เข้าสู่ระบบ“Hah? Maksudnya, Bu? Saya … Ibu?” tanya Andre terkejut.
“Kenapa? Kayak gak pernah aja, mana ada kucing nolak ikan,” jawab Bu Ram dingin.
Angin kencang datang, kemudian lampu padam. Namun, di teras dan ruang tengah lampu emergency menyala otomatis, hingga cahaya remang menyinari tempat Bu Ram dan Andre berada.
Bu Ram duduk dengan pose menggoda, tidak hanya paha, bagian daging kenyal juga menyembul hingga setengahnya.
Cuaca dan keadaan mendukung, ditambah godaan besar di depan, membuat hasrat lelaki Andre terusik. Bagian tubuh di dalam celana mulai meronta dan salah setelan, membuat Andre menutupi bagian tubuh di antara paha tersebut.
“Bu Ram, saya … saya … permisi dulu.” Andre bergegas menuju teras samping.
Andre mengambil keempat meja yang dia buat, dan membawanya dengan susah payah menuju kios hingga tubuhnya basah kuyup.
“Huh, sok jual mahal. Eh … tunggu, kenapa aku birahi liat dia hari ini? Aneh,” gumam Bu Ram.
Andre menyusun meja buatannya di atas tikar, dan tampak begitu senang. Selain menemukan triplek, dia juga menemukan spanduk bekas dan memberi alas meja triplek dengan benda itu, sehingga tampak rapi meski sederhana.
Lelaki itu kembali membasuh tubuhnya, mengenakan pakaian dan memilih tidur. Udara sejuk membuatnya terlelap dengan mudah.
Saat tidur, tubuh Andre dirasuki oleh sensasi dingin yang memenuhi aliran darahnya, seiring dengan kalungnya berpendar lembut.
Keesokan harinya ketika subuh menjelang, Andre ke pasar untuk membeli bahan bakso. Kali ini menambah porsi lebih dari biasa, karena kemarin banyak yang kecewa karena sudah habis. Andre melakukan segalanya dengan cepat, bahkan merasa tidak lelah. Aroma kuah menguar, Andre segera mandi dan bersiap untuk jualan dengan membuka kiosnya.
“Minggir kamu,” kata Bu Ram.
“Loh, ada apa ini, Bu?” tanya Andre.
“Ini tikarnya guling trus taro belakang, mejanya susun di sini!” perintah Bu Ram kepada empat lelaki yang bersamanya.
Andre hanya bisa melongo ketika empat lelaki itu menurunian dua meja panjang dengan kursi plastik, usai menata rapi, Bu Ram memberi upah dan pergi meninggalkan Andre.
Ketika Andre akan mengejar Bu Ram, tiga orang pelanggan datang dan memesan bakso.
“Bikinin tiga, Bang. Makan di sini, satu ga pake mi kuning, gak pake seledri, kasih bakso telor sama bakso urat yang ga pake mi kuning,” kata wanita langganannya.
“Siap, Bu. Pake kerupuk pangsit?” tanya Andre penuh semangat.
“Pake dong, jangan lupa acar,” jawab yang lainnya.
Saat sedang meracik pesanan, beberapa pengendara berhenti dan memesan bakso. Dalam sekejap kios itu mulai ramai, aroma harum rempah yang menguarenggugj selera, seolah-olah menarik setiap orang yang lalu lalang di sana.
“Eh, Andre. Pindah di sini, ya. Pesen satu porsi, bungkus,” ucap Mayang, janda cantik nan seksi tetangga Andre dulu.
”Abis, Mbak,” sahut Andre ketus.
“Dih, pelit amat. Baunya aja masih ada, itu juga masih banyak. Masa udah abis,” protes Mayang.
“Duh, mending Mbak Mayang minggir deh. Kami udah lama ngantri nih,” celetuk seorang gadis.
“Tau nih, baksonya ga dijual sama Mbak Mayang, ga peka amat,” celetuk gadis remaja.
