تسجيل الدخولTekad Luna rupanya jauh lebih besar daripada rasa sakit di tubuhnya. Meski kondisinya belum stabil dan rasa begah serta mual itu sesekali masih datang menyerang, ia tetap memaksakan diri untuk berdiri di depan booth portable miliknya. Sebuah banner bertuliskan nama usahanya yang ia pesan kemarin kini sudah terpajang rapi di bagian depan, menambah kesan indah dan menarik pada kedai es teh kecilnya.Namun, realitas hari pertama jualan tidak selalu seindah bayangan. Hingga siang menjelang sore, suasana di depan kosnya masih terasa sepi. Hanya ada satu dua pengendara motor atau pejalan kaki yang menoleh, dan baru beberapa cup saja yang berhasil terjual.Rasa lelah mulai menjalar ke seluruh tubuh Luna. Berdiri terlalu lama di pinggir jalan besar yang terik membuat kepalanya kembali berdenyut kencang. Kakinya terasa pegal, dan gejolak mual di perutnya kembali memuncak akibat mencium aroma asap kendaraan. Luna harus berkali-kali memegangi pinggiran meja portable-nya, menahan diri dengan
Aroma harum bumbu masakan menyeruak dari dapur kecil di sudut kamar kos Luna. Sore itu, suasana di kamar kos yang sederhana terasa jauh lebih hidup dan hangat. Setelah berhari-hari dirundung kesedihan, senyum sumringah akhirnya kembali terukir jelas di wajah Luna.Ia memutuskan untuk merayakan kebahagiaannya karena berkas asli sang ibu telah kembali. Luna mengeluarkan persediaan daging kurban yang disimpan di dalam cooler box kecil—pemberian dari tetangga kos yang baru serta mantan tetangga di rumah lamanya yang bersimpati saat ibunya jatuh sakit tempo hari. Karena kemarin-kemarin fokus merawat ibunya di rumah sakit, daging-daging segar itu belum sempat ia olah.Dengan cekatan, Luna memasak daging tersebut menjadi hidangan spesial yang menggugah selera. Di atas kasur, Bu Mirasih duduk bersandarkan bantal dengan wajah yang jauh lebih segar, ditemani Tio yang sedari tadi tidak berhenti mencuri pandang ke arah wajan, sudah tidak sabar untuk makan malam.Tepat menjelang magrib, pintu
Boy berlari terengah-engah menyusuri koridor rumah sakit dengan segelas teh hangat di tangannya. Namun, langkahnya mendadak terhenti begitu sampai di area administrasi. Ia celingukan mencari keberadaan sepupunya.Sedetik kemudian, pandangannya menangkap sosok Luna yang ternyata masih terbaring lemah di kursi panjang panjang, persis di posisi semula dengan mata terpejam rapat dan wajah pucat. Sementara itu, beberapa meter di depannya, Jay tampak sedang berdiri di depan loket, berbicara dengan nada serius dan intens kepada petugas rumah sakit.Boy segera menghampiri sepupunya dengan raut cemas. Ia berlutut di samping kursi panjang tersebut."Lun, minumlah!" kata Boy lembut sambil menepuk pelan bahu Luna.Boy memberikan minyak angin ke dekat hidung Luna untuk meredakan rasa mualnya. Luna mulai mengerjapkan matanya yang terasa berat. Pandangannya masih agak buram dan berputar, namun aroma tajam dari minyak angin itu perlahan membantunya mengumpulkan kesadaran.Boy dengan telaten membant
Keesokan paginya, sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden jendela apartemen, menerangi kamar yang sunyi itu. Di kamar yang sunyi itu, suasana sangat tenang namun hati sang pemilik bergemuruh setiap ingatannya sadar bahwa ia kini hidup tanpa pendamping setianya.Jonathan perlahan membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba merasakan apa yang terjadi pada tubuhnya.Ia tertegun sejenak, lalu perlahan bangkit dan duduk di tepi tempat tidur.Sebuah helaan napas lega lolos dari bibirnya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, kepalanya tidak lagi terasa dihantam batu saat ia bangun tidur. Efek obat pembersih racun yang diberikan Dokter Adrian semalam tampaknya bekerja dengan sangat baik. Tubuhnya terasa jauh lebih segar, pandangan matanya menjernih, dan rasa mual yang biasa menyiksanya kini telah menguap. Kesadarannya telah kembali seutuhnya."Luna..." gumam Jonathan, dan kali ini nama itu tidak lagi memicu sakit kepala misterius seperti sebelumnya. N
