Share

Bab 2

Author: Runayanti
last update publish date: 2026-09-30 23:57:27

Lucia terdiam sejenak, berusaha mengingat.

Empat tahun yang lalu, setiap kali Lucia pulang terlambat karena pekerjaan, Ethan selalu mengatakan bahwa seorang istri seharusnya lebih banyak berada di rumah.

Ketika Lucia mendapatkan proyek besar dan harus bepergian beberapa hari, Ethan akan menunjukkan wajah tidak senang. Perlahan, tanpa benar-benar menyadarinya, Lucia mulai mengurangi pekerjaannya sampai akhirnya meninggalkan dunia arsitektur yang selama bertahun-tahun menjadi bagian terbesar dalam hidupnya.

“Aku berhenti karena kau bilang kau ingin aku lebih banyak mengurus rumah," sahut Lucia dengan lantang. Air mata sudah sukses membasahi semua pipinya.

“Aku tidak pernah memintamu berhenti bekerja, Lucia! Jangan membuatku menertawakanmu!" Ethan menepuk dada bidang miliknya sendiri lalu melangkah mendekati Delaila.

Lucia menatap tubuh tinggi suaminya yang mendekat dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Pria yang dia kagumi dan hormati sebelumnya, pria tempat dia berbagi rasa cinta dan kehangatan itu sedang menatapnya seolah yang menjadi korban adalah dia.

Dan pria itu benar-benar bisa mengatakan kalimat tersebut dengan wajah setenang itu.

“Aku tidak akan berdebat soal masa lalu,” ujar Ethan akhirnya. “Yang ingin kubicarakan sekarang adalah masalah anak.”

Jantung Lucia berdegup lebih cepat. “Apa hubungannya dengan... anak?”

Ethan tidak menjawab. Tangannya justru menarik sebuah laci di rak dapur, lalu mengeluarkan sebuah botol kecil dan melemparkannya ke arah Lucia.

Ctak!

Botol itu mengenai pipi Lucia sebelum jatuh ke lantai.

Lucia refleks menyentuh wajahnya. Ujung jarinya menemukan sedikit darah dari luka kecil yang ditimbulkan benda tersebut.

Dia membungkuk, meraih botol kecil itu lalu membacanya.

Pil Kontrasepsi.

Lucia mengerutkan kening. “Apa ini?”

“Aku menemukannya di laci kamarmu," sahut Ethan dengan suara dingin.

Lucia menatap botol itu beberapa saat sebelum menggeleng pelan.

“Itu... bukan milikku.”

“Masih mau berbohong?” Ethan membalas tatapannya dengan jijik.

“A-aku tidak pernah menggunakan kontrasepsi.” Suara Lucia terdengar parau, sementara terdengar tawa terkekeh dari Delaila.

“Lalu kenapa benda itu ada di laci kamarmu?” tanya Delaila dengan ekspresi seolah sedang menyindir.

“Aku tidak tahu.” Suara Lucia bergetar pelan.

Ethan tertawa pendek, tetapi tidak ada sedikit pun kehangatan di sana.

“Selama lima tahun, kau terus mengatakan ingin punya anak denganku. Kau selalu bilang kau sedang berusaha menjaga kesehatanmu, tetapi setiap kali kita membicarakan soal anak, selalu ada alasan.”

Lucia menggeleng semakin kuat. “Ethan, aku memang ingin punya anak. Kau tahu itu. Aku tidak...”

“Tidak!” Tatapan Ethan mengeras. “Kau tahu apa yang paling membuatku jijik? Kau membuatku percaya selama bertahun-tahun bahwa kau ingin punya anak denganku!”

Kata-kata itu menghantam Lucia lebih keras daripada botol yang tadi mengenai wajahnya.

Dia menatap Ethan dengan mata yang mulai memerah, tetapi air matanya belum juga jatuh.

Selama ini dia juga bertanya-tanya mengapa dirinya tidak kunjung hamil. Dia sudah memeriksakan diri ke dokter keluarga, bahkan berkali-kali, dan dokter mengatakan tidak ada masalah besar pada tubuhnya. Lucia juga tidak pernah menggunakan pil atau alat kontrasepsi apa pun karena sejak awal dia memang ingin memiliki anak.

Lalu dari mana botol itu berasal?

Dan mengapa Ethan menemukannya di laci dapur?

Lucia terdiam. Dia tidak punya jawaban.

Pria itu lalu menunjuk perut bagian bawah milik Lucia. “Rahimmu saja tidak pernah mengizinkan benihku bertahan lebih dari satu hari, bagaimana aku bisa membuatmu hamil?”