Seketika berubah riuh dan mereka menarik Mayang agar tidak mengganggu Andre.
Pembeli mulai mendesak Andre agar pesanan mereka segera dibuat, dan menahan Maya sebagai pembeli terakhir.
Dalam kurun waktu dua jam, bakso Andre sudah ludes terjual. Bahkan kuahnya hanya tersisa sedikit.
“Pesananku mana?” tanya Mayang yang belum juga pergi.
“Loh, kok Mbak Mayang belum pergi juga? Kan abis, Mbak,” jawab Andre sekenanya sambil membereskan mangkok.
“Aku rela ngantri se-jam loh buat beli bakso kamu, sambil ngeliatin kamu juga,” balas Mayang.
“Ga usah ngaco, Mbak. Kiosnya mau aku tutup dan aku ga mau cari ribut yang ujung-ujungnya menghina aku lagi,” sahut Andre.
“Dih … siapa yang cari ribut. Oh, kamu masih marah, ya gara-gara waktu itu. Kalo kamu ganteng begini, aku gak keberatan kok jadi istri kamu,” cakap Mayang sambil tersenyum genit.
Andre tidak mempedulikan Mayang yang berusaha menggodanya, lelaki itu membawa mangkok kotor ke dapur dan mencucinya. Mayang tidak menyerah, dia membantu Andre menyusun mangkok,membersihkan gerobak dan juga meja. Andre merasa risih dan meminta Mayang pergi.
“Kamu jangan gitu, Ndre. Aku rela kok ngelakuin ini semua,” protes Mayang.
*Mbak ngerasa rela, tapi aku yang risih. Maaf, ya.” Andre kemudian menutup kiosnya.
Andre menyapu kiosnya di dalam, dan menunggu Mayang pergi barulah dia membuang sampah.
Andre menghitung pendapatannya hari ini, laba bersih yang didapat naik tiga kali lipat dari biasanya.
“Kayaknya aku tambah menu lain kali ya biar bisa dagang sampe malem. Mi tektek sama mi pangsit kayaknya bagus juga,” gumam Andre.
Lelaki itu duduk sambil memikirkan apa saja tambahan bumbu dan rempah untuk menu barunya, seketika aroma rempah yang sedap pun tercium. Andre menghirup dalam dan dia membayangkan jenis-jenis bumbu yang akan dia pakai.
Andre melihat ada mi yang tersisa, lalu membuat bumbu yang dia bayangkan tadi menambahkan sedikit air pada sisa kuah bakso tadi.
Lelaki itu kemudian memakan mi pangsit buatannya, memang terasa nikmat. Namun, dia merasa tidak puas dan merasa ada yang kurang..
“Kaldunya kl lebih pekat rasanya lebih enak, ada irisan daging dan lemak sapi lebih nikmat. Sekalian kukus sawi disiram kuah saos tiram sama bawang putih cincang enak juga,” gumam Andre.
Keesokan harinya Andre belanja lebih banyak dari biasanya, baik daging maupun bumbu aromatik. Mi juga dipesan dalam jumlah lebih banyak dari biasa, semua belanjaan akan diantar rutin mulai besok pagi. Semua adalah ide pedagang sendiri tanpa perlu Andre memintanya.
“Ngerepotin, nih. Jadi ga enak,” kata Andre.
“Santai, tinggal WA aja. Nanti semua belanjaan kamu dianterin,” sahut pedagang daging.
Andre kembali ke kiosnya dengan wajah berseri. Sejak mengenakan kalung tersebut, banyak orang yang dulu ketus kini menjadi ramah dan sangat baik terhadapnya. Bahkan tidak jarang mendapatkan potongan harga atau timbangan lebih sedikit untuk menyenangkan hatinya.
Lelaki itu mulai mengolah bahan mentah, menjadi bakso dan juga membuat bumbu untuk menu barunya. Andre hilir mudik dengan gerakan cepat, tanpa mengenal rasa lelah sama sekali.
