مشاركة

6

مؤلف: Dao Yue
last update تاريخ النشر: 2026-07-21 10:32:07

"Ibu-ibu bisa aja, saya jadi geer ngerasa ganteng sendiri," balas Andre bergurau.

Riuh tawa terdengar, beberapa pembeli mulai berdatangan. Kios yang tadinya dianggap angker itu kembali ramai.

Para kaum hawa, dari yang masih gadis hingga yang sudah menikah, tidak henti menggoda Andre hingga pesanan selesai.

Sebuah mobil mewah berhenti di depan kios Andre. Rumala turun dengan kaca mata hitam dan tas jinjing mahal. Wanita itu terkejut melihat penampilan Andre. Wajahnya tampak semakin tampan dan mempesona, apalagi celemek yang dikenakannya menonjolkan bentuk tubuhnya.

'Aku kira siapa, cuma pedagang bakso yang diusir,' ejek Raka sambil melepas kaca mata hitamnya.

"An-Andre…," gumam Rumala.

"Ngantri, Mbak. Kita juga ngantri lama di sini," celetuk seorang ibu.

Andre tetap meracik pesanan, hanya melirik mantan istrinya dan Raka.

"Huh, cuma jadi tukang bakso di tempat angker aja sombong begitu," cerca Raka.

Rumala menatap Andre, jantungnya berdegup kencang.

Raka menarik tangan Rumala menuju mobil, suara sorakan mengiringi kepergian mereka.

'Kok dia bisa ganteng banget?' pikir Rumala.

"Ngapain ngelamun? Kangen kamu?" tanya Raka ketus.

"Apaan sih kamu, cari berantem aja," jawab Rumala merajuk.

Ketampanan dan nikmatnya makanan Andre sudah tersebar selama beberapa hari, menenggelamkan gosip lelaki itu diusir mertuanya.

Banyak mantan tetangga datang ke kios, berebut dengan pelanggan setempat untuk mencicipi bakso nikmat tersebut. Kerumunan semakin ramai.

Namun, riuh canda itu terhenti ketika Pak Kades datang bersama dua preman.

"Andre, keluar kamu! Semakin lama ngelunjak!" sergah Pak Kades sambil menendang gerobak.

"Salah saya apa, Pak Kades?" tanya Andre menghampiri.

Pak Kades ciut melihat tatapan tajam Andre, kedua preman pun menunduk.

"Kamu itu gak tau diri ngerayu Airin anak saya. Berapa hari dia tantrum ngotot mau ketemu kamu, apalagi aku dengar dia rela bayarin semua belanjaan kamu!"

"Denger, ya! Kamu itu miskin, gak pantes buat anak saya!" sergah Pak Kades.

"Maaf, Pak. Saya cukup tau diri," balas Andre tegas.

"Eeeh, makin kurang ajar kamu, ya! Jangan kira karena udah bisa menyewa kios jelek begini kamu bisa ngelawan saya!" bentak Pak Kades.

Kalung Andre terasa berdenyut, mengalirkan sensasi dingin. Lelaki itu berdiri tegak, wajahnya penuh wibawa.

Pak Kades dan preman mundur selangkah.

"Menghina saya tempo hari belum cukup, Pak?" tanya Andre tenang.

"Maaf, Pak Kades. Waktu itu Airin sendiri yang ngotot bayarin belanjaan Andre. Malah Andre nolak dan milih naik ojek," ungkap pemilik toko.

"Diam kamu! Ngapain bela dia?" sergah Pak Kades.

"Pak Kades, apa yang dibilang bapak ini benar," imbuh Andre.

"Halah, akal-akalan kamu aja. Hancurkan tempat ini, seret dia dan pukuli sampai pingsan!" perintah Pak Kades.

"Eh, mau merusak kiosku? Kau kira aku udah mati?" seru Bu Ram dengan tatapan galak.

Pak Kades terkejut. Bu Ram adalah orang kaya di kampung tersebut, bahkan dirinya mendapat pinjaman biaya kampanye dari wanita itu.

"Bu-bukan begitu, Bu Ram. Andre ini gak tau diri, malah ngejar-ngejar anak saya," terang Pak Kades.

"Yang beli di sini juga banyak yang ngejar-ngejar Andre. Belum pernah ada suami atau pacar mereka yang datang marah-marah," pungkas Bu Ram.

"Iya, bener. Kegeeran amat, cakep juga engga si Airin!"

"Menang putih doang, tuh… bihun juga putih!"

"Besok jangan pilih Pak Kades lagi, arogan!"

Pak Kades mati kutu. Tangannya terkepal dengan wajah memerah.

"Tunggu pembalasanku, Ndre. Ayo cabut!" seru Pak Kades.

"Tadi anaknya cari pasal, sekarang bapaknya. Dasar keluarga aneh," gerutu Andre.

"Tenang aja, Ndre. Kalo macem-macem lagi, kita demo kantor desa," celetuk pembeli.

Andre mengucapkan terima kasih dan kembali meracik pesanan. Pukul lima sore, pembeli mulai sepi.