"Tidak, Ethan. Dengarkan aku dulu... Aku sudah periksa ke Dokter Mark, Ethan. Aku periksa rutin selama lima tahun ini dan...” Lucia menyanggah dengan cepat. Kepalanya masih dipenuhi kebingungan atas semua perkataan suaminya itu.

“Dan hasilnya?” sela Ethan dengan cepat.

“Dokter bilang aku tidak mandul!”

Ethan membalas tatapannya, tidak percaya. Tertawa tipis, lalu berkata,  “Ohh... Jadi sekarang, semua salahku?” Ethan menunjuk dadanya sendiri, menatap tajam ke arah Lucia.

Kalimat itu membuat dada Lucia terasa sesak.

Beberapa detik berlalu sampai akhirnya pria itu memutar tubuhnya, lalu membawa Delalila dalam pelukan, mengelus perutnya dengan lembut dan tatapan penuh kasih sayang.

"Anakku sudah ada dalam rahim Delaila. Dan aku benar-benar sudah muak denganmu, Lucia!”

"Ethan...," panggil Delaila dengan suara manja yang khas.

Ethan menggandeng Delaila, lalu mereka berjalan menuju kamar utama  sementara Lucia masih berdiri di tempat.

“Tidak di kamar kita!" pekik Lucia saat tersadar dari lamunannya, lalu berusaha mengejar langkah suaminya dan menarik lengannya.

Langkah Ethan terhenti sejenak saat dia menyahut dengan nada dingin, “Lepaskan! Aku tidak mau menghabiskan malam di rumah bersama perempuan yang bahkan tidak sudi memberikan seorang anak. Kamu kejam, Lucia. Kamu menipuku selama lima tahun!”

Tubuh Lucia terdorong dan membuat dirinya terhempas ke lantai, sementara Ethan melanjutkan langkahnya bersama Delaila sambil berkata, "Ayo, sayang, kita lanjutkan yang belum selesai!"

Blam!

Lucia terdiam ketika pintu itu dibanting Ethan. Pikirannya masih kalut; dari mana Ethan mendapatkan botol kontrasepsi yang ia sendiri tidak tahu?

Rumah yang begitu luas tiba-tiba terasa sangat sepi.

Dia menatap pintu selama beberapa saat. Kemudian menunduk. Tatapannya beralih ke botol kontrasepsi yang masih berada di tangannya..

Lucia membolak-balik botol itu, berusaha mencari informasi apa pun yang bisa ia dapatkan, akan tetapi tidak ada yang aneh. Botol itu, jelas bukan miliknya.

Namun, bagaimana botol ini bisa berada di lacinya? Sementara dia tidak menggaji pembantu dan juga tidak ada tamu yang datang dalam kurun waktu belakangan ini.

Lalu, tiba-tiba saja, pikirannya berkelana mundur, tepat sebelum ia terperangkap dalam situasi yang membingungkan ini.

Lima tahun yang lalu, hidup Lucia sangat berbeda. Dia adalah seorang arsitek dan namanya cukup dikenal di kalangan perusahaan properti karena beberapa desain yang dibuatnya sering berhasil mendapatkan penghargaan internasional.

Deretan gedung tinggi dan supermal adalah proyek besar yang menjadi hasil rancangannya sehari-hari.

Dia pernah menghabiskan malam di kantor hanya demi memperbaiki rancangan tangga yang menurut orang lain tidak ada masalah.

Sekarang?

Lucia tertawa kecil saat menatap kedua telapak tangannya yang kasar. Pantulan dirinya yang ada di cermin hiasan dapur membuat dirinya merasa semakin terpuruk.

Celemek lusuh yang terikat di lehernya dan rambut ikal miliknya yang indah disanggul begitu saja. Penampilannya kumuh dan terlihat seperti seorang babu, jauh berbanding terbalik dari keadaan sebelum dia menikah.

Dia sudah lupa bagaimana saat memakai kemeja putih dengan blazer abu-abu dan rok sebatas lutut yang elegan. Belum lagi sepatu high heels yang akan berdetak seimbang di marmer kantor tempat dia bekerja.

Dia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali membuka laptop untuk mengerjakan desain.

Awalnya Lucia hanya ingin mengurangi pekerjaan dengan hanya menerima beberapa proyek yang ringan untuk dikerjakan di rumah.

Namun, setelah menikah, suaminya berkata bahwa mereka perlu lebih sering menghabiskan waktu bersama dan Lucia tidak boleh terlalu lelah agar mereka bisa lebih cepat memiliki keturunan.

Ethan adalah seorang CEO, penghasilannya tentu saja lebih dari cukup untuk membuat Lucia menjadi seorang ‘Ratu’ dalam rumah tangga mereka.

