LOGIN
“Ah... Ethan... Kamu terlalu... Uhm, jangan, Mas!”
"Sssh... diamlah! Kamu yang terlalu ketat!"
Langkah Lucia terhenti tepat di depan pintu rumah ketika dua suara itu terdengar samar dari dalam, disusul suara napas yang terdengar tidak biasa. Awalnya Lucia mengira dirinya salah dengar, tetapi ketika suara itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas, tubuhnya seketika menegang.
Ethan Fu dan Delaila!
Ethan Fu adalah putra tunggal Keluarga Besar Fu sekaligus pemegang saham terbesar PT Platinum Decorindah Internasional. Dan dia adalah suaminya, sementara Delaila adalah sekretaris Ethan, yang sudah bekerja selama lima tahun terakhir.
"Pelan-pelan, Mas. Kamu uda tahu 'kan. Aku sedang hamil!"
Hamil?
Lucia membeku saat mendengar satu kata terakhir itu. Dengan tangan yang bergetar hebat, Lucia membuka perlahan pintu ruangan yang ternyata tidak terkunci.
Begitu masuk, pandangannya langsung tertuju pada dua sosok yang sedang saling berbagi kenikmatan di atas meja kerja Ethan, dengan hanya diterangi lampu temaram.
Di sana, Ethan sedang menyesap ujung bukit indah milik Delaila dan bagian bawah mereka sedang menempel tanpa jarak. Tubuh polos Delaila bahkan melengkung ke atas dengan kedua paha yang sedang menjepit erat pinggul Ethan dan tangan Ethan melingkar di pinggang Delaila dengan celana panjang yang tergulung di bawah kakinya.
Suara tubuh yang menyatu itu membuat perut Lucia mual seketika. Untuk beberapa detik, Lucia hanya berdiri diam, menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangan sambil menatap pemandangan di hadapannya tanpa berkedip, seolah otaknya membutuhkan waktu lebih banyak untuk menerima apa yang sedang dilihat matanya sendiri.
Rasa nikmat yang menyerang kedua insan itu membuat mereka sama sekali tidak menyadari kehadiran Lucia.
Hanya beberapa detik sampai Ethan akhirnya menyadari sosok lain dalam balutan gairahnya.
Ethan menengadah, tatapannya beralih kepada Lucia dan gerakannya terhenti seketika, tetapi yang terlihat di wajah pria itu bukan kepanikan seperti yang Lucia bayangkan dari seorang suami yang baru saja tertangkap berselingkuh.
Ethan hanya memandangnya dengan ekspresi datar, seakan keberadaan Lucia di sana adalah gangguan kecil yang datang pada waktu yang tidak tepat.
Lucia tidak berteriak, juga tidak bertanya. Dia hanya menatap Ethan beberapa saat sebelum mengalihkan pandangannya kepada Delaila, lalu kembali kepada suaminya.
“Jadi, selama ini...” suara Lucia terdengar pelan, meskipun dadanya terasa begitu sesak, “kalian berdua?”
Delaila tidak menjawab. Perempuan itu hanya menyembunyikan wajah di dada Ethan, kedua tangannya tetap merangkul erat leher Ethan, tetapi sudut bibirnya justru bergerak sedikit, seolah ada senyum yang ingin disembunyikannya.
Ethan menghela napas panjang. “Lucia, kalau sudah cukup melihat, keluar dan jangan lupa tutup pintunya. Aku belum selesai!"
Kalimat itu membuat Lucia hampir tertawa, tetapi tidak ada suara yang keluar dari bibirnya.
Setelah lima tahun menjadi istri Ethan Fu, setelah mengurus rumah ini sendirian, menyiapkan makanan setiap hari, bahkan mengorbankan pekerjaannya demi pria yang sekarang berdiri di hadapannya, ternyata inilah yang dia dapatkan.
Bukannya mendapat sebuah penjelasan, atau permintaan maaf, Ethan bahkan menganggap dirinya sebagai pihak yang terganggu.
Dua jam sebelumnya, Lucia masih sibuk di dapur. Besok adalah ulang tahun pernikahan mereka yang kelima, dan meskipun Ethan belakangan ini semakin sering pulang larut malam, Lucia tetap berharap mereka bisa menghabiskan waktu bersama.