Rasa sakit di kepala Luna semalam untungnya tidak berkembang menjadi demam tinggi. Begitu pagi menyapa, tubuhnya memang masih terasa lemas dan kurang fit akibat kelelahan yang menumpuk.Lelah yang mendera karena semua urusan dia yang mengurusinya. Tubuhnya kini juga masih terasa lemas dan tak bersemangat.Namun ia memaksakan diri untuk bangun dan membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar. Ia tidak ingin membuat ibu dan adiknya panik.Sekitar jam delapan pagi, ketukan di pintu kamar kos memecah keheningan."Pasti Mas Boy," gumam Tio yang sedang duduk di ambang pintu sambil meluruskan kakinya yang pincang.Luna segera bergegas membuka pintu. Benar saja, Boy berdiri di sana dengan senyum lebar, kedua tangannya penuh menjinjing kantong plastik berisi rupa-rupa makanan—mulai dari bubur ayam hangat untuk sarapan ibunya, hingga beberapa lauk matang untuk makan siang mereka nanti.Namun, Luna agak terkejut saat menyadari Boy tidak datang sendirian. Di belakangnya, berdiri seorang pria bert
Luna merasa senang kerabatnya mengetahui keberadaan dan juga keadaannya.Ia tak ragu lagi untuk bisa meluapkan rasa beban yang menghimpit. Tentang apa yang dirasakannya saat ini."Mas Boy..." Luna menjeda kalimatnya, tampak ragu-ragu. "Sebenarnya, Luna tadi dari rumah sakit untuk mengurus berkas jaminan kesehatan Ibu. Tapi... ada masalah besar. Pihak administrasi bilang kalau penjamin tambahan di berkas itu terdaftar atas nama mantan mertua Luna, Nyonya Deswanti. Karena itu, berkas aslinya tidak bisa keluar sebelum ada tanda tangan dari beliau atau kami membayar lunas selisih biayanya."Boy mengernyitkan dahi, ekspresinya langsung berubah serius. "Nyonya Deswanti? Itu mertuamu?”“Iya, Mas,”“Kenapa dia bisa ikut campur dalam urusan rumah sakit Bibi Mirasih?"Luna menggeleng lemah. "Luna juga tidak tahu, Mas. Luna bingung harus berbuat apa sekarang."Boy terdiam sejenak, memikirkan jalan keluar. Sifatnya yang tegas dan protektif sebagai kerabat laki-laki satu-satunya yang bisa diandal
Pagi yang cukup cerah, terlihat dua orang sedang berbicara sambil menyeduh kopi hangat dalam cangkir yang ada di depan meja.Nyonya Deswanti sedang mendengarkan apa yang tengah dijelaskan Mira padanya. Perawat itu datang di sela kesibukannya sebelum bekerja.“Baiklah, besok aku akan kesana memastik
“Aku pulang malam, nanti ada kurir datang. Paket yang aku kirimkan bisa kamu cek dan pakai sebelum aku pulang. Tidak usah menyambutku di luar, cukup berbaring di kamar dan tunggu aku masuk,”Jonathan mengirim pesan untuknya. Pria itu sedang menangani beberapa proyek dan berkumpul bersama papanya di
Setelah kegagalan rencananya, Mira tidak menyerah. Ia tahu kelemahan Nyonya Deswanti adalah keinginannya untuk segera memiliki cucu. Mereka dari keluarga kaya, Jonathan yang memang sudah tua usianya mengharuskan memiliki istri yang bisa memenuhi keinginan orang tuanya.Dulu ia berpacaran dengan pr
Sejak pakaian yang ia ambil dari jemuran menjadi bau asap, Nyonya Deswanti melarang keras dirinya masuk ke kamar Jonathan.Pria itu masih sakit. Saat ia tanpa sengaja berjalan melewati kamar suaminya, terlihat Mira sedang menyuapi makan pria itu.Jonathan tampak lemah dan …“Mau apa kamu? Cepat sin







