Se connecterMatahari sore menyelinap di antara tirai besar ruang tamu keluarga Morreti. Cahaya keemasan menimpa lantai marmer, memantul pada pigura-pigura mahal yang berjejer di dinding. Namun di tengah kemewahan itu, hanya ada dua orang yang tampak hidup: Damian dan Elara.
Elara duduk di karpet, menatap buku catatan di pangkuannya dengan dahi berkerut. “Kenapa angka-angkanya tidak masuk akal begini?” gumamnya, menggigiti ujung pensil. Damian, yang duduk di sofa sambil membaca koran, mengangkat alis. “Karena kamu menambahkan pajak dua kali.” Elara mendongak cepat. “Apa?” Damian menurunkan koran dan menatap catatannya. “Lihat. Kamu kalikan delapan belas persen di awal, lalu kamu tambahkan lagi di akhir. Itu sebabnya hasilnya aneh.” Elara mengerucutkan bibirnya. “Aku benci ekonomi.” “Tidak ada yang menyuruhmu mencintainya.” Damian menegakkan duduknya, lalu mengambil pensil dari tangan Elara. “Tapi kalau kamu ingin lulus, setidaknya jangan membunuh angka-angka ini dengan kebodohan.” Elara menatapnya tajam, namun tidak marah. “Kamu terdengar seperti guru yang kejam.” “Aku memang kejam,” jawab Damian datar, lalu menulis cepat di buku Elara. “Tapi efektif.” Elara menatap tulisan tangannya yang rapi, garis tegas dan angka-angka yang lurus seolah tak bisa goyah. Ia tidak tahu kenapa setiap hal kecil tentang Damian selalu menenangkan, meski pria itu nyaris tak pernah tersenyum. “Damian,” panggilnya pelan. “Hm?” “Kenapa kamu selalu pulang larut malam?” Pria itu berhenti menulis. Lalu menutup buku perlahan. “Bisnisku tidak untuk anak enam belas tahun.” Elara mendengkus. “Kamu bilang begitu setiap kali aku tanya.” Damian menatapnya, kali ini lebih lembut dari biasanya. “Kamu terlalu penasaran.” Ia sengaja tidak memberitahukan pekerjaan aslinya di dunia gelap pada Elara. Ia hanya ingin Elara tahu kalau kakaknya seorang pembisnis hebat. “Karena aku khawatir.” Satu kalimat sederhana itu membuat Damian terdiam. Matanya bergerak kecil, seolah berusaha menyembunyikan sesuatu. “Khawatir?” ia ulang pelan. “Kamu tidak perlu khawatirkan aku. Aku tahu bagaimana cara menjaga diriku.” Elara menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. “Kalau begitu, apa aku boleh menunggu sampai kamu pulang nanti malam?” Damian mendengkus kecil, tapi ada sesuatu di balik nada dinginnya. “Kamu tidak akan sanggup menunggu. Aku sering pulang lewat tengah malam. Kamu juga harus fokus sekolah. Aku tidak mau memiliki adik yang tidak lulus sekolah karena begadang.” “Aku bisa tidur di sofa.” Pria itu menatapnya, separuh tak percaya, separuh ingin menolak tapi saat Elara tersenyum, senyum polos, hangat, dan jujur, Damian menyerah. “Terserah,” katanya, menatap ke arah jendela. “Tapi jangan menangis kalau kamu kedinginan atau tiba-tiba ada hujan petir.” "Tidak akan," jawab Elara mantap. ∆∆∆ Malam itu, Elara benar-benar menunggu Damian pulang. Ia menikmati suasana rumah besar yang hening, hanya suara jam berdetak menemani. Hujan turun di luar, rintiknya mengenai kaca jendela seperti bisikan lembut yang meninabobokan. Membuat Elara mengantuk dan tertidur. Jam sudah hampir menunjukkan pukul satu ketika pintu utama akhirnya terbuka. Damian masuk dengan mantel basah dan wajah lelah tapi begitu melihat Elara tergeletak di sofa dengan selimut menutupi separuh tubuh, langkahnya melambat. Ia meletakkan mantel, lalu berdiri lama di depan gadis itu. Ada sesuatu yang menegang di dalam dadanya, sesuatu yang asing, yang bahkan ia sendiri enggan mengakuinya. Dengan hati-hati, ia mengambil selimut yang hampir jatuh dari tubuh Elara dan menariknya kembali. Ujung jarinya menyentuh pipi gadis itu tanpa sengaja, kulitnya hangat, lembut membuat Damian menahan napas, menahan gejolak yang tak wajar. “Kenapa kamu selalu menungguku?” