เข้าสู่ระบบMalam itu, hujan turun deras.
Langit bergemuruh, memantulkan cahaya petir di jendela besar rumah keluarga Morreti. Semua lampu di ruang bawah menyala terang, tapi rumah itu terasa lebih menyeramkan daripada gelap. Elara turun pelan dari kamarnya, menggenggam sweater di tubuhnya. Ia takut petir dan ia butuh Damian. Suara keras, seperti benda pecah terdengar dari ruang kerja ayah tirinya. Ia berhenti di tangga, jantung berdegup cepat. Biasanya, suara seperti itu artinya satu hal, Damian sedang marah dan setiap kali Damian marah, semua orang di rumah itu memilih diam. Semua takut dengan kemarahan Damian. Malam ini berbeda..Ada teriakan suara pria lain. Suara yang bukan berasal dari keluarga Morreti. Elara menelan ludah. Naluri menyuruhnya kembali ke kamar, tapi rasa penasaran dan entah kenapa, juga kekhawatiran mendorong langkahnya maju. Ia berjalan mendekati ruang kerja di ujung koridor. Pintu kayu besar itu sedikit terbuka. Ruang kerja ayah tirinya yang hampir tak pernah ia datangi selama ia tinggal di rumah Morreti. Dari celah sempit, Elara melihat segalanya. Damian berdiri di tengah ruangan, mengenakan kemeja hitam yang sebagian terbuka di dada. Lengan bajunya tergulung, memperlihatkan urat dan otot yang menegang. Di depannya, seorang pria bertubuh besar berlutut dengan wajah babak belur, darah mengalir dari pelipisnya menodai karpet marun. “Damian, aku sudah bilang, aku tidak....” Suara pria itu berhenti dengan dentuman keras ketika Damian menendang dadanya. “Jangan bohong padaku!” Suara Damian berat, tenang, tapi dinginnya menembus udara seperti bilah baja. “Tidak ada yang mencuri uang ayahku tanpa izin, apalagi pengawal pribadinya sendiri.” “Damian, cukup!” suara lain datang, ayah tirinya, Giovanni Morreti, namun tidak terdengar seperti perintah. Lebih seperti kebiasaan formalitas karena ia tidak benar-benar bermaksud menghentikan anaknya. Damian menoleh sebentar, lalu menatap kembali pria di depannya. “Ayah, kamu tahu apa yang terjadi pada pengkhianat.” Ia meraih sesuatu dari meja, pistol hitam, dingin dan mengilap di bawah lampu gantung kristal. Elara menahan napas. Tangannya mencengkeram kusen pintu begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Damian menunduk sedikit, menatap pria yang kini menangis ketakutan. “Jika kamu berpikir bisa lari dari keluarga Morreti, kamu seharusnya tahu aku bukan orang yang percaya pada maaf.” “Damian, jangan....” suara itu lirih, bukan dari Giovanni, tapi dari Elara sendiri. Ia bahkan tidak sadar telah mengucapkannya. Namun Damian mendengarnya. Mata kelam itu menoleh ke arah pintu, ke arah tempat Elara berdiri. Waktu seakan berhenti. Tatapan mereka bertemu, tatapan yang tak akan pernah Elara lupakan seumur hidupnya. Tatapan seseorang yang berada di antara dua dunia, manusia dan monster. Lalu suara letusan terdengar. Panas, keras, dan memekakkan. Elara menjerit, menutup mulutnya dengan tangan. Tubuh pria itu jatuh ke lantai dengan bunyi berat, darah mengalir cepat di karpet. Damian tetap berdiri di tempat, wajahnya tanpa ekspresi, seolah yang baru saja ia lakukan hanyalah rutinitas biasa. Ayah tirinya menghela napas pendek, lalu berkata datar, “Bersihkan semuanya sebelum jam dua.” Lalu pergi begitu saja. Elara memundurkan tubuh, lututnya gemetar tapi sebelum ia bisa kabur, Damian bergerak cepat. Ia membuka pintu, menatap Elara yang berdiri di sana dengan wajah pucat pasi. “Elara.” Suara itu dalam dan pelan, tapi membuat gadis itu membeku. “Kamu membunuh orang, Damian!" Tangis Elara tak terbendung, ia sungguh takut. Damian menatapnya lama. Lalu perlahan, ia menurunkan pistolnya, meletakkannya di meja sembarang, dan melangkah lebih dekat dihadapan Elara tapi setiap langkahnya membuat Elara mundur. “Dengar,” katanya rendah. “Kamu tidak boleh cerita pada siapa pun tentang ini.” Elara menggeleng cepat, air mata mengalir di pipinya. “Kamu membunuhnya! Kamu membunuh.” Damian menatapnya, rahangnya mengeras tapi di balik sorot mata dingin itu, ada sesuatu, seperti rasa bersalah yang ditahan paksa karena melihat Elara ketakutan sampai menangis seperti itu. “Dia pengkhianat, Elara. Dalam dunia kami, itu artinya mati.” “Dunia kalian?” Elara berbisik. Ia melihat sekeliling, melihat banyak pistol dan senjata. "Mafia?" Ia mengambil kesimpulan itu karena pernah melihat film tentang Mafia saat ia dan ibunya tinggal di rumah kecil. Damian terdiam sesaat. Lalu dengan nada yang sangat pelan, ia menjawab, “Selamat datang di keluarga Morreti. Semua yang kamu lihat hari ini adalah bagian dari kami.” Elara mundur, suaranya nyaris tak keluar. “Kamu benar seorang mafia?” Damian tidak menjawab. Hanya menatapnya dalam-dalam, seolah jawaban itu sudah jelas tanpa perlu diucapkan. Ia mencoba mendekat lagi, tangannya terulur dan memegang bahu Elara. “Dengar