LOGINEthan menurunkan sendoknya pelan, lalu berdehem kecil. “Bagi keluargaku, itu urusan besar. Bagaimana pun posisi Delaila sangat penting saat ini.”
“Lalu aku? Aku tidak penting? Ethan! Aku tidak mandul! Mengapa kamu tidak pernah mau mengeluarkan uang dan membawaku mengecek kandungan ke luar negeri agar kita mendapatkan hasil maksimal? Aku tidak ada urusan dengan obat sialan itu, Ethan!” Suara Lucia meninggi. Dirinya benar-benar sudah terbalut dengan amarah.
"Kau mengatakan seolah-olah perselingkuhanmu adalah hal yang dibenarkan secara hukum!" lanjutnya.
Ethan diam sejenak lalu menunjuk ke arah perut Lucia.
"Lima tahun sudah berlalu dan kamu baru mengatakannya sekarang, sudah terlambat, Lucia! Semua itu hanya alasan dan kamu sedang membenarkan diri! Tapi aku sudah tidak berharap lagi kepada rahim yang kehilangan kemampuannya itu."
Lucia tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi karena merasa tidak berharga. “Selama lima tahun aku menjadi istrimu. Aku mengurus rumahmu, mengurus keluargamu, bahkan meninggalkan pekerjaanku karena kamu bilang kita harus fokus punya anak.”
Suaranya mulai bergetar.
“Sekarang kau membawa wanita lain ke rumah ini dan mengatakan dia adalah penyelamat keluarga? Lalu aku harus memanjakannya? Kau gila, Ethan!”
Ethan menoleh ke arah Lucia lalu menyipitkan kedua matanya. “Jangan membesar-besarkan masalah, Lucia. Bukankah kamu masih diizinkan tinggal di sini?”
“Masalah? Diizinkan tinggal?” sahut Lucia dengan cepat. Lucia menoleh ke arah Delaila kemudian kembali menatap Ethan.
“Dia hamil dengan suamiku, dan kau membawanya ke rumahku lalu kamu mengatakan aku yang membawa masalah? Logikamu cacat, Ethan!”
“Ini adalah rumahku, Lucia” sanggah Ethan dengan cepat.
Lucia terdiam.
Benar. Rumah ini memang milik Ethan.
Namun selama lima tahun terakhir, Lucia yang mengurus semuanya. Rumah yang kosong, namun isinya dibeli oleh Lucia dengan menggunakan hampir seluruh isi tabungannya.
Semua perabot di dalamnya yang super mewah dan tentu saja menguras uang dalam jumlah banyak. Lucia sendiri yang mendekorasi rumah besar itu dengan mewah dengan keahliannya dalam arsitektur.
Dia sudah memberikan semua tenaganya, waktunya dan juga uang tabungannya.
Setiap sudut rumah ini dia rawat sendiri. Setiap makan malam yang tidak pernah disentuh juga dia masak sendiri. Setiap pakaian suami yang dia cuci sendiri dengan tangan. Setiap kebutuhan keluarga Ethan yang dia urus.
Sekarang seorang wanita lain datang dan mengambil tempatnya begitu saja.
“Kalau begitu...” Suara Lucia bergetar. dia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. “Kita cerai!”
Ethan menatap tajam ke arah Lucia, akan tetapi dia tidak mengatakan apa pun.
“Aku akan mengizinkan Delaila-mu untuk tinggal di sini dan biarkan dia memanjakan dirinya sendiri dengan semua pekerjaan yang kamu banggakan sebagai seorang istri!” Lucia membuka salah satu laci dapur lalu mengeluarkan celemek, kemudian melemparkannya ke arah Delaila.
"I'm done!" imbuhnya sebagai penutup kata. "Silakan menjadi babu di rumah ini!"
Ethan langsung menatapnya, tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. “Apa?”
“Aku mau cerai!” ulang Lucia dengan tegas.
Ekpresi Ethan langsung berubah. “Tidak!"
Lucia mengerutkan kening. Membalas tatapan kedua insan yang tidak merasa bersalah itu.
“Tidak ada perceraian!” ucap Ethan dengan nada tegas.
“Ada! Dan aku akan mengajukannya hari ini juga. Aku keluar!” Lucia membalas cepat, menatapnya dengan tegas.
“Ingat citra keluarga Fu!” Ethan mengucapkan kata-kata itu begitu saja, seolah-olah perasaan Lucia tidak penting.
“Keluarga Fu tidak boleh punya skandal seperti ini. Apalagi sekarang perusahaan sedang menyiapkan kerja sama besar untuk membangun Super Mall di Bandung. Kamu jangan mencari masalah, Lucia!”
Lucia menatapnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan pria yang selama lima tahun menjadi suaminya itu.
“Jadi aku harus tetap menjadi istrimu hanya supaya perusahaanmu terlihat baik? Atau melindungi citra keluarga Fu yang kamu banggakan dengan membenarkan perselingkuhan?” tanya Lucia, masih tidak bisa mempercayai semua yang dikatakan oleh Ethan.
