แชร์

5

ผู้เขียน: Dao Yue
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-15 18:53:48

“Hah? Maksudnya, Bu? Saya … Ibu?” tanya Andre terkejut.

“Kenapa? Kayak gak pernah aja, mana ada kucing nolak ikan,” jawab Bu Ram dingin.

Angin kencang datang, kemudian lampu padam. Namun, di teras dan ruang tengah lampu emergency menyala otomatis, hingga cahaya remang menyinari tempat Bu Ram dan Andre berada.

Bu Ram duduk dengan pose menggoda, tidak hanya paha, bagian daging kenyal juga menyembul hingga setengahnya.

Cuaca dan keadaan mendukung, ditambah godaan besar di depan, membuat hasrat lelaki Andre terusik. Bagian tubuh di dalam celana mulai meronta dan salah setelan, membuat Andre menutupi bagian tubuh di antara paha tersebut.

“Bu Ram, saya … saya … permisi dulu.” Andre bergegas menuju teras samping.

Andre mengambil keempat meja yang dia buat, dan membawanya dengan susah payah menuju kios hingga tubuhnya basah kuyup.

“Huh, sok jual mahal. Eh … tunggu, kenapa aku birahi liat dia hari ini? Aneh,” gumam Bu Ram.

Andre menyusun meja buatannya di atas tikar, dan tampak begitu senang. Selain menemukan triplek, dia juga menemukan spanduk bekas dan memberi alas meja triplek dengan benda itu, sehingga tampak rapi meski sederhana.

Lelaki itu kembali membasuh tubuhnya, mengenakan pakaian dan memilih tidur. Udara sejuk membuatnya terlelap dengan mudah.

Saat tidur, tubuh Andre dirasuki oleh sensasi dingin yang memenuhi aliran darahnya, seiring dengan kalungnya berpendar lembut.

Keesokan harinya ketika subuh menjelang, Andre ke pasar untuk membeli bahan bakso. Kali ini menambah porsi lebih dari biasa, karena kemarin banyak yang kecewa karena sudah habis.  Andre melakukan segalanya dengan cepat, bahkan merasa tidak lelah. Aroma kuah menguar, Andre segera mandi dan bersiap untuk jualan dengan membuka kiosnya. 

“Minggir kamu,” kata Bu Ram.

“Loh, ada apa ini, Bu?” tanya Andre.

“Ini tikarnya guling trus taro belakang, mejanya susun di sini!” perintah Bu Ram kepada empat lelaki yang bersamanya.

Andre hanya bisa melongo ketika empat lelaki itu menurunian dua meja panjang dengan kursi plastik, usai menata rapi, Bu Ram memberi upah dan pergi meninggalkan Andre.

Ketika Andre akan mengejar Bu Ram, tiga orang pelanggan datang dan memesan bakso.

“Bikinin tiga, Bang. Makan di sini, satu ga pake mi kuning, gak pake seledri, kasih bakso telor sama bakso urat yang ga pake mi kuning,” kata wanita langganannya.

“Siap, Bu. Pake kerupuk pangsit?” tanya Andre penuh semangat.

“Pake dong, jangan lupa acar,” jawab yang lainnya.

Saat sedang meracik pesanan, beberapa pengendara berhenti dan memesan bakso. Dalam sekejap kios itu mulai ramai, aroma harum rempah yang menguarenggugj selera,  seolah-olah menarik setiap orang yang lalu lalang di sana.

“Eh, Andre. Pindah di sini, ya. Pesen satu porsi, bungkus,” ucap Mayang, janda cantik nan seksi tetangga Andre dulu.

”Abis, Mbak,” sahut  Andre ketus.

“Dih, pelit amat. Baunya aja masih ada, itu juga masih banyak. Masa udah abis,” protes Mayang.

“Duh, mending Mbak Mayang minggir deh. Kami udah lama ngantri nih,” celetuk seorang gadis.

“Tau nih, baksonya ga dijual sama Mbak Mayang, ga peka amat,” celetuk gadis remaja.

