Mag-log inBoy berlari terengah-engah menyusuri koridor rumah sakit dengan segelas teh hangat di tangannya. Namun, langkahnya mendadak terhenti begitu sampai di area administrasi. Ia celingukan mencari keberadaan sepupunya.Sedetik kemudian, pandangannya menangkap sosok Luna yang ternyata masih terbaring lemah di kursi panjang panjang, persis di posisi semula dengan mata terpejam rapat dan wajah pucat. Sementara itu, beberapa meter di depannya, Jay tampak sedang berdiri di depan loket, berbicara dengan nada serius dan intens kepada petugas rumah sakit.Boy segera menghampiri sepupunya dengan raut cemas. Ia berlutut di samping kursi panjang tersebut."Lun, minumlah!" kata Boy lembut sambil menepuk pelan bahu Luna.Boy memberikan minyak angin ke dekat hidung Luna untuk meredakan rasa mualnya. Luna mulai mengerjapkan matanya yang terasa berat. Pandangannya masih agak buram dan berputar, namun aroma tajam dari minyak angin itu perlahan membantunya mengumpulkan kesadaran.Boy dengan telaten membant
Keesokan paginya, sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden jendela apartemen, menerangi kamar yang sunyi itu. Di kamar yang sunyi itu, suasana sangat tenang namun hati sang pemilik bergemuruh setiap ingatannya sadar bahwa ia kini hidup tanpa pendamping setianya.Jonathan perlahan membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba merasakan apa yang terjadi pada tubuhnya.Ia tertegun sejenak, lalu perlahan bangkit dan duduk di tepi tempat tidur.Sebuah helaan napas lega lolos dari bibirnya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, kepalanya tidak lagi terasa dihantam batu saat ia bangun tidur. Efek obat pembersih racun yang diberikan Dokter Adrian semalam tampaknya bekerja dengan sangat baik. Tubuhnya terasa jauh lebih segar, pandangan matanya menjernih, dan rasa mual yang biasa menyiksanya kini telah menguap. Kesadarannya telah kembali seutuhnya."Luna..." gumam Jonathan, dan kali ini nama itu tidak lagi memicu sakit kepala misterius seperti sebelumnya. N
Rasa sakit di kepala Luna semalam untungnya tidak berkembang menjadi demam tinggi. Begitu pagi menyapa, tubuhnya memang masih terasa lemas dan kurang fit akibat kelelahan yang menumpuk.Lelah yang mendera karena semua urusan dia yang mengurusinya. Tubuhnya kini juga masih terasa lemas dan tak bersemangat.Namun ia memaksakan diri untuk bangun dan membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar. Ia tidak ingin membuat ibu dan adiknya panik.Sekitar jam delapan pagi, ketukan di pintu kamar kos memecah keheningan."Pasti Mas Boy," gumam Tio yang sedang duduk di ambang pintu sambil meluruskan kakinya yang pincang.Luna segera bergegas membuka pintu. Benar saja, Boy berdiri di sana dengan senyum lebar, kedua tangannya penuh menjinjing kantong plastik berisi rupa-rupa makanan—mulai dari bubur ayam hangat untuk sarapan ibunya, hingga beberapa lauk matang untuk makan siang mereka nanti.Namun, Luna agak terkejut saat menyadari Boy tidak datang sendirian. Di belakangnya, berdiri seorang pria bert
Luna merasa senang kerabatnya mengetahui keberadaan dan juga keadaannya.Ia tak ragu lagi untuk bisa meluapkan rasa beban yang menghimpit. Tentang apa yang dirasakannya saat ini."Mas Boy..." Luna menjeda kalimatnya, tampak ragu-ragu. "Sebenarnya, Luna tadi dari rumah sakit untuk mengurus berkas jaminan kesehatan Ibu. Tapi... ada masalah besar. Pihak administrasi bilang kalau penjamin tambahan di berkas itu terdaftar atas nama mantan mertua Luna, Nyonya Deswanti. Karena itu, berkas aslinya tidak bisa keluar sebelum ada tanda tangan dari beliau atau kami membayar lunas selisih biayanya."Boy mengernyitkan dahi, ekspresinya langsung berubah serius. "Nyonya Deswanti? Itu mertuamu?”“Iya, Mas,”“Kenapa dia bisa ikut campur dalam urusan rumah sakit Bibi Mirasih?"Luna menggeleng lemah. "Luna juga tidak tahu, Mas. Luna bingung harus berbuat apa sekarang."Boy terdiam sejenak, memikirkan jalan keluar. Sifatnya yang tegas dan protektif sebagai kerabat laki-laki satu-satunya yang bisa diandal
