로그인Luna akhirnya bersedia ikut, ia ingin tahu apa yang diinginkan pria tua itu. Selain karena ingin yang dan ponselnya laku, ia juga ingin tahu apa sebenarnya yang diinginkan pria asing yang baru dikenalnya itu.
Mereka duduk di kafe yang cukup ramai itu. Masing-masing orang pasti tidak menyadari jika mereka datang untuk bertransaksi ponsel usang.
Luna menatap pria itu, setelah mereka duduk, lidahnya kelu.
"Ponselmu, biar aku yang beli," ucapnya sesaat setelah mereka duduk.
Pria ini akan membeli ponselnya? Untuk apa ponsel usang ini dibelinya. Luna merasa ragu tapi pria itu setengah memaksa.
Pria itu minta dia memberikan harga untuk sebuah ponsel dengan banyak bekas jatuh dimana-mana.
Dan untuk harga yang dibutuhkan, ia memberikan harga yang memang pantas untuk ponselnya.
Tapi ini terlalu aneh untuk menjadi nyata. Apakah ini semacam modus penipuan, yang dilakukan pria itu tak wajar, karena tertarik pada barang kuno dan setengah rusak ini.
Otaknya berputar cepat mencari celah, tetapi wajah pria itu—begitu tenang dan penuh keyakinan—tidak menunjukkan gelagat buruk sedikit pun.
"Berapa yang kamu butuhkan?" ulang pria itu, kini melayangkan pandangannya ke arah pramuniaga yang masih berdiri canggung di samping mereka.
“Mau pesan apa, Tuan ehm Nona?”
Pria itu memesan jus lemon, dan menyuruhnya untuk memesan juga. Luna menolaknya tapi pria itu memberikan pilihan dan Luna terpaksa memilih segelas jus alpukat, salah satu minuman impiannya.
Pramuniaga itu berlalu pergi menyiapkan pesanan mereka. Sedangkan Luna, ia meremas ponselnya. Harga yang ia butuhkan, setidaknya untuk napas sesaat, adalah satu juta rupiah.
Jumlah yang terasa sangat besar untuk sebuah ponsel bekas dengan layar retak. Pria itu menatapnya, menunggunya menjawab untuk memberikan harga yang pantas dan dibutuhkanya.
"Jadi, berapa harganya? Katakan saja?"
"S-satu juta, Tuan," ucapnya lirih, hampir tak terdengar. Ia bersiap untuk cibiran atau tawa dari pria itu.
Namun, pria itu hanya mengangguk. "Baiklah. Satu juta. Kamu yakin cuma butuh satu juga untuk harga ponsel itu?"
"Ya, cuma itu saja, apa Tuan mau mengeceknya dulu?"
"Tak perlu, aku bukan sales ponsel. Oh ya, namaku Jonathan." Ia mengulurkan tangannya.
Luna menyambutnya ragu. Telapak tangan Jonathan terasa hangat dan kokoh. "Sa-saya Luna, Tuan."
"Tidak usah pakai 'Tuan', Luna. Cukup panggil Jonathan saja," ujarnya ramah.
Lalu tiba-tiba, pria dengan kisaran usia 35 tahun itu mengeluarkan dompetnya dan menghitung uang sejumlah yang ia inginkan.
Satu juta rupiah, dan uang yang terdiri dari uang kertas 10 lembar ratusan ribu itu membuatnya menganga. Karena tanpa di tawar apalagi dikatakan banyak cela dan kerusakan, orang itu malah langsung memberikan uangnya tanpa basa basi.
"Ini, Luna," katanya sambil menyerahkan uang itu. "Dan ini … ponselmu. Aku tidak memerlukannya."
Luna menatap uang yang diterimanya dengan ponsel di tangannya secara bergantian. "Anda... Anda tidak mengambil ponselnya?"
Jonathan tersenyum tipis. "Tidak. Aku hanya ingin membantu. Anggap saja ini rejekimu, Nona Cantik."
"Tapi ... Anda membelinya, aku juga menjualnya. Tolong Tuan terima ini!"
Pria itu meliriknya, lalu mengatakan jika ia akan segera pergi. "Simpan saja, kalau masih berfungsi kamu pakai saja, aku dengar tadi juga kamu masih pakai, ya kan?"
Luna mengangguk pelan, antara malu dan ragu, ia menerima uang itu tapi pria itu menolak menerima ponselnya.