Lucia menurut tanpa banyak bertanya, kemudian suaminya mulai mengatakan bahwa pekerjaan membuatnya terlalu sibuk.

Lucia memegang bagian bawah perutnya. Rahim yang tak kunjung menghasilkan buah hati, membuat hubungan mereka mulai renggang.

Dengan enggan, Lucia menurut lagi sampai akhirnya dia meninggalkan pekerjaannya. Tidak ada yang memaksanya.

Setidaknya, begitulah yang selama ini dia pikirkan.

Lucia menghela napas panjang, lalu dia berjalan perlahan menuju ke dapur. Baru beberapa langkah, Lucia melihat sesuatu berwarna hitam di lantai.

Segumpalan rambut.

Dia membungkuk lalu mengambilnya. Itu adalah segumpalan rambutnya sendiri.

Lucia menghela napas panjang sekali lagi. Belakangan ini, rambutnya memang sering rontok dan jumlahnya tidak sedikit melainkan banyak sekali dan setiap pagi, dia harus membersihkan bantal. Di kamar mandi pun, rambutnya sering menyangkut di saluran air.

Awalnya dia menganggap itu biasa. Mungkin karena stres dan mungkin karena lelah, atau karena Ethan membiarkan dia mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa bantuan seorang pembantu.

"Supaya tubuhmu lebih aktif bergerak, supaya lebih sehat sehingga kita bisa cepat punya anak," ucap Ethan saat itu.

Belakangan ini, dia memang sering pusing, juga sering mual. Tubuhnya juga terasa lemas meskipun sudah tidur cukup lama. Bahkan beberapa kali jari tangannya terasa dingin dan pucat.

Lucia mengira itu adalah tanda yang akan dialami seorang wanita bila hamil atau menjelang hamil.

Namun, dia selalu pulang dari rumah sakit dengan laporan yang sama dan mengecewakan: rahimnya belum pernah berhasil membentuk sebuah janin.

Lucia memandang tangannya sendiri, kemudian menatap rambut yang berada di telapak tangannya, lalu ke botol kosong yang sedang dipegangnya.

Keningnya perlahan berkerut. Ada sesuatu yang mengganggunya.

Di laci kamar tidurnya memang banyak botol kosong, akan tetapi semua itu adalah obat horman dan beberapa vitamin kesuburan. Tidak ada botol obat seperti yang dia pegang saat ini.

Lucia mencoba mengingat sejak kapan semua ini dimulai. Sejak kapan rambutnya rontok sebanyak itu dan tubuhnya seperti kehilangan tujuh puluh persen tenaganya.

Sekitar empat tahun terakhir!

Lucia tiba-tiba terdiam. Dia teringat sesuatu. Tepatnya sejak dokter keluarga memeriksanya lalu memberikan obat kesuburan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mas, Kamu Pikir Istrimu Bodoh?   Bab 5

    Lucia memutar tubuhnya ke arah berlawanan, bahkan menoleh ke arah lain saat pria itu berjalan melewatinya.Ethan berhenti sebentar, sedikit terganggu dengan sikap Lucia yang terlalu datar. “Jangan mencoba meminta cerai lagi. Ingat siapa dirimu!”Lucia berbalik menatap punggung suaminya sudah mendekati anak tangga.“Kalau kau membuat masalah sekarang, aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan apa pun. Jangan lupa ibumu yang masih ada di rumah sakit dan membutuhkan biaya yang cukup banyak,” sambung Ethan.Ethan menghentikan langkahnya sebelum menapak anak tangga lalu kembali berkata-kata, "dan tentang adikmu yang masih belum berhasil itu, tampaknya dia butuh biaya ekstra untuk lulus kuliah!"Mendengar itu, Lucia mengangkat alisnya lalu berteriak dengan suara tinggi, “apa maksudmu?”Ethan tidak menjawab. Dia sudah mengendong Delaila naik ke tangga, perlahan menuju ke lantai dua.Yang terdengar malah suara Delaila yang manja, "Ethan, kamu baik sekali, aku beruntung mendapat kesempatan hamil

