LOGINLucia memutar tubuhnya ke arah berlawanan, bahkan menoleh ke arah lain saat pria itu berjalan melewatinya.
Ethan berhenti sebentar, sedikit terganggu dengan sikap Lucia yang terlalu datar. “Jangan mencoba meminta cerai lagi. Ingat siapa dirimu!”
Lucia berbalik menatap punggung suaminya sudah mendekati anak tangga.
“Kalau kau membuat masalah sekarang, aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan apa pun. Jangan lupa ibumu yang masih ada di rumah sakit dan membutuhkan biaya yang cukup banyak,” sambung Ethan.
Ethan menghentikan langkahnya sebelum menapak anak tangga lalu kembali berkata-kata, "dan tentang adikmu yang masih belum berhasil itu, tampaknya dia butuh biaya ekstra untuk lulus kuliah!"
Mendengar itu, Lucia mengangkat alisnya lalu berteriak dengan suara tinggi, “apa maksudmu?”
Ethan tidak menjawab. Dia sudah mengendong Delaila naik ke tangga, perlahan menuju ke lantai dua.
Yang terdengar malah suara Delaila yang manja, "Ethan, kamu baik sekali, aku beruntung mendapat kesempatan hamil anakmu."
"Aku juga bersyukur, Delaila,” sahut Ethan dengan suara yang lembut.
Percakapan mereka membuat perut Lucia terasa semakin mual. Dia hanya tetap berdiri di tempat. Menatap dengan kesal bercampur amarah.
Beberapa saat kemudian, ketika Ethan sudah hampir sampai di lantai dua, Delaila tiba-tiba menoleh. Tatapannya sengaja bertemu dengan mata Lucia yang masih berdiri di bawah anak tangga.
Senyum tipis muncul di bibirnya. Nyaris tidak terlihat, namun cukup untuk membuat Lucia mengerti. Wanita itu tidak takut kepadanya. Bahkan mungkin sejak awal, Delaila memang menunggu hari ini. Senyum penuh kemenangan.
Lucia tidak membalas senyum tersebut. Kedua matanya justru melirik ke tangan Delaila. Kuku-kuku perempuan itu dicat dengan rapi. Warnanya merah muda pucat.
Tidak ada yang aneh. Tetapi ketika Delaila berjalan melewatinya tadi, Lucia seperti mencium sesuatu. Aroma yang sangat samar: aroma obat.
Lucia menoleh, itu bukan aroma parfum. Dia cukup mengenal bau itu dan itu adalah bau rumah sakit.
Kedua alis Lucia naik, Delaila baru keluar dari rumah sakit? Kenapa dia bau obat-obatan? Atau mungkin dia baru menjalani pemeriksaan?
Lucia tidak tahu. Namun sejak semalam, otaknya terus menangkap hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah dia perhatikan.
Lucia kembali menatap punggung Ethan dengan Delaila yang kemudian menghilang di balik tangga dengan tatapan yang dingin.
Tidak ada air mata, tidak ada teriakan. Tidak ada adegan histeris seperti yang mungkin diharapkan Ethan.
Kemudian Lucia hanya berbalik dan berjalan menuju ruang kerja Ethan dengan langkah tenang.
Sesampainya di sana, Lucia membuka lemari dan mengambil map berisi dokumen pribadi: Akta pernikahan, sertifikat, dan beberapa dokumen kepemilikan serta beberapa rekening dan berkas investasi yang selama ini dia simpan sendiri. Lucia memeriksa semuanya satu per satu lalu memasukkan kembali seluruh dokumen tersebut ke dalam sebuah map coklat.
"Aku akan pergi setelah selesai mengurus perceraian! Tidak ada gunanya hadir di tempat mana kita tidak pernah dianggap."
"Tinggal pakaian dan dompetku. Sial, mereka pasti bercinta di kamar utama lagi!" geramnya.
Selama menjadi istri Ethan, dia terlalu percaya kepada orang-orang di rumah keluarga Fu ini. Dia terlalu percaya kepada Ethan dan semua perkataannya.
Mulai hari ini, tidak lagi!
Lucia kembali berdiri di depan cermin. Wajahnya terlihat pucat dan rambutnya berantakan. Pipinya masih menyisakan luka kecil akibat botol kontrasepsi yang dilempar Ethan semalam. Dia hanya menempelkan sebuah pletser kecil. Ethan bahkan tidak menanyakan tentang luka yang dia alami.
Dia menyentuh luka itu.