"Lalu tinggal bersama dan menjadi pengasuh untuk perempuan yang hamil anak haram ini?"
Delaila merengut manja sambil mengeluh, "Ethan!”
“Kok kejam sekali, dia bilang ini anak haram?"
Lucia tertawa kecil, "apa yang bukan anak haram? Bukankah status kalian belum resmi? Secara hukum atau pun agama?"
Ethan menarik napas dalam-dalam seolah sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri. Apa yang dikatakan Lucia memang telak menampar kedua insan itu.
“Kamu tinggal di sini, setidaknya sampai anak ini lahir dan aku akan mengumumkan semuanya dengan resmi, termasuk status Delaila,” sahut Ethan Fu dengan tatapan tajam ke arah Lucia.
Lucia tertawa mendengar kalimat itu. “Ohw? Setelah itu? Aku dibuang begitu saja?”
“Kita lihat nanti," sahut Ethan tanpa perasaan bersalah. Pria itu mengelus perut rata milik Delaila, seolah sedang berusaha menekan emosi dalam dirinya dengan menunjukkan kasih sayang kepada makhluk kecil di dalam perut yang hangat itu.
Lucia kembali tertawa kecil. Matanya mulai terasa panas, tetapi dia tidak membiarkan air matanya jatuh.
“Ethan, kau pikir aku masih ingin tinggal di rumah ini sementara kau tinggal bersama wanita lain?" Lucia berdecak, "Mas, kamu pikir istrimu bodoh?”
“Mas Ethan, aku pergi saja, dhe. Kakak ipar tidak akan suka padaku,” sambung Delaila dengan cepat, dengan wajah sungkan dan merasa serba salah atas pertengkaran di hadapannya ini.
“Nggak apa-apa, Delaila Sayang.” Ethan berusaha menenangkan Delalia yang terlihat gelisah atau sengaja dibuat-buat supaya tampak canggung di mata pria itu.
Lalu Ethan menoleh kembali ke arah Lucia dan tatapannya kembali dingin, “Delaila sedang hamil. Dia membutuhkan tempat yang tenang. Kamu terlalu ribut, Lucia. Pergilah, sarapan di luar saja hari ini!”
Lucia melipat tangannya di bawah dada, “Lalu aku tidak?”
Tiba-tiba, Delaila memegang pelipisnya sendiri lalu berkata, "Aiya, Ethan. Aku merasa lelah dan tidak tahan duduk lama. Kandunganku tidak begitu kuat."
"Dokter Mark bilang, aku enggak boleh capek, Sayang. Bagaimana bila kamu mengantarku pulang saja? Kayaknya Kakak Ipar kurang suka melihat keberadaanku."
Dokter Mark? Lucia terkejut karena yang menangani mereka ternyata adalah dokter yang sama.
"Mari kita ke kamar saja, aku akan menggendongmu, Sayang," ucap Ethan, lalu dengan cepat membawa Delaila dalam gendongan ala bridal style, melangkah menuju ke arah tangga.
Sambil menggendong Delaila, Ethan menoleh ke arah Lucia, “Kau sudah dewasa.” Kalimat terakhir itu membuat Lucia terdiam. Ada rasa sakit yang perlahan menjalar dari dadanya. Akan tetapi, anehnya, kali ini dia tidak ingin menangis. Dia justru merasa sangat tenang.
Sebelah tangan Ethan menarik koper Delaila yang entah sejak kapan ada di sana. Koper yang menandakan bahwa kedatangan Delaila sudah dipersiapkan.
Sementara kedua tangan Delaila merangkul erat leher Ethan agar tidak jatuh.
“Delaila akan tinggal di kamar utama kita di lantai dua. Delaila tidak boleh naik turun, kamu pindah saja ke kamar lantai tiga kalau tidak tahan mendengar suara, aku harus sering memberikannya kasih sayang dan kehangatan,” ucap Ethan sambil berlalu pergi.