Olahan sebanyak itu, selalu selesai tepat waktu. Pukul satu siang semua sudah rapi dan bersih, Andre duduk di depan sambil memukul mangkok baksonya dengan sendok.
“Wah, ada menu baru. Aku mau ah seporsi mi tektek,” ucap langganan Andre.
“Aku mi pangsit kasih bakso, ya,” timpal yang lainnya.
“Aku bakso aja ga pake mihun,” celetuk yang lainnya.
“Aku bungkus yang jual aja, ganteng sih. Hahaha,” gurau seorang ibu dengan dandanan menor.
Andre menangkap kaki Larasati dan melayangkan sebuah tinju ke arah perut dan ta itu.“Ugh!” seru Larasati tertahan.“Jangan marah, sudah kuperingatkan sebelumnya,” kata Andre.“Terlalu banyak bicara.” Larasati mengeluarkan sebuah benda dari balik pakaiannya, berbentuk bulat sebesar biji jagung dan dihempaskan ke tanah.Seketika asap hitam tebal muncul, disertai aroma yang luar biasa busuk. Seperti tumpukan bangkai yang membuat mual dan kepala pusing.Tendangan Larasati mendarat tepat di bagian rusuk Andre, membuat lelaki itu terhuyung. Andre tidak bisa melihat apapun, bahkan arah gerakan Larasati sulit dia tebak dengan benar.Andre menutup indra penglihatannya, yang menurutnya menyesatkan dan sepenuhnya mengandalkan getaran energi spiritual kalung pusaka di dadanya.Dalam kegelapan batinnya, dia bisa melihat dengan sangat jelas aliran sihir hitam yang mengalir dari dalam tubuh Larasati, berupa benang-benang merah tipis yang mengendalikan tubuh itu seperti boneka.Saat belati Larasati
Pukul delapan malam, Larasati tiba di ruko milik Andre. Kecantikannya bak menyihir semua tamu pria yang ada di sana, membuat sebagian wanita mencebik, sisanya terpukau dengan paras cantik dan kulit yang tampak indah itu.“Mau pesan apa?” tanya Andre dingin.“Nyawamu,” jawab Larasati.“Kalau begitu, duduk dengan tenang,” sahut Andre.Andre merasakan getaran dari kalungnya, secara fisik memang Larasati begitu cantik, tetapi … kali ini Andre tidak melihat demikian.Pupil mata Larasati memang seperti biasa, tetapi pada bagian hitam, sama sekali tidak ada bayangan benda di sekitar.‘Huh, sihir lagi. Aku gak bisa biarkan dia ada di sini,’ gumam Andre.Andre melepas apron hitamnya, lalu memberi isyarat mata kepada asistennya untuk menggantinya.Tanpa membuang waktu, Andre mencengkeram pergelangan tangan Larasati dengan halus, memaksa wanita itu mengikutinya keluar lewat pintu belakang ruko.Larasati tidak merontak, bibir indahnya yang memerah alami hanya menyunggingkan senyum dingin tanpa ji
Panggilan darurat dari lingkaran dalam Kerajaan Durji akhirnya datang juga.Melalui utusan yang diperintah langsung, Larasati diperintahkan menghadap malam itu juga ke markas tersembunyi yang berlokasi di sebuah vila tua mewah di pinggiran kota.Dengan tubuh yang masih lemas akibat pertempuran ranjang setiap hari bersama Andre, Larasati melangkah masuk ke ruangan minim cahaya yang berbau dupa Cendana yang harum khas bangsawan masa lalu. Di atas takhta yang terbuat dari emas dengan ukiran unik, duduk sosok Raja Durji, pria paruh baya berwajah dingin dengan mata merah membara yang memancarkan tekanan tenaga dalam amat besar."Larasati …," ucap Raja Durji dengan suara menggema, memantul di ruangan luas yang dingin. "Tiga minggu kamu berkeliaran di sekitar pemuda itu. Mana pusaka Bumi Swarga yang aku perintahkan untuk direbut?" tanya Raja Durji.Larasati berlutut di atas lantai marmer, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Ampun, Tuan Besar ... pemuda bernama Andre itu tidak memakai kalu
