Share

Gelora Anak Muda

Author: Black Jack
last update publish date: 2026-08-22 16:04:07

Tanpa membuang waktu lagi, Sumini menundukkan wajahnya. Bibirnya yang basah mulai mengecup pangkal rudal Tarjo, lalu perlahan lidahnya yang hangat bermain lincah di sana.

Bagi Tarjo, yang seumur hidupnya belum pernah merasakan sentuhan wanita, sensasi itu datang seperti hantaman petir yang melumpuhkan akal sehatnya. Ia memejamkan mata erat-erat, menggigit bibirnya sendiri, dan mencengkeram erat seprai kasur di bawahnya.

Sumini terus memberikan kesenangan itu dengan cermat dan telaten, seolah ru
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Main Kartu Menegangkan

    Tarjo masih bengong, seolah otaknya belum selesai memproses kalimat yang baru saja dilontarkan Silvi."Lha kok diem aja! Katanya yang kalah harus nurut perintah!" ledek Silvi, bersandar santai di tepi ranjang dengan dagu terangkat dan sudut bibir yang tak bisa menyembunyikan senyum jahilnya."Nyanyi? Saya nggak bisa nyanyi, Bu..." Tarjo meringis, suaranya hampir seperti rengekan."Asal nyanyi saja! Lagu sebisamu... Balonku ada lima atau apa lah...""Astaga..." Tarjo menunduk, mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Telinganya sudah semerah kepiting rebus."Hahaha! Ayo buruan!" Silvi bertepuk tangan kecil, jelas menikmati kekacauan di wajah pemuda itu. Bahunya berguncang dan matanya berkilat geli.Tarjo menarik napas panjang, menghembuskannya pelan, lalu berdiri. Tangannya meraih ujung kaosnya, ragu sejenak, kemudian ia tarik lepas lewat kepala. Kaos itu ia lipat asal dan ia taruh di kursi.Tawa Silvi mendadak mereda.Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, tubuh Tarjo terlihat jela

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Di Hotel

    Tarjo akhirnya sampai di depan Hotel Mawar, sebuah bangunan dua lantai dengan cat krem yang mulai pudar, dan papan nama berwarna merah muda berkelap-kelip di bagian depan. Ia memarkir motornya di area yang disediakan, lalu melangkah masuk ke lobi dengan langkah ragu-ragu, sambil matanya menyapu sekeliling ruangan yang asing baginya; lantai keramik mengkilap, sofa empuk di sudut ruang tunggu, dan meja resepsionis dengan lampu kuning temaram di atasnya."Selamat malam, ada yang bisa dibantu?" sapa seorang petugas resepsionis berseragam rapi, tersenyum ramah melihat Tarjo yang tampak kebingungan berdiri di tengah lobi."E, saya... ada janji sama seseorang di kamar 5C," jawab Tarjo, suaranya sedikit gugup.Petugas itu mengangguk, lalu dengan sopan mengantar Tarjo menuju lorong di lantai dua, berhenti tepat di depan pintu bernomor 5C sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Tarjo sendirian di depan pintu itu.Tarjo menarik napas dalam-dalam, mengetuk pintu dengan tangan yang masih sedikit gem

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Silvi Mau

    Tuuutt...Tuuutt...Tarjo menunggu dengan jantung berdebar kencang, matanya menatap layar ponsel yang masih menampilkan nada sambung tanpa henti. Namun hingga beberapa kali dering berlalu, tak ada satu pun jawaban dari seberang sana.Sesungguhnya, nomor dengan nama "Mas Rendra" yang tersimpan di ponsel Silvi itu bukanlah nomor suaminya. Itu adalah nomor seorang kenalan yang masih memiliki hutang kepadanya, hutang yang sudah berbulan-bulan tak kunjung dibayar. Berkali-kali Silvi mencoba menghubunginya, namun selalu saja tak pernah terangkat; entah sengaja dihindari atau memang orang itu benar-benar sibuk. Maka ketika menyerahkan ponsel itu kepada Tarjo, Silvi sudah cukup yakin panggilan itu pun tak akan pernah terjawab.Sejak awal, itu hanyalah sebuah permainan; cara Silvi menguji seberapa jauh keberanian pemuda di hadapannya ini. Dan ternyata, di luar dugaannya, Tarjo benar-benar nekat menjalankan tantangan itu tanpa ragu sedikit pun. Silvi sendiri tak sepenuhnya paham, apakah pemuda

