa seperti berada di antara dua garis tak terlihat yang sama-sama menuntut.Lonceng kecil di pintu berdenting pelan. Elara menoleh. Baru ia pikirkan dan sekarang Lucas berdiri di ambang pintu dengan jaket gelap dan ekspresi ragu yang jarang terlihat darinya, tidak ada senyum cerah seperti biasanya dan tidak ada nada santai.“Hai,” ucapnya pelan.“Hai,” jawab Elara.Lucas melangkah masuk, menutup pintu perlahan di belakangnya. Ia meliha

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 94 Aku Akan Pergi Sekarang

    Cahaya matahari kini sudah memenuhi hampir seluruh ruangan, menari di atas kelopak mawar dan membiaskan warna lembut di dinding kayu. Namun suasana di dalam masih terasa rapuh seperti kaca tipis yang bisa retak hanya karena satu getaran kecil.Sofia masih duduk di hadapan Elara. Ia tahu, beberapa luka tidak bisa disembuhkan dengan nasihat. Kadang hanya butuh seseorang yang tetap tinggal. “Elara,” ucapnya pelan, “kamu tidak harus memutuskan semuanya hari ini. Kamu hanya perlu memastikan satu hal.”Elara mengangkat wajahnya yang masih pucat.“Apa pun yang kamu pilih nanti, itu harus karena kamu ingin. Bukan karena takut kehilangan. Bukan karena takut disakiti.”Elara menarik napas panjang. Nafas itu terasa berat, tapi lebih stabil dibanding beberapa menit lalu. “Aku lelah,” gumamnya.“Aku tahu.”“Aku lelah merasa seperti berada di medan perang.”Sofia tersenyum tipis. “Maka berhentilah berdiri di tengah pertempuran.”Elara menatapnya, tidak sepenuhnya mengerti.“Kamu bukan wilayah yang

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 93 Masalahnya Hatiku Merasa Tak Nyaman

    Cahaya matahari menelusup melalui celah-celah jendela kaca toko bunga Elara, jatuh lembut di lantai kayu dan rak-rak penuh warna.Aroma bunga segar sudah mulai memenuhi udara. Mawar, lavender, anyelir, semuanya masih basah oleh embun pagi. Namun ada satu hal yang tidak biasa hari ini.Toko belum benar-benar hidup. Pintu depan masih tertutup setengah. Tirai belum sepenuhnya dibuka dan tidak ada musik lembut yang biasanya diputar Elara setiap pagi.Ketika lonceng kecil di atas pintu berdenting pelan, seorang wanita masuk dengan langkah ringan namun pasti.Sofia datang seperti biasa, tepat waktu dan penuh ceria. Namun langkahnya langsung terhenti begitu matanya menangkap pemandangan di dalam.“Elara?”Suara itu pelan, tapi cukup untuk memecah keheningan.Sofia melihat Elara tidur sambil duduk dan bersandar pada dinding dekat meja kasir. Dia tertidur tidak seperti seseorang yang beristirahat tapi seperti seseorang yang kelelahan, kehilangan tenaga untuk bangkit.Sofia mengerutkan kening.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status