Penyatuan malam itu berlangsung begitu menggairahkan, energi spiritual Bumi Swarga yang membara di dalam tubuh Andre membalikkan mantra dan aura sihir dalam darah Larasati, yang akibatnya menciptakan gelombang gairah yang tidak pernah dirasakan oleh wanita mana pun. Larasati tenggelam dalam lautan kenikmatan ranjang yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.Setiap sentuhan dan hentakan pinggul Andre, merenggut seluruh kesadarannya, membakar habis daya tahannya hingga dia melenguh pasrah sepanjang malam.“Kau boleh juga. Begitu perkasa di ranjang, apalagi … punyamu enak. Besar, gagah buat aku ketagihan,” bisik Larasati di sela nafasnya yang tersengal.“Terima kasih pujiannya,” sahut Andre.Ketika fajar pertama menyingsing di ufuk timur, Larasati terbangun dengan tubuh yang lemas, hatinya merasa puas yang tiada tara.Wanita itu turun dari ranjang, menatap Andre yang sedang tertidur lelap di atas ranjang dengan dada bidang yang terbuka.‘Gila! Aku hampir semalaman melayaninya, tapi … k
Andre bergerak semakin liar, keringat menetes dari pelipisnya ke punggung wanita di bawahnya. Jarinya meraih klitoris Larasati dari depan, memijatnya sambil terus menghentak. “Ooooh, enak,” gumam Larasati.Puncak ketiga datang dengan erangan panjang. Tubuh Larasati sudah lemas, tetapi Andre belum selesai.“Sudah tiga kali, masih kuat?” tanya Andre dengan suara bergetar “Batang besar begini … aku tidak rugi. Tapi, aku masih kuat sampai kau lemas,” jawab Larasati menantang.“Kamu yang minta,” balas Andre.Andre membaringkan Larasati telentang, lalu mengangkat kedua kakinya lurus ke atas dan menyatukannya di dada, membuat lubang kawah kenikmatan menjadi lebih sempit dan sensasi semakin nikmat.Andre masuk kembali, gerakan lambat dulu, menikmati bagaimana dinding dalamnya meremas. Lalu ritme gerakan pinggulnya meningkat, setiap kali dia masuk, menahan sejenak di dalam, memutar pinggul, sebelum menarik keluar hampir seluruhnya dan masuk lagi.“Hmmmph,” desah Larasati.Larasati mencengk
Malam itu, di dalam kamar pribadi Andre di lantai tiga, Larasati menyerahkan dirinya secara penuh dan sukarela di atas ranjang. Bibirnya masih menempel erat pada bibir Andre, lidahnya bermain liar di dalam mulutnya, sambil jari-jarinya meremas bahu kekar pria itu dengan kuat.Andre, yang sudah lama tidak menjamah wanita, tidak mampu menolak. Lelaki itu membalas ciuman itu dengan hasrat yang sama, tangannya turun meraba pinggang ramping Larasati, lalu naik lagi meremas payudaranya yang sudah tegang di balik kain tipis.“Kebetulan yang aneh sampai ke ranjangku, siapa kamu?” tanya Andre berbisik melepas ciuman mereka.“Larasati,” jawab Larasati dengan mata sayu.Nafas mereka memburu.Andre perlahan mendorong tubuh Larasati ke belakang hingga punggungnya menyentuh seprai yang lembut.Larasati menarik kepalanya dan kembali mencium Andre, kemudian melepaskan ciuman itu hanya untuk sejenak, matanya menatap wajah wanita di bawahnya yang sudah memerah oleh nafsu.Tanpa banyak bicara, bibirnya