Hati Luna menghangat. Ia merasa terharu sekaligus malu. Belum pernah ada orang asing yang membantunya sebesar ini tanpa pamrih.
Air mata yang tadi tertahan kini benar-benar ingin menetes. "Terima kasih banyak, Tuan Jonathan. Aku ... Aku tidak tahu harus bagaimana membalasnya."
"Tidak perlu dibalas," jawab Jonathan lembut. "Semoga bisa meringankan bebanmu dan juga ibumu." Ia lalu melirik jam tangannya.
"Kalau begitu, aku harus pergi. Tapi … berikan nomormu supaya aku bisa mencatatnya, apakah kamu sudah bekerja?”
Luna menatap pria itu dengan penuh harapan, sebuah pekerjaan ditanyakan orang baik itu. Ia terlibat sumringah, siapa tahu ada loker untuknya.
“Aku … hanya bekerja serabutan, kadang di toko membantu jadi kasir atau mencatat keuangan dan beberapa stok barang,” jawabnya dengan penuh kehangatan.
Pria itu manggut-manggut, lalu mengeluarkan sebuah kartu untuknya. “Ini kartu namaku, dan berapa nomor ponselmu?”
Luna menyebutkan nomornya, tanpa merasa ragu dan curiga, ia sudah mempercayainya. Ia melihat pria itu sebagai orang yang baik, sangat baik.
“Ok, siapa tahu ada lowongan kerja untukmu jadi aku bisa menghubungimu dengan cepat. Senang berkenalan denganmu, Luna."
Sebelum Luna sempat berkata apa-apa lagi, Jonathan, pria itu sudah berbalik dan melangkah keluar dari kafe, menghilang di antara kerumunan.
Luna masih terpaku, memegang ponsel dan uang di tangannya, berusaha mencerna semua kejadian yang baru saja ia alami.
Uang satu juta rupiah di tangannya ... ini sungguh seperti mimpi untuknya. Jumlah uang yang diterimanya ini cukup untuk membeli beras, membayar listrik, dan mungkin sisanya untuk membeli sebagian obat ibunya.
Sebuah keajaiban di tengah keputusasaan. Tapi ia masih bertanya-tanya kenapa orang itu begitu baik padanya padahal mereka baru saling kenal.
**
Luna memilih untuk langsung membelanjakan barang-barang yang dibutuhkan orang rumah. Sisa uangnya masih cukup banyak dan ia akan menyimpannya.
Ia pulang dengan membawa banyak barang di tangannya. Dilihatnya ibunya memandangnya dengan heran.
Mungkin ibunya bertanya-tanya, dari mana ia pulang membawa banyak bingkisan di tangannya.
Dan benar saja, ibunya bertanya dengan penuh kecurigaan. "Darimana kamu dapatkan itu semua, Lun? Kerjamu saja tidak mendapatkan gaji yang banyak untuk membeli itu semua,"
Luna mendekat pada ibunya yang langsung terbatuk-batuk saat ia duduk. "Bu, ada orang baik yang membeli ponsel Luna,"
Belum selesai ia bercerita, ibunya memotong ucapannya. "Kamu menjual ponselmu?"
"Hampir akan terjual, Bu,"
"Lalu ... katanya tadi kamu menjualnya?"
Luna tersenyum, kemudian menceritakan apa yang terjadi. Ibunya berdecak, seolah semuanya mustahil. Malah menuduhnya telah melakukan sesuatu pada pria itu.
"Luna ketemu orang itu di toko ponsel, dia menawarkan diri untuk membeli ponsel Luna, ibu jangan salah sangka. Luna nggak akan berbuat macam-macam, Bu,"
Ibunya diam saja, malah memanggil Tio untuk mengambilkan minum. Tio datang dan terkejut dengan banyak belanjaan yang dibawa Luna kakaknya.
"Tio! Jangan sentuh itu, ibu nggak mau kita makan makanan yang haram, kamu sebaiknya belajar, jangan mengurusi hal yang tidak baik, kita harus jujur dan tidak berbuat kotor supaya tidak dianggap macam-macam oleh orang lain!"
Luna kaget dengan suara keras ibunya. Ia menyayangkan sikap ibunya yang menolak semua pemberiannya.
"Bu, Luna benar-benar menerima uang dari orang yang baik. Tolong jangan berprasangka buruk!" pintunya.