aku baik-baik,” katanya pelan namun tajam. “Aku akan menjagamu, puteri tunggal Morreti." Air mata Elara jatuh, bahunya bergetar. “Kamu menakutkan, Damian.” Damian memejamkan mata, lalu berbisik lirih, nyaris tak terdengar. “Percayalah, aku tidak pernah ingin kamu melihat sisi ini.” Malam itu, semuanya berubah. Batas antara Damian si pelindung dan Damian si pembunuh menghilang dan untuk pertama kalinya, Elara menyadari cinta yang ia rasakan mungkin tidak bisa hidup berdampingan dengan dunia tempat Damian berasal. Sejak malam itu pula, Damian tahu, Elara telah melihat segalanya, dan ia tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyentuh atau menyakitinya. Bahkan jika yang harus ia lindungi adalah ketakutannya sendiri.Di lantai paling atas gedung megah itu, Damian berdiri sendirian di depan jendela besar. Pemandangan kota terbentang luas di bawahnya, lampu-lampu berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi. Indah. Tenang. Terlihat damai.Namun tidak ada kedamaian di dalam diri Damian.Tangannya memegang gelas kristal berisi minuman berwarna gelap. Ia tidak meminumnya. Hanya memutar cairan itu perlahan, menatap pantulannya sendiri di permukaan kaca jendela.Matanya dingin terasa dalam dan penuh sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar amarah.Nama Matteo kembali muncul di kepalanya.Damian memejamkan mata sejenak. Bukan karena lelah. Tapi karena ingatan yang datang tanpa diundang.Ia masih bisa mengingat dengan sangat jelas, meskipun bertahun-tahun telah berlalu. Rumah besar yang dulu terasa hangat, suara tawa yang memenuhi ruang makan, sosok ayahnya yang berdiri tegak, penuh wibawa, dan seorang pria lain yang selalu ada di sana. Matteo, sahabat terbaik Giovanni. Atau setidaknya… dulu begitu.
Malam di Firenze terasa lebih dingin dari biasanya. Angin berhembus pelan di antara bangunan-bangunan tua, membawa suasana sunyi yang aneh, seolah kota itu ikut menahan napas setelah kekacauan yang terjadi.Di sebuah apartemen sederhana di sisi lain kota, Matteo berdiri di depan jendela dengan ponsel masih berada di tangannya. Layar ponsel itu menampilkan foto yang baru saja dikirim seseorang.Foto lokasi proyek Lucas yang hancur. Beton runtuh, rangka baja terlipat, garis polisi membentang, dan lampu darurat menyala di tengah puing-puing.Matteo tidak bergerak. Rahangnya mengeras, matanya menatap layar tanpa berkedip. Ia baru saja menerima kabar itu beberapa menit lalu. Awalnya ia mengira itu hanya kecelakaan biasa. Namun semakin banyak informasi yang masuk, semakin jelas bahwa ini bukan kebetulan. Dua proyek meledak dalam waktu hampir bersamaan.Matteo mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia mengenal dunia ini cukup lama untuk tahu bahwa kejadian seperti itu bukan sekadar nasib buruk. Se
Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya kuning redup di atas jalanan batu yang masih menyimpan sisa kehangatan siang tadi. Kota itu tetap terlihat hidup, orang-orang berjalan, kendaraan melintas, tawa terdengar dari kafe-kafe kecil. Namun di salah satu sudut kota yang lebih sepi, Lucas berdiri sendirian. Ia berada di lokasi proyeknya atau lebih tepatnya, bekas proyeknya.Puing-puing bangunan masih berserakan di mana-mana. Rangka baja yang bengkok, beton yang retak, dan bekas hangus dari ledakan terlihat jelas di beberapa titik.Garis polisi membentang di sekitar area itu. Beberapa lampu sorot dinyalakan untuk menerangi lokasi. Namun suasana tetap terasa kelam.Lucas berdiri di balik garis pembatas. Matanya menatap lurus ke arah kehancuran yang dulunya adalah harapan terbesarnya. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Namun bukan hanya proyek itu yang memenuhi pikirannya.Langkah kaki terdengar dari belakang. Namun Lucas tidak menoleh. Ia sudah tahu. Hanya ada satu orang y
Cahaya keemasan perlahan memudar, digantikan oleh bayangan panjang yang jatuh di sepanjang jalanan batu. Kota itu tetap terlihat indah seperti biasa, namun bagi Lucas, semuanya terasa seperti runtuh bersamaan dengan dua proyeknya.Debu dari lokasi konstruksi masih menempel di pakaiannya. Kemeja putihnya kini kusut dan kotor. Wajahnya terlihat lelah, matanya merah karena kurang tidur dan tekanan yang terlalu berat dalam waktu singkat. Namun ia tidak pulang. Ia tidak berhenti. Ia hanya memiliki satu tujuan yaitu menemui Damian.Lucas berdiri di depan gedung tinggi dengan fasad kaca yang berkilau. Gedung itu tampak megah, jauh berbeda dengan lokasi proyeknya yang kini berubah menjadi puing-puing.Ia tahu Damian ada di dalam. Ia tidak perlu memastikan lagi. Tangannya mengepal kuat sebelum akhirnya melangkah masuk. Langkahnya cepat. Penuh amarah yang nyaris tak terkendali.Resepsionis sempat mencoba menghentikannya."Maaf, Anda—""Aku tidak punya waktu." Nada suara Lucas dingin dan tajam.
