Share

13

Author: Dao Yue
last update publish date: 2026-07-23 12:48:40

Airin mencium bibir Andre dengan lembut, lalu lidah mereka bermain di dalam mulut, ciuman itu semakin liar dan panas.

Andre menahan pinggul Airin agar tidak terus bergerak, lalu mengelus paha mulus nan halus tersebut.

Si Joni meronta, Airin bisa merasakan kerasnya batang milik Andre tersebut. Jari lentik itu membuka pengait celana sambil tetap berciuman, napas mereka memburu.

“Airin, jangan,” tolak Andre sambil melepas ciumannya.

“Mulutmu nolak, tapi punyamu udah keras dari tadi,” balas Airin s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mas, Baksomu Ngangenin   81

    ‘Kuperingatkan kau, jangan muncul. Aku bisa tanpamu,’ pikir Andre menekan energi kalung itu.Tujuan Andre adalah agar energi itu tidak terpancing, dan membiarkan Raja Durji bingung karena tidak ada jejak energi sama sekali dari tubuhnya.Seluruh kilatan lampu kamera mendadak mengarah pada Andre, saat pria bertubuh tegap dengan wajah tampan itu menaiki panggung.Andre berdiri sejajar dengan Raja Durji, saling berhadapan di bawah sorotan lampu terang yang menyorot tajam.Raja Durji mendekatkan mikrofonnya ke mulut, tersenyum licik seraya menyerahkan tropi emas tersebut "Selamat, Anak Muda. Tapi bisakah kamu menjelaskan kepada seluruh media di sini ... bagaimana usaha kecilmu bisa mendapatkan pasokan bahan mentah segar ketika seluruh pasar induk sedang mengalami krisis?" tanya Raja Durji.‘Cih, pertanyaan jebakan,’ pikir Andre.Jebakan itu dilemparkan secara terbuka di depan publik, Raja Durji mencoba menggiring opini bahwa Andre menggunakan jalur ilegal atau penggelapan bahan baku untu

  • Mas, Baksomu Ngangenin   80

    Raja Durji menggerakkan tangannya yang ditutupi jubah, berniat menancapkan tiga jari berkuku hitamnya langsung ke dada Andre."Tindakanmu ini … bisa dibilang sebagai pelecehan," bisik Andre dengan nada sangat tenang, tanpa sedikit pun menggeser posisi berdirinya.Raja Durji menarik kembali tangannya dengan gemetar karena menahan amarah, matanya mendelik, berbanding terbalik dengan Andre yang begitu tenang. "Kamu pikir bisa bersembunyi di balik kerumunan manusia ini selamanya, Bocah?" sahut Raja Durji."Aku tidak pernah bersembunyi, untuk apa aku bersembunyi? Jika memang aku punya sesuatu yang kau cari, maka untuk apa aku datang,” balas Andre seraya menyunggingkan senyum "Sombong sekali kau! Tanpa pusaka itu, kamu cuma serangga yang bisa aku remukkan kapan saja," geram Raja Durji dengan tatapan yang makin tajam."Kalau begitu remukkan sekarang. Kenapa cuma banyak bicara dari tadi? Apa kau menemukan benda yang kau cari di tubuhku? Kau bisa mati tersambar petir jika seenaknya," tand

  • Mas, Baksomu Ngangenin   79

    Bagas menepuk tangannya pelan, menyunggingkan senyum seolah-olah kagum atas jawaban Andre, padahal … itu adalah cara Bagas untuk menghina.Mereka yang berbisnis puluhan tahun dengan Bagas paham betul sikap ini, memilih diam dan tidak berbicara kecuali diminta.Mereka begitu takut kepada Bagas, padahal kedudukan mereka lebih tinggi. "Wah ... tidak disangka, pedagang bakso bisa mengerti hal sebesar ini. Negeri kita memang hebat," sindir Bagas dengan nada sinis.Andre menyesap minumannya santai, menatap Bagas sambil tersenyum ramah."Negeri ini memang hebat karena orang kecil seperti saya sibuk bekerja di lapangan, sementara orang berjas mahal biasanya sibuk mencari siapa yang bisa disalahkan saat pasar kacau," balas Andre dengan nada bicara yang begitu tenang.“Maksudmu?” tanya Bagas.“Orang hebat seperti Pak Bagas tentu mengerti ucapan tukang bakso ini,” jawab Andre santai.Beberapa pengusaha dan investor di sekitar meja mulai berbisik-bisik, tertarik dengan perbincangan yang mendadak