Lucia memutar tubuhnya ke arah berlawanan, bahkan menoleh ke arah lain saat pria itu berjalan melewatinya.Ethan berhenti sebentar, sedikit terganggu dengan sikap Lucia yang terlalu datar. “Jangan mencoba meminta cerai lagi. Ingat siapa dirimu!”Lucia berbalik menatap punggung suaminya sudah mendekati anak tangga.“Kalau kau membuat masalah sekarang, aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan apa pun. Jangan lupa ibumu yang masih ada di rumah sakit dan membutuhkan biaya yang cukup banyak,” sambung Ethan.Ethan menghentikan langkahnya sebelum menapak anak tangga lalu kembali berkata-kata, "dan tentang adikmu yang masih belum berhasil itu, tampaknya dia butuh biaya ekstra untuk lulus kuliah!"Mendengar itu, Lucia mengangkat alisnya lalu berteriak dengan suara tinggi, “apa maksudmu?”Ethan tidak menjawab. Dia sudah mengendong Delaila naik ke tangga, perlahan menuju ke lantai dua.Yang terdengar malah suara Delaila yang manja, "Ethan, kamu baik sekali, aku beruntung mendapat kesempatan hamil
Ethan menurunkan sendoknya pelan, lalu berdehem kecil. “Bagi keluargaku, itu urusan besar. Bagaimana pun posisi Delaila sangat penting saat ini.”“Lalu aku? Aku tidak penting? Ethan! Aku tidak mandul! Mengapa kamu tidak pernah mau mengeluarkan uang dan membawaku mengecek kandungan ke luar negeri agar kita mendapatkan hasil maksimal? Aku tidak ada urusan dengan obat sialan itu, Ethan!” Suara Lucia meninggi. Dirinya benar-benar sudah terbalut dengan amarah."Kau mengatakan seolah-olah perselingkuhanmu adalah hal yang dibenarkan secara hukum!" lanjutnya.Ethan diam sejenak lalu menunjuk ke arah perut Lucia."Lima tahun sudah berlalu dan kamu baru mengatakannya sekarang, sudah terlambat, Lucia! Semua itu hanya alasan dan kamu sedang membenarkan diri! Tapi aku sudah tidak berharap lagi kepada rahim yang kehilangan kemampuannya itu."Lucia tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi karena merasa tidak berharga. “Selama lima tahun aku menjadi istrimu. Aku mengurus rumahmu, mengurus keluargamu, b
Lucia menelan ludah, berpikir sejenak mengenai kemungkinan ada seseorang yang telah memasukkan botol itu atau sesuatu ke dalam laci obatnya untuk menjebaknya.Dan mungkin… Ada seseorang yang tidak ingin dia hamil! Atau ada seseorang yang menjebaknya dan menyebabkan pertengkaran ini terjadi.“Siapa yang …?”"Ada yang tidak beres!" gumam Lucia tiba-tiba. “Jangan-jangan …”Lucia menggenggam botol kosong itu erat-erat. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya sebelum semuanya terlambat.Malam itu, Lucia tidur sendirian di kamar tamu, sisi ranjang di sebelahnya tetap kosong, dingin, bahkan selimutnya masih tertata rapi.Dan dia masih bisa mendengar jelas suara desahan manja dari kamar utama. Dia ingin berlari keluar dari pernikahan yang sudah tidak bisa diselamatkan ini, tetapi dia tidak mau pergi dengan tangan kosong.Tidak atas semua ketidakadilan yang sudah dia terima. Lucia mencoba bertahan, setidaknya sampai besok pagi. Kalaupun dia akan pergi, ada beberapa dokumen y
Lucia terdiam sejenak, berusaha mengingat.Empat tahun yang lalu, setiap kali Lucia pulang terlambat karena pekerjaan, Ethan selalu mengatakan bahwa seorang istri seharusnya lebih banyak berada di rumah.Ketika Lucia mendapatkan proyek besar dan harus bepergian beberapa hari, Ethan akan menunjukkan wajah tidak senang. Perlahan, tanpa benar-benar menyadarinya, Lucia mulai mengurangi pekerjaannya sampai akhirnya meninggalkan dunia arsitektur yang selama bertahun-tahun menjadi bagian terbesar dalam hidupnya.“Aku berhenti karena kau bilang kau ingin aku lebih banyak mengurus rumah," sahut Lucia dengan lantang. Air mata sudah sukses membasahi semua pipinya.“Aku tidak pernah memintamu berhenti bekerja, Lucia! Jangan membuatku menertawakanmu!" Ethan menepuk dada bidang miliknya sendiri lalu melangkah mendekati Delaila.Lucia menatap tubuh tinggi suaminya yang mendekat dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Pria yang dia kagumi dan hormati sebelumnya, pria tempat dia berbagi rasa cinta dan k
“Ah... Ethan... Kamu terlalu... Uhm, jangan, Mas!”"Sssh... diamlah! Kamu yang terlalu ketat!"Langkah Lucia terhenti tepat di depan pintu rumah ketika dua suara itu terdengar samar dari dalam, disusul suara napas yang terdengar tidak biasa. Awalnya Lucia mengira dirinya salah dengar, tetapi ketika suara itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas, tubuhnya seketika menegang.Ethan Fu dan Delaila!Ethan Fu adalah putra tunggal Keluarga Besar Fu sekaligus pemegang saham terbesar PT Platinum Decorindah Internasional. Dan dia adalah suaminya, sementara Delaila adalah sekretaris Ethan, yang sudah bekerja selama lima tahun terakhir."Pelan-pelan, Mas. Kamu uda tahu 'kan. Aku sedang hamil!"Hamil?Lucia membeku saat mendengar satu kata terakhir itu. Dengan tangan yang bergetar hebat, Lucia membuka perlahan pintu ruangan yang ternyata tidak terkunci.Begitu masuk, pandangannya langsung tertuju pada dua sosok yang sedang saling berbagi kenikmatan di atas meja kerja Ethan, dengan hanya diteran







