Share

Bab 120

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-04-06 21:27:23

Durasi permainan mereka terbatas. Mengingat waktu yang mereka miliki juga tidak lama. Karena Bayu tidak mau, pertemuan mereka hanya sekedar untuk melampiaskan nafsu. Bayu ingin memberikan ruang bernafas untuk Maudy.

Di dalam keheningan kamar hotel yang kini hanya menyisakan aroma parfum yang bercampur dan deru napas yang mulai teratur, Maudy menyandarkan kepalanya di dada bidang Bayu. Kulit mereka yang bersentuhan terasa hangat, memberikan rasa aman yang sudah lama tidak ia rasakan.

Sarung pen
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 120

    Durasi permainan mereka terbatas. Mengingat waktu yang mereka miliki juga tidak lama. Karena Bayu tidak mau, pertemuan mereka hanya sekedar untuk melampiaskan nafsu. Bayu ingin memberikan ruang bernafas untuk Maudy.Di dalam keheningan kamar hotel yang kini hanya menyisakan aroma parfum yang bercampur dan deru napas yang mulai teratur, Maudy menyandarkan kepalanya di dada bidang Bayu. Kulit mereka yang bersentuhan terasa hangat, memberikan rasa aman yang sudah lama tidak ia rasakan. Sarung pengaman itu menjadi saksi bisu betapa pria itu benar-benar menjaganya dari risiko apa pun, membuat Maudy bisa menyerahkan diri sepenuhnya tanpa ketakutan akan konsekuensi yang bisa menghancurkan masa depannya.​Satu jam baru saja berlalu seperti hembusan angin yang sangat kencang. Kenikmatan yang mereka cecap bersama seolah melipat waktu, membuat Maudy merasa dunia di luar sana berhenti berputar. Namun, saat jarum jam di dinding menunjukkan sisa waktu satu jam terakhir sebelum Lyra kembali menjemp

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 119

    Satu jam berlalu seperti kedipan mata di dalam kamar yang kedap suara itu. Waktu yang singkat tapi terasa begitu padat karena Maudy menumpahkan seluruh beban yang menyesakkan dadanya. Bayu, dengan kesabaran seorang pria yang telah lama menanti, menjadi pendengar yang tak bernapas, membiarkan setiap rintihan dan amarah Maudy terserap ke dalam dadanya.​Namun, ketenangan itu perlahan mulai memanas kembali. Kehadiran Maudy yang begitu dekat, aroma rambutnya yang menyerang indra penciuman Bayu, dan fakta bahwa wanita ini akhirnya kembali ke pelukannya, membuat gairah yang sempat diredam kini berkobar lebih hebat. Bayu mulai mencondongkan tubuhnya, kembali mengecup bibir Maudy dengan lumatan-lumatan kecil yang menggoda, lalu turun menjilati leher jenjang perempuan yang telah dijodohkan dengannya sejak kecil itu.​Tangan Bayu mulai merayap, mencoba membuka kancing blus Maudy satu per satu dengan gerakan yang menuntut. Namun, saat jemari Bayu menyentuh kulit perutnya, Maudy tersentak. Ia mem

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 118

    Napas Bayu memburu di ceruk leher Maudy, panas dan berat. Aroma tubuh Maudy yang bercampur dengan sisa air mata dan parfum lembutnya nyaris membuat Bayu kehilangan kendali sepenuhnya. Namun, saat ia merasakan tubuh Maudy sedikit gemetar dalam dekapannya yang bukan disebabkan oleh gairah, melainkan disebabkan oleh sisa-sisa trauma yang masih mengendap, maka Bayu perlahan menarik diri. Karena dia tau, tubuh dan jiwa Maudy masih menyimpan beban berat.​Ia menjauhkan wajahnya beberapa sentimeter, menatap Maudy dengan mata yang masih gelap oleh keinginan, tapi perlahan mulai meredup digantikan oleh rasa iba yang mendalam. Ia tidak ingin menjadi seperti Rio yang hanya mengambil apa yang ia mau. Bayu merapikan helai rambut Maudy yang berantakan, menyelipkannya di balik telinga dengan gerakan jemari yang sangat lembut.​"Maaf Maudy. Aku tidak bermaksud egois untuk mencari kepuasan sendiri atau ingin menyakitimu. Aku hanya... sangat merindukanmu sampai rasanya sesak. Sampai sampai aku tidak b