Perih! Namun rasa sakit itu justru membuat pikirannya semakin jernih. Dia harus keluar dari neraka ini, hari ini juga.
Sebuah panggilan masuk di ponselnya membuat lamunan Lucia buyar.
Dokter Mark.
“Bicara,” ucap Lucia setelah menekan tombol jawab. Nada suaranya terdengar dingin. Entah kenapa, dia merasa kesal pada dokter itu. Mark pasti sudah mengetahui semua yang terjadi di antara dirinya dan Ethan, tetapi selama ini memilih diam.
“Lucia, keluarlah sebentar. Aku harus menjelaskan sesuatu kepadamu. Delaila sudah dibawa Ethan ke rumahmu, bukan?”
Lucia hanya terdiam.
“Lucia, dengarkan aku. Kita harus bertemu. Bagaimana kalau kamu membuka pintu dulu? Aku sudah di luar.”
Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya Lucia menjawab dengan suara parau.
“Obat yang kamu berikan kepadaku, akan kuserahkan kepada pihak yang berwajib untuk diperiksa dan dilanjutkan ke penyelidikan.”
“Tidak, Lucia. Dengarkan aku dulu. Buka pintunya dan aku akan menjelaskan semuanya kepadamu!”
Lucia terdiam sambil menatap pintu di hadapannya. Setelah berpikir sejenak, akhirnya dia berjalan mendekat dan membukanya dengan enggan.
Begitu pintu terbuka dan wajah Dokter Mark terlihat di hadapannya, pria itu langsung meraih Lucia dan memeluknya erat.
Lucia terkejut setengah mati.
“Lepaskan!”
Dia panik dan segera meronta, berusaha melepaskan diri dari pelukan dokter keluarga yang selama ini selalu bersikap tenang di hadapannya. Setelah beberapa saat, Lucia akhirnya berhasil melepaskan pelukan itu dan mundur beberapa langkah.
“Dengar, Lucia.” Mark menatapnya dengan serius. “Aku tidak terlibat dalam semua ini. Kamu harus tahu itu.”
Lucia masih menatapnya dengan penuh kewaspadaan.
Mark menarik napas panjang sebelum akhirnya mengucapkan kalimat yang selama ini dia pendam.
“Aku mencintaimu sejak pertama kali bertemu denganmu.”
“Apa?!” Lucia membeku.
Untuk beberapa detik, dia hanya menatap wajah tampan milik Dokter Mark yang masih berdiri di hadapannya. Pengakuan itu terlalu tiba-tiba, terlebih setelah semua yang terjadi dalam hidupnya dalam beberapa hari terakhir.
Dokter Mark perlahan melepaskan tangannya dari bahu Lucia, lalu mundur selangkah. Kembali menjaga batas dan etika.
“Maafkan aku.”
“Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya,” katanya dengan suara rendah. “Tapi aku tidak ingin kamu terus menganggapku sebagai bagian dari rencana Ethan.”
Lucia masih diam. Tatapannya penuh kewaspadaan.
“Kalau begitu, jelaskan!” Lucia memberinya tatapan penuh aura dingin.
Lucia memutar tubuhnya ke arah berlawanan, bahkan menoleh ke arah lain saat pria itu berjalan melewatinya.Ethan berhenti sebentar, sedikit terganggu dengan sikap Lucia yang terlalu datar. “Jangan mencoba meminta cerai lagi. Ingat siapa dirimu!”Lucia berbalik menatap punggung suaminya sudah mendekati anak tangga.“Kalau kau membuat masalah sekarang, aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan apa pun. Jangan lupa ibumu yang masih ada di rumah sakit dan membutuhkan biaya yang cukup banyak,” sambung Ethan.Ethan menghentikan langkahnya sebelum menapak anak tangga lalu kembali berkata-kata, "dan tentang adikmu yang masih belum berhasil itu, tampaknya dia butuh biaya ekstra untuk lulus kuliah!"Mendengar itu, Lucia mengangkat alisnya lalu berteriak dengan suara tinggi, “apa maksudmu?”Ethan tidak menjawab. Dia sudah mengendong Delaila naik ke tangga, perlahan menuju ke lantai dua.Yang terdengar malah suara Delaila yang manja, "Ethan, kamu baik sekali, aku beruntung mendapat kesempatan hamil
