Share

Hari Pertama

Author: MJoy Ganteng
last update publish date: 2026-07-07 07:12:09

“Siapa kamu, hah?! Berani-beraninya kamu masuk menerobos ke dalam unit pribadi saya! Nggak ketuk pintu pula?!"

Arka buru-buru menundukkan kepalanya, membungkuk sopan berkali-kali ke arah Adrian sembari memasang senyum ramah yang kelewat lebar, syarat akan sebuah topeng sempurna yang sengaja dipasang demi mengamankan posisinya di rumah itu.

"Aduh, maaf seribu maaf, Tuan. Kenalin, nama saya Arka. Saya ini sopir pribadi yang baru saja disewa dan mulai dipekerjakan Nyonya Gisel. Ini hari pertama saya, Tuan." 

“Berani sumpah. Saya tadi baru mau ngetuk pintu buat laporan tugas pertama saya hari ini, Tuan, tapi sialnya kaki saya malah nggak bisa diajak kompromi dan terpeleset duluan."

Mendengar kata 'sopir baru', Adrian seketika mengalihkan pandangan matanya yang tajam ke arah Gisel, menuntut penjelasan langsung dari istrinya dengan raut wajah yang tidak suka. 

"Sopir baru? Gisel, apa-apaan lagi ini?! Kamu berani menyewa seorang sopir buluk dan nggak jelas asal-usulnya begini tanpa minta persetujuan dari saya dulu?!"

Gisel yang pergelangan tangannya baru saja terbebas dari siksaan Adrian, buru-buru mengusap sisa air mata di pipinya menggunakan ujung jari yang gemetar. 

Kehadiran Arka yang tiba-tiba, meskipun datang lewat sebuah aksi kocak bin ceroboh yang hampir membuatnya terjatuh tadi, secara tidak langsung telah menyelamatkan dirinya dari amukan fisik Adrian yang lebih parah. 

Sebagai wanita yang cerdas, Gisel langsung menangkap umpan situasi yang dengan sengaja dilemparkan oleh Arka untuk menjaga image dan meredam ketegangan di depan suaminya.

"I-iya, Adrian. Dia memang Arka, sopir baruku yang mulai kerja hari ini," jawab Gisel dengan suara yang diusahakan se-tenang dan se-berwibawa mungkin, meskipun sisa napasnya masih agak memburu akibat ketakutan beberapa menit yang lalu.

"Mobilisasi kerjaku di kantor Valerie Mode pusat belakangan ini makin padat dan lelah banget karena urusan laporan keuangan bulanan kita. Lagipula, Papa juga yang menyarankan minggu lalu agar aku segera mencari sopir pribadi sendiri supaya aku tidak kelelahan atau pingsan lagi di jalanan kalau menyetir sendirian."

“Papa bilang, Mang Ujang mendadak stroke dan nggak bisa kerja lagi. aku minta maaf karena lupa bilang ke kamu.”

Mendengar nama sang ayah mertua—pemilik asli dari perusahaan Valerie Mode sekaligus sosok yang memegang penuh kendali atas modal dan posisi jabatannya saat ini disebut oleh Gisel, nyali Adrian yang tadinya berkobar-kobar mendadak agak menyusut drastis. 

Amarahnya yang meluap-luap seolah membentur dinding besar bernama kekuasaan sang mertua. Dia mendengus kasar, membetulkan letak kerah jas necisnya yang sempat agak kusut karena emosi, lalu menatap Arka dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan mata yang sangat meremehkan dan penuh rasa jijik.

"Oh, jadi dia sopir suruhan papa kamu? Baguslah kalau begitu. Ya udah, urus majikanmu ini benar-benar. Aku nggak punya waktu kenalan sama sopir bulukan kayak kamu!" ketus Adrian dengan nada meremehkan yang kentara. 

Dia melangkah dengan sepatu yang dihentakkan, berjalan melewati Arka yang masih setia berdiri membungkuk dengan sopan di dekat daun pintu.

Tepat sebelum benar-benar melangkah keluar dari ambang pintu apartemen, Adrian sempat sengaja menyenggol bahu tegap Arka dengan cukup keras menggunakan bahunya sendiri, sebuah gestur kekanak-kanakan yang bermaksud untuk menunjukkan kekuasaan dan kasta sosialnya sebagai seorang majikan kaya raya di depan seorang pekerja kasar.

