Share

Tidak Rela

Author: Black Jack
last update publish date: 2026-08-23 21:28:27

Darah Tarjo seakan berhenti mengalir mendengar suara ketukan dan panggilan itu. Wajahnya pucat pasi, seketika diselimuti kepanikan yang teramat sangat. Di sisinya, Sumini tak kalah terkejut; mata wanita itu membelalak lebar, mengusir sisa-sisa mabuk kepayang yang tadinya melenyapkan akal sehat mereka.

Tanpa buang waktu, dalam keheningan yang tegang, keduanya buru-buru melepaskan penyatuan tubuh mereka. Gerakan mereka cepat, senyap, dan penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan bunyi sekecil ap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Membawa Wanita Itu Ke Rumah

    Tarjo segera berjongkok di dekat wanita itu. Kedua tangannya dengan cekatan melepas simpul tali yang mengikat kedua tangan wanita itu di belakang punggung. Setelah tangan bebas, ia beralih ke ikatan kaki, lalu terakhir melepas kain yang menyumpal mulutnya dengan hati-hati agar tak melukai.Wanita berumur sekitar 40-an tahun itu langsung terbatuk-batuk begitu sumpalan kain terlepas, dadanya naik-turun menghirup udara malam dengan rakus. Wajahnya masih pucat, matanya sembab dan berkaca-kaca, namun ada kelegaan yang tampak jelas di sana, bercampur dengan sisa-sisa ketakutan yang belum sepenuhnya reda.Dari balutan baju mahal yang tampak kusut dan sedikit robek di beberapa bagian, dari perhiasan emas yang masih melingkar di jari dan pergelangan tangannya, juga dari potongan rambut yang rapi khas salon mahal, Tarjo bisa menebak; wanita itu bukan orang sembarangan, jelas dari kalangan berada."Tenang... saya tidak punya niat jahat..." kata Tarjo, sedikit bingung harus berkata apa lagi untuk

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Kejadian Di Jembatan

    Malam itu juga, tanpa menunda waktu, Tarjo segera bangkit dari ranjangnya. Ia mengenakan celana panjang dan jaketnya, lalu bergegas mengeluarkan motornya dari dalam rumah. Tarjo menyalakannya dan segera melaju menuju ke jembatan itu.Udara malam terasa dingin menusuk kulit ketika ia melajukan motornya menembus kegelapan jalan desa yang sepi, menuju arah jalan provinsi yang memisahkan wilayah kecamatannya dengan kecamatan sebelah. Hanya sekitar sepuluh menit berkendara, Tarjo sudah sampai di kawasan Jembatan Merah; jembatan besar yang membentang di atas sungai lebar, dinamai demikian karena warna catnya yang memang merah menyala, meski kini sudah mulai pudar dan berkarat di beberapa bagian.Tarjo memilih berhenti di area sepi sebelum naik ke jembatan, menepikan motornya ke sisi jalan, lalu menuntunnya turun dari aspal menuju rerumputan di bawah sebatang pohon besar yang rindang, cukup gelap untuk menyembunyikan keberadaannya dari siapa pun yang melintas.Ia mematikan mesin motor, lalu

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Hadiah Uang Untuk Renovasi Atap

    Tarjo melajukan motornya dengan kecepatan sedang menyusuri jalan setapak menuju rumahnya, malam semakin larut dan jalanan desa sudah sepi tanpa satu pun orang berlalu-lalang. Namun di balik ketenangan itu, ada rasa deg-degan yang terus mengganjal dadanya; bayangan jika ada tetangga yang kebetulan melihatnya keluar dari rumah Bu Intan selarut ini, tentu akan menimbulkan pertanyaan dan gosip yang tak diinginkan, apalagi status Bu Intan yang masih bersuami.Ia terus menoleh sesekali ke kanan-kiri, memastikan tak ada sosok yang mengintip dari balik jendela rumah-rumah yang dilewatinya. Untunglah, sepanjang perjalanan pulang, tak satu pun orang yang ia temui, hanya suara jangkrik dan angin malam yang menemani deru motornya.Sesampainya di rumah, Tarjo segera memasukkan motornya ke dalam, menutup dan mengunci pintu rapat-rapat. Ketika ia meraba dinding mencari saklar dan menyalakan lampu, matanya langsung tertumbuk pada sesuatu yang tergeletak di atas meja kayu reyot di ruang tengah; segepo

