LOGINPukul satu siang tepat, lorong lantai atas kompleks apartemen mewah itu terasa begitu sunyi. Arka Malik melangkah tegap di atas karpet koridor yang tebal dan empuk.
Sesuai kesepakatan yang mereka buat semalam, hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai pengawal rahasia sekaligus sopir untuk Gisel.
Pakaian kuli bangunannya yang penuh debu semen kini sudah berganti dengan kemeja flanel motif kotak-kotak hitam-merah yang bersih, dipadukan dengan celana jins gelap yang pas di tubuh tegapnya.
Potongan rambutnya yang rapi menyisakan kesan maskulin yang kuat khas jalanan, memberikan aura intimidasi alami bagi siapa saja yang berpapasan dengannya.
Namun, tepat saat langkah kaki Arka berjarak sekitar tiga meter di depan pintu unit Gisel, gerakan pria itu mendadak terhenti.
Pendengaran tajamnya yang sudah terlatih menghadapi kerasnya jalanan langsung menangkap suara bentakan kasar seorang pria dari dalam ruangan.
Kebetulan sekali, pintu kokoh itu tidak tertutup rapat, menyisakan celah beberapa sentimeter yang membuat gelombang amarah dari dalam terdengar sangat jelas ke luar koridor.
‘Kenapa si bajingan Bram tiba-tiba membatalkan sepihak rencana merger perusahaan rintisanku, hah?! Kamu buat apa semalam di hotel, Gisel?!’
Arka menyipitkan matanya, berdiri bergeming di samping tembok. Insting premannya langsung siaga penuh. Melalui celah pintu yang sedikit menganga, Arka bisa melihat bayangan seorang pria berjas necis mahal sedang mondar-mandir dengan wajah merah padam karena frustrasi yang teramat sangat.
Pria itu tak lain adalah Adrian, suami Gisel. Dari apa yang didengar Arka dalam beberapa detik pertama, dia langsung bisa menyusun potongan informasi.
Adrian adalah CEO di Valerie Mode, perusahaan fashion ternama milik ayah kandung Gisel. Namun di balik punggung mertuanya, Adrian ternyata mendirikan perusahaan rintisan sendiri, mencoba melakukan merger diam-diam dengan si botak Bram yang semalam hampir menodai istrinya.
Di dalam ruangan, Gisel berdiri mematung dengan wajah pucat. Dia masih mengenakan pakaian kerjanya sebagai Manajer Keuangan dari perusahaan yang sama. Tubuhnya bergetar hebat menghadapi cercaan sang suami.
"Aku... aku nggak ngelakuin hal yang salah, Adrian. Pak Bram menjebakku. Dia masukin sesuatu ke dalam minumanku sampai aku lemas. Aku pusing dan hampir saja kehilangan kehormatanku kalau nggak ada laki-laki lain yang mendobrak pintu kamar hotel semalam," jawab Gisel dengan suara parau, menahan tangis yang menyesakkan dada.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat telak di pipi mulus Gisel hingga wanita itu terpekik dan terhuyung ke atas sofa mewah di ruang tamu.
“Alasan! Jangan sok cantik kamu!" Maki Adrian kejam, “Bilang aja kamu ngasih harga mahal ke Bram, makanya dia nggak ACC ke kita!"
Gisel memegangi pipinya yang seketika memerah, menatap suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Rasa perih di pipinya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit yang menghantam lubuk hatinya.
Selama lima tahun pernikahan mereka, Gisel selalu menjadi istri yang penurut. Dia tahu Adrian merasa rendah diri karena perusahaan yang dipimpinnya adalah milik ayah Gisel, dan ayahnya sengaja bersikap tegas agar mereka belajar dari bawah.
Demi menjaga harga diri suaminya di depan sang ayah, Gisel rela menutup mata. Dia bahkan selalu menuruti perintah Adrian untuk menemui klien-klien kakap dan calon investor di luar jam kerja karena alasan istrinya itu memiliki penampilan yang menawan dan kemampuan berbisnisnya lebih baik.
Gisel yang naif mengira itu adalah bentuk pengorbanan demi mendukung karier suami yang dicintainya, tapi ketika melakukan kesalahan, dirinya langsung menerima cap ‘istri tidak berguna’.
