Share

4

Author: Dao Yue
last update publish date: 2026-07-15 18:48:51

Ternyata Andre melakukan hal itu sama sekali tidak disengaja, dia merasa kalung nya terasa panas dan tubuhnya bergerak reflek dengan sendirinya, lalu mendorong tubuh Airin ke samping.

Andre berdiri tegak dengan sorot mata tajam, menatap lelaki yang tadi akan menyerangnya. Entah mengapa, tubuh lelaki itu merasa ketakutan dan lari tunggang langgang.

“Makasih yah, kalo ga ada kamu … aku mungkin ga bakal selamat sama orang itu,” lontar Airin.

“Kok bisa ada di sini, sih? Kan bahaya, ya udah kamu pulang aja,” balas Andre santai.

Andre membalikkan tubuhnya, Airin malah bergelayut manja. Andre melepas tangan Airin sopan, dia enggan berdekatan dengan adik Raka. 

‘Padahal tadinya aku ga mau lewat situ, kenapa malah lewat situ, yah? Gak taunya ada orang butuh bantuan, aneh,’ pikir Andre.

“Andre, kamu kok sekarang beda, ya,” celetuk Airin.

“Beda gimana? Biasa aja, kok. Bedanya istriku diambil kakakmu,” sahut Andre ketus.

“Ulah kakakku bukan urusanku. Jujur aja, kamu tuh makin ganteng, emmm … aku jadi suka sama kamu,” ungkap Airin terus terang.

Andre menghentikan langkahnya dan menatap tajam Airin, gadis yang baru saja dia selamatkan.

Gadis itu malah tersenyum manis, dan tatapan matanya penuh cinta. Seolah Andre adalah lelaki satu-satunya di dunia ini.

“Airin, bukannya selama ini kamu selalu merasa jijik setiap ketemu aku? Kamu sering hina aku, pernah sengaja nabrak gerobak aku pake mobilmu, pernah juga ngerusak gerobak aku.”

“Kalian kakak adik emang doyan mempermainkan orang, ya. Memang aku miskin, tapi aku tau diri juga ga ganggu kalian.” Andre meninggalkan Airin dengan perasaan marah.

“Andre, tunggu. Denger dulu!” seru Airin sambil mengejar Andre.

Andre mengabaikan teriakan Airin, dia menuju ke toko tempat akan membeli beberapa perlengkapan. Bukannya pergi, Airin malah menempel kepada Andre, bahkan memaksa membayar belanja Andre.

Pemilik toko tentu mengenal Airin, putri kepala desa yang terkenal karena kecantikannya dan sikap sombong yang suka merendahkan orang lain.

Melihat Airin yang tampak tergila-gila kepada Andre, lelaki itu mendekati Andre dan melirik ke arah Airin sejenak.

“Ndre, kamu pake pelet apa? Dukunnya mantep,” bisik pemilik toko.

“Mana punya duit aku ke dukun, Pak. Aku penjual bakso bukan juragan. Tadi kebetulan aku bantu dia, jadi mau ucapin terima kasih,” kata Andre.

“Ah … gak mungkin, Ndre. Siapa sih orang sini yang gak kenal Airin? Cewek tapi arogannya minta ampun, sombong selangit. Sama kayak si Raka, Pak Kades juga sama sombongnya. Mustahil dia baik sama kamu kalo gak kamu pelet,” tandas pemilik toko.

“Beneran, Pak. Aku gak ke dukun,” pungkas Andre.

“Hmm, bisa jadi dia udah tobat,” lontar pemilik toko.

Andre tersenyum kecil, lalu menghubungi kembali ojek langganannya untuk mencari mobil bak terbuka agar bisa membawa beberapa barang yang dia beli.

[Kalo cuma tikar gampang, aku iket aja di belakang. Kamu tunggu aja di pasar, nanti aku anter dulu belanjaan, baru jemput kamu. Biar hemat,] kata tukang ojek langganan Andre.

Tiga puluh menit berlalu, kini Andre sudah duduk di jok motor sambil membawa beberapa barang lainnya. Airin malah merengek agar Andre ikut dengannya di mobil dan mengantarnya pulang.