Dia sengaja memasak makanan kesukaan Ethan malam ini karena ingin makan malam berdua, sekaligus membicarakan rencana sederhana untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka keesokan harinya.
Lucia tidak pernah menyangka, baru saja dia keluar dari rumah sebentar untuk membeli sebotol anggur, Ethan sudah pulang dengan membawa Delaila kemudian mencumbunya di ruangan kerjanya.
Lucia kembali ke dapur, lalu meletakkan botol anggur yang dibelinya tadi ke atas meja dan menatap kosong ke arah makanan yang sudah tersaji sejak tadi. Tidak ada satu pun hidangan yang disentuh, seolah semua usaha yang dilakukannya selama berjam-jam tidak pernah berarti apa-apa.
“Prang!”
Piring-piring di atas meja pecah ketika Lucia menarik serbet meja dengan luapan amarah yang akhirnya tidak mampu lagi ia redam. Daging, nasi, dan sayuran yang masih hangat itu berserakan, sebagian jatuh ke lantai bersama pecahan keramik yang berhamburan ke segala arah.
Kedua mata Lucia sudah dipenuhi air mata. Tangannya meremas erat sisa serbet makan hingga buku-buku jarinya memutih, sementara rahangnya mengeras dan lidahnya terasa kelu. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, bahkan ia sangat ingin berteriak, tetapi semuanya seolah tersangkut di tenggorokan.
Selama beberapa detik, Lucia hanya berdiri diam, menatap makanan yang kini terbuang di lantai. Makanan yang dua jam lalu ia siapkan dengan penuh harapan, kini bahkan tidak layak lagi untuk disentuh.
“Sikap apaan ini?”
Perlahan, ia mengangkat wajah dan menatap pria yang telah menjadi suaminya selama lima tahun.
Ternyata Ethan Fu sudah berdiri tidak jauh darinya dengan sebuah handuk yang masih melilit pinggang. Sepertinya mereka menghentikan adegan percintaannya karena suara piring pecah yang terdengar sampai ke ruangan kerja.
Dan mereka merasa terganggu!
Lucia membalas tatapan Ethan dengan mata yang mulai memerah.
Pada saat yang sama, Delaila muncul di belakang Ethan. Handuk putih membungkus tubuh perempuan sintal itu, dijepitkan di tengah garis dadanya yang padat, dan rambut panjangnya masih tampak sedikit berantakan.
Pemandangan itu membuat dada Lucia terasa semakin sesak.
“Aku sengaja memasak untukmu,” katanya, berusaha menahan suaranya agar tidak bergetar. “Untuk makan malam perayaan ulang tahun pernikahan kita. Tapi sekarang semuanya tidak diperlukan lagi. Kamu juga sudah kenyang menyusu, bukan?!”
Wajah Ethan seketika mengeras.
“Aku tidak pernah menyuruhmu memasak untukku, Lucia. Dan keributan seperti ini juga tidak diperlukan.”
Suara Ethan terdengar dingin, tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Lucia mengangkat wajahnya. “Apa?”
“Aku bilang, Aku tidak pernah menyuruhmu memasak untukku, ke depannya, kamu juga tidak perlu memasak lagi untukku.” Tatapan Ethan tetap datar. “Aku tidak membutuhkan semua ini!”
Tatapan Lucia perlahan beralih kepada makanan yang berserakan di lantai, kemudian kembali kepada Ethan. Air mata yang sejak tadi memenuhi pelupuk matanya akhirnya jatuh juga, tetapi kali ini tidak ada lagi kelembutan dalam tatapannya.
“Kalau memang kamu memilih berselingkuh, maka kita cerai saja!”
“Cerai?” Ethan mencibir pelan, seolah ucapan Lucia justru terdengar menggelikan baginya.
“Setelah lima tahun menikah, menurutmu aku masih punya alasan untuk mempertahankan pernikahan ini?”
Lucia terdiam. Pertanyaan itu menghantamnya jauh lebih keras daripada yang ia bayangkan. "Apa maksudmu?"
