LOGINLucia menelan ludah, berpikir sejenak mengenai kemungkinan ada seseorang yang telah memasukkan botol itu atau sesuatu ke dalam laci obatnya untuk menjebaknya.
Dan mungkin… Ada seseorang yang tidak ingin dia hamil! Atau ada seseorang yang menjebaknya dan menyebabkan pertengkaran ini terjadi.
“Siapa yang …?”
"Ada yang tidak beres!" gumam Lucia tiba-tiba. “Jangan-jangan …”
Lucia menggenggam botol kosong itu erat-erat. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya sebelum semuanya terlambat.
Malam itu, Lucia tidur sendirian di kamar tamu, sisi ranjang di sebelahnya tetap kosong, dingin, bahkan selimutnya masih tertata rapi.
Dan dia masih bisa mendengar jelas suara desahan manja dari kamar utama.
Dia ingin berlari keluar dari pernikahan yang sudah tidak bisa diselamatkan ini, tetapi dia tidak mau pergi dengan tangan kosong.
Tidak atas semua ketidakadilan yang sudah dia terima. Lucia mencoba bertahan, setidaknya sampai besok pagi. Kalaupun dia akan pergi, ada beberapa dokumen yang memang harus dia ambil di kamar utama, setidaknya identitas yang memang menjadi miliknya.
Tidurnya tidak benar-benar nyenyak dan kedua matanya masih bengkak karena tangisan. Beberapa kali Lucia juga terbangun karena merasa mual, membayangkan adegan yang dia saksikan secara langsung.
Dia menutup mulut dengan telapak tangan, kemudian duduk di tepi ranjang. dengan kepalanya terasa berat.
Tengah malam, dari sebelah kamarnya, masih terdengar permainan ranjang yang belum selesai, akan tetapi bukan hanya itu yang membuat kepalanya terasa berat.
Rasa nyeri yang dia alami memang semakin terasa berat dari hari ke hari.
Semua gejala yang dia alami memang mirip seperti wanita hamil, tetapi berapa kali pun dia mengecek ke dokter, hasilnya tetap sama. Nihil...
Entah sudah berapa lama dia duduk begitu, sampai akhirnya rasa kantuk kembali datang.
Keesokan paginya, Lucia hendak ke dapur untuk mengisi perutnya yang kosong. Dia bahkan tidak bisa mempedulikan kehadiran Ethan maupun Delaila.
Dia hanya ingin bercerai setelah membawa semua surat-surat penting dari kamar utama.
Ethan sudah duduk di meja makam, lalu di sampingnya sudah ada Delaila yang memakai gaun panjang berwarna cream muda dengan tali tipis yang mengantung di kedua sisi bahunya.
Delaila terlihat sengaja mengusap perutnya dengan satu tangan. Walau perut itu terlihat terlalu dini untuk disebut buncit.
Senyumnya terlihat ramah dan manja kepada Ethan.
Di hadapan mereka sudah ada beberapa menu sarapan yang tidak pernah ada saat Lucia masih menjadi istri yang bisa diandalkan untuk menyediakan semua kebutuhan rumah tangga.
Lucia menatap perut wanita itu cukup lama, kemudian pandangannya perlahan naik ke wajah Ethan Fu dengan tatapan datar. Tidak ada amarah lagi yang meluap-luap karena dia sudah selesai dengan tangisan semalaman.
“Ethan…,” panggilnya pelan.
Pria itu menengadah, melihat ke arah Lucia dengan wajah tidak terlihat bersalah. Justru sebaliknya, wajahnya tenang seolah-olah membawa Delaila yang sudah hamil ke rumah mereka adalah sesuatu yang sangat wajar.
“Mulai sekarang, Delaila akan tinggal di sini,” ucapnya dengan suara datar.
Lucia merasa telinganya berdenging. Kedua matanya masih tetap menuju ke arah Delaila yang tersenyum penuh kemenangan.
“Baik, aku yang akan per... " Kalimatnya terhenti karena tatapan tajam dari Ethan, suara Lucia terdengar lebih parau daripada yang dia inginkan.
Ethan menatapnya sekilas dengan ekpresi dingin, lalu kembali menoleh ke arah Delaila.
Namun, senyumnya terlihat hangat saat menatap Delaila, “Kamu tidak bisa pergi, Lucia. Semalam kami sudah membahasnya dan mengizinkan kamu tetap tinggal. Kamu juga harus menjaganya dan memasak makanan bergizi untuknya karena dia sedang mengandung anakku.”
Menjaganya?
Lucia membeku, tetapi kali ini dia tidak berusaha untuk menjawab sama sekali. Menurutnya, tidak ada kata-kata lagi, yang layak untuk dilontarkan kepada pasangan yang sudah kehilangan akal tersebut.
Kalimat terakhir itu terus berputar di kepalanya dan membuat tubuh Lucia terasa kaku walau dia sudah mengetahuinya semalam, entah mengapa masih terasa nyeri saat mendengarnya berulang. Telinganya kembali berdenging.