Ethan menurunkan sendoknya pelan, lalu berdehem kecil. “Bagi keluargaku, itu urusan besar. Bagaimana pun posisi Delaila sangat penting saat ini.”“Lalu aku? Aku tidak penting? Ethan! Aku tidak mandul! Mengapa kamu tidak pernah mau mengeluarkan uang dan membawaku mengecek kandungan ke luar negeri agar kita mendapatkan hasil maksimal? Aku tidak ada urusan dengan obat sialan itu, Ethan!” Suara Lucia meninggi. Dirinya benar-benar sudah terbalut dengan amarah."Kau mengatakan seolah-olah perselingkuhanmu adalah hal yang dibenarkan secara hukum!" lanjutnya.Ethan diam sejenak lalu menunjuk ke arah perut Lucia."Lima tahun sudah berlalu dan kamu baru mengatakannya sekarang, sudah terlambat, Lucia! Semua itu hanya alasan dan kamu sedang membenarkan diri! Tapi aku sudah tidak berharap lagi kepada rahim yang kehilangan kemampuannya itu."Lucia tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi karena merasa tidak berharga. “Selama lima tahun aku menjadi istrimu. Aku mengurus rumahmu, mengurus keluargamu, b
Lucia menelan ludah, berpikir sejenak mengenai kemungkinan ada seseorang yang telah memasukkan botol itu atau sesuatu ke dalam laci obatnya untuk menjebaknya.Dan mungkin… Ada seseorang yang tidak ingin dia hamil! Atau ada seseorang yang menjebaknya dan menyebabkan pertengkaran ini terjadi.“Siapa yang …?”"Ada yang tidak beres!" gumam Lucia tiba-tiba. “Jangan-jangan …”Lucia menggenggam botol kosong itu erat-erat. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya sebelum semuanya terlambat.Malam itu, Lucia tidur sendirian di kamar tamu, sisi ranjang di sebelahnya tetap kosong, dingin, bahkan selimutnya masih tertata rapi.Dan dia masih bisa mendengar jelas suara desahan manja dari kamar utama. Dia ingin berlari keluar dari pernikahan yang sudah tidak bisa diselamatkan ini, tetapi dia tidak mau pergi dengan tangan kosong.Tidak atas semua ketidakadilan yang sudah dia terima. Lucia mencoba bertahan, setidaknya sampai besok pagi. Kalaupun dia akan pergi, ada beberapa dokumen y
Lucia terdiam sejenak, berusaha mengingat.Empat tahun yang lalu, setiap kali Lucia pulang terlambat karena pekerjaan, Ethan selalu mengatakan bahwa seorang istri seharusnya lebih banyak berada di rumah.Ketika Lucia mendapatkan proyek besar dan harus bepergian beberapa hari, Ethan akan menunjukkan wajah tidak senang. Perlahan, tanpa benar-benar menyadarinya, Lucia mulai mengurangi pekerjaannya sampai akhirnya meninggalkan dunia arsitektur yang selama bertahun-tahun menjadi bagian terbesar dalam hidupnya.“Aku berhenti karena kau bilang kau ingin aku lebih banyak mengurus rumah," sahut Lucia dengan lantang. Air mata sudah sukses membasahi semua pipinya.“Aku tidak pernah memintamu berhenti bekerja, Lucia! Jangan membuatku menertawakanmu!" Ethan menepuk dada bidang miliknya sendiri lalu melangkah mendekati Delaila.Lucia menatap tubuh tinggi suaminya yang mendekat dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Pria yang dia kagumi dan hormati sebelumnya, pria tempat dia berbagi rasa cinta dan k
“Ah... Ethan... Kamu terlalu... Uhm, jangan, Mas!”"Sssh... diamlah! Kamu yang terlalu ketat!"Langkah Lucia terhenti tepat di depan pintu rumah ketika dua suara itu terdengar samar dari dalam, disusul suara napas yang terdengar tidak biasa. Awalnya Lucia mengira dirinya salah dengar, tetapi ketika suara itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas, tubuhnya seketika menegang.Ethan Fu dan Delaila!Ethan Fu adalah putra tunggal Keluarga Besar Fu sekaligus pemegang saham terbesar PT Platinum Decorindah Internasional. Dan dia adalah suaminya, sementara Delaila adalah sekretaris Ethan, yang sudah bekerja selama lima tahun terakhir."Pelan-pelan, Mas. Kamu uda tahu 'kan. Aku sedang hamil!"Hamil?Lucia membeku saat mendengar satu kata terakhir itu. Dengan tangan yang bergetar hebat, Lucia membuka perlahan pintu ruangan yang ternyata tidak terkunci.Begitu masuk, pandangannya langsung tertuju pada dua sosok yang sedang saling berbagi kenikmatan di atas meja kerja Ethan, dengan hanya diteran