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. “Kamu tidak tahu, betapa berbahayanya aku, Elara.” Elara menggeliat sedikit karena merasakan sentuhan dingin di pipinya, ia membuka mata lalu tersenyum mengantuk. “Kamu sudah pulang?” Damian segera menarik tangannya, mundur setengah langkah. “Tidurlah.” Elara mengangguk pelan, lalu menutup mata lagi. Damian berdiri lama di sana, menatap gadis yang tertidur di bawah cahaya lampu hangat dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, rumah itu terasa tidak sepi. Ia merasa memiliki kehidupan sekarang. Keesokan harinya, mereka sarapan bersama. Ibu Elara sudah berangkat lebih awal, dan ayah Damian pergi ke luar negeri. Hanya ada mereka berdua di meja panjang yang terlalu besar untuk dua orang. Elara menyuap roti panggang sambil menatap Damian yang sibuk membaca koran seperti biasa. “Kamu selalu terlihat seperti orang tua,” ujarnya tiba-tiba. Damian mengangkat kepala, menatapnya sekilas. “Dan kamu selalu berbicara seperti anak kecil.” “Itu artinya kita seimbang,” sahut Elara cepat. Damian hampir tersenyum. Hampir. Namun sebelum bibirnya benar-benar melengkung, ia menunduk kembali ke koran. Waktu berlalu. Hari demi hari terasa sama, tapi tanpa sadar, sesuatu di antara mereka berubah. Elara mulai menyadari bahwa setiap kali Damian pulang, ia selalu menunggu di tangga atau sofa. Setiap kali pria itu bicara, dunia di sekitarnya seakan mengecil, menyisakan hanya suara bariton itu di telinganya. Ia tahu, perasaan itu tidak seharusnya ada. Namun, setiap kali Damian menatapnya dengan mata kelam yang tenang, Elara berpikir, mungkin terlarang bukan berarti tidak nyata. Dan di suatu sore, ketika mereka berdiri di balkon, cahaya matahari senja menimpa wajah Damian, membuatnya tampak lebih manusiawi, lebih rapuh, lebih dekat. Elara ingin mengatakan sesuatu, tentang perasaan yang tak bisa ia kendalikan tapi sebelum satu kata pun terucap, Damian berbalik dan berkata pelan, tanpa menatapnya. “Kalau aku melangkah terlalu dekat, kamu harus menjauh, Elara.” Gadis itu terdiam. “Kenapa?” “Karena aku tidak tahu bagaimana cara berhenti.” Itulah masa yang dulu terasa seperti kebahagiaan, sederhana, hangat, tapi berujung pada kehancuran. Kini, bertahun-tahun kemudian, setiap saat Elara menatap mata Damian yang dingin, ia sadar satu hal, cinta itu tidak pernah mati. Ia hanya berubah bentuk menjadi sebuah obsesi.Giovanni Morreti merasakan keanehan itu bahkan sebelum ia membuka pintu kamarnya. "Ada apa?" gumamnya pelan lalu ia membuka pintu kamarnya.Lorong lantai atas menyambutnya dengan keheningan yang tidak wajar, tidak ada langkah pelayan, tidak ada suara radio penjaga, dan tidak ada suara latihan senjata yang biasanya samar terdengar di pagi hari. Giovanni berhenti sejenak. Naluri lamanya berbisik bahwa sesuatu telah terjadi. Ia melangkah maju dan di ujung lorong, ia melihat dua penjaga berdiri tegak dengan senjata siap di tangan, wajah mereka kaku, rahang mengeras seperti patung. Saat melihatnya, mereka langsung menunduk, namun tidak ada sapaan hormat yang biasa mereka ucapkan. Itu bukan kelalaian. Itu ketakutan.“Kenapa kalian seperti menghadapi eksekusi?” tanya Giovanni dingin.Keduanya saling melirik sekilas, lalu salah satu menjawab, suaranya nyaris tak terdengar. “Perintah Tuan Damian, Tuan.”Nama itu membuat Giovanni berhenti melangkah. “Perintah apa?” tanyanya.Penjaga itu menela
Handuk masih melingkari pinggangnya ketika Damian melangkah keluar kamar mandi. Tatapannya langsung tertuju ke ranjang tapi ranjang itu kosong, tidak ada Elara di sana. "Elara," panggilnya pelan. Ia melihat sekeliling kamar lalu menatap kursi cukup lama. Ia mengingat jelas setiap detail di kamar Elara. Jaket yang ada di sandaran kursi menghilang. “ELARA!”Damian bergerak cepat, menyibak tirai, membuka pintu kamar mandi, kamar ganti, tidak ada. Tidak ada jejak selain kehampaan yang menampar wajahnya dengan kejam.Ia meraih ponsel dan memerintahkan seluruh anak buah Morreti untuk berkumpul di aula sekarang juga.Dalam hitungan menit, para penjaga berkumpul. Beberapa masih mengenakan sarung tangan pembersih. Beberapa lain terlihat kebingungan, belum sepenuhnya sadar apa yang terjadi. Damian berdiri di tengah ruangan seperti badai yang ditahan paksa, rahangnya mengeras, mata gelapnya membara.“Elara pergi,” ucapnya pelan.Tidak ada yang menjawab.“AKU BERTANYA,” lanjut Damian, kini suara