Andre dengan tegas menolak permintaan Airin dan ojek yang dia pesan pun melaju meninggalkan gadis yang terus meneriakkan namanya itu.  

“Dasar orang gila,” gerutu Andre.

“Aneh ya, Ndre. Kok Airin malah ngejar-ngejar kamu gitu. Jangan-jangan dia hamil trus mau rayu kamu buat nikahin dia. Kayak jadi tumbal gitu,” celetuk tukang ojek.

Andre hanya diam, tidak mengomentari dugaan tukang ojek langganannya, meski baginya itu masuk akal.

Usai membayar ongkos ojek, Andre mulai menata kiosnya agar beberpa pelanggan bisa duduk nyaman. Namun, begitu tikar digelar, tidak ada meja kecil, mempersulit pelanggan untuk makan. Benaknya segera mencari cara bagaimana mencari bahan kayu bekas, agar bisa membuat meja sederhana.

“Ngapain bengong?” tanya Bu Ram yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Andre.

“Duh, kaget aku, Bu. Ini … kalo buat lesehan ga ada meja kecil bikin susah pembeli kalo makan,” jawab Andre lalu menghela napas resah.

“Oh, itu. Di gudang ada kayu sama teriplek ga kepake yang bisa kamu ambil,” tawar Bu Ram dingin.

“Beneran, Bu. Ayo ke sana, gergaji ada? Pinjem ya,” kata Andre bersemangat.

Bu Ram membalikkan tubuhnya, Andre mengikuti langkah pemilik kios usai menutup kiosnya.

Wanita itu masuk dan menuju area samping kediamannya, membuka sebuah ruangan dan mempersilakan Andre memilih kayu sesuai kebutuhannya.

“Kamu pilih aja, aku mau mandi,” ucap Bu Ram ketus.

“Baik, Bu,” sahut Andre.

Andre memilih beberapa kayu, juga teriplek bekas yang layak untuk membuat beberapa meja. Hari mulai gelap, lampu sudah dinyalakan, Andre tampak sibuk dengan kegiatannya.

Bu Ram mengawasi tidak jauh dari gudang, memakai pakaian tidur sebatas pertengahan paha, ketika duduk sambil menyilangkan kaki, memperlihatkan paha mulus hingga nyaris ke pangkal paha.

Empat meja kecil selesai, tepat ketika petir menggelegar dan tiba-tiba hujan deras datang. Andre membawa meja ke tempat teduh agar tidak basah, lalu menyimpan peralatan dan menutup gudang dengan baik.

“Masuk sini, nanti basah,” ajak Bu Ram dengan wajah datar.

“Di luar aja, Bu. Ga enak diliat orang,” tolak Andre.

Hujan semakin deras disertai angin kencang, Andre mulai menggigil akhirnya perlahan menggeser tubuhnya dan masuk.

Bu Ram duduk tenang menatap ke luar, melihat Andre yang mulai kedinginan dengan pakaian lembab terkena air hujan.

Wanita itu beranjak meninggalkan Andre, lalu kembali membawa kaos oblong hitam.

“Nih pake, gak usah dibalikin Bajumu basah.” Bu Ram menyodorkan kaos oblong kepada Andre.

“Wah, ngerepotin, Bu. Saya ijin pake.” Andre menerima kaos tersebut.

Andre mengganti kaosnya dengan memunggungi Bu Ram, wanita cantik itu menatap punggung yang tampak tegap, menggoda dirinya yang kesepian belaian pria.

“Badan kamu bagus juga untuk ukuran tukang bakso, kekar. Apa tongkatmu kekar juga?” tanya Bu Ram santai.

“Duh, agak dewasa obrolannya, Bu. Kalo si Joni sih kekar berotot, Bu,” jawab Andre berkelakar mencairkan suasana tegang.

“Kalo kekar berotot, kenapa istrimu selingkuh sama Raka? Jangan-jangan kamu emang ga mampu, ga bisa berdiri si Joni mu itu,” balas Bu Ram datar.