Ethan melangkah mendekat. Wajahnya menunjukkan ketidakpuasan yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan secara terang-terangan, seakan-akan selama lima tahun pernikahan mereka, justru Lucia yang menjadi beban dalam hidupnya.
Lalu Ethan tertawa pendek. "Masih pura-pura tidak tahu?"
Lucia terdiam. Tubuhnya mundur satu langkah. Beberapa bulan terakhir, memang hubungan mereka memburuk. Ethan semakin sering pulang larut malam, bahkan ketika pulang pun biasanya Lucia sudah terlelap.
Namun, wanita itu selalu menyakinkan dirinya bahwa semua hanya karena kesibukan pekerjaan sang suami dalam mencari nafkah.
Dia tidak pernah menyangka sesuatu yang jauh lebih buruk sedang menunggu di balik semua perubahan Ethan. Sebuah perselingkuhan yang entah kapan sudah dimulai.
"Kau marah karena apa?" tanya Ethan lalu pria itu mengangkat satu tangannya di antara mereka, menunjukkan kelima jarinya.
“Lima tahun, Lucia. Lima tahun kita menikah.” Tatapan Ethan mengarah lurus kepadanya. “Selama lima tahun ini, apa yang sudah kau berikan padaku?"
Pertanyaan itu membuat dada Lucia terasa semakin sesak. “Apa maksudmu?”
“Rumah ini?" Ethan menunjuk ke sekeliling. "Aku yang membayar! Tidak ada uangmu satu sen pun!"
Lucia menelan ludah.
"Aku juga membiayai keluargamu ketika kau berhenti bekerja!" Napas Ethan mulai memburu.
"Adikmu kuliah? Aku yang membiayai semuanya!" Ethan menepuk dadanya sendiri dengan keras. "Aku yang menanggung semua kebutuhanmu!"
Semua kalimat terasa seperti palu godam yang memukul telak hidup Lucia.
Lucia menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, “Aku tidak pernah meminta semua itu.”
“Memang. Tapi kau menikmatinya.”
“Aku juga bekerja sebelum menikah denganmu.” Lucia membalas dengan tatapan tajam.
“Lalu kenapa kau berhenti?” Ethan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar sambil tersenyum sinis.
Lucia memutar tubuhnya ke arah berlawanan, bahkan menoleh ke arah lain saat pria itu berjalan melewatinya.Ethan berhenti sebentar, sedikit terganggu dengan sikap Lucia yang terlalu datar. “Jangan mencoba meminta cerai lagi. Ingat siapa dirimu!”Lucia berbalik menatap punggung suaminya sudah mendekati anak tangga.“Kalau kau membuat masalah sekarang, aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan apa pun. Jangan lupa ibumu yang masih ada di rumah sakit dan membutuhkan biaya yang cukup banyak,” sambung Ethan.Ethan menghentikan langkahnya sebelum menapak anak tangga lalu kembali berkata-kata, "dan tentang adikmu yang masih belum berhasil itu, tampaknya dia butuh biaya ekstra untuk lulus kuliah!"Mendengar itu, Lucia mengangkat alisnya lalu berteriak dengan suara tinggi, “apa maksudmu?”Ethan tidak menjawab. Dia sudah mengendong Delaila naik ke tangga, perlahan menuju ke lantai dua.Yang terdengar malah suara Delaila yang manja, "Ethan, kamu baik sekali, aku beruntung mendapat kesempatan hamil
Ethan menurunkan sendoknya pelan, lalu berdehem kecil. “Bagi keluargaku, itu urusan besar. Bagaimana pun posisi Delaila sangat penting saat ini.”“Lalu aku? Aku tidak penting? Ethan! Aku tidak mandul! Mengapa kamu tidak pernah mau mengeluarkan uang dan membawaku mengecek kandungan ke luar negeri agar kita mendapatkan hasil maksimal? Aku tidak ada urusan dengan obat sialan itu, Ethan!” Suara Lucia meninggi. Dirinya benar-benar sudah terbalut dengan amarah."Kau mengatakan seolah-olah perselingkuhanmu adalah hal yang dibenarkan secara hukum!" lanjutnya.Ethan diam sejenak lalu menunjuk ke arah perut Lucia."Lima tahun sudah berlalu dan kamu baru mengatakannya sekarang, sudah terlambat, Lucia! Semua itu hanya alasan dan kamu sedang membenarkan diri! Tapi aku sudah tidak berharap lagi kepada rahim yang kehilangan kemampuannya itu."Lucia tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi karena merasa tidak berharga. “Selama lima tahun aku menjadi istrimu. Aku mengurus rumahmu, mengurus keluargamu, b