Andre memeriksa dagangannya, tersisa dua porsi mi pangsit. Dia menutup kios dan meracik mi pangsit spesial untuk Bu Ram.

Setelah selesai, Andre menuju kediaman Bu Ram.

"Gimana, Bu? Enak?" tanya Andre.

"Hmmm, enak banget ini. Mantap," Bu Ram mengacungkan ibu jari.

"Oh, hampir aja aku lupa. Itu di kamar belakang ada springbed yang gak dipake, kamu ambil aja," kata Bu Ram.

Andre bangkit dan menuju kamar. Awan mulai hitam bergulung, pertanda hujan.

Andre mulai memindahkan tempat tidur ke kiosnya.

"Ini bantal, seprai sama selimut," Bu Ram menyodorkan barang.

"Wah, makasih Bu Ram. Saya jadi enak," gurau Andre.

Tiba-tiba hujan deras disertai guruh, membuat Bu Ram memegang lengan Andre.

"Bu, saya gak punya payung. Pake anduk saya aja pulang," tawar Andre.

"Kamu ngusir saya?" tanya Bu Ram.

"Bu-bu-bukan gitu. Kita berduaan di sini, kalo ada orang liat bisa jadi gosip," jawab Andre.

Bu Ram meraih handuk, ketika petir menyambar kuat. Bu Ram memeluk Andre sambil membenamkan kepalanya ke dada Andre.

"Tutup, kamu tutup rolling door kiosnya! Cepaaaat," kata Bu Ram.

Mau tidak mau Andre menutup pintu kios.

"Loh, Bu. Biar saya aja yang pasang seprainya." Andre menarik sprei dari tangan Bu Ram.

Kulit mereka bersentuhan, Bu Ram merasakan sesuatu menggeliat di dalam dirinya. Usai Andre memasang seprai, Bu Ram mendekati Andre di kaki ranjang.

"Kamu bilang istrimu gak selera sama kamu. Apa kamu yakin 'itu' kamu gak bermasalah?" tanya Bu Ram.

"Gak, Bu. Aman kok," jawab Andre sambil melipat selimut.

"Masa? Aku gak keberatan buat ujicoba 'itu' kamu," tantang Bu Ram.

"Wah, ini gak pantes, Bu," ucap Andre terhenti.

Bu Ram tidak kuasa menahan gairah. Dia mencium bibir Andre, lelaki itu menolak dan mendorong pelan tubuh Bu Ram, tetapi wanita itu malah semakin berani.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Mas, Baksomu Ngangenin   60

    "Perbedaan kasta di antara kami begitu tinggi, kayak tembok raksasa," sambung Mayang dengan suara yang bergetar halus. "Keluargaku yang bergerak di industri properti raksasa tentu punya ekspektasi tinggi. Aku tahu, kalo aku maksakl perasaanku, keluargaku pasti merendahkan pria itu, menginjak-injak harga dirinya, atau bahkan menghancurkan usahanya yang baru merintis.""Jadi ... apa yang kamu lakukan waktu itu?" tanya Andre, merasa penasaran dengan kisah Mayang."Aku milih mencintainya dalam diam," tutur Mayang.Wanita itu menatap mata Andre dengan tatapan yang amat dalam, pandangan yang menyimpan ribuan kata yang tidak sanggup diucapkannya secara jujur."Aku menahan seluruh rasa ini di dalam dada. Aku hanya bisa mengawasinya dari jauh, membantunya secara senyap tiap kali dia butuh dorongan, dan melempar senyum seolah aku ini cuma teman bisnis yang baik," lanjut Mayang dengan air mata yang menetes pelan di pipinya."Lalu, bagaimana nasib pria itu sekarang?" tanya Andre lagi, tanpa men

  • Mas, Baksomu Ngangenin   59

    Malam itu Andre merasa sedih, menyimpan rasa sakit hatinya dalam diam.Sejak hari itu, Andre fokus ke bisnis Bakso Rempah Swarga. Mengawasi arus keuangan, belanja pasokan rempah dan rutin memeriksa rasa apakah ada yang berubah atau tidak.Itu dia lakukan untuk usaha yang di desa, luka di hatinya ditutupi dan tidak meratapi nasib.‘Masa lalu untuk dikenang, diceritakan atau tidak, itu keputusan hati,’ pikir Andre saat itu. Rutinitas setiap harinya, mulai dari fajar hingga larut malam, Andre terus memantau dapur, memperbaiki sistem pelayanan, serta memperluas jaringan distribusi bahan baku bersama tim bentukan Chef Aris.Sikap Andre berubah menjadi dingin terhadap wanita, termasuk Bu Ram dan Bu Citra yang kerap mencarinya.Wanita yang terpesona dengan Andre semakin banyak saja jumlahnya, tetapi karena sikap dinginnya, beberapa mundur“Tuan muda, apakah ada yang pergerakan yang mencurigakan?” tanya Ki Jaga.“Tidak ada, Ki. Sekilas ini buat aku jadi lega, tapi … ini terlalu tenang. Pasti