Luna masih berdiri terpaku di depan loket administrasi. Dadanya bergemuruh hebat, antara bingung, terkejut, dan rasa tidak percaya yang campur aduk.*Nyonya Deswanti? Kenapa nama mantan mertuanya bisa ada di berkas kesehatan ibunya?*"Permisi, Suster, tolong cek sekali lagi," suara Luna bergetar, ia menempelkan kedua telapak tangannya di kaca loket, memohon. "Ibu saya namanya Mirasih. Berkas yang aku bawa ini memang dari rumah sakit ini, waktu ibu masuk IGD beberapa hari lalu."Petugas administrasi itu menghela napas, menatap layar komputer lalu beralih pada berkas di tangannya. "Benar, Mbak Luna. Untuk rekam medis pasien atas nama Ibu Mirasih yang kemarin memang ada. Tapi berkas pendukung jaminan kartu kesehatan yang Mbak bawa ini... statusnya terkunci karena ada sangkutan dana dari penjamin luar. Dan di sistem kami, penjamin atau penanggung jawab dana tambahan sebelumnya terdaftar atas nama Nyonya Deswanti."Mendengar nama lengkap itu, lutut Luna rasanya lemas.*Jadi selama ini...
Ia kembali ke rumahnya, beberapa barang ternyata dikumpulkan tetangganya dan ia diminta untuk menyimpannya di rumah tua yang letaknya di pinggir jalan besar.“Bagaimana keadaan ibumu, Lun?”“Ibu baik-baik saja, Alhamdulillah. Tapi harus dirawat intensif di rumah sakit, tekanan darahnya naik,”Beberapa orang memahami yang terjadi. Satu orang tetangga yang baik memberi bantuan dengan meminjamkan mobil baknya untuk membawa barang miliknya.Malam itu, setelah semua barang-barang mereka berhasil diselamatkan, Luna memikirkan nasib ke depannya.Ia merasa lelah, tapi ia tahu ia harus kuat. Ia memegang sebuah dompet berisi perhiasan, pemberian Jonathan.Itu adalah satu-satunya hal yang ia miliki yang bisa ia jual.“Lun, sebaiknya kamu sewa kamar saja, harganya lebih murah, juga nantinya kan hanya ibumu dan adikmu saja yang akan menempati,” ucap tetangganya.Beberapa orang berbisik, menanyakan keberadaan suaminya yang sedang kesulitan tapi tak muncul juga kehadirannya.“Suamimu mana, kok nggak
Nyonya Deswanti berdiri mengawasi Jonathan yang berjalan sempoyongan. Ia menyuruh Mira untuk memapah Jonathan.Adiknya yang bernama Tono, merasa cemas dengan keponakannya. “Bukannya dia seharusnya di kantor sekarang, kamu kenapa tega sama anak sendiri, Kak?”Nyonya Deswanti melirik adiknya, tajam d
“Kamu mau kemana, John?”Jonathan sedang berdiri dan memegang kunci mobil, ia menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada mamanya yang bangun karena mendengar suara langkah kakinya.“Aku akan ke rumah orang tua Luna, Mah. Dia istriku. Dia berhak tinggal disini,”“Luna pergi dengan keinginan sendiri.
Sepanjang malam, ia tidak bisa tidur. Pikirannya tertuju pada Jonathan yang selalu mengirimnya pesan.Pria itu mencarinya. Dalam pesannya, Jonathan mengetik kalau ia tidak akan menikahi Mira, apapun alasannya.Sungguh ini merupakan hal yang tidak ia inginkan sepanjang hidupnya. Menikahi pria tua kay
Dengan tergesa-gesa, Jonathan membawa mobilnya menuju rumah sakit. Di sisinya, Luna terus menggenggam tangannya, sesekali mengusap punggungnya, mencoba menenangkan.Pikiran Jonathan kacau. Kata "kritis" terus terngiang di kepalanya, disusul bayangan wajah mamanya yang pucat dalam mimpinya."Kondisi