Ibunya tak mengindahkan ucapannya. Tio juga akhirnya terpaksa masuk ke kamarnya dan menutup pintunya rapat-rapat.
"Bagaimana... keadaanmu? Masih sangat mual?" tanya Jonathan. Suaranya terdengar agak kaku, sangat berbeda dari sosok Jonathan yang biasanya selalu tegas dan percaya diri.Luna tidak langsung menjawab.Ia menatap selimut rumah sakit yang menutupi kakinya, menghindari kontak mata langsung dengan Jonathan."Lun?" ulang Jonathan."Sudah agak mendingan setelah diinfus. Tapi baunya memang membuat mual.""Oh... begitu," jawab Jonathan pendek. Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa seperti orang asing yang sedang menjenguk kenalan jauh.Rasa bersalah karena telah membiarkan Luna terlunta-lunta hingga pingsan seperti ini membuat lidahnya mendadak kelu.Luna melirik mangkuk bubur di atas nakas dengan tatapan enggan, lalu memberanikan diri menatap Jonathan sekilas. "Mas... kenapa masih di sini? Bukannya tadi Ibu bilang... Nyonya Deswanti juga sedang kritis di bawah?"Panggilan 'Mas' dan pertanyaan Luna yang terasa seperti sebuah jarak yang sengaja dibentangkan itu membuat hati
Ketegangan di koridor lantai bawah semakin memuncak. Dua orang petugas sekuriti berseragam lengkap tampak berlari cepat dari arah lobi utama setelah menerima laporan dari salah satu keluarga pasien yang merasa terganggu dengan jeritan histeris Mira."Ada apa ini? Mohon tenang, Bapak, Ibu. Ini rumah sakit, jangan membuat keributan," tegas salah satu sekuriti sembari memasang badan di antara Jonathan dan Mira.Jonathan dengan kasar menyentak lengan kemejanya hingga cengkeraman Mira terlepas sepenuhnya. Wajahnya merah padam menahan amarah yang sudah di ubun-ubun. "Pak, tolong amankan wanita ini. Dia menyusup masuk dan membuat keonaran di lingkungan rumah sakit," ujar Jonathan dingin, suaranya bergetar menahan geram.Mira yang melihat sekuriti datang justru semakin menjadi-jadi. Ia sengaja menjatuhkan diri ke lantai, bersimpuh di dekat tasnya yang berantakan sambil terus menangis histeris. "Kalian tidak tahu apa-apa! Pria ini... dia menghancurkan masa depanku! Dia mencampakkanku setela
Ia berencana masuk ke ruang perawatan Nyonya dengan berpura-pura menjadi wanita yang depresi dan menderita akibat dicampakkan setelah memberikan segalanya. Jika Jonathan berani memanggil sekuriti untuk mengusirnya lagi, Mira tidak akan segan-segan berteriak histeris di koridor rumah sakit, membeberkan aib (yang tentu saja sudah ia bumbui dengan kebohongan) agar didengar oleh pasien lain dan para staf medis. Ia ingin memojokkan Jonathan hingga pria itu tidak punya pilihan selain menemuinya dan mencabut semua tuntutan hukum atas dirinya.Mira menginjak pedal gas lebih dalam saat gedung Rumah Sakit Medika mulai terlihat di ujung jalan. Sambil memoles lipstik merah menyala di bibirnya melalui kaca spion tengah, ia membatin, 'Sambut kedatanganku, Jonathan. Mari kita lihat seberapa kuat kamu bertahan saat aku mengancam akan menghancurkan nama baik yang mati-matian kamu jaga.'Mira memarkirkan mobilnya dengan kasar di area parkir luar. Dengan langkah angkuh dan kacamata hitam yang berteng
Sementara itu, beberapa lantai di bawah ruang rawat Luna, atmosfer terasa begitu kontras dan menegangkan.Jonathan berdiri membisu di samping brankar ruang perawatan intensif. Di atas ranjang, Nyonya Deswanti terbaring lemah dengan berbagai selang medis dan masker oksigen yang menempel di wajahnya yang pucat pasi. Tidak ada lagi sisa-sisa keangkuhan atau sorot mata tajam yang biasa wanita itu tunjukkan.Rida dan Ken berdiri di sisi lain ruangan, memberikan ruang bagi kakak sulung mereka.Jonathan menatap wajah ibunya yang tampak jauh lebih tua dalam semalam. Rasa marah, kecewa atas konspirasi obat penenang, serta rasa tanggung jawab sebagai seorang anak kini berkecamuk hebat di dalam dadanya. Ia meremas tangannya sendiri, berdiri di persimpangan takdir yang rumit: menjaga wanita yang melahirkannya di masa kritis, atau segera kembali ke atas demi memeluk istri dan calon anaknya yang baru saja ia temukan kembali.***Beberapa jam berlalu dalam keheningan yang mencekam di ruang perawa