  • Mas, Kamu Pikir Istrimu Bodoh?   Bab 4

    Ethan menurunkan sendoknya pelan, lalu berdehem kecil. “Bagi keluargaku, itu urusan besar. Bagaimana pun posisi Delaila sangat penting saat ini.”“Lalu aku? Aku tidak penting? Ethan! Aku tidak mandul! Mengapa kamu tidak pernah mau mengeluarkan uang dan membawaku mengecek kandungan ke luar negeri agar kita mendapatkan hasil maksimal? Aku tidak ada urusan dengan obat sialan itu, Ethan!” Suara Lucia meninggi. Dirinya benar-benar sudah terbalut dengan amarah."Kau mengatakan seolah-olah perselingkuhanmu adalah hal yang dibenarkan secara hukum!" lanjutnya.Ethan diam sejenak lalu menunjuk ke arah perut Lucia."Lima tahun sudah berlalu dan kamu baru mengatakannya sekarang, sudah terlambat, Lucia! Semua itu hanya alasan dan kamu sedang membenarkan diri! Tapi aku sudah tidak berharap lagi kepada rahim yang kehilangan kemampuannya itu."Lucia tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi karena merasa tidak berharga. “Selama lima tahun aku menjadi istrimu. Aku mengurus rumahmu, mengurus keluargamu, b

  • Mas, Kamu Pikir Istrimu Bodoh?   Bab 3

    Lucia menelan ludah, berpikir sejenak mengenai kemungkinan ada seseorang yang telah memasukkan botol itu atau sesuatu ke dalam laci obatnya untuk menjebaknya.Dan mungkin… Ada seseorang yang tidak ingin dia hamil! Atau ada seseorang yang menjebaknya dan menyebabkan pertengkaran ini terjadi.“Siapa yang …?”"Ada yang tidak beres!" gumam Lucia tiba-tiba. “Jangan-jangan …”Lucia menggenggam botol kosong itu erat-erat. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya sebelum semuanya terlambat.Malam itu, Lucia tidur sendirian di kamar tamu, sisi ranjang di sebelahnya tetap kosong, dingin, bahkan selimutnya masih tertata rapi.Dan dia masih bisa mendengar jelas suara desahan manja dari kamar utama. Dia ingin berlari keluar dari pernikahan yang sudah tidak bisa diselamatkan ini, tetapi dia tidak mau pergi dengan tangan kosong.Tidak atas semua ketidakadilan yang sudah dia terima. Lucia mencoba bertahan, setidaknya sampai besok pagi. Kalaupun dia akan pergi, ada beberapa dokumen y

  • Mas, Kamu Pikir Istrimu Bodoh?   Bab 2

    Lucia terdiam sejenak, berusaha mengingat.Empat tahun yang lalu, setiap kali Lucia pulang terlambat karena pekerjaan, Ethan selalu mengatakan bahwa seorang istri seharusnya lebih banyak berada di rumah.Ketika Lucia mendapatkan proyek besar dan harus bepergian beberapa hari, Ethan akan menunjukkan wajah tidak senang. Perlahan, tanpa benar-benar menyadarinya, Lucia mulai mengurangi pekerjaannya sampai akhirnya meninggalkan dunia arsitektur yang selama bertahun-tahun menjadi bagian terbesar dalam hidupnya.“Aku berhenti karena kau bilang kau ingin aku lebih banyak mengurus rumah," sahut Lucia dengan lantang. Air mata sudah sukses membasahi semua pipinya.“Aku tidak pernah memintamu berhenti bekerja, Lucia! Jangan membuatku menertawakanmu!" Ethan menepuk dada bidang miliknya sendiri lalu melangkah mendekati Delaila.Lucia menatap tubuh tinggi suaminya yang mendekat dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Pria yang dia kagumi dan hormati sebelumnya, pria tempat dia berbagi rasa cinta dan k

  • Mas, Kamu Pikir Istrimu Bodoh?   Bab 1

    “Ah... Ethan... Kamu terlalu... Uhm, jangan, Mas!”"Sssh... diamlah! Kamu yang terlalu ketat!"Langkah Lucia terhenti tepat di depan pintu rumah ketika dua suara itu terdengar samar dari dalam, disusul suara napas yang terdengar tidak biasa. Awalnya Lucia mengira dirinya salah dengar, tetapi ketika suara itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas, tubuhnya seketika menegang.Ethan Fu dan Delaila!Ethan Fu adalah putra tunggal Keluarga Besar Fu sekaligus pemegang saham terbesar PT Platinum Decorindah Internasional. Dan dia adalah suaminya, sementara Delaila adalah sekretaris Ethan, yang sudah bekerja selama lima tahun terakhir."Pelan-pelan, Mas. Kamu uda tahu 'kan. Aku sedang hamil!"Hamil?Lucia membeku saat mendengar satu kata terakhir itu. Dengan tangan yang bergetar hebat, Lucia membuka perlahan pintu ruangan yang ternyata tidak terkunci.Begitu masuk, pandangannya langsung tertuju pada dua sosok yang sedang saling berbagi kenikmatan di atas meja kerja Ethan, dengan hanya diteran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status