Masuk“Orang-orang brengsek! Bukannya menolong malah ‘misuh-misuh’ engga jelas!” ucap Tony yang hanya bisa melihat Hendrik terjebak di dalam mobil.
“Tolong aku, Bro... kakiku kejepit, sakit sekali nih rasanya...” ujar Hendrik memanggil Tony yang sedang duduk di luar mobil yang posisinya dalam keadaan terbalik itu.
“Sabar, Bro... aku sudah telepon anak buah ayahku untuk membantu kita, sebentar lagi mereka pasti sampai,” jelas Tony sambil memijit-mijit bagian tangannya yang sakit.
“Video yang tadi kamu ambil dari dalam mobil sudah kamu simpan kan, Ton?” tanya Hendrik sambil menunggu bantuan.
“Iya, ada Ndrik, wajah lelaki itu pun sudah aku rekam, cuma sayang aku lupa nomor flat mobilnya,” jelas Tony.
“Kita harus cari lelaki brengsek itu sampai dapat dan kita beri pelajaran dia karena berani mencelakai kita seperti ini,” tegas Hendrik penuh dendam.
“Iya, Bro... aku lihat cewek yang bersamanya cantik banget, boleh tuh kita ajak check-in di hotel,” ucap Tony sambil tersenyum penuh angan.
Tidak lama kemudian, beberapa lelaki datang untuk menolong Hendrik yang terjepit di dalam mobil. Setelah keduanya berhasil dievakuasi ke rumah sakit, mobil Lamborghini yang terbalik dan rusak parah itu pun diderek oleh petugas.
Sementara hari itu di tempat lain, kalangan pengusaha sangat antusias mencari tahu lebih jelas lagi mengenai berita salah satu anggota keluarga Pramudya menjadi Presdir Skylight Group yang baru, seperti yang dirasakan Iryawan, pimpinan Long Life Grup, dia langsung mencari informasi siapa sebenarnya pemuda yang disebut-sebut sebagai miliarder baru itu?
Pencarian Iryawan seketika itu juga rupanya membuahkan hasil, dia mendapatkan foto seorang lelaki muda berwajah tampan yang memiliki rahang tegas yang sedang hangat dibicarakan.
“Perlu diwaspadai pemuda ini. Kalau dilihat dari wajahnya, dia ini orang yang kuat dan pemberani,” Gumam Iryawan sambil duduk bersandar di kursi kerjanya yang empuk.
Di tengah ketermenungan Iryawan tiba-tiba ponselnya di atas meja berbunyi, rupanya panggilan dari putranya, Hendrik.
“Halo, Yah? Ayah di mana?” tanya Hendrik di sana.
“Ayah lagi di kantor... pasti kalau kamu nelepon sedang ada masalah, kan?” ucap Iryawan balik bertanya.
“I-iya, Yah... aku baru saja kecelakaan, mobil Lamborghini-ku terbalik di jalan,” jelas Hendrik.
“Lho, kok bisa? Terus gimana kondisi mobilnya?”
“Kok malah mobilnya yang Ayah tanya? Harusnya kan kondisi aku dulu yang Ayah tanya?”
“Aku tahu kamu pasti baik-baik saja, buktinya sekarang kamu bisa telepon Ayah, itu artinya kamu enggak parah-parah amat kan,” jelas Iryawan. “Jadi gimana kondisi mobilmu? Mobil baru lho itu, belum ada seminggu kan Ayah belikan kamu,” tambah Iryawan cemas.
“Lumayan parah Yah, hampir 50% bodinya penyok, kacanya spionnya malah pecah semua,” jelas Hendrik.
“Kok bisa ceroboh gitu sih kamu nyetirnya, Ndrik...!”
“Bukan salah aku, Pah, ada seorang lelaki ugal-ugalan menabrak mobilku,” jelas Hendrik.
“Bukan sebaliknya kamu yang ugal-ugalan di jalan? Soalnya sudah sering kali Ayah terima aduan kamu sering buat ulah di jalan. Pasti kamu sedang berbohong kan? Ayo jujur, kamu kan yang awalnya bikin ulah?”
“Hmm..., Iya, Yah... sebenarnya aku cuma iseng aja, tadi itu aku mepet sebuah mobil di jalan, soalnya dia enggak mau minggir saat mobilku mau menyusul, tapi ujung-ujungnya mobilku ditabraknya dari belakang sampai mobilku terbalik,” jelas Hendrik mengakui kebenaran yang terjadi.