Lucia menelan ludah, berpikir sejenak mengenai kemungkinan ada seseorang yang telah memasukkan botol itu atau sesuatu ke dalam laci obatnya untuk menjebaknya.Dan mungkin… Ada seseorang yang tidak ingin dia hamil! Atau ada seseorang yang menjebaknya dan menyebabkan pertengkaran ini terjadi.“Siapa yang …?”"Ada yang tidak beres!" gumam Lucia tiba-tiba. “Jangan-jangan …”Lucia menggenggam botol kosong itu erat-erat. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya sebelum semuanya terlambat.Malam itu, Lucia tidur sendirian di kamar tamu, sisi ranjang di sebelahnya tetap kosong, dingin, bahkan selimutnya masih tertata rapi.Dan dia masih bisa mendengar jelas suara desahan manja dari kamar utama. Dia ingin berlari keluar dari pernikahan yang sudah tidak bisa diselamatkan ini, tetapi dia tidak mau pergi dengan tangan kosong.Tidak atas semua ketidakadilan yang sudah dia terima. Lucia mencoba bertahan, setidaknya sampai besok pagi. Kalaupun dia akan pergi, ada beberapa dokumen y
Lucia terdiam sejenak, berusaha mengingat.Empat tahun yang lalu, setiap kali Lucia pulang terlambat karena pekerjaan, Ethan selalu mengatakan bahwa seorang istri seharusnya lebih banyak berada di rumah.Ketika Lucia mendapatkan proyek besar dan harus bepergian beberapa hari, Ethan akan menunjukkan wajah tidak senang. Perlahan, tanpa benar-benar menyadarinya, Lucia mulai mengurangi pekerjaannya sampai akhirnya meninggalkan dunia arsitektur yang selama bertahun-tahun menjadi bagian terbesar dalam hidupnya.“Aku berhenti karena kau bilang kau ingin aku lebih banyak mengurus rumah," sahut Lucia dengan lantang. Air mata sudah sukses membasahi semua pipinya.“Aku tidak pernah memintamu berhenti bekerja, Lucia! Jangan membuatku menertawakanmu!" Ethan menepuk dada bidang miliknya sendiri lalu melangkah mendekati Delaila.Lucia menatap tubuh tinggi suaminya yang mendekat dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Pria yang dia kagumi dan hormati sebelumnya, pria tempat dia berbagi rasa cinta dan k
“Ah... Ethan... Kamu terlalu... Uhm, jangan, Mas!”"Sssh... diamlah! Kamu yang terlalu ketat!"Langkah Lucia terhenti tepat di depan pintu rumah ketika dua suara itu terdengar samar dari dalam, disusul suara napas yang terdengar tidak biasa. Awalnya Lucia mengira dirinya salah dengar, tetapi ketika suara itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas, tubuhnya seketika menegang.Ethan Fu dan Delaila!Ethan Fu adalah putra tunggal Keluarga Besar Fu sekaligus pemegang saham terbesar PT Platinum Decorindah Internasional. Dan dia adalah suaminya, sementara Delaila adalah sekretaris Ethan, yang sudah bekerja selama lima tahun terakhir."Pelan-pelan, Mas. Kamu uda tahu 'kan. Aku sedang hamil!"Hamil?Lucia membeku saat mendengar satu kata terakhir itu. Dengan tangan yang bergetar hebat, Lucia membuka perlahan pintu ruangan yang ternyata tidak terkunci.Begitu masuk, pandangannya langsung tertuju pada dua sosok yang sedang saling berbagi kenikmatan di atas meja kerja Ethan, dengan hanya diteran