Langit di atas Firenze tampak cerah, nyaris tanpa awan. Cahaya matahari memantul dari rangka baja bangunan yang sedang dibangun, membuat area konstruksi itu tampak sibuk dan penuh kehidupan. Meski tidak seperti sebelumnya. Derek besar berputar perlahan. Para pekerja berjalan ke sana kemari membawa peralatan. Beberapa teknisi berdiri di dekat panel listrik sementara mandor mengawasi pekerjaan dari kejauhan.Semua terlihat seperti hari kerja biasa. Namun bagi Lucas, tidak ada yang terasa biasa lagi sejak pagi tadi. Ia berdiri di pinggir area proyek dengan ponsel di tangan. Wajahnya terlihat jauh lebih tegang dibandingkan beberapa hari sebelumnya.Percakapannya dengan Elara di toko bunga tadi masih terngiang di kepalanya. Ia berhasil menghentikan kesepakatan itu. Namun entah kenapa, perasaannya tidak benar-benar tenang.Andre berdiri di sampingnya sambil memegang tablet berisi laporan proyek. "Kita masih punya waktu untuk menyelamatkan ini," kata Andre mencoba terdengar optimis.Lucas m
Udara pagi di Firenze masih terasa dingin ketika Damian keluar dari toko bunga itu.Pintu kayu kecil di belakangnya tertutup pelan, lonceng di atasnya berdentang lembut sebelum akhirnya kembali sunyi.Damian tidak langsung berjalan menuju mobilnya. Ia berhenti beberapa langkah dari pintu, lalu menatap sebentar jendela toko yang dipenuhi bunga-bunga segar.Dari luar, tempat itu terlihat hangat dan tenang. Seolah tidak ada apa pun yang baru saja terjadi di dalamnya. Namun Damian tahu persis apa yang baru saja berubah. Lucas, pria itu datang dengan penuh emosi, penuh keyakinan, dan dengan keberanian yang menurutnya cukup menarik.Damian berjalan perlahan menuju pohon tua yang berdiri di sisi jalan kecil itu. Pohon itu sudah sangat tua, batangnya besar dengan kulit kayu yang kasar. Daunnya yang lebat menciptakan bayangan panjang di trotoar batu.Di sanalah Damian berhenti. Ia memasukkan satu tangan ke dalam saku jasnya, sementara tangan yang lain mengambil kotak cerutu kecil dari sakunya.
Matahari sore menyelinap di antara tirai besar ruang tamu keluarga Morreti. Cahaya keemasan menimpa lantai marmer, memantul pada pigura-pigura mahal yang berjejer di dinding. Namun di tengah kemewahan itu, hanya ada dua orang yang tampak hidup: Damian dan Elara.Elara duduk di karpet, menatap buku
Cahaya lampu toko bunga itu menembus kaca jernih, memantul pada kelopak mawar merah yang baru saja disiram. Aroma lembutnya memenuhi udara, bercampur dengan wangi hujan yang masih menetes di luar. Elara menunduk, mengatur satu per satu batang bunga dengan hati-hati seolah dengan begitu ia bisa menj
Hujan deras mengguyur Firenze malam itu. Langit seperti sedang berduka, petir menyambar dengan suara menggelegar, dan setiap kilat yang menyinari kaca jendela memantulkan bayangan suram di dinding rumah keluarga Morreti.Elara berdiri di dapur sendirian, hanya ditemani cahaya temaram dari lampu kec
Elara tidak bisa tidur meski hujan di luar sudah berhenti dan petir sudah tidak ada lagi, hanya ada kilatan cahaya di langit sesekali. Ia duduk di pojok kamar, menggenggam lutut, sementara pikirannya berputar tanpa henti, bayangan darah, suara tembakan, dan tatapan dingin Damian berulang dalam kepa