“Enak aja sembarangan nuduh, masih berfungsi loh ini, Bu. Saya juga ga ngerti kenapa istri saya begitu, pas main sama si Raka kok dia keliatan bergairah, terangsang, puas. Kalo sma saya malah kayak males,” ungkap Andre dengan tatapan sendu.

Suasana kembali hening, hanya suara derasnya hujan dan suara guruh yang terdengar.

“Aku gak keberatan mencicipi sekekar apa punyamu itu,” celetuk Bu Ram tiba-tiba.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Jamrud Khatulistiwa
buku yg bagus dibaca
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pemikat Para Gadis Desa   139

    Tangannya memeluk punggung Andre, kuku-kukunya menekan kulit.Andre merasakan kenikmatan yang luar biasa. Sepanjang hidupnya, hingga pernikahan dengan Rumala dan berbagi kehangatan dengan wanita lain, tidak ada yang masih perawan.Lelaki itu menggerakkan pinggang lebih dalam sedikit, mengubah sudut. Mayang tersentak, desahan menjadi lebih nyaring. “Ngghh … kamu sempit, ahh … enak,” racau Andre.“Aaah, lebih dalam lagi, Mas. Agak cepat, enak banget,” balas Mayang.“Kamu basah banget, sayang,” bisik Andre di telinga Mayang, suaranya serak oleh gairah. “Abis punya kamu enak, gede, berotot. Aaah, enak banget,” sahut Mayang.Andre mempercepat gerakan pinggulnya sedikit, tetapi tetap lembut. Setiap hentakan diiringi suara basah yang pelan dan desahan Mayang yang terus menerus. Andre menurunkan kepala, menghisap payudara Mayang lagi sambil terus bergerak. Mayang membusungkan dada, kaki-kakinya melingkar di pinggang Andre, menariknya lebih dalam.“Mas … lebih dalam, ssssh … ahh … ahh …,

  • Pemikat Para Gadis Desa   138

    “Kamu mau rasa geli tapi enak?” tanya Andre.Mayang mengangguk pelan, wajahnya merah padam. Andre menunduk, mengecup paha dalam Mayang, naik perlahan ke pusat kehangatannya. Lidahnya menyentuh celah yang sudah basah.Mayang tersentak, pinggangnya terangkat.“Ahhh … Mas, itu geli, tapi … enak,” racau Mayang, lalu memggigit bibirnya.Andre tersenyum di antara paha istrinya. Dia menjilat pelan dari bawah ke atas, fokus di titik yang membuat Mayang menggeliat hebat. Lidahnya bergerak memutar, lalu menghisap lembut. Mayang merintih, jarinya mencengkeram rambut Andre, lalu menekan kepala suaminya.“Ngghh … ahh … ahh … Mas. Jangan berhenti, enak banget,” ucap Mayang, suaranya sudah tidak stabil.Desahan keluar terus-menerus, semakin keras. Andre memasukkan satu jari dengan sangat hati-hati, merasakan betapa ketatnya kawah milik Mayang.Mayang mengerang, tubuhnya menegang.“Ssssh.” Mayang mendesis bak ular.“Sakit?” tanya Andre, menghentikan gerakan sejenak.“Sa-sakit,” jawab Mayang, napasn

  • Pemikat Para Gadis Desa   137

    Beberapa minggu setelah peristiwa di bukit, Andre bersama Chef Aris yang diminta sebagai wakil orang tua, Fian dan seluruh karyawannya membawa seserahan, termasuk Maman dan Sadri turut serta, iring- iringan itu melangkah memasuki kediaman megah keluarga Mayang, dengan maksud melamar putri tunggal mereka.Meski kekayaannya saat ini belum sepadan dengan kemewahan keluarga Mayang, kedua orang tua Mayang menyambutnya dengan sangat hangat, setelah melihat potensi besar bisnis kuliner dan rempah Nusantara yang dikembangkannya."Kami tidak hanya melihat harta yang kamu miliki hari ini, Andre, tapi kami melihat niat tulus dan potensi besar di dalam dirimu untuk menjaga putri kami," sahut ayah Mayang sambil menjabat erat tangan Andre.“Benar, lagipula … bisnis sudah mulai merambah ke internasional, setidaknya Mayang gak kelaparan,” timpak ibunya Mayang.Pesona dan aura yang terpancar dari Andre, terasa begitu menyenangkan dan tidak bisa ditolak.Peleburan energi pengasihan kalung Bumi Swarga,