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Mengajak Silvi Ke Hotel

    Tarjo gemetar. Wajahnya yang tadi memerah kini berubah pucat pasi, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia bisa mendengar detaknya sendiri, dan telinganya terasa panas membara.Rasa tegang yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya setelah mengucapkan kalimat yang menurutnya sendiri terasa seperti kutukan yang baru saja ia lontarkan tanpa bisa ditarik kembali. Jika saja bisa, ia ingin segera menghilang, tenggelam entah ke mana, menjauh dari rasa malu yang begitu menyiksa itu.Silvi terdiam, matanya membelalak tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Keduanya larut dalam keheningan yang terasa begitu panjang, seolah waktu di warung bakso itu berhenti berputar sejenak, hanya menyisakan suara riuh pengunjung lain di sekitar mereka yang sama sekali tak menyadari momen canggung yang tengah terjadi di meja itu."Tadi, kamu bilang apa?" tanya Silvi akhirnya, memastikan pendengarannya tak salah tangkap."E, tidak Bu... maafkan aku. Lu

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Bertemu Silvi Lagi

    Tarjo tak ingin terburu-buru merespon apa yang telah dilakukan Bondan. Meski baru saja menghadapi sepuluh preman bayaran, hatinya tetap tenang, tak ada secuil pun rasa khawatir atau emosi berlebihan yang menggerogoti pikirannya. Ia memilih melanjutkan aktivitasnya membersihkan kebun yang sempat tertunda, mengayunkan parangnya dengan tenang menebas semak-semak liar hingga sore menjelang.Setelah matahari mulai condong ke barat dan udara terasa lebih sejuk, Tarjo kembali ke rumah, membersihkan tubuhnya yang penuh keringat dan debu kebun. Usai mandi, ia duduk santai di teras kecil depan rumahnya, menyeruput segelas kopi hitam yang baru saja ia seduh, menikmati suasana senja yang tenang sebelum nanti mencari makan malam.Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Bisikan yang sudah akrab itu kembali menyusup ke dalam benaknya, kali ini dengan permintaan yang membuat dadanya langsung terasa berat.“Kau harus mencari tumbal lagi. Tidurilah seorang perempuan. Siapa saja, Sumini, atau wanita

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Bondan Kena Getahnya Lagi

    Pukulan pertama yang dilayangkan si pemimpin bertato naga melesat cepat ke arah wajah Tarjo. Namun pukulan itu luput. Dengan sangat cepat, Tarjo menghindar dan melenting ke samping.Tanpa memberi jeda, kesembilan preman lainnya langsung menyerbu serentak dari berbagai arah, sebagian dengan tangan kosong, sebagian lainnya dengan menggunakan senjata tajam; celurit, pisau lipat, bahkan ada yang membawa rantai motor yang diayunkan mengerikan.Namun seperti kejadian sebelumnya, begitu pertarungan dimulai, tubuh Tarjo seolah bergerak di luar kendali kesadarannya sendiri, mengalir lincah bagai air yang tak bisa ditangkap. Setiap pukulan, setiap tebasan senjata tajam, semuanya meleset tipis dari tubuhnya yang terus bergerak; menunduk, mengelak, memutar, melangkah mundur sepersekian detik sebelum kembali menyerang balik dengan sangat telak.Preman pertama yang mencoba menebas dengan celurit, tangannya ditangkap dan dipelintir hingga senjata itu terlepas, disusul satu pukulan telak ke rahang ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status