Seketika berubah riuh dan mereka menarik Mayang agar tidak mengganggu Andre. 

Pembeli mulai mendesak Andre agar pesanan mereka segera dibuat, dan menahan Maya sebagai pembeli terakhir. 

Dalam kurun waktu dua jam, bakso Andre sudah ludes terjual. Bahkan kuahnya hanya tersisa sedikit.

“Pesananku mana?” tanya Mayang yang belum juga pergi.

“Loh, kok Mbak Mayang belum pergi juga? Kan abis, Mbak,” jawab Andre sekenanya sambil membereskan mangkok.

“Aku rela ngantri se-jam loh buat beli bakso kamu, sambil ngeliatin kamu juga,” balas Mayang.

“Ga usah ngaco, Mbak. Kiosnya mau aku tutup dan aku ga mau cari ribut yang ujung-ujungnya menghina aku lagi,” sahut Andre.

“Dih … siapa yang cari ribut. Oh, kamu masih marah, ya gara-gara waktu itu. Kalo kamu ganteng begini, aku gak keberatan kok jadi istri kamu,” cakap Mayang sambil tersenyum genit.

Andre tidak mempedulikan Mayang yang berusaha menggodanya, lelaki itu membawa mangkok kotor ke dapur dan mencucinya. Mayang tidak menyerah, dia membantu Andre menyusun mangkok,membersihkan gerobak dan juga meja. Andre merasa risih dan meminta Mayang pergi.

“Kamu jangan gitu, Ndre. Aku rela kok ngelakuin ini semua,” protes Mayang.

*Mbak ngerasa rela, tapi aku yang risih. Maaf, ya.” Andre kemudian menutup kiosnya.

Andre menyapu kiosnya di dalam, dan menunggu Mayang pergi barulah dia membuang sampah.

Andre menghitung pendapatannya hari ini, laba bersih yang didapat naik tiga kali lipat dari biasanya.

“Kayaknya aku tambah menu lain kali ya biar bisa dagang sampe malem. Mi tektek sama mi pangsit kayaknya bagus juga,” gumam Andre.

Lelaki itu duduk sambil memikirkan apa saja tambahan bumbu dan rempah untuk menu barunya, seketika aroma rempah yang sedap pun tercium. Andre menghirup dalam dan dia membayangkan jenis-jenis bumbu yang akan dia pakai. 

Andre melihat ada mi yang tersisa, lalu membuat bumbu yang dia bayangkan tadi menambahkan sedikit air pada sisa kuah bakso tadi.

Lelaki itu kemudian memakan mi pangsit buatannya, memang terasa nikmat. Namun, dia merasa tidak puas dan merasa ada yang kurang..

“Kaldunya kl lebih pekat rasanya lebih enak, ada irisan daging dan lemak sapi lebih nikmat. Sekalian kukus sawi disiram kuah saos tiram sama bawang putih cincang enak juga,” gumam Andre. 

Keesokan harinya Andre belanja lebih banyak dari biasanya, baik daging maupun bumbu aromatik. Mi juga dipesan dalam jumlah lebih banyak dari biasa, semua belanjaan akan diantar rutin mulai besok pagi. Semua adalah ide pedagang sendiri tanpa perlu Andre memintanya.

“Ngerepotin, nih. Jadi ga enak,” kata Andre.

“Santai, tinggal WA aja. Nanti semua belanjaan kamu dianterin,” sahut pedagang daging.

Andre kembali ke kiosnya dengan wajah berseri. Sejak mengenakan kalung tersebut, banyak orang yang dulu ketus kini menjadi ramah dan sangat baik terhadapnya. Bahkan tidak jarang mendapatkan potongan harga atau timbangan lebih sedikit untuk menyenangkan hatinya.

Lelaki itu mulai mengolah bahan mentah, menjadi bakso dan juga membuat bumbu untuk menu barunya. Andre hilir mudik dengan gerakan cepat, tanpa mengenal rasa lelah sama sekali.