Arka hanya diam bergeming, membiarkan tubuh tegapnya sedikit bergeser ke samping demi memberikan jalan yang lapang pada pria berjas itu. 

Namun, tepat saat punggung Adrian sudah sepenuhnya berbalik membelakanginya dan berjalan lurus menuju ke arah lift di koridor luar, senyum ramah yang kelewat lebar serta tampang polos kikuk di wajah Arka seketika lenyap tanpa bekas, menguap bersama angin siang. 

Sepasang mata tajam milik mantan penguasa jalanan itu berubah menjadi setajam elang yang sedang mengintai mangsa, mengunci punggung Adrian dengan tatapan dingin dan menusuk yang sarat akan kalkulasi matang yang mematikan.

‘Modelan mokondo doang, gayanya hampir kepentok langit. Nggak malu banget!’ batin Arka dalam hati, diiringi dengan sebuah senyuman tipis yang sangat miring di sudut bibir tegasnya.

Begitu terdengar suara dentingan khas yang menandakan pintu lift di luar koridor telah tertutup rapat membawa Adrian pergi, Arka langsung membalikkan tubuhnya. Dia menutup pintu apartemen itu dengan perlahan, lalu menguncinya dari dalam demi memastikan privasi mereka aman. 

Arka menatap Gisel yang kini sudah terduduk lemas di atas sofa, menyembunyikan seluruh wajah pucatnya di balik kedua telapak tangannya yang gemetar hebat. Isak tangis tanpa suara mulai terdengar memenuhi ruangan mewah yang kini terasa kosong itu.

Langkah kaki Arka yang tadinya sengaja dibuat kikuk dan ceroboh demi sandiwara di depan Adrian, kini dalam sekejap kembali berubah menjadi langkah yang tegap, tenang, dan berwibawa layaknya seorang pria dewasa yang siap menjadi tameng pelindung. 

Dia berjalan mendekati sofa, menghentikan langkahnya dalam jarak yang sopan di depan wanita yang kini menjadi bos barunya tersebut.

Arka tidak langsung berbicara. Dia memilih untuk mengulurkan tangannya ke atas meja kaca, mengambil selembar tisu bersih, lalu menyodorkannya ke depan Gisel dengan gerakan yang sangat lembut. 

"Ini, Nyonya. Usap dulu air matanya. Sayang banget air matanya dibuang-buang buat suami yang nggak tau cara menghargai istri—ops maaf salah ngomong, Nyonya." 

Gisel perlahan mendongakkan kepalanya, membuka telapak tangannya dan menatap tisu yang disodorkan Arka, lalu beralih menatap wajah tegap pria itu, “Kamu dengar semuanya?" 

Pertanyaan Gisel hanya mendapat anggukan ragu nan singkat dari Arka. Meski begitu, ada rasa hangat dan aman yang mendadak menyusup ke dalam hatinya yang sedang hancur lebur saat melihat sepasang mata Arka yang menatapnya dengan ketulusan penuh tanpa ada niat terselubung. 

Gisel menerima tisu itu dengan tangan gemetar, "Terima kasih, Arka... dan maaf kamu harus lihat kekacauan rumah tanggaku di hari pertama kamu kerja," bisik Gisel parau setelah menyeka sisa air mata di pipinya yang masih terasa agak panas akibat tamparan Adrian tadi.

Arka memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana, lalu menggelengkan kepala pelan dengan senyum miring khasnya yang menenangkan. "Nggak perlu minta maaf, Nyonya. Di jalanan, saya udah biasa lihat yang begituan. Mau orang kaya atau miskin, di mana-mana pasti ada yang begitu." 

“Tapi, saya cuma bisa bantu sebatasnya. Toh, ini hari pertama saya kerja. Saya belum kenal Tuan lebih banyak. Kalau saya nyerang Tuan, bisa-bisa saya kelepasan nggak mau berhenti." 

Gisel tertegun, sebuah senyuman tipis yang sangat samar akhirnya terukir di bibirnya yang pucat mendengar analogi dari Arka. 

Untuk pertama kalinya setelah malam yang mengerikan dan siang yang melelahkan ini, Gisel merasakan beban di pundaknya sedikit terangkat, menyadari bahwa keputusan ekstrem yang dia ambil semalam untuk menyewa mantan preman jalanan ini sebagai pengawal pribadinya mungkin adalah keputusan terbaik yang pernah dia buat dalam hidupnya.