Lucia melirik Delaila. Perempuan itu tersenyum manis di balik gaun panjangnya. Dia sengaja mengibas rambutnya lalu merangkul lengan Ethan. Wajahnya terlihat segar meskipun jelas sedang hamil. Perutnya masih rata, tapi gaya hamilnya sudah selangit.
Sebelah tangannya mengelus lengan kekar milik Ethan dengan erat. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya.
Namun, saat kembali melihat ke arah Lucia yang tentu saja sedang membalas tatapannya dengan ekspresi penuh kebencian, Delaila segera mengeluh, "Aiyo, Ethan Sayang, Delaila sudah tahu, Kakak ipar pasti tidak suka melihat Delaila. Delaila pulang saja, dhe."
Ethan buru-buru menarik tangan Delaila dan memeluk pinggangnya. "Jangan begitu, Sayang. Kamu tidak perlu pergi. Aku sudah memutuskan kamu akan tinggal bersamaku di sini, Lucia suka atau pun tidak, dia harus memanjakanmu. Dia akan mengurusmu, Delaila. Kamu 'kan sedang hamil."
Lucia tidak tahan lagi, dia mengepalkan tangan dengan kuat hingga kuku-kukunya hampir melukai telapak tangannya sendiri. "Memanjakan dia? Sejak kapan kalian ...”
Lucia tidak mampu melanjutkan kalimatnya, lidahnya terasa kelu.
Ethan terdiam beberapa detik sebelum melanjutkan, “Kandungannya sudah memasuki tiga bulan.”
"Tiga bulan… Haha…," ulang Lucia, lalu tertawa kecil.
Selama tiga bulan terakhir, dia sibuk mencari tahu kenapa tubuhnya semakin lemah, sementara suaminya ternyata sibuk membuat seorang wanita lain hamil.
“Kenapa baru membawanya pulang sekarang?” sindir Lucia dengan nada dingin.
Semalam dia merasa sangat bingung, memergoki adegan perselingkuhan secara langsung, disalahkan karena botol obat yang bahkan bukan miliknya, lalu pelakor dibawa ke kamar utama dan adegan di atas ranjang mereka dilanjutkan tanpa rasa bersalah, sampai dini hari dan hari ini, Delaila sudah hampir tiga bulan hamil anak suaminya sendiri. Siapa yang menjadi korban?
Lucia tertawa kecil.
Ethan menghela napas. “Lucia, jangan membuat masalah. Kamu tahu keterbatasan dirimu, bukan aku yang salah!”
Lucia membalas menatapnya tajam, “Ohh, jadi sekarang aku yang membuat masalah? Ethan, kalian sudah berhubungan berapa lama sampai perutnya sudah berisi seperti itu, lalu kamu bahkan tidak tahu darimana obat itu berasal, menuduhku dan ...”
“Delaila mengandung pewaris keluarga Fu dan aku sudah malas membahas obatmu dan apa yang sudah kau lakukan. Aku memaafkanmu, tetapi Delaila tidak bisa diabaikan karena sudah menyelamatkan keturunanku. Sudah paham?”
Pria itu berkata dengan nada datar.
"Me-maafkanku?" Lucia menunjuk dirinya sendiri. Perutnya kembali mual dan dia benar-benar ingin muntah saat ini.
“Kau tahu sendiri keluarga Fu sudah menunggu pewaris selama bertahun-tahun.” Ethan berkata dengan tegas.
Lucia menelan ludah. “Jadi?"
“Jadi dia adalah satu-satunya cara menyelamatkan garis keturunan keluarga kami. Kamu seharusnya bersyukur!”
"Bersyukur?!" Lucia mengulang kata itu seraya menatap Ethan, seakan pria itu baru saja mengatakan sesuatu yang sangat konyol.
“Oh? Karena dia sudah menyelamatkan garis keturunan atau karena kamu baru saja ketahuan membawa selingkuhan untuk masuk ke dalam rumah? Bercinta sampai pagi sementara istri sah harus mendengar suara menjijikkan kalian dari kamar tamu?”