Olahan sebanyak itu, selalu selesai tepat waktu. Pukul satu siang semua sudah rapi dan bersih, Andre duduk di depan sambil memukul mangkok baksonya dengan sendok.

“Wah, ada menu baru. Aku mau ah seporsi mi tektek,” ucap langganan Andre.

“Aku mi pangsit kasih bakso, ya,” timpal yang lainnya.

“Aku bakso aja ga pake mihun,” celetuk yang lainnya.

“Aku bungkus yang jual aja, ganteng sih. Hahaha,” gurau seorang ibu dengan dandanan menor.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pemikat Para Gadis Desa   139

    Tangannya memeluk punggung Andre, kuku-kukunya menekan kulit.Andre merasakan kenikmatan yang luar biasa. Sepanjang hidupnya, hingga pernikahan dengan Rumala dan berbagi kehangatan dengan wanita lain, tidak ada yang masih perawan.Lelaki itu menggerakkan pinggang lebih dalam sedikit, mengubah sudut. Mayang tersentak, desahan menjadi lebih nyaring. “Ngghh … kamu sempit, ahh … enak,” racau Andre.“Aaah, lebih dalam lagi, Mas. Agak cepat, enak banget,” balas Mayang.“Kamu basah banget, sayang,” bisik Andre di telinga Mayang, suaranya serak oleh gairah. “Abis punya kamu enak, gede, berotot. Aaah, enak banget,” sahut Mayang.Andre mempercepat gerakan pinggulnya sedikit, tetapi tetap lembut. Setiap hentakan diiringi suara basah yang pelan dan desahan Mayang yang terus menerus. Andre menurunkan kepala, menghisap payudara Mayang lagi sambil terus bergerak. Mayang membusungkan dada, kaki-kakinya melingkar di pinggang Andre, menariknya lebih dalam.“Mas … lebih dalam, ssssh … ahh … ahh …,

  • Pemikat Para Gadis Desa   138

    “Kamu mau rasa geli tapi enak?” tanya Andre.Mayang mengangguk pelan, wajahnya merah padam. Andre menunduk, mengecup paha dalam Mayang, naik perlahan ke pusat kehangatannya. Lidahnya menyentuh celah yang sudah basah.Mayang tersentak, pinggangnya terangkat.“Ahhh … Mas, itu geli, tapi … enak,” racau Mayang, lalu memggigit bibirnya.Andre tersenyum di antara paha istrinya. Dia menjilat pelan dari bawah ke atas, fokus di titik yang membuat Mayang menggeliat hebat. Lidahnya bergerak memutar, lalu menghisap lembut. Mayang merintih, jarinya mencengkeram rambut Andre, lalu menekan kepala suaminya.“Ngghh … ahh … ahh … Mas. Jangan berhenti, enak banget,” ucap Mayang, suaranya sudah tidak stabil.Desahan keluar terus-menerus, semakin keras. Andre memasukkan satu jari dengan sangat hati-hati, merasakan betapa ketatnya kawah milik Mayang.Mayang mengerang, tubuhnya menegang.“Ssssh.” Mayang mendesis bak ular.“Sakit?” tanya Andre, menghentikan gerakan sejenak.“Sa-sakit,” jawab Mayang, napasn

  • Pemikat Para Gadis Desa   137

    Beberapa minggu setelah peristiwa di bukit, Andre bersama Chef Aris yang diminta sebagai wakil orang tua, Fian dan seluruh karyawannya membawa seserahan, termasuk Maman dan Sadri turut serta, iring- iringan itu melangkah memasuki kediaman megah keluarga Mayang, dengan maksud melamar putri tunggal mereka.Meski kekayaannya saat ini belum sepadan dengan kemewahan keluarga Mayang, kedua orang tua Mayang menyambutnya dengan sangat hangat, setelah melihat potensi besar bisnis kuliner dan rempah Nusantara yang dikembangkannya."Kami tidak hanya melihat harta yang kamu miliki hari ini, Andre, tapi kami melihat niat tulus dan potensi besar di dalam dirimu untuk menjaga putri kami," sahut ayah Mayang sambil menjabat erat tangan Andre.“Benar, lagipula … bisnis sudah mulai merambah ke internasional, setidaknya Mayang gak kelaparan,” timpak ibunya Mayang.Pesona dan aura yang terpancar dari Andre, terasa begitu menyenangkan dan tidak bisa ditolak.Peleburan energi pengasihan kalung Bumi Swarga,