“Sudah aku duga, pasti kamu yang sebenarnya bikin ulah dan cari masalah. Terus, sekarang apa yang kamu inginkan nelepon Ayah?” tegas Iryawan.
“Aku ingin mencari orang itu untuk menuntut ganti rugi, Yah. Barusan aku kirim foto lelaki itu ke WA Ayah, suruh sekretaris Ayah ya untuk mencari tahu siapa orang itu,” jelas Hendrik.
“Lho, kamu itu gimana sih, Ndrik... jelas-jelas kamu yang cari gara-gara, kok malah mau minta ganti rugi? Aneh kamu itu...” ucap Iryawan memarahi putranya.
“Pokoknya aku harus ketemu orang itu, Yah... tolong kabarin aku kalau sudah ketahuan siapa orang itu. Sekarang aku lagi di klinik, ternyata kakiku yang terjepit enggak ada masalah serius, sudah diberi obat oleh dokter untuk menghilangkan rasa sakit,” jelas Hendrik.
“Ya udah, nanti aku suruh si Popi menghubungi kamu saja,” ucap Iryawan lalu menutup ponselnya.
Saat itu juga lelaki yang bagian depan kepalanya sudah botak itu membuka pesan gambar yang dikirimkan oleh putranya, alangkah terkejutnya saat dia mengetahui bahwa lelaki yang menabrak Lamborghini putranya itu adalah presdir Skylight Group yang baru. Tanpa berpikir panjang lagi, Iryawan kembali menelepon Hendrik untuk memarahinya.
Tony pun rupanya tidak tinggal diam dengan perlakuan lelaki yang telah membuat lengannya memar terkena dashboard mobil pada saat terjadi kecelakaan, dia segera melaporkan kejadian yang dialaminya pada ayahnya.
Sama seperti Hendrik, Tony pun mengirim foto lelaki tak dikenal itu via w******p, dengan penuh harap ayahnya segera melacak keberadaan lelaki itu, lalu akan menganiaya orang itu seperti yang kerap dilakukannya pada siapa saja yang tak disukainya, hingga si korban akan babak belur tanpa ampun.
Saat keduanya sedang duduk bersantai di sebuah kedai kopi kenamaan, Hendrik menerima panggilan telepon dari ayahnya, dia langsung menduga kalau ayahnya telah mengantongi identitas lelaki yang dicarinya.
“Halo, Yah... gimana, udah ketahuan identitas lelaki brengsek itu?” ucap Hendrik menyapa Iryawan di sana.
“Jaga ucapanmu, Ndrik! Kamu enggak pantas ngomong begitu...!” balas Iryawan yang langsung memarahi putranya. “Kamu tahu enggak siapa dia? Dengar ya baik-baik... lelaki itu sekarang ini adalah orang terkaya di ibu kota, jabatannya sebagai Presdir Skylight Group yang baru...”
“Masak sih, Yah? Kok Presdir mobilnya Avanza, salah orang kali, Yah...” ujar Hendrik membantah ucapan ayahnya.
“Kamu enggak usah banyak ngomong lagi, sekarang juga kamu cari lelaki itu dan minta maaf secara baik-baik, kalau perlu kamu berlutut di depannya...”
“Tapi, Yah...”
“Sudah, jangan banyak alasan dan jangan membantah perintah Ayah, sekarang juga kamu cari keluarga Pramudya itu sampai ketemu hari ini juga,” perintah Iryawan dengan nada tegas.
Iryawan langsung menutup panggilannya, membuat Hendrik merasa pusing kepala.
“Ada apa, Bro?” selidik Tony yang merasa heran dengan temannya yang berubah menjadi kesal dan kecewa.
“Ayahku justru menyuruh kita untuk meminta maaf pada lelaki yang menabrak kita, karena ternyata dia itu Presdir Skylight,” jelas Hendrik sambil geleng-geleng kepala menahan rasa kesalnya.
“Kok aneh... kalau dia Presdir, kenapa terlihat seperti orang miskin begitu? Mobilnya aja Avanza,” tegas Tony.
“Ayahku belum menjelaskan sudah keburu menutup ponselnya. Mungkin saja orang itu sedang melakukan penyamaran, bisa saja kan? Terus terang... aku enggak berani menolak perintah ayahku, karena kalau sampai itu aku lakukan dia akan memblokir semua fasilitas yang diberikannya padaku,” jelas Hendrik lalu tertunduk lemas.