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 117

    Pintu kamar yang tertutup rapat di belakang Lyra seolah menjadi sekat yang memisahkan mereka dari dunia luar yang penuh kemunafikan. Di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya redup dari balik gorden yang tersingkap sedikit, keheningan itu mendadak terasa begitu berat dan menyesakkan.​Maudy masih berdiri terpaku, bahunya bergetar hebat. Isak tangis yang selama ini ia telan bulat-bulat di depan Rio dan ibunya kini tumpah tak terkendali. Ia menatap Bayu dengan mata yang memerah dan basah.​"Bayu... aku tidak kuat lagi. Rumah itu... rumah itu terasa seperti penjara bagiku. Setiap hari aku harus melihat wajah pria yang menghancurkan mentalku, pria yang manipulatif, pria yang menyebabkan kita kehilangan anak kita. Malam itu, dia memaksaku. Tidak peduli dengan kondisiku. Dan Ibu... Ibu lebih memilih mempercayai sandiwara busuknya daripada darah dagingnya sendiri. Aku merasa sendirian, Bayu. Aku merasa mati di dalam sana,” rintih Maudy, suaranya terdengar parau dan pecah. Dia sejenak meng

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 116

    Mobil sedan yang dikemudikan Lyra membelah jalanan kota dengan kecepatan yang stabil. Namun bagi Maudy, setiap putaran roda terasa seperti detak jantungnya yang kian memburu. Ia menatap ke luar jendela, mengenali gedung-gedung yang mulai akrab di matanya. Benar, itu adalah jalur menuju hotel. Tempat dengan arsitektur klasik modern yang menjadi saksi bisu setiap kali ia ingin melarikan diri dari kenyataan pahit hidupnya.​Saat mobil akhirnya berhenti di pelataran lobi, Maudy sempat ragu untuk melangkah keluar. Ia menatap Lyra yang tampak begitu tenang, seolah tidak baru saja melakukan sesuatu yang bisa menghancurkan rumah tangga orang lain.​"Turunlah, Maudy. Kamu tidak datang ke sini hanya untuk menatapku, bukan?" Lyra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini terasa lebih seperti dukungan daripada ejekan.Maudy pun turun. ​Mereka berdua melangkah masuk ke lobi. Maudy merasa seolah-olah seluruh staf hotel memperhatikannya. Namun dia menundukkan kepala, mengikuti langkah kaki Lyra yan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 115

    ​Maudy sendiri terkejut karena rupanya pengirim pesan itu benar benar Lyra. Namun, rasa lega segera menyusul. Ia melihat celah kemenangan di depan matanya. Ia menoleh ke arah Rio yang masih berdiri mematung dengan mulut setengah terbuka.​"Nah, Mas... temanku sudah datang. Kamu tadi bersikeras mau ikut, kan? Ayo, Mas Rio ikut saja. Tapi aku tidak menjamin ya, kalau Lyra tidak tahan melihat kita berdua bermesraan lalu dia membuat keributan di depan umum. Kamu tahu kan tabiatnya kalau sudah cemburu?" goda Maudy dengan senyum simpul yang sangat dingin.​"Lalu... lalu kenapa kamu pergi dengan dia? Jangan buat masalah, Maudy! Dia itu perempuan tidak benar!" sentak Rio, mencoba menutupi kegagalannya mengatur situasi.​Maudy menatap lurus ke mata Rio, memberikan tatapan yang membuat suaminya itu ciut seketika. "Mas Rio, jangan lupakan sesuatu dong. Aku dan Lyra itu teman sejak kuliah. Kami berdua sebenarnya tidak punya masalah apa-apa. Karena yang membuat masalah di antara kami selama ini..

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status