  • Pemikat Para Gadis Desa   136

    Andre terbangun dari tidurnya dengan napas yang memburu dan keringat dingin membasahi dahinya.Pria itu terduduk di tepi tempat tidur, meraba kalung Bumi Swarga yang mengantung di dadanya, kini memancarkan cahaya keemasan yang jauh lebih hangat dan menenangkan ketimbang biasanya."Sudah waktunya ... leluhurku harus kembali dengan tenang, kadian terkurung begini," bisik Andre pada dirinya sendiri.Andre menggenggam erat liontin tersebut, teringat wajah Ki Jaga dan beberapa pengawal bayangan. Sedih rasanya harus berpisah dengan mereka, tetapi … mereka juga tidak seharusnya hidup di zaman yang tidak seharusnya. “Ki Jaga, semua pengawal … terima kasih sudah melindungiku selama ini. Semoga kalian pergi dengan tenang, aku gak akan melupakan kalian,” ucap Andre lirih.Begitu fajar menyingsing, Andre langsung meluncur menuju apartemen Mayang, untuk memberitahukan segalanya.Pria itu tidak ingin ada lagi rahasia di antara mereka, khawatir Mayang salah paham.Andre pamit kepada Mayang sebelum

  • Pemikat Para Gadis Desa   135

    Malam itu, usai membereskan segala urusan tambak bersama Raka, Andre kembali melaju menembus pekatnya jalanan menuju pusat kota.Rasa lelah yang teramat sangat di sekujur tubuhnya, membuat pria itu langsung terlelap begitu merebahkan diri di atas tempat tidur kamarnya."Andre ... kemarilah, wahai keturunanku," panggil Pangeran Narendra.Sebuah suara berwibawa yang menggema lembut di dalam alam bawah sadar Andre, merasuk ke dalam lautan mimpi.Begitu Andre membuka mata di alam mimpinya, lelaki itu mendapati dirinya berdiri di tengah padang rumput luas yang diselimuti kabut tipis keemasan, menghadap sosok Pangeran Narendra yang berdiri gagah dengan jubah kebesarannya. "Pangeran Narendra ... apakah ini benar-benar Anda yang memanggil saya malam ini?" tanyak Andre sambil menundukkan kepalanya penuh rasa hormat.Pangeran Narendra tersenyum hangat, menatap Andre dengan tatapan mata yang memancarkan rasa bangga. "Aku, Ki Jaga, serta seluruh pasukan dari zamanku, akhirnya sebentar lagi bisa

  • Pemikat Para Gadis Desa   134

    “Sssh, jangan, Andre. Ini penting,” bisik Mayang.Andre tersenyum, merapikan kerah kemeja Mayang, lalu mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Mayang yang sedang mendengarkan suara ayahnya di telepon. "Aku pulang dulu ya, Sayang ... makasih udah udah bantu aku," bisik Andre sangat pelan penuh kehangatan sebelum melangkah pergi meninggalkan apartemen dengan perasaan lega luar biasa.Beberapa hari setelah hubungan asmara Andre dan Mayang kembali pulih dan makin erat, tetapi, masalah baru yang tidak disangka-sangka mendadak muncul.Masalah kembali datang dari pasokan bahan baku usaha kuliner Andre. Menjelang acara jamuan makan malam megah tingkat menteri dan investor asing yang akan digelar di ibukota, pasokan utama lobster air tawar segar yang dikelola oleh Raka di desa mendadak menjadi sasaran ancaman dari pihak luar.[Andre, ada pengusaha pesaing besar dari kota sebelah yang sengaja mengincar pasokan lobster milik kita untuk acara menteri besok,] kata Raka lewat sebuah pesan ke

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status