"Kak! Itu suara dari kamar Mama!" seru Ken panik.Tanpa membuang waktu, kedua adik Jonathan itu berlari cepat dan mendobrak pintu kamar. Mata mereka terbelalak mendapati sang ibu sudah tergeletak di lantai sambil menekan dadanya, megap-megap mencari udara dengan bibir yang mulai membiru."Mama!" Rida langsung berlutut, mengangkat kepala mamanya ke pangkuannya. "Ken, cepat siapkan mobil! Mama kena serangan jantung!"Ken yang panik luar biasa tidak lagi memikirkan sopir. Ia langsung menyambar kunci mobil di meja dan berlari keluar untuk memanaskan mesin. Sementara itu, Rida meminta bagian keamanan untuk sigap menggendong tubuh mamanya yang sudah melemah, membawanya keluar dari rumah dengan langkah seribu.Dalam hitungan menit, mobil yang dikendarai Ken membelah jalanan dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat. Rida di kursi belakang terus menggenggam tangan mamanya, mencoba memberikan pertolongan pertama sembari memanggil-manggil kesadaran sang mama.Ironisme takdir seola
Mobil mewah Jonathan berhenti tepat di depan lobi instalasi gawat darurat (IGD) sebuah rumah sakit swasta. Dengan cekatan, beberapa perawat langsung bergegas membawa brankar besi dan membantu Jonathan memindahkan tubuh pingsan Luna.Saat Luna didorong masuk ke dalam ruang tindakan, langkah kaki Jonathan tertahan di ambang pintu oleh petugas keamanan. "Mohon maaf, Pak. Silakan tunggu di luar terlebih dahulu sementara tim medis melakukan pemeriksaan awal," ucap perawat tersebut dengan sopan namun tegas.Jonathan terpaksa mundur. Pria itu berjalan mondar-mandir di koridor rumah sakit dengan perasaan was was yang luar biasa.Kemeja formalnya kusut, tangannya masih terasa dingin bekas mendekap tubuh lunglai istrinya tadi. Setiap detik yang berjalan terasa bagai berjam-jam baginya.Sementara itu, di dalam ruangan yang tersekat tirai putih, Bu Mirasih diizinkan mendampingi Luna. Seorang perawat senior dan dokter jaga mulai memasang alat pemantau detak jantung dan memeriksa denyut nadi Lu
Bu Mirasih memandang putrinya dari arah dapur. Ia membantu Luna membereskan semuanya, termasuk mencuci piring. Di rumah ini memang sudah ada seorang pelayan tapi mereka tidak mau asal berpangku tangan saat tinggal di rumah orang.Luna terkejut saat baru bangun melihat ibunya mencuci piring. “Ibu i
Jonathan mengajaknya ke rumahnya setelah rumah orang tuanya kosong tanpa ada siapapun.Adiknya juga tidak terlihat. Ia menggenggam tangan Luna dan mengajak ibu mertua serta adik iparnya ke rumahnya.Luna dan ibunya saling berpandangan saat tiba di depan rumah Jonathan yang tak kalah mewah dari rumah
Angin lembut bulan Juli memainkan helai rambut Luna saat memandang Tio, adiknya, yang tertawa riang di taman rumah sakit. Kakinya telah dioperasi tapi dia harus memakai kursi roda nantinya sampai benar-benar sembuh betul.Beberapa langkah di sampingnya, sang ibu tersenyum tipis, memetik bunga kambo
"Baiklah Tuan Jonathan... aku … aku bersedia," ucap Luna, suaranya nyaris berbisik, serak menahan getar. Ada rasa pahit yang menyelimuti lidahnya, namun juga secuil kelegaan yang mengerikan.Jonathan menghela napas panjang, seolah beban berat terangkat dari pundaknya. "Baiklah, Luna. Terima kasih.