"Jangan cari alasan bodoh untuk menutupi ketidakbecusanmu! Gara-gara kamu tidak bisa meng-handle Bram semalam, investasi miliaran yang harusnya kudapatkan di belakang papamu itu hangus berantakan!" bentak Adrian kalap.
Pria itu sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya, sama sekali tidak peduli bahwa istrinya baru saja lolos dari bahaya pemerkosaan yang mengerikan.
"Adrian, cukup! Jaga mulut kamu!" Gisel terisak, air matanya akhirnya luruh membasahi pipi. "Aku ini istrimu, bukan barang dagangan atau umpan bisnis!"
"Kalau kamu nggak mau jadi umpan, lalu apa gunanya wajah cantik dan tubuh molekmu itu, hah?! Apa gunanya aku mempertahankan istri yang nggak bisa ngasih keluarga utuh dan malah merusak proyek besar masa depanku?!"
"Ingat, aku mandul karena salahmu! Kamu yang salah kalau kita nggak punya anak?"
Adrian merangsek maju dengan mata melotot kejam. Kalimatnya barusan sengaja menyerang titik terlemah Gisel, mengingatkan wanita itu pada tragedi kecelakaan masa lalu yang membuat mereka kehilangan bayi sulung mereka dan membuat sel reproduksi Adrian rusak selamanya.
Di atas semua rasa bersalah yang dipendam Gisel selama bertahun-tahun, Adrian selalu menggunakannya sebagai senjata untuk mengintimidasi mental istrinya.
Adrian merenggut paksa pergelangan tangan Gisel dan menariknya dengan kasar dari sofa.
"Sekarang ikut aku ke kantor Bram! Kamu harus berlutut memohon maaf ke dia dan perbaiki kekacauan yang udah kamu buat semalam!"
"Lepas, Adrian! Sakit... Kumohon lepas!" Gisel meronta brutal, berusaha melepaskan diri, namun cengkeraman Adrian begitu kuat karena didorong oleh rasa amarah dan ego bisnisnya yang hancur.
Di luar pintu, Arka yang mendengarkan setiap jengkal perdebatan itu menarik napas panjang. Sebagai mantan preman jalanan, insting pertamanya jelas ingin mendobrak pintu itu dan mematahkan leher pria berjas di dalam sana.
Brak! Gubrak!
“Ah, sialan!”
Suara hantaman keras di daun pintu kayu yang memang sedikit renggang itu seketika memecah ketegangan yang mencekam di dalam ruangan.
Adrian tersentak kaget dan langsung melepaskan cengkeraman kasarnya pada pergelangan tangan Gisel. Pandangannya bersama dengan tatapan Gisel langsung tertuju cepat ke arah ambang pintu apartemen.
Di sana, Arka sudah hampir terjerembab ke atas lantai marmer ruang tamu dengan posisi tubuh yang sangat limbung dan kikuk.
Satu tangannya memegangi gagang pintu dengan erat seolah sedang menahan beban tubuhnya agar tidak benar-benar mencium lantai, sementara kaki kanannya terangkat ke atas dengan posisi yang aneh, meniru gerakan seseorang yang baru saja menginjak sesuatu yang super licin di koridor luar.
Wajah tegap yang biasanya dingin dan sangar itu mendadak berubah panik dan penuh rasa bersalah, sangat jauh dari kesan pria jalanan itu beberapa detik lalu.
"Aduh! Astaga... maaf, Nyonya, Tuan! Aduh, ampun, lantai koridor di luar sana kayaknya habis dipel sama petugas kebersihan, licinnya bukan main sampai kaki saya khilaf kepeleset begini dan langsung nubruk pintu!" seru Arka dengan suara yang sengaja dibuat agak sengau dan memasang tampang super polos tanpa dosa.
Tentu saja, Arka menahan diri. Otaknya yang cerdik langsung berputar cepat merancang strategi. Dia tahu betul psikologi wanita yang sedang buta karena cinta.
Jika dia masuk dengan gaya preman dan langsung menghajar Adrian di depan Gisel, ego Gisel yang masih menyayangi suaminya kemungkinan besar akan berbalik membela Adrian.