Lucia memutar tubuhnya ke arah berlawanan, bahkan menoleh ke arah lain saat pria itu berjalan melewatinya.Ethan berhenti sebentar, sedikit terganggu dengan sikap Lucia yang terlalu datar. “Jangan mencoba meminta cerai lagi. Ingat siapa dirimu!”Lucia berbalik menatap punggung suaminya sudah mendekati anak tangga.“Kalau kau membuat masalah sekarang, aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan apa pun. Jangan lupa ibumu yang masih ada di rumah sakit dan membutuhkan biaya yang cukup banyak,” sambung Ethan.Ethan menghentikan langkahnya sebelum menapak anak tangga lalu kembali berkata-kata, "dan tentang adikmu yang masih belum berhasil itu, tampaknya dia butuh biaya ekstra untuk lulus kuliah!"Mendengar itu, Lucia mengangkat alisnya lalu berteriak dengan suara tinggi, “apa maksudmu?”Ethan tidak menjawab. Dia sudah mengendong Delaila naik ke tangga, perlahan menuju ke lantai dua.Yang terdengar malah suara Delaila yang manja, "Ethan, kamu baik sekali, aku beruntung mendapat kesempatan hamil
Ethan menurunkan sendoknya pelan, lalu berdehem kecil. “Bagi keluargaku, itu urusan besar. Bagaimana pun posisi Delaila sangat penting saat ini.”“Lalu aku? Aku tidak penting? Ethan! Aku tidak mandul! Mengapa kamu tidak pernah mau mengeluarkan uang dan membawaku mengecek kandungan ke luar negeri agar kita mendapatkan hasil maksimal? Aku tidak ada urusan dengan obat sialan itu, Ethan!” Suara Lucia meninggi. Dirinya benar-benar sudah terbalut dengan amarah."Kau mengatakan seolah-olah perselingkuhanmu adalah hal yang dibenarkan secara hukum!" lanjutnya.Ethan diam sejenak lalu menunjuk ke arah perut Lucia."Lima tahun sudah berlalu dan kamu baru mengatakannya sekarang, sudah terlambat, Lucia! Semua itu hanya alasan dan kamu sedang membenarkan diri! Tapi aku sudah tidak berharap lagi kepada rahim yang kehilangan kemampuannya itu."Lucia tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi karena merasa tidak berharga. “Selama lima tahun aku menjadi istrimu. Aku mengurus rumahmu, mengurus keluargamu, b
Lucia menelan ludah, berpikir sejenak mengenai kemungkinan ada seseorang yang telah memasukkan botol itu atau sesuatu ke dalam laci obatnya untuk menjebaknya.Dan mungkin… Ada seseorang yang tidak ingin dia hamil! Atau ada seseorang yang menjebaknya dan menyebabkan pertengkaran ini terjadi.“Siapa yang …?”"Ada yang tidak beres!" gumam Lucia tiba-tiba. “Jangan-jangan …”Lucia menggenggam botol kosong itu erat-erat. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya sebelum semuanya terlambat.Malam itu, Lucia tidur sendirian di kamar tamu, sisi ranjang di sebelahnya tetap kosong, dingin, bahkan selimutnya masih tertata rapi.Dan dia masih bisa mendengar jelas suara desahan manja dari kamar utama. Dia ingin berlari keluar dari pernikahan yang sudah tidak bisa diselamatkan ini, tetapi dia tidak mau pergi dengan tangan kosong.Tidak atas semua ketidakadilan yang sudah dia terima. Lucia mencoba bertahan, setidaknya sampai besok pagi. Kalaupun dia akan pergi, ada beberapa dokumen y
Lucia terdiam sejenak, berusaha mengingat.Empat tahun yang lalu, setiap kali Lucia pulang terlambat karena pekerjaan, Ethan selalu mengatakan bahwa seorang istri seharusnya lebih banyak berada di rumah.Ketika Lucia mendapatkan proyek besar dan harus bepergian beberapa hari, Ethan akan menunjukkan wajah tidak senang. Perlahan, tanpa benar-benar menyadarinya, Lucia mulai mengurangi pekerjaannya sampai akhirnya meninggalkan dunia arsitektur yang selama bertahun-tahun menjadi bagian terbesar dalam hidupnya.“Aku berhenti karena kau bilang kau ingin aku lebih banyak mengurus rumah," sahut Lucia dengan lantang. Air mata sudah sukses membasahi semua pipinya.“Aku tidak pernah memintamu berhenti bekerja, Lucia! Jangan membuatku menertawakanmu!" Ethan menepuk dada bidang miliknya sendiri lalu melangkah mendekati Delaila.Lucia menatap tubuh tinggi suaminya yang mendekat dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Pria yang dia kagumi dan hormati sebelumnya, pria tempat dia berbagi rasa cinta dan k
“Ah... Ethan... Kamu terlalu... Uhm, jangan, Mas!”"Sssh... diamlah! Kamu yang terlalu ketat!"Langkah Lucia terhenti tepat di depan pintu rumah ketika dua suara itu terdengar samar dari dalam, disusul suara napas yang terdengar tidak biasa. Awalnya Lucia mengira dirinya salah dengar, tetapi ketika suara itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas, tubuhnya seketika menegang.Ethan Fu dan Delaila!Ethan Fu adalah putra tunggal Keluarga Besar Fu sekaligus pemegang saham terbesar PT Platinum Decorindah Internasional. Dan dia adalah suaminya, sementara Delaila adalah sekretaris Ethan, yang sudah bekerja selama lima tahun terakhir."Pelan-pelan, Mas. Kamu uda tahu 'kan. Aku sedang hamil!"Hamil?Lucia membeku saat mendengar satu kata terakhir itu. Dengan tangan yang bergetar hebat, Lucia membuka perlahan pintu ruangan yang ternyata tidak terkunci.Begitu masuk, pandangannya langsung tertuju pada dua sosok yang sedang saling berbagi kenikmatan di atas meja kerja Ethan, dengan hanya diteran