“Tenang saja, Bro, aku akan...” ucap Tony terputus karena tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Rupanya ayahnya Tony yang menelepon, dia pun seperti Hendrik, menduga akan mendapat informasi akan keberadaan lelaki itu.
Di luar dugaan, Tony pun mendapat marah dari ayahnya, dan sama seperti Hendrik, dia pun disuruh meminta maaf pada si penabrak dengan alasan lelaki itu Miliarder baru yang akan memberi banyak pemasukan untuk pemerintahan ibu kota.
“Sekarang aku yakin, Bro, kalau lelaki itu memang orang penting, karena ayahku pun meminta maaf padanya. Ya udah, apa boleh buat sekarang juga kita cari dia, Bro, daripada kita kena marah orang tua kita,” putus Tony dengan perasaan jengkel, Hendrik pun tidak punya pilihan lain, setuju dengan ucapan Tony.
Matahari pagi mulai memancarkan sinarnya yang benderang, menembus kabut tipis dan polusi yang menggantung di atas jalanan aspal ibukota. Bagi dunia luar, hari ini hanyalah hari biasa yang dipenuhi oleh hiruk-pikuk kemacetan dan kesibukan kaum urban yang mulai memadati trotoar jalan.Namun bagi Marlon Pramudya, detik ini adalah sebuah penegasan takdir yang paling sakral di dalam bentangan panjang silsilah kehidupannya yang penuh dengan darah. Linimasa waktu seolah berputar mundur di dalam benaknya, mencatat dengan sangat rapi setiap jengkal perjalanan yang telah ia lalui selama ini.Tepat enam tahun yang lalu, ketika usianya baru menginjak dua puluh tahun, ia melangkah keluar dari sangkar emas The Shadow of Death sebagai seorang eksekutor muda. Menggunakan jaket kulit hitam andalannya dan sepasang belati titanium, ia menjelma menjadi sesosok bloody killer nomor satu yang paling ditakuti dunia bawah tanah.Nama besar dan reputasinya yang mengerikan sempat meroket tajam di sepanjang lo
Langkah pertama Marlon untuk kembali ke dunia atas dimulai dari sebuah titik yang sangat sentimental bagi masa mudanya. Di dalam mobil sport hitamnya yang terparkir di seberang jalan, mata elang Marlon menatap tajam ke arah sudut gang sempit yang dulunya menjadi saksi bisu kehancurannya.Tempat yang sembilan tahun lalu merupakan sebuah kedai bakpao sederhana, kini telah berubah menjadi deretan ruko modern yang bising oleh deru mesin kendaraan. Marlon menyandarkan tubuh tegap berototnya pada kursi kulit kemudi, membiarkan jemari tangannya mengetuk setir mobil secara ritmis penuh perhitungan.Ia tidak bisa bergerak gegabah tanpa memiliki data intelijen yang akurat mengenai kondisi lingkaran keluarga besar Hardiyata setelah sepuluh tahun berlalu sejak pengeroyokan itu. Oleh karena itu, Marlon sengaja mengerahkan sisa jaringan anak buah setianya dari divisi peretasan data untuk melakukan penyelidikan mendalam hari ini.Ponsel khusus yang diletakkan di atas dasbor mobil mendadak bergeta
Proses transisi dari kegelapan menuju cahaya benderang dunia atas membutuhkan ketelitian yang jauh lebih rumit daripada sekadar menanggalkan pakaian taktis tempur. Di dalam ruang kerja pribadinya yang sunyi di puncak pent house mewah, Marlon duduk tegak di depan deretan layar monitor komputer yang memancarkan cahaya biru redup.Jemari tangannya yang kekar berotot bergerak dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik, menjalankan baris-baris kode enkripsi militer tingkat tinggi. Malam ini, ia fokus melakukan operasi pembersihan paling krusial dalam hidupnya: menghapus seluruh jejak digital identitas aslinya dari setiap basis data dunia bawah tanah.Nama Marlon Pramudya sebagai sang bloody killer legendaris andalan The Shadow of Death harus benar-benar lenyap, menguap tanpa menyisakan satu pun bukti fisik atau digital. Segala rekaman CCTV, manifes penerbangan jet pribadi, hingga catatan medis luka tembak sembilan tahun lalu dikikis habis sampai ke akar-akarnya."Apakah proses pen
