Share

Topeng Yang Retak

Penulis: MJoy Ganteng
last update Tanggal publikasi: 2026-07-07 07:11:29

Pukul satu siang tepat, lorong lantai atas kompleks apartemen mewah itu terasa begitu sunyi. Arka Malik melangkah tegap di atas karpet koridor yang tebal dan empuk. 

Sesuai kesepakatan yang mereka buat semalam, hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai pengawal rahasia sekaligus sopir untuk Gisel. 

Pakaian kuli bangunannya yang penuh debu semen kini sudah berganti dengan kemeja flanel motif kotak-kotak hitam-merah yang bersih, dipadukan dengan celana jins gelap yang pas di tubuh tegapnya. 

Potongan rambutnya yang rapi menyisakan kesan maskulin yang kuat khas jalanan, memberikan aura intimidasi alami bagi siapa saja yang berpapasan dengannya.

Namun, tepat saat langkah kaki Arka berjarak sekitar tiga meter di depan pintu unit Gisel, gerakan pria itu mendadak terhenti. 

Pendengaran tajamnya yang sudah terlatih menghadapi kerasnya jalanan langsung menangkap suara bentakan kasar seorang pria dari dalam ruangan. 

Kebetulan sekali, pintu kokoh itu tidak tertutup rapat, menyisakan celah beberapa sentimeter yang membuat gelombang amarah dari dalam terdengar sangat jelas ke luar koridor.

‘Kenapa si bajingan Bram tiba-tiba membatalkan sepihak rencana merger perusahaan rintisanku, hah?! Kamu buat apa semalam di hotel, Gisel?!’

Arka menyipitkan matanya, berdiri bergeming di samping tembok. Insting premannya langsung siaga penuh. Melalui celah pintu yang sedikit menganga, Arka bisa melihat bayangan seorang pria berjas necis mahal sedang mondar-mandir dengan wajah merah padam karena frustrasi yang teramat sangat. 

Pria itu tak lain adalah Adrian, suami Gisel. Dari apa yang didengar Arka dalam beberapa detik pertama, dia langsung bisa menyusun potongan informasi. 

Adrian adalah CEO di Valerie Mode, perusahaan fashion ternama milik ayah kandung Gisel. Namun di balik punggung mertuanya, Adrian ternyata mendirikan perusahaan rintisan sendiri, mencoba melakukan merger diam-diam dengan si botak Bram yang semalam hampir menodai istrinya.

Di dalam ruangan, Gisel berdiri mematung dengan wajah pucat. Dia masih mengenakan pakaian kerjanya sebagai Manajer Keuangan dari perusahaan yang sama. Tubuhnya bergetar hebat menghadapi cercaan sang suami.

"Aku... aku nggak ngelakuin hal yang salah, Adrian. Pak Bram menjebakku. Dia masukin sesuatu ke dalam minumanku sampai aku lemas. Aku pusing dan hampir saja kehilangan kehormatanku kalau nggak ada laki-laki lain yang mendobrak pintu kamar hotel semalam," jawab Gisel dengan suara parau, menahan tangis yang menyesakkan dada.

Plak!

Satu tamparan keras mendarat telak di pipi mulus Gisel hingga wanita itu terpekik dan terhuyung ke atas sofa mewah di ruang tamu. 

“Alasan! Jangan sok cantik kamu!" Maki Adrian kejam, “Bilang aja kamu ngasih harga mahal ke Bram, makanya dia nggak ACC ke kita!" 

Gisel memegangi pipinya yang seketika memerah, menatap suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Rasa perih di pipinya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit yang menghantam lubuk hatinya. 

Selama lima tahun pernikahan mereka, Gisel selalu menjadi istri yang penurut. Dia tahu Adrian merasa rendah diri karena perusahaan yang dipimpinnya adalah milik ayah Gisel, dan ayahnya sengaja bersikap tegas agar mereka belajar dari bawah. 

Demi menjaga harga diri suaminya di depan sang ayah, Gisel rela menutup mata. Dia bahkan selalu menuruti perintah Adrian untuk menemui klien-klien kakap dan calon investor di luar jam kerja karena alasan istrinya itu memiliki penampilan yang menawan dan kemampuan berbisnisnya lebih baik. 

