تسجيل الدخول"Amora! Jangan sembunyi, jalang! Kau pikir kau bisa lolos dariku?!"Suara pekikan Lucy menggema, memantul di dinding-dinding beton gedung tua yang lembap. Langkah kakinya yang menghentak kasar terdengar semakin dekat. Di sudut lain lantai lima itu, Darius sedang sibuk memeriksa beberapa jeriken di dekat tangga, mempersiapkan rencana cadangan mereka dengan senyum sinis.Amora mendekap perutnya erat-erat di balik tumpukan karung usang. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sakit. Kali ini, ia tahu Lucy tidak sedang menggertak. Wanita itu sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya dan siap melenyapkan nyawanya secara sempurna.Suara langkah kaki Lucy berhenti tepat di depan lorong tempat Amora bersembunyi. Panik, Amora mencoba menggeser tubuhnya untuk berpindah tempat. Namun, karena penerangan yang sangat minim dan kondisi tubuhnya yang lemas, kakinya tidak sengaja menyenggol sebuah kaleng cat bekas.Prang!"Ketemu kau!"Lucy muncul dari balik kegelapan, matanya meloto
Matahari sudah meninggi, namun hawa dingin di kediaman Maverick seolah tak mau beranjak. Setelah semalaman membiarkan amarah membakar logikanya, ketukan di pintu ruang kerja memaksa Maverick kembali ke realitas."Masuk," titah Maverick pendek. Suaranya serak.Bram, kepala pengawal pribadinya, melangkah masuk dengan wajah pias. "Tuan... kami sudah mengecek rute yang dilewati Nyonya Amora semalam."Maverick menegakkan punggung. "Lalu? Mana dia? Kenapa belum pulang?""Mobil Nyonya ditemukan di tepi jalan pertigaan arah pinggiran kota, Tuan. Mesinnya mati, tapi kunci mobil masih tertancap di sana. Nyonya... tidak ada di tempat."Jantung Maverick serasa berhenti berdetak. Rasa bersalah yang coba ia tekan sejak semalam mendadak mencuat ke permukaan, mencekik lehernya hingga terasa sesak. Kilasan pertengkaran hebat semalam berputar di otaknya. Kata-kata kasarnya, tuduhan murahan itu... Ia tahu ia lepas kendali. Ia hanya terlanjur buta oleh rasa cemburu pada Vicktor."Sialan!" Maverick mengge
Deru mesin mobil sport milik Amora meraung membelah kesunyian malam. Jalanan kota yang mulai sepi menjadi saksi bisu bagaimana wanita itu melampiaskan seluruh rasa sesak di dadanya. Tangan kanannya mencengkeram kemudi erat-erat, sementara tangan kirinya berulang kali mengusap pipi yang basah oleh air mata.Tangisan tanpa suara itu belum benar-benar terhenti. Dadanya naik-turun menahan pasokan oksigen yang terasa menipis.Murahan.Kata itu terus berdengung di telinganya seperti kaset rusak. Kali ini, Maverick benar-benar keterlaluan. Pria itu tidak hanya menginjak harga dirinya, tetapi juga menghancurkan sisa-sisa rasa hormat yang sempat tumbuh di hati Amora."Lima puluh kali lipat?" Amora berbisik getir, tawa sarkas lolos dari bibirnya yang bergetar. "Akan kukembalikan, Maverick. Detik ini juga aku akan lepas dari nerakamu!"Pikirannya langsung berputar mencari jalan keluar. Tidak masalah jika ia harus menjual sebagian besar saham pribadinya di perusahaan. Baginya, kehilangan materi j
Cengkeraman tangan Maverick baru terlepas saat mereka tiba di depan mobil Amora. Tanpa sepatah kata pun, Maverick merebut kunci dari jemari Amora yang masih gemetar."Mav, mobilmu—""Biar diurus anak buahku," potong Maverick pendek. Suaranya serak, dingin, dan tidak membantah. Ia memberi isyarat samar pada salah satu pria berjas hitam yang tiba-tiba muncul di area parkir, lalu membuka pintu kemudi mobil Amora dan masuk begitu saja.Amora menghela napas panjang, menahan kekesalannya sebelum akhirnya memutari mobil dan duduk di kursi penumpang.Begitu pintu tertutup, Maverick langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil sport itu melesat membelah jalanan kota dengan kecepatan yang membuat jantung Amora berdegup kencang. Amora menoleh, mendapati rahang suaminya masih mengeras, lurus menatap jalanan di depan seolah-olah jalan aspal itu adalah musuh bebuyutannya.Keheningan di dalam kabin mobil terasa begitu mencekam dan menyesakkan."Mav, pelankan kecepatannya! Kau bisa membuat kita ke
Cengkeraman Vicktor pada pergelangan tangan Amora terlepas paksa saat sebuah tangan kekar lain menyentaknya dengan kasar. Vicktor terhuyung selangkah ke belakang, matanya membelalak tak percaya mendapati sosok pria asing yang beberapa hari lalu sempat ia lihat sekilas di area kantor Shane Group kini berdiri kokoh di depannya.Pria itu—Maverick—menatap Vicktor dengan pandangan sedingin es, seolah-olah Vicktor tak lebih dari seekor serangga yang mengganggu jalannya.Amora memilih tetap diam. Dari posisinya, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana rahang Maverick mengeras dan urat-urat di leher pria itu menegang. Ada kilat kemarahan yang membakar di mata abu-abu Maverick. Dia cemburu, batin Amora, ada sedikit rasa tak percaya menyeruak di hatinya melihat reaksi sehebat itu dari seorang Maverick."Kau siapa? Beraninya mengganggu urusan kami?!" bentak Vicktor sinis. Rasa percaya dirinya kembali naik. Di matanya, pria asing ini hanyalah pengganggu yang tidak tahu apa-apa tentang sejarahnya d
Bugh! Bugh!Dua pukulan mentah mendarat telak di wajah Darius hingga pria itu tersungkur ke lantai teras kayu. Vicktor tidak peduli lagi pada pistol di tangan Darius yang sudah terjatuh, tidak peduli pada jeritan histeris Lucy yang memohon agar ia berhenti. Nafas Vicktor memburu, dadanya naik turun dihantam badai murka yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya."Kau dan bajingan ini... benar-benar sampah!" desis Vicktor dengan suara rendah yang bergetar menahan amarah.Ia menatap Lucy yang bersimpuh memeluk Kelly. Tatapan Vicktor begitu dingin, seolah wanita di hadapannya tak lebih dari seonggok kotoran. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Vicktor berbalik. Ia melangkah lebar meninggalkan rumah tua itu, mengabaikan teriakan panggilan Lucy yang menangis sekencang-kencangnya.Di dalam mobil, Vicktor mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Pikirannya kalut. Kepalanya terasa mau pecah.Bodoh! Kau sangat bodoh, Vicktor! rutuknya pada diri sendiri.Ingatannya berputar ke