Gisel menghela napas panjang, mencoba meredakan sisa gemetar di badannya. "Kamu benar, Arka. Terima kasih sudah berpikiran sedewasa itu untuk nggak langsung mengandalkan otot."

​Arka tidak langsung menyahut. Dia justru melangkah satu kali lagi ke depan, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulinnya yang bercampur wangi flanel bersih perlahan menyelimuti indra penciuman Gisel. 

Pria tegap itu menundukkan sedikit tubuhnya, mensejajarkan wajahnya dengan Gisel hingga wanita itu bisa merasakan embusan napas hangat Arka di kulit pipinya yang masih memerah bekas tamparan.

​Dengan seulas senyum miring yang mendadak berubah menjadi sangat intens, Arka berbisik rendah, "Tapi kalau nanti Nyonya sudah benar-benar bosan jadi istri yang penurut, panggil saya. Jangankan salam cak lima jari... untuk meremukkan tulang laki-laki tadi pun, saya sangat bersedia."

​Gisel seketika membeku di tempatnya duduk. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, bukan lagi karena ketakutan akibat amukan Adrian, melainkan karena aura dominasi maskulin dari mantan preman di depannya ini begitu kuat mengintimidasi pertahanannya.

​Sebelum Gisel sempat menutupi salah tingkahnya, Arka sudah lebih dulu menegakkan tubuh dengan santai, kembali memasang tampang lempengnya.

​"Jadi, Nyonya Gisel... sebagai tugas pertama di hari pertama saya kerja, kita mau ke mana siang ini?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Pelukan Terakhir

    "Gisel, kamu gak apa-apa? Apa yang kamu rasain sekarang, Sayang? Bagian mana yang sakit?"Arka langsung menyambar jemari Gisel dengan panik begitu melangkah mendekati brankar. Matanya tak lepas menatap bulir-bulir bening yang terus mengalir dari sudut mata istrinya, membasahi bantal tempat kepala Gisel bersandar.‘Arka, aku hamil... Aku sedang mengandung anakmu. Rasanya sekarang aku ingin melompat dari ranjang ini, memelukmu seerat mungkin, dan menangis sekuat tenaga buat meluapkan rasa syukurku.’‘Tapi semua itu gak mungkin lagi, Arka. Kamu yang sudah membawa hubungan kita sampai ke titik kritis ini. Kita gak bakal pernah bisa kembali seperti dulu…’Gisel hanya bisa menatap Arka dalam diam, membiarkan rahasia itu mengendap di balik rapatnya bibirnya.‘Ada Adrian dan Clarissa di tengah-tengah kita sekarang. Kita berdua gak mungkin menutup mata dan mengabaikan mereka cuma demi mempertahankan keegoisan hubungan kita…’‘Jadi gimana caranya aku memberitahu anak ini kalau kamu adalah ayahn

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Racun Kebencian Dan Kabar Kehamilan

    Clarissa hanya bisa mematung di atas brankar, terperangah mendengar kata-kata cerai yang meluncur tanpa ragu dari bibir Arka. Lidahnya mendadak kelu. Tidak ada satu patah kata pun yang sanggup ia rakit untuk membalas ketegasan Arka. Meski dalam hatinya ia ingin sekali berteriak dan menolak, yang keluar dari tenggorokannya hanyalah bisikan terbata."A-Arka... Aku gak mau—""Mau kamu setuju atau enggak, kamu udah gak bisa berbuat apa-apa lagi!" potong Arka tajam."Pernikahan siri kita itu dari awal cuma perjanjian di atas kertas! Bahkan petugas yang kamu bayar kemarin gak berani kasih stempel resmi negara. Coba kamu ingat lagi gimana liciknya kamu menjebak cowok yang udah punya istri!" “Aku menikah sama Gisel secara sah di mata hukum dan agama. Langkah kita kemarin itu murni kesalahan besar karena tanpa izin istri sahku!"Arka menarik napas dalam, membuang muka dengan tatapan jijik. "Tapi aku udah gak mau mengingat hari sial itu lagi. Baru saja aku terbebas dari ikatan palsu kamu, dan

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Talak

    "Cewek segila apa kamu sampai mabuk separah itu?" gumam Arka pelan sembari duduk di kursi sebelah brankar Clarissa. "Aku memang bodoh banget ya, bisa-bisanya tertipu sampai sebegininya... Jangankan tega sama orang lain, anak sendiri—yang bahkan gak pernah ada—berani kamu pakai buat membohongi aku."Arka tersenyum miris, meratapi betapa bodohnya ia selama ini."Clarissa... Clarissa... Memangnya salah apa sih aku sama kamu? Sampai kamu tega datang ke hidupku dan Gisel, lalu menghancurkan segalanya?" cetus Arka pelan, matanya menatap dingin wajah Clarissa yang masih terpejam.Dada Arka terasa amat sesak. Ia benar-benar lelah. Ditipu sedemikian rupa oleh perempuan yang baru dikenalnya, hingga rumah tangga bahagianya bersama Gisel hancur berkeping-keping.