Gisel yang naif mengira itu adalah bentuk pengorbanan demi mendukung karier suami yang dicintainya, tapi ketika melakukan kesalahan, dirinya langsung menerima cap ‘istri tidak berguna’.

"Jangan cari alasan bodoh untuk menutupi ketidakbecusanmu! Gara-gara kamu tidak bisa meng-handle Bram semalam, investasi miliaran yang harusnya kudapatkan di belakang papamu itu hangus berantakan!" bentak Adrian kalap. 

Pria itu sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya, sama sekali tidak peduli bahwa istrinya baru saja lolos dari bahaya pemerkosaan yang mengerikan.

"Adrian, cukup! Jaga mulut kamu!" Gisel terisak, air matanya akhirnya luruh membasahi pipi. "Aku ini istrimu, bukan barang dagangan atau umpan bisnis!"

"Kalau kamu nggak mau jadi umpan, lalu apa gunanya wajah cantik dan tubuh molekmu itu, hah?! Apa gunanya aku mempertahankan istri yang nggak bisa ngasih keluarga utuh dan malah merusak proyek besar masa depanku?!" 

"Ingat, aku mandul karena salahmu! Kamu yang salah kalau kita nggak punya anak?" 

Adrian merangsek maju dengan mata melotot kejam. Kalimatnya barusan sengaja menyerang titik terlemah Gisel, mengingatkan wanita itu pada tragedi kecelakaan masa lalu yang membuat mereka kehilangan bayi sulung mereka dan membuat sel reproduksi Adrian rusak selamanya. 

Di atas semua rasa bersalah yang dipendam Gisel selama bertahun-tahun, Adrian selalu menggunakannya sebagai senjata untuk mengintimidasi mental istrinya.

Adrian merenggut paksa pergelangan tangan Gisel dan menariknya dengan kasar dari sofa. 

"Sekarang ikut aku ke kantor Bram! Kamu harus berlutut memohon maaf ke dia dan perbaiki kekacauan yang udah kamu buat semalam!"

"Lepas, Adrian! Sakit... Kumohon lepas!" Gisel meronta brutal, berusaha melepaskan diri, namun cengkeraman Adrian begitu kuat karena didorong oleh rasa amarah dan ego bisnisnya yang hancur.

Di luar pintu, Arka yang mendengarkan setiap jengkal perdebatan itu menarik napas panjang. Sebagai mantan preman jalanan, insting pertamanya jelas ingin mendobrak pintu itu dan mematahkan leher pria berjas di dalam sana. 

Brak! Gubrak! 

“Ah, sialan!”

Suara hantaman keras di daun pintu kayu yang memang sedikit renggang itu seketika memecah ketegangan yang mencekam di dalam ruangan. 

Adrian tersentak kaget dan langsung melepaskan cengkeraman kasarnya pada pergelangan tangan Gisel. Pandangannya bersama dengan tatapan Gisel langsung tertuju cepat ke arah ambang pintu apartemen.

Di sana, Arka sudah hampir terjerembab ke atas lantai marmer ruang tamu dengan posisi tubuh yang sangat limbung dan kikuk. 

Satu tangannya memegangi gagang pintu dengan erat seolah sedang menahan beban tubuhnya agar tidak benar-benar mencium lantai, sementara kaki kanannya terangkat ke atas dengan posisi yang aneh, meniru gerakan seseorang yang baru saja menginjak sesuatu yang super licin di koridor luar. 

Wajah tegap yang biasanya dingin dan sangar itu mendadak berubah panik dan penuh rasa bersalah, sangat jauh dari kesan pria jalanan itu beberapa detik lalu.

"Aduh! Astaga... maaf, Nyonya, Tuan! Aduh, ampun, lantai koridor di luar sana kayaknya habis dipel sama petugas kebersihan, licinnya bukan main sampai kaki saya khilaf kepeleset begini dan langsung nubruk pintu!" seru Arka dengan suara yang sengaja dibuat agak sengau dan memasang tampang super polos tanpa dosa. 