  • Mas, Baksomu Ngangenin   78

    Bagas melangkah menghampiri Andre, muncul daei kerumunan tamu, menghentikan langkahnya tepat di hadapan Andre dan Mayang dengan senyum tipis yang dipaksakan.Kilatan kamera wartawan masih bersahut-sahutan di sekeliling mereka."Selamat datang, Andre. Senang melihatmu tidak hadir di tempat ini," sapa Bagas dengan nada lugas. Bagas memberi isyarat menggunakan tangannya ke arah meja melingkar di sudut VIP. "Mari, ada beberapa kolega penting yang ingin berkenalan dengan pengusaha muda berbakat sepertimu,” ajak Bagas ramah.“Terima kasih,” sahut Andre sopan.Andre mengangguk tipis dengan wajah dinginnya, Mayang yang menggandeng tangannya erat, mengikuti langkah Bagas menuju meja elit tersebut.Empat pria paruh baya bertubuh tambun dengan setelan jas seharga ratusan juta rupiah sedang menyesap wiski mahal. Mereka adalah para petinggi asosiasi perbankan, pemilik jaringan ritel nasional, dan pejabat kementerian perdagangan yang dikenal sebagai kroni utama Grup Cakra Durji."Bapak-bapak sek

  • Mas, Baksomu Ngangenin   77

    Bagas tersenyum sinis, meyakini bahwa pemuda di hadapannya ini akan ketakutan dan mencari alasan untuk menolak jamuan tersebut.Sayangnya, Andre justru menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin.​"Sampaikan pada bosmu …," kata Andre sambil menjeda kalimatnya.Andre menatap lekat ke arah Bagas, hingga pria jangkung itu tersentak pelan. "Aku akan datang, dan pastikan dia tidak jantungan saat melihat jebakan yang dia siapkan justru berubah menjadi kuburannya sendiri,” imbuh Andre.Bagas tersentak, sejenak merasakan kekuatan dari mental yang luar biasa besar dari Andre, sebuah respon yang muncul dari dalam diri, bukan dari kesaktian peninggalan masa lalu.Tanpa mengucap sepatah kata lagi, Bagas berbalik arah dan melangkah pergi membawa kekalahan taktik pertamanya untuk mengintimidasi Andre.‘Siapa sebenarnya anak itu? Hanya anak dari keluarga miskin, tetapi … mentalnya tidak mudah dijatuhkan begitu saja. Apa lapiran itu salah? Aku bahkan tidak menemukan jejak energi spiritual,’ pikir

  • Mas, Baksomu Ngangenin   76

    “Mas … Mas Andre! Ada utusan Cakra Durji!” seru Fian dengan nafas terengah.“Cakra Durji? Mau ngapain mereka?” tanya Andre heran.Fian menggeleng pelan, Andre melangkah ke depan untuk mencari tahu, apa gerangan tujuan Raja Durji tersebut.Beberapa pria tampak santai, tetapi mata dan gerakannya tampak waspada. Mereka adalah anak buah Ki Jaga, yang diutus untuk menjaga Andre dari jarak dekat. Menyamar sebagai pembeli.“Awasi Tuan muda, itu Bagas, tangan kanan Raja Durji,” bisik salah satu pengawal.“Baik, aku pindah duduk lebih dekat,” sahut rekannya.Sebuah mobil sedan hitam mewah beratap terbuka berhenti tepat di depan pintu masuk Bakso Rempah Bumi Swarga.Dari dalam mobil, turun seorang pria tinggi kurus berwajah datar, berpakaian setelan jas marun yang memancarkan aura dingin dan arogan. Pria itu adalah Bagas, tangan kanan kepercayaan Raja Durji sekaligus eksekutor tingkat tinggi dari Grup Cakra Durji.“Selamat datang di Bakso Rempah Bumi Swarga. Untuk berapa orang, Pak? Makan di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status