  • Mas, Baksomu Ngangenin   58

    Di teras samping rumah, Melinda sedang duduk sendirian menatap gaun pengantin putih yang tergantung di kapstok.Wajahnya pucat pasi, dan matanya sembab memerah bekas menangis sepanjang malam.Saat mendengar suara lelaki kaki yang familiar, Melinda mendongak. Matanya membelalak lebar melihat Andre berdiri tegap di hadapannya dengan tatapan mata yang dingin dan hati yang terluka."Mas ... Andre," bisik Melinda gagap.“Maaf, Mas. Aku ga tepati janji.”Air mata Melinda seketika menetes membasahi pipinya.Andre hanya berdiri tegak, merapikan kemejanya dan menyunggingkan senyum tipis, senyum paling pahit penuh kehancuran, yang pernah dia berikan kepada Melinda sepanjang hidupnya."Selamat ya, Melinda," ujar Andre dengan suara sedih yang tertahan. "Aku dengar kabar bahagianya dari warga. Selamat atas pernikahanmu yang akan diadakan lusa nanti dengan Dokter Bayu."Melinda beranjak dari kursinya, melangkah cepat mendekati Andre dengan jemari gemetaran. "Mas Andre, aku mohon dengarkan aku dul

  • Mas, Baksomu Ngangenin   57

    Tanpa terasa tiga bulan berlalu, usaha Bakso Rempah Bumi Swarga, baik di ruko jalan utama desa maupun di gedung tiga lantai pusat Kota, berkembang pesat luar biasa. Menajemen keuangan dan operasional diatur secara profesional, sehingga semua perhitungan dan juga arah usaha semakin matang dan matang, tertata rapi membuat keuntungannya terus melimpah. Namun, di tengah kesuksesan finansial dan ketenangan dari kejaran musuh yang memilih menahan diri, hati Andre justru dihinggapi rasa hampa yang makin menyiksa.“Udah lebih dua bulan Melinda ga balas pesan aku, apa dia baik-baik aja? Mungkin lagi sibuk,” gumam Andre.Kota dengan segala hiruk pikuknya malah membuat Andre merasa sunyi di hatinya. Bayangan wajah Melinda yang lembut, senyum tulusnya ketika di tepi danau desa, serta aroma angin sore di kampung halaman terus menari-nari di dalam ingatan Andre.Kerinduan yang sudah tidak tertahankan itu mendorong Andre mengambil keputusan untuk kembali ke desa beberapa hari itu juga, menitipkan

  • Mas, Baksomu Ngangenin   56

    Malam pun larut, jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika pengunjung terakhir selesai menikmati hidangan dan melangkah keluar dari ruko. Lampu-lampu jalan di luar mulai menyala terang, memantulkan bayangan gedung tiga lantai yang megah itu.Setelah Mayang, Bu Ram, Chef Aris, pamit pulang lebih awal.Saat Andre baru saja memutar kunci pintu utama dan hendak mematikan lampu teras luar, tiga pasang langkah kaki berat terdengar berderap mendekat dari arah trotoar yang remang-remang.Tiga orang pria tinggi tegap berpakaian jubah kulit hitam berdiri melingkari teras ruko Andre.Pria yang berdiri di tengah memiliki bekas luka bakar memanjang dari pelipis hingga lehernya."Maaf, tempat kami sudah tutup untuk hari ini. Silakan kembali besok pagi," kata Andre sopan.Andre berdiri tegap menatap ketiga pria asing tersebut tanpa rasa gentar sedikit pun.Pria berbekas luka bakar itu melangkah satu tapak ke depan. Tatapan matanya tajam bak belati, menatap lurus ke arah Andre dengan nada suara ya

  • Mas, Baksomu Ngangenin   55

    Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Kawasan ruko utara pusat kota yang biasanya dipadati lalu lintas kendaraan, mendadak dipenuhi oleh deretan papan bunga ucapan selamat yang berada di sepanjang trotoar. Di depan ruko tiga lantai yang berdiri megah, spanduk memajang nama tempat usaha Andre secara terang-terangan Bakso Rempah Swarga.“Tuan muda, apa sebaiknya dilakukan ganti saja namanya. Ini membahayakan Anda,” usul Ki Jaga.“Ki Jaga, hidup mati ada di tangan Tuhan. Usahaku terkenal karena resep ini, maka aku harus tau diri untuk menyertakan dari mana resep ini berasal,” tolak Andre halus.Meskipun Ki Jaga sudah berkali-kali memperingatkan, bahwa menggunakan nama itu sama saja dengan menabuh genderang perang bagi para pemburu dari Kerajaan Durji, Andre sama sekali tidak gentar.Andre dengan tegas menolak mengganti nama atau bersembunyi di balik identitas palsu. Bagi Andre, nama itu bukan cuma merek dagang, melainkan lambang kehormatan, identitas, dan tempatnya berpijak.Jika mus

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status