Tentu saja, Arka menahan diri. Otaknya yang cerdik langsung berputar cepat merancang strategi. Dia tahu betul psikologi wanita yang sedang buta karena cinta. 

Jika dia masuk dengan gaya preman dan langsung menghajar Adrian di depan Gisel, ego Gisel yang masih menyayangi suaminya kemungkinan besar akan berbalik membela Adrian. 

Lebih buruk lagi, Adrian pasti akan memaksa Gisel untuk membatalkan kontrak kerjanya sebagai sopir baru saat itu juga. 

Arka butuh pekerjaan ini demi membeli susu formula khusus untuk Rania, putrinya yang alergi di tempat penitipan. Jadi, dia harus bermain cantik. 

Arka harus mengintervensi kekerasan itu tanpa membuat Adrian curiga bahwa Arka adalah ancaman nyata bagi posisinya.

Arka buru-buru menegakkan kembali tubuh tegapnya, lalu menepuk-nepuk bagian samping celana jeansnya yang sama sekali tidak kotor dengan gaya yang sangat kaku, mirip seperti orang udik yang baru pertama kali masuk ke dalam gedung mewah.

Adrian melotot murka dengan napas yang masih memburu kencang. Ego besarnya sebagai seorang CEO merasa sangat terganggu oleh kedatangan makhluk asing berbaju flanel murah yang tiba-tiba merusak momen konfrontasinya dengan sang istri. 

"Siapa kamu, hah?!" 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Tawa Di Pulau Dewata

    Hembusan angin laut yang hangat menyambut kedatangan keluarga kecil itu begitu mereka melangkahkan kaki keluar dari bandara di Pulau Dewata. Setelah melewati masa-masa kelam yang cukup panjang, Bali menjadi pilihan sempurna bagi Arka Malik untuk memboyong istri dan kedua putri kecilnya menikmati masa liburan yang telah lama tertunda.Sebuah resort privat bergaya vila modern di kawasan Nusa Dua menjadi markas kecil mereka selama seminggu ke depan. Vila tersebut memiliki akses langsung ke pantai berpasir putih dan dilengkapi kolam renang pribadi di tengah taman tropis yang asri.Siang itu, matahari bersinar cerah di atas langit Bali. Suara gemericik air kolam berpadu manis dengan gelak tawa riang dari dua bocah kecil yang sibuk bermain air."Kalila, jangan ke tempat yang dalam! Sini dekat Kakak aja!" seru Rania dengan gaya yang sangat protektif.Anak perempuan berusia enam tahun itu berdiri tegak di area kolam dangkal. Dengan rompi pelampung berwar

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Bahagia Yang Utuh

    Dua tahun telah berlalu sejak badai besar itu benar-benar menguap dari kehidupan keluarga Malik. Waktu telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik: menyembuhkan luka yang menganga, memudarkan sisa kepedihan, dan menggantikannya dengan tawa yang riang di setiap sudut rumah.Pagi itu, kediaman megah keluarga Malik terasa begitu hidup. Matahari bersinar cerah menembus pepohonan rimbun di halaman belakang, membiaskan cahaya keemasan ke atas rumput hijau yang basah oleh embun pagi. Dekorasi bernuansa warna merah muda dan emas tampak menghiasi area taman, lengkap dengan panggung kecil dan deretan kursi tamu yang tertata rapi.Hari ini adalah hari istimewa: ulang tahun Kalila yang kedua, sekaligus acara syukuran atas pencapaian baru perusahaan Arka yang makin sukses berkembang.Dari arah ruang keluarga, suara derap langkah kaki kecil terdengar berlarian menghentak lantai marmer. Kalila, yang kini sudah tumbuh menjadi balita yang sangat menggemaskan dengan pipi tembam dan rambut ikal bergel

