ログインVicktor pun masuk ke kamar tamu dengan langkah pelan. Lampu tidur menyala redup, menampilkan sosok Amora yang duduk di tepi ranjang. Wanita itu tampak gelisah, jemarinya saling meremas seolah pikirannya tak bisa diam.“Kau belum tidur?” tanya Vicktor sambil menutup pintu perlahan.Amora menoleh cepat. Wajahnya sedikit terkejut, lalu berubah ragu. “Vick… aku… mendengar suara Kelly di bawah,” ucapnya akhirnya. Sebuah alasan yang terdengar masuk akal. Padahal sebelumnya ia sedang asyik menonton drama tentang Lucy yang keluar dari rumah megah itu—adegan yang terasa begitu nyata di kepalanya.Vicktor mengangguk pelan. Ia mendekat, lalu berdiri tak jauh dari Amora. Dalam benaknya, satu hal kembali terlintas. Elisha—wanita yang kini bersamanya—benar-benar menyayangi Kelly dengan tulus. Tak ada kepalsuan di mata itu, pikirnya.Dan saat itulah Vicktor kembali yakin. Ia tidak salah memilih menceraikan istrinya demi mendapatkan Elisha.Namun tiba-tiba suasana menjadi hening. Senyum kecil di waja
Lucy meraih koper besar yang diletakkan pelayan di kaki ranjang. Tangannya gemetar, namun bukan karena takut—karena amarah yang sudah tak bisa lagi ditahan. Ia menghempaskan beberapa baju ke dalam koper dengan kasar, seolah setiap helai kain itu adalah dendam yang menumpuk bertahun-tahun.“Jangan berdiri seperti patung! Cepat bereskan semuanya!” bentak Lucy pada pelayan, membuat wanita terbalut berseragam asisten rumah itu terlonjak.Pelayan hanya bisa mengangguk, wajahnya pucat. Ia menunduk dan kembali melipat baju tanpa suara.Vicktor tetap berdiri tegak di depan pintu kamar, kedua tangannya menyilang di depan dada. Matanya dingin, tak bergerak sedikit pun. Amarahnya tidak meledak seperti Lucy—justru senyap, namun sangat terasa.Lucy menghentikan gerakannya, kemudian menatap pria itu. “Jadi ini akhir kita, Vick? Begitu mudahnya bagimu mencampakkan seseorang yang sudah menemanimu bertahun-tahun?”Vicktor tidak menjawab. Heningnya justru jauh lebih mengiris dibanding kata-kata.Lucy t
Vicktor kembali menggenggam tangan Amora, jemarinya kuat seakan tak ingin melepaskan. Tanpa memberi kesempatan Lucy untuk mengeluarkan satu kata pun, ia menarik Amora pergi dari ruang tamu.Amora terpaksa mengikuti langkahnya, meski pikirannya penuh tanda tanya. Sesaat sebelum melewati ambang pintu, ia menoleh. Tatapannya bertemu dengan tatapan Lucy—mata yang menyala penuh campuran marah dan tidak percaya. Namun Amora, entah mengapa, justru memaksakan senyum tipis. Senyum yang terlihat seperti kemenangan.Senyum itu menjadi percikan terakhir yang membuat Lucy meledak.“Vicktor, tunggu! Aku belum selesai bicara!” seru Lucy lantang, suaranya pecah. “Sampai kapan pun aku tidak akan menandatangani surat cerai itu! Tidak akan pernah, Vick!”Langkah Lucy terhenti tepat di bawah anak tangga pertama, napasnya tersengal.Namun Vicktor tidak menoleh sama sekali. Ia dan Amora terus menaiki setiap anak tangga tanpa memperlambat langkah.Lucy mendongak, menatap punggung mereka yang menghilang di b
Suasana makan siang di villa terasa lebih tenang dibanding pagi tadi. Setelah membersihkan dan mengobati luka carakan di pipi Amora, Vicktor mencoba mencairkan kembali ketegangan yang sempat memenuhi udara. Meja makan dipenuhi hidangan sederhana, namun cukup untuk membuat Kelly makan dengan lahap.Gadis kecil itu mengunyah perlahan, lalu meneguk air putih untuk menelan obat yang harus diminumnya. Sesudah itu, ia turun dari kursi dan berlari kecil ke ruang tengah, membawa boneka lusuh kesayangannya yang seakan tak pernah lepas dari pelukannya.Sementara itu, Amora dan Vicktor melanjutkan aktivitas dengan duduk di balkon villa. Angin sepoi mengibaskan ujung rambut Amora, dan pria itu mengamati wajahnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Obrolan ringan mengalun, namun ada sesuatu yang terasa menekan di dalam dada Amora—sebuah ketegangan yang belum selesai."Vick," panggil Amora akhirnya, menatap pria di depannya dengan serius. "Apa kau yakin dengan keputusan tadi? Kau benar-benar ingi
Vicktor melangkah cepat menuju Lucy, nada suaranya terdengar sangat tegas. “Lucy, kau tidak boleh bawa Kelly! Kelly akan tetap di sini bersamaku!”“TIDAK BISA!” Lucy menjauh selangkah, mendekap Kelly makin erat dalam pelukannya. “Aku tidak akan membiarkan wanita murahan itu mencuci otak putriku dengan kebencian!” teriaknya sambil memelototi Amora.“Kau ini bicara apa?” Vicktor mulai kehilangan kesabarannya. “Jangan terus menuduh Elisha tanpa alasan!”Lucy mendorong dada Vicktor sekuat tenaga yang tersisa. Dorongan itu tak begitu keras, tapi cukup membuat pria itu mundur satu langkah. “Teruslah, Vick—TERUSLAH membela wanita jalang itu di depanku!” Lucy meluapkan amarahnya tanpa jeda.Vicktor tidak tinggal diam. Ia kembali mendekati Lucy, berusaha meraih Kelly dari gendongannya.“Jangan sentuh aku! Jangan sentuh putriku!” Lucy bergerak mundur, namun Vicktor tetap berusaha mencengkeram lengan kecil Kelly, membuat anak itu tersedu ketakutan.Di antara kepanikan itu, tangis Kelly pecah. "A
Benturan tubuh mereka kembali terdengar. Dua wanita itu saling serang tanpa ampun, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Amora berusaha bangkit, namun Lucy kembali menariknya hingga keduanya terjatuh lagi ke lantai. Rambut Amora tercabik, pipinya terus menjadi sasaran agresif jemari Lucy yang memiliki kuku tajam. Cakaran kuku Lucy mendarat tepat di wajah Amora—menggores panjang dari pelipis ke bawah pipi. Darah langsung menetes, membuat pandangan Amora sedikit buram. Rasa perih menjalar cepat, namun Amora tak sudi menyerah.Walaupun tubuhnya terpojok, Amora tetap melawan, menahan rambut Lucy sambil menendang kaki wanita itu sekuat tenaga.“Selama ini aku sudah cukup bersabar dengan sikap dan tingkah menjijikkan kalian!” teriak Lucy sambil menarik rambut Amora dengan kasar. “Jawab pertanyaanku! Kau memang memiliki hubungan spesial, kan, dengan suamiku?!”Amora meringis menahan sakit, namun suaranya tetap tegas, “Aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan suamimu!”“Omong kosong!” Lu