"Jangan pergi kemana pun, tetap duduk di tempat tidurmu!" Damian memberikan perintah sebelum masuk kamar mandi. Elara tidak menjawab, ia memilih untuk memalingkan wajahnya. Tak lama, terdengar suara pintu kamar mandi tertutup. Elara melirik sekilas lalu menunggu sampai suara air mengalir dari kamar mandi terdengar jelas dan stabil. Bukan suara biasa, itu adalah satu-satunya celah. Ia berdiri dan berjalan pelan-pelan, jantungnya berdegup terlalu keras sampai rasanya Damian bisa mendengarnya menembus dinding. Tangannya gemetar saat meraih jaket tipis di sandaran kursi, tidak ada tas, tidak ada sepatu yang pantas, dan tidak ada rencana selain satu kata yang terus berdentum di kepalanya. Pergi sekarang!. Hanya itu dan ia kali ini harus nekad. Ia membuka pintu kamar perlahan. Engselnya nyaris tidak bersuara. Lorong di luar tampak lengang, namun udara masih membawa aroma logam dan pembersih keras tanda rumah ini baru saja selamat dari pertumpahan darah. Beberapa penjaga terlihat di ujun
Elara berdiri terlalu lama di bawah pancuran, membiarkan air hangat jatuh ke kulitnya tanpa benar-benar merasakan hangat itu. Yang ia rasakan justru tekanan, seperti ada tangan tak kasatmata menahan dadanya, membuat napasnya pendek dan tidak utuh. Dinding kamar mandi terasa lebih sempit dari biasanya. Bahkan uap air pun seolah ikut mengawasinya.Di luar sana, Damian menunggu.Bukan sekadar menunggu. Ia tahu pria itu mendengar segalanya. Setiap gesekan kaki di lantai, setiap tarikan napas yang terlalu lama, setiap botol sabun yang terjatuh. Kesadaran itu membuat Elara mempercepat gerakannya, bukan karena takut pada bahaya di luar, melainkan karena takut pada kehadiran yang terlalu dekat, terlalu mengikat.Saat ia keluar dengan rambut masih basah dan handuk melilit tubuhnya, Damian sudah berdiri di depan pintu. Posisi tubuhnya santai, namun matanya bergerak cepat, menilai, memastikan. Elara tahu tatapan itu. Tatapan penjaga sekaligus pemilik.“Kamu lama,” kata Damian.Elara tidak menjaw
Kamar itu kembali sunyi setelah fajar benar-benar menguasai langit Roma. Tirai tipis bergoyang pelan tertiup angin pagi, cahaya lembut jatuh ke wajah Elara yang perlahan terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih berat, tubuhnya terasa pegal, seolah semalam ia berlari jauh tanpa henti.Hal pertama yang ia rasakan adalah kehadiran seseorang.Elara membuka mata perlahan dan menemukan Damian duduk di kursi dekat jendela. Pria itu tidak tertidur. Sama sekali tidak. Punggungnya tegak, lengan terlipat, wajahnya tenang namun mata gelapnya tertuju lurus ke arahnya, seolah dia berjaga sepanjang malam tanpa sekali pun lengah.“Kamu sudah bangun,” ucap Damian rendah.Nada suaranya tidak keras, tidak juga lembut tapi cukup membuat Elara menegakkan tubuhnya dengan refleks. Ingatan tentang malam sebelumnya kembali menghantamnya bertubi-tubi, ledakan, tembakan, darah, dan janji Damian yang diucapkan dengan suara dingin namun penuh kepastian.“Sudah pagi,” kata Elara lirih. Ia mengusap wajahnya, mencob
Giovanni Morreti berdiri di aula utama saat matahari sudah naik sepenuhnya. Cahaya pagi menerobos jendela-jendela tinggi, jatuh ke lantai marmer yang masih menyisakan noda gelap. Bau darah belum sepenuhnya hilang meski para anak buah bekerja tanpa henti sejak fajar. Ember-ember air diganti berkali-kali. Kain pel dibuang lalu diganti lagi. Namun ada hal-hal yang tidak bisa dibersihkan hanya dengan air.Giovanni menunduk, memperhatikan satu tubuh yang belum sempat diangkut keluar.Mayat itu tergeletak miring, wajahnya hancur oleh tembakan jarak dekat. Di dadanya, jaket hitamnya terbuka, memperlihatkan sebuah emblem kecil yang dijahit rapi di bagian dalam. Giovanni berlutut perlahan. Tangannya yang sudah terlalu sering memegang kematian kini bergerak dengan hati-hati, seolah menyentuh sesuatu yang rapuh.Ia mengenali lambang itu dalam satu tarikan napas. Seekor serigala hitam dengan mata merah, dikelilingi lingkaran tipis berwarna perak.Giovanni menutup mata. Ia kini tahu siapa penyeran