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Deep Talk

    Info: Rania masih sekitar setahun lebih. Jadi sekolah yang dimaksud adalah taman bermain khusus anak-anak orang berpunya. Pagi itu, hujan deras mengguyur Kota Jakarta sejak subuh. Aroma tanah basah merembas masuk melalui celah jendela kaca kamar utama, menciptakan suasana hangat yang berbanding terbalik dengan dinginnya cuaca di luar.Kalila baru saja tertidur kembali setelah disusui oleh Gisel, sementara Rania sudah berangkat ke sekolah diantar oleh sopir pribadi mereka. Rumah megah itu mendadak menjadi sangat tenang, memberikan ruang yang sangat pas bagi dua insan yang telah lama memendam banyak kata.Arka berjalan mendekati tempat tidur membawa dua cangkir teh hangat yang masih berasap tipis. Pria itu meletakkan cangkirnya di atas nakas, lalu duduk perlahan di samping Gisel."Diminum dulu tehnya, Sel," ujar Arka lembut sembari menyodorkan salah satu cangkir kepada istrinya.Gisel menerima cangkir tersebut, menyesap tehnya sedikit, lalu menatap Arka lekat-lekat. "Makasih ya, Ka."A

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Momen Canggung

    Kepulangan keluarga kecil itu ke kediaman utama Arka Malik di kawasan Jakarta Selatan diliputi oleh suasana yang canggung dan serba salah. Rumah megah berarsitektur modern itu masih berdiri kokoh seperti dulu, namun kehangatan di dalamnya seolah perlu dihidupkan kembali dari awal.Arka tidak serta-merta bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Pria itu sadar betul betapa besar luka dan rasa kecewa yang pernah ia tancapkan di hati Gisel. Oleh karena itu, sejak hari pertama mereka melangkah masuk ke rumah, Arka memilih untuk tahu diri. Ia tidak langsung tidur di kamar utama bersama Gisel, melainkan menata diri untuk tidur di sofa kamar atau kamar tamu sebelah.Fokus Arka kini sepenuhnya tercurah untuk menebus dosanya. Setiap pagi, sebelum Gisel bangun, Arka sudah lebih dulu menyiapkan keperluan Rania untuk sekolah. Pria yang dulunya selalu dilayani itu kini belajar memandikan Rania, menyisir rambut putri sulungnya dengan kaku namun telaten, hingga menyiapkan sarapan sederhana di me

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Akhir Kisah Adrian

    Sebenarnya, hidup mereka dapat berjalan sempurna jika saja tidak diselingi oleh konflik batin Arka hingga memicu keputusan perpisahan yang konyol. Seharusnya mereka dapat melewati setiap momen berharga dan membesarkan anak-anak dengan penuh kebahagiaan.Namun, waktu terus berjalan. Seperti halnya roda kehidupan manusia pada umumnya, Gisel dan Adrian harus melewati masa naik dan turun yang teramat terjal.Dari masa-masa sulit tersebut, sebuah kesadaran menghampiri sanubari mereka. Terkadang kehidupan sengaja membiarkan manusia mengacaukan segalanya. Sebab melalui kegagalan, kesedihan, dan rasa patah hati itulah, manusia baru dapat memahami arti penderitaan yang sesungguhnya. Tanpa rasa sakit itu, manusia tidak akan pernah mampu menghargai setiap helaan napas, gelak tawa, dan kebersamaan dengan orang-orang tersayang.Hari terus berganti di Kota Zurich, namun kondisi fisik Adrian kian hari kian tidak memungkinkan. Kerusakan organ akibat penyebaran sel kanker membuat daya penglihatan dan

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Surat Adrian

    "Ka, kalau kamu baca surat ini, itu artinya aku udah gak ada lagi di dunia ini. Dan itu artinya, kamu harus berhenti jadi pria bodoh yang melarikan diri sendiri dalam rasa bersalah."Gisel menggigit bibir bawahnya erat-erat. Suara napas Adrian yang tersendat-sendat terdengar begitu menyayat hati saat melanjutkan diktenya."Kamu pikir kamu pahlawan, Ka? Kamu pikir dengan kamu kabur dan 'menyerahkan' Gisel ke aku, kamu udah bikin semua orang bahagia?”“Kamu salah besar, Arka. Kamu cuma pengecut yang lari dari kenyataan. Kamu ninggalin Gisel dalam keadaan hamil tua tanpa kamu tahu betapa hancurnya dia merawatku dalam penderitaan."Gisel meneteskan air mata tepat di atas kertas, membuat tinta hitam itu sedikit meluber. Namun ia tetap memaksakan jemarinya menari m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status