"Aku ingin mundur dari posisi eksekutor utama lapangan dan menyerahkan kembali seluruh koin perak operasional mulai hari ini, Tante," ucap Marlon dengan nada suara yang sangat tenang namun sarat akan ketegasan mutlak.Marlon berdiri tegak laksana karang di tengah ruang kerja privat yang dilapisi dinding baja anti-peluru. Di usianya yang kini resmi menginjak dua puluh enam tahun, kegagahan fisiknya tampak begitu matang, memancarkan aura maskulin yang sangat kuat menindas udara sekitar.Tante Goldies yang sedang duduk di balik meja kerjanya seketika menghentikan gerakan jemarinya yang sedang memeriksa berkas. Ia mendongak dengan kening berkerut dalam, menatap anak angkat sekaligus pembunuh berdarah dingin terbaik yang pernah dilahirkan oleh organisasinya.Di sudut ruangan, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan potongan rambut militer khas juga turut mengalihkan pandangannya dari layar monitor. Pria itu adalah sang Jenderal bintang tiga, suami dari Tante Goldies sekaligus pria
"Kamu tidak bisa pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam perpisahan yang layak kepada kami, Marlon," bisik Jessy sembari merapatkan tubuh seksinya yang hanya dibalut gaun malam minim.Marlon tidak segera menjawab, ia hanya memutar gelas wiski di tangan kanannya dengan gerakan yang sangat pelan. Di dalam ruang VIP penthouse privat yang super mewah itu, atmosfer malam terasa begitu pekat oleh aroma parfum mahal dan kabut gairah yang menggebu-gebu."Jessy benar, Marlon. Selama ini kamu selalu datang dan pergi laksana hantu malam, membuat kami semua merana karena merindukan keperkasaan tubuhmu," sahut Tamara yang duduk di sisi kirinya."Malam ini adalah malam terakhirmu di sirkel kehidupan malam kami sebelum kamu mengurus bisnis barumu itu, jadi layani kami sepuasnya," tambah Santy, sang janda kaya pengusaha berlian yang turut hadir di sana.Marlon melayangkan tatapan mata elangnya yang tajam namun kini dipenuhi oleh binar karisma sensual ke arah para wanita cantik yang berkumpul di sek
Kabut tebal yang dingin menyelimuti kawasan hutan pinus di pinggiran Sektor Barat malam itu. Suara angin yang bergesek di antara rimbunnya dedaunan menciptakan simfoni alam yang mencekam, seolah menyembunyikan langkah kaki maut yang sedang mengintai. Di tengah kegelapan pekat yang terisolasi tersebut, sisa-sisa anggota kartel Kobra Hitam berlari dengan napas memburu berantakan.Mereka mengira pelarian ke dalam hutan lebat ini bisa menyelamatkan nyawa mereka dari amukan organisasi The Shadow of Death. Namun, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa bertingkah paranoid di tengah alam liar justru mempermudah insting berburu milik Marlon Pramudya. Menggunakan pakaian tempur taktis serba hitam yang melekat erat pada tubuh kekarnya, Marlon bergerak tanpa suara di atas tumpukan daun kering."Hei, apakah kamu mendengar sesuatu di belakang kita tadi?" bisik seorang anggota kartel berkulit legam kepada temannya sembari menodongkan senapan serbu ke arah kegelapan."Jangan menakut-nakuti aku, k
Setelah Marlon memandu mobil Avanza berwarna hitam itu di jalan raya, Erinka bisa merasakan kalau hari ini Marlon sangat berbeda. Rupanya dia piawai memandu mobil, cara menyetirnya halus dan tenang, membuat penumpang merasa nyaman. Erinka menyimpulkan, kalau suaminya itu mempunyai sisi lain pada di
Menjelang siang hari saat mengerjakan tugas rutin membersihkan rumah, menyapu dan mengepel lantai, Marlon kembali menerima sebuah pesan di ponselnya. Dia pun langsung tersenyum lebar mengetahui bahwa dirinya telah mendapat hadiah yang begitu banyak hari ini. Mulai dari uang 100 Milyar yang ditransf
“Bagaimana rasanya, Sayang, enak enggak nasi goreng buatanku?” tanya Marlon yang berdiri di samping Erinka, setelah istrinya itu menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya.“Hmm... sedap... beneran ini kamu yang masak?” tanya Erinka.“Iya, dong aku... tapi bumbunya sih Bi Puri yang membuat, aku bagia
Si wanita bergincu tebal itu terus mengikuti langkah Marlon hingga ke smoking area, dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Marlon yang saat itu hanya seorang diri di balkon hotel yang terbuka bebas itu. Ada semilir angin bertiup di siang menjelang sore itu yang mengibas rambut panjang wanita berpak