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Tak Ingin Lekas Berakhir

    Beberapa saat setelah mereka saling diam, akhirnya listrik kembali menyala.Seketika, pijar lampu putih menerangi ruang tengah, memecah gulita yang sejak tadi menyelimuti mereka. Dalam terang yang mendadak itu, Tarjo dan Bu Intan saling tatap untuk pertama kalinya dengan jelas. Pasi bercampur rona merah terang membakar pipi Bu Intan; kulitnya yang mulus tampak berkilat basah oleh peluh yang bercucuran di pelipis dan lehernya.Di balik sisa-sisa kepuasan yang menguar di udara, sebuah bayangan asing mendadak menyusup ke dalam benak Intan; rasa bersalah yang dingin, mencubit pelan sudut hatinya yang paling dalam sebagai seorang istri.Namun, sensasi itu seketika menguap, dikalahkan oleh kejujuran raganya. Ia tak mampu memungkiri; apa yang baru saja ia rasakan bersama pemuda di hadapannya ini jauh melampaui batas imajinasi, bahkan melampaui segala kepuasan yang pernah ia dapatkan dari suaminya selama bertahun-tahun.Posisi mereka belum berubah. Tubuh keduanya masih bertaut erat, seolah ta

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Lepas Dalam Kenikmatan

    Suasana di ruang tengah itu kian memanas, terselimuti kegelapan total yang membuat batas antara kesadaran dan keliaran melebur begitu saja. Sentuhan-sentuhan kecil yang semula penuh keraguan kini telah berubah menjadi gelombang kebutuhan yang mendesak.Didorong oleh rasa penasaran yang bercampur dengan nyala gairah yang kian berkobar, Bu Intan beringsut turun dari pangkuan Tarjo. Tangannya bergerak dengan pasti, meraba pinggang Tarjo hingga akhirnya berhasil melonggarkan dan memelorotkan celana pemuda itu dalam satu gerakan penuh ambisi.Meski pandangannya tertutup oleh kegelapan, indra perabahnya menangkap sebuah realitas yang membuat napasnya semakin memburu. Saat telapak tangannya menyentuh dan menggenggam, ia terkesiap merasakan ukuran milik Tarjo yang begitu padat, besar, dan panjang; jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan. Sensasi itu membuatnya semakin kehilangan kendali atas kewarasannya; ia benar-benar mabuk kepayang oleh gelora yang mendera sekujur tubuhnya."Astaga...

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Mulai Terbakar

    Gelora gairah tak wajar yang menerpa Bu Intan semakin menjadi-jadi, menghantam kesadarannya seolah ia baru saja menenggak cairan perangsang berkadar tinggi. Padahal, tidak ada hal semacam itu yang terjadi, dan ia sama sekali tak mengerti mengapa tubuhnya bereaksi liar di luar nalar.Tentu saja, gelombang hasrat yang tak diundang itu membuatnya merasa diliputi rasa malu yang teramat sangat. Di sebelahnya duduk Tarjo; seorang pemuda baik-baik yang sejak awal sama sekali tidak menunjukkan gelagat kurang ajar ataupun berniat buruk.Sedari tadi, Tarjo hanya duduk dengan sikap tenang dan sopan. Pemuda itu datang dengan niat tulus untuk membantu, dan kini setia menemani di tengah malam gulita akibat mati lampu.‘Aduh... apa karena sudah sebulan lebih aku tidak pernah disentuh suamiku? Tapi kenapa rasanya ini... sungguh tidak masuk akal... begitu menyiksa… aagghhh...’ batin Intan bergejolak hebat.Sungguh, ia merasa amat tersiksa oleh kegelisahan yang membuncah. Di balik balutan kain daster d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status