Lebih buruk lagi, Adrian pasti akan memaksa Gisel untuk membatalkan kontrak kerjanya sebagai sopir baru saat itu juga.
Arka butuh pekerjaan ini demi membeli susu formula khusus untuk Rania, putrinya yang alergi di tempat penitipan. Jadi, dia harus bermain cantik.
Arka harus mengintervensi kekerasan itu tanpa membuat Adrian curiga bahwa Arka adalah ancaman nyata bagi posisinya.
Arka buru-buru menegakkan kembali tubuh tegapnya, lalu menepuk-nepuk bagian samping celana jeansnya yang sama sekali tidak kotor dengan gaya yang sangat kaku, mirip seperti orang udik yang baru pertama kali masuk ke dalam gedung mewah.
Adrian melotot murka dengan napas yang masih memburu kencang. Ego besarnya sebagai seorang CEO merasa sangat terganggu oleh kedatangan makhluk asing berbaju flanel murah yang tiba-tiba merusak momen konfrontasinya dengan sang istri.
"Siapa kamu, hah?!"
"Jadi, apa keputusanmu saat itu?" tanya Paman Timo lagi, tatapannya menghujam Arka."Awalnya aku kasih opsi ke Clarissa," jawab Arka sembari menyapu air matanya. "Aku nyuruh dia buat nyerahin bayinya ke aku sama Gisel begitu lahir nanti. Aku yakin Gisel bersedia ngurus anak itu. Aku tahu Gisel bakal sayang walau itu bukan darah dagingnya sendiri."Arka menegakkan dadanya yang sesak. "Aku juga jamin ke Clarissa kalau anak itu bakal diakui di keluarga kami, berhak dapat kasih sayang dan harta. Tapi cewek itu menolak mentah-mentah!""Dia marah besar dan ngatain aku egois karena mau misahin dia dari anaknya," lanjut Arka parau. "Tapi aku emang gak bisa ngasih apa yang dia mau. Dia minta aku nikahi dia, dan akhirnya itu terjadi. Tapi buat hal lain, aku gak bisa ngasih. Aku cuma punya Gisel dan aku gak mau nyakitin hati istriku.""Tapi Clarissa tetap gak terima dan berbalik ngancam aku. Sampai akhirnya aku gak punya pilihan pas dia mengancam bakal ngebongkar malam terkutuk itu ke Gisel dan
"Kamu gak mikirin perasaan mertuamu sendiri, HAH?!""Astaga, Arka... Paman gak nyangka kamu laki-laki sejahat itu, sesampah itu!"Cacian yang menjadi bumbu amarah Paman Timo diterima Arka dalam diam.Walau terasa mengiris dan perih di telinga, kenyataan pahit itulah yang terlanjur Arka lemparkan ke wajah Gisel dan Papa Vale. Nyatanya, kebodohan Arka telah menghancurkan hati Gisel dan keluarga besarnya hingga berkeping-keping.Tubuh ramping yang tak lagi muda itu terkulai lemas di sofa ruang tamu. Paman Timo terduduk gamang, sementara Bibi Juli, yang sejak awal hanya diam mendengarkan, kini menangis sesenggukan, menyesali perbuatan keponakan mantunya itu.Pasangan tua yang sudah menganggap Gisel seperti putri kandung sendiri itu tak habis pikir. Apa alasannya Arka tega berbuat demikian, padahal setahu mereka rumah tangga Arka dan Gisel sangat harmonis.Hampir setengah jam keheningan mencekam menguasai ruangan. Paman Timo hanya menatap Arka yang terus tertunduk. Setelah hatinya sedikit
"Ayah tahu kalian lagi ada masalah," tutur Tuan Vale lembut, memandangi wajah putrinya yang lelah. "Semenjak kamu pulang sendirian dan Arka gak pulang-pulang. Walau kamu bilang Arka lagi urusan bisnis ke Lampung, tapi mukamu ditekuk terus, Gisel. Kamu jarang ketawa lagi. Papa juga gak pernah lihat kamu terima telepon dari dia."Tuan Vale menarik napas panjang, tatapannya sarat akan kerisauan seorang ayah. "Tapi sebagai orang tua, Papa coba ngerti dan hargai keputusan kamu yang mau selesaikan masalah kalian sendiri. Papa respect sama hal itu."Gisel menunduk, tak berani menatap langsung mata ayahnya."Tapi Arka udah pulang sekarang, dan masalah kalian kelihatannya makin parah," lanjut Tuan Vale dengan nada khawatir. "Kalian gak tidur satu kamar, dan Arka malah tidur di kamar Rania."Hati Tuan Vale terasa teriris melihat aura murung yang menyelimuti putri semata wayangnya seminggu belakangan. Namun, beliau paham batas. Meskipun ia ayah kandung Gisel, ia tak boleh terlalu dalam menc