  • Pemikat Para Gadis Desa   136

    Andre terbangun dari tidurnya dengan napas yang memburu dan keringat dingin membasahi dahinya.Pria itu terduduk di tepi tempat tidur, meraba kalung Bumi Swarga yang mengantung di dadanya, kini memancarkan cahaya keemasan yang jauh lebih hangat dan menenangkan ketimbang biasanya."Sudah waktunya ... leluhurku harus kembali dengan tenang, kadian terkurung begini," bisik Andre pada dirinya sendiri.Andre menggenggam erat liontin tersebut, teringat wajah Ki Jaga dan beberapa pengawal bayangan. Sedih rasanya harus berpisah dengan mereka, tetapi … mereka juga tidak seharusnya hidup di zaman yang tidak seharusnya. “Ki Jaga, semua pengawal … terima kasih sudah melindungiku selama ini. Semoga kalian pergi dengan tenang, aku gak akan melupakan kalian,” ucap Andre lirih.Begitu fajar menyingsing, Andre langsung meluncur menuju apartemen Mayang, untuk memberitahukan segalanya.Pria itu tidak ingin ada lagi rahasia di antara mereka, khawatir Mayang salah paham.Andre pamit kepada Mayang sebelum

  • Pemikat Para Gadis Desa   135

    Malam itu, usai membereskan segala urusan tambak bersama Raka, Andre kembali melaju menembus pekatnya jalanan menuju pusat kota.Rasa lelah yang teramat sangat di sekujur tubuhnya, membuat pria itu langsung terlelap begitu merebahkan diri di atas tempat tidur kamarnya."Andre ... kemarilah, wahai keturunanku," panggil Pangeran Narendra.Sebuah suara berwibawa yang menggema lembut di dalam alam bawah sadar Andre, merasuk ke dalam lautan mimpi.Begitu Andre membuka mata di alam mimpinya, lelaki itu mendapati dirinya berdiri di tengah padang rumput luas yang diselimuti kabut tipis keemasan, menghadap sosok Pangeran Narendra yang berdiri gagah dengan jubah kebesarannya. "Pangeran Narendra ... apakah ini benar-benar Anda yang memanggil saya malam ini?" tanyak Andre sambil menundukkan kepalanya penuh rasa hormat.Pangeran Narendra tersenyum hangat, menatap Andre dengan tatapan mata yang memancarkan rasa bangga. "Aku, Ki Jaga, serta seluruh pasukan dari zamanku, akhirnya sebentar lagi bisa

  • Pemikat Para Gadis Desa   134

    “Sssh, jangan, Andre. Ini penting,” bisik Mayang.Andre tersenyum, merapikan kerah kemeja Mayang, lalu mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Mayang yang sedang mendengarkan suara ayahnya di telepon. "Aku pulang dulu ya, Sayang ... makasih udah udah bantu aku," bisik Andre sangat pelan penuh kehangatan sebelum melangkah pergi meninggalkan apartemen dengan perasaan lega luar biasa.Beberapa hari setelah hubungan asmara Andre dan Mayang kembali pulih dan makin erat, tetapi, masalah baru yang tidak disangka-sangka mendadak muncul.Masalah kembali datang dari pasokan bahan baku usaha kuliner Andre. Menjelang acara jamuan makan malam megah tingkat menteri dan investor asing yang akan digelar di ibukota, pasokan utama lobster air tawar segar yang dikelola oleh Raka di desa mendadak menjadi sasaran ancaman dari pihak luar.[Andre, ada pengusaha pesaing besar dari kota sebelah yang sengaja mengincar pasokan lobster milik kita untuk acara menteri besok,] kata Raka lewat sebuah pesan ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status