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Kebohongan Yang Terbongkar

    "Clarissa! Kamu di mana?! Aku sudah di depan bar yang kamu bilang!" celetuk Arka dengan suara meninggi begitu sambungan telepon terhubung.Sejak pagi, kepalanya serasa mau pecah. Ulah Clarissa di rumah Tuan Vale benar-benar menghancurkan hidupnya. Kepercayaan keluarga Gisel padanya pupus seketika, meninggalkan rasa kecewa yang amat mendalam dari orang-orang terdekatnya.Sepanjang hari, Arka menyusuri kota demi mencari keberadaan Clarissa. Ia berniat menuntut pertanggungjawaban atas tindakan nekat perempuan itu yang tega mempermalukan dan membuat Tuan Vale tumbang. Terlepas dari klaim Clarissa yang katanya sedang mengandung anak Arka, kali ini Arka tidak akan mau mengalah lagi.Namun langit sudah beranjak gelap saat Clarissa tiba-tiba meneleponnya dengan nada sengau, menyuruh Arka datang menjemputnya di sebuah bar.Dengan langkah lebar dan raut wajah tegang, Arka menerobos masuk ke dalam tempat hiburan malam yang bising itu. Langkahnya terhenti seketika, matanya terbelalak menatap soso

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Melepasmu Dari Hidupku

    "Bersama dengan siapa? Bergandengan tangan? Berpelukan? Bermain gila? Sama siapa, hah?!" tanya Gisel dengan wajah mengintimidasi Clarissa. "Kamu bilang aku bermain gila sama suami teman kamu? Siapa? Mila?!" sambungnya menyudutkan."Jangan pura-pura bodoh dan gak tahu apa-apa. Gak mungkin kamu gak tahu apa yang Mila lakukan sama laki-laki yang kamu sebut suaminya itu. Perempuan itu yang dulunya menghancurkan rumah tanggaku sampai aku sama Adrian bercerai!""Kalau saja yang datang ke sini bukan kamu tapi dia, mungkin aku gak bakal segan menghancurkan dan membalas apa yang sudah dia lakukan sama Adrian!""Pergi sebelum aku lepas kendali sama kamu!" peringatan terakhir diucapkan Gisel pada Clarissa yang tak sanggup menyangkal lagi.Gisel lalu menoleh pada Arka di belakangnya. "Bawa istri kamu pergi sebelum terjadi apa-apa sama papaku!""Gak. Aku gak bakal pergi sebelum kamu menarik ucapan kamu!" Arka menolak seketika. "Apa itu? Surat cerai kamu bilang?" sambungnya sambil menunjuk map coke

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Tamparan Keras

    Pagi yang seharusnya menjadi awal semangat baru bagi setiap orang, kini menjadi pagi yang sesak karena kehadiran Clarissa. Perempuan yang mengaku sedang mengandung itu kini sudah berdiri di hadapan Tuan Vale untuk mengacaukan segalanya.Tuan Vale menghela napas berat, mencoba menjaga ketenangannya setelah mendengar kalimat dari Clarissa yang datang tiba-tiba lalu mengutarakan hal yang sangat tidak pantas didengar."Sebelum kita bicara lebih jauh, bisa tolong ralat ucapan Anda yang bilang kalau Anda adalah istrinya Arka? Istrinya Arka itu putri saya, Gisel. Arka tidak punya istri lain selain anak saya," ucap Tuan Vale tegas namun tetap dengan nada santai dan sopan."Gisel memang istri sah Arka, Tuan. Tapi saya juga istrinya. Kami melakukan perjanjian pernikahan di Lampung sekitar sebulan lalu," jawab Clarissa dengan nada tenang. Namun ucapannya itu sukses membuat Tuan Vale mengelus dada. "Kalau tidak percaya, saya ada buktinya. Tuan ingin lihat?"Clarissa merogoh tas kecil di pangkuann

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status