Arka Malik memegangi pipinya yang terasa panas membakar. Pria tegap itu terdiam seakan sadar tamparan keras itu belum ada apa-apanya dibanding luka berdarah yang ia torehkan di dada istrinya.Tanpa mengumandangkan kata apa pun lagi, Gisel berbalik, menjauh dari Arka dan melangkah keluar kamar dengan derai air mata yang tak terbendung."Kenapa cuma nampar aku sekali, Gisel...?" gumam Arka parau, menatap pintu yang tertutup rapat. "Aku bahkan pantas kamu pukuli ratusan kali setelah apa yang aku buat ke kamu..."*Sementara itu, di Singapura...*Di tengah dinginnya embusan angin malam di balkon apartemen kawasan Orchard Road, Adrian masih duduk termangu di tepi kolam renang *rooftop* rumah Mila. Pria itu baru sehari mendarat kembali usai menyelesaikan urusannya di Jepang.Ponsel di genggamannya baru saja meredup usai menerima laporan dari informannya. Seluruh bukti keterlibatan Mila dan Clarissa dalam merancang skenario jebakan pencatatan sipil itu sudah hampir terkumpul sempurna.Senyum
Arka Malik membatu di tempatnya. Seluruh persendian tubuhnya mendadak lumpuh saat mendengar nama Clarissa meluncur tajam dari bibir istrinya.*Gisel udah tahu semuanya...? Sejak kapan...?* jerit batin Arka histeris, diserang kepanikan yang teramat sangat.Isi kepalanya beradu hebat. Harus apa dia sekarang? Apa dia harus terus berkelit dan mempertahankan kebohongannya agar situasi aman seperti kemarin-kemarin? Atau dia harus berani membongkar semuanya walau konsekuensinya Gisel akan murka dan menyeret rumah tangga mereka ke jurang perceraian? Pilihan kedua teramat sangat menakutkan bagi naluri posesifnya sebagai suami.Tapi mau bagaimana lagi? Rahasia kelam itu sudah terbongkar. Topengnya runtuh tak tersisa."Kenapa diam, Arka?!" desak Gisel berang, meremas kerah kemeja suaminya makin kuat. "Jawab aku! Kamu udah nikah kan sama cewek bernama Clarissa itu?!""Maaf..." Hanya kata itu yang sanggup lolos dari tenggorokan Arka yang mendadak kering dan bergetar.Namun satu kata lirih itu suda
Arka Malik melangkah masuk ke dalam mobil, lalu meletakkan ponsel Gisel di atas dasbor tanpa sepatah kata pun. Napasnya terengah berat. Pria tegap itu menarik napas panjang seraya memutar kunci kontak untuk menyalakan mesin.Namun, mobil tak kunjung melaju. Arka terkesiap kaku saat suara dingin Gisel memecah keheningan kabin."Harus banget ya keluar mobil terus ngerem mendadak cuma gara-gara dengar suara cewek itu, Arka?""Spesial banget ya dia, sampai kamu tega bikin aku sama Rania hampir celaka?"Gisel berucap tanpa menoleh sedikit pun. Jemari lentiknya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih menahan remukan emosi."Gisel, maafin aku... Aku refleks tadi, beneran gak sengaja..." jawab Arka terbata-bata, rahang tegasnya menegang pucat.Dalam diam, benak Gisel berputar memanggil ingatan pahit seminggu lalu. Sebelum ia memergoki Arka keluar dari kantor pencatatan sipil dengan menggandeng Clarissa yang bergaun pengantin, Adrian sempat membawanya mengawasi gerak-gerik wanita iblis







