Share

Bab 125

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-04-08 16:39:42

Rio melangkah kembali ke meja makan dengan langkah yang dipaksakan tegak, meski sendi-sendinya terasa goyah. Ia berusaha mengatur raut wajahnya agar tampak seperti pria yang baru saja menyelesaikan urusan bisnis yang menjengkelkan, bukan pria yang baru saja diancam kehancuran total.

​Ibu Maudy meletakkan sendoknya, menatap menantunya dengan tatapan menyelidik yang seolah mampu menembus kulit wajah Rio.

"Apa yang dia bicarakan, Rio? Kenapa lama sekali?" tanya Ibu Maudy mulai menaruh curiga.

​Ri
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ananda Yanto
kakean iklan hoiii
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 143

    “Bayu, kamu belum jawab pertanyaanku,”“Yang mana, sayang?” sahut Bayu dengan santai.“Soal pekerjaan. Sebenarnya kamu mau memberi posisi apa padaku?” tanya Maudy.“Nanti kamu juga akan tahu sendiri.”​Begitu pintu lift terbuka, keheningan mendadak jatuh. Puluhan pasang mata tertuju pada sosok Maudy yang berjalan di samping Bayu. Bagi sebagian besar orang di sana, wajah Maudy adalah wajah yang membawa kejayaan perusahaan ini di masa lalu. Beberapa manajer senior tampak mengangguk hormat, memberikan senyum hangat yang menyiratkan kerinduan akan kepemimpinan Maudy yang bijak.​Namun, di sudut meja yang lain, kasak-kusuk mulai terdengar. Suara bisikan yang tajam seperti sembilu merayap di antara kursi-kursi.​"Ternyata rumor itu bukan isapan jempol semata. Lihat bagaimana mereka berjalan beriringan. Mereka pasti sudah berselingkuh sejak Pak Bayu masih menjadi OB di sini dulu,” bisik seorang pria paruh baya dari jajaran direksi kepada rekan di sebelahnya.​"Iya, betul. Kalau tidak ada hub

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 142

    Di luar ruangan, suasana meja sekretaris yang biasanya tertata rapi kini tampak tegang. Cindy berkali-kali melirik jam tangan peraknya dengan perasaan gelisah yang mulai membakar dadanya. Satu jam. Sudah tepat satu jam pintu jati besar itu tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Sebagai sekretaris, ia tahu persis bahwa jadwal Bayu pagi ini seharusnya hanya berisi peninjauan berkas internal, bukan pertemuan maraton yang menghabiskan waktu selama itu.​"Apa yang sebenarnya mereka lakukan di dalam?" bisik Cindy dengan nada dengki. Jemarinya yang lentik mengetuk-ngetuk permukaan meja kerja dengan ritme yang tidak beraturan. Ia merasa dikhianati. Baginya, setiap menit yang dihabiskan Bayu bersama Maudy adalah ancaman bagi rencana-rencana besar yang sudah dia susun dalam kepalanya. Cindy berniat bangkit, ingin mencari-cari alasan, mungkin membawakan kopi atau menanyakan tanda tangan darurat, hanya untuk merusak kebersamaan mereka.​Namun, sebelum ia sempat melangkah, suara kunci yang diput

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 141

    Maudy segera memutar tubuhnya, mencoba melepaskan diri dari dekapan hangat Bayu yang mulai terasa berbahaya bagi konsentrasinya. Ia melangkah menuju meja kerja besar milik Bayu, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan kayu jati yang dingin itu, berusaha keras mengatur ritme napasnya yang masih sedikit berantakan.​"Sudahlah, jangan bahas soal pipi merah, soal cemburu atau hal konyol lainnya! Aku ke sini untuk bekerja, Bayu. Aku butuh kepastian, butuh penghasilan. Nantinya, posisi apa yang akan aku pegang di perusahaan ini? Aku cukup sadar diri bahwa situasiku sekarang tidak lagi sama seperti saat aku menjadi CEO dulu. Aku tidak berharap jabatan tinggi secara instan,” cakap Maudy. Nada suaranya berusaha dibuat setegas mungkin meski getaran di hatinya akibat sentuhan Bayu masih terasa. Maudy kemudian berpindah posisi sebelum melanjutkan kalimatnya. Dia berbalik, menatap Bayu yang masih berdiri di tempatnya semula. "Aku punya pengalaman dalam manajemen operasional, aku juga bisa menangani

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 140

    Setelah Cindy keluar, Maudy segera melangkah menjauh, menciptakan jarak yang cukup lebar di antara dirinya dengan Bayu. Maudy berdiri di dekat jendela besar, membelakangi Bayu, seolah berharap udara sejuk di luar jendela itu bisa membantunya mendinginkan kepala yang terasa panas. DIa cukup mengenali Bayu. Pria itu selalu menggunakan pesonanya untuk membungkam logika Maudy. Dan kali ini, Maudy tidak ingin luluh begitu saja sebelum mendapatkan kepastian.​"Sepertinya memang ini yang kamu inginkan, kan? Memasang penjaga gerbang yang cantik, muda, dan begitu dedikatif sampai-sampai tidak membiarkan siapa pun mendekatimu. Kalian pasti akan sangat sering berduaan di ruangan ini, membahas berkas sampai larut malam!” seru Maudy tanpa menoleh. Suaranya terdengar datar, tapi sangat tajam.​Bayu menghela napas panjang, dja melangkah pelan mendekati Maudy. Namun berhenti sekitar satu meter di belakangnya untuk menghormati jarak yang dibuat wanita itu. "Sayang, tolonglah... jangan bahas Cindy la

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 139

    Tautan bibir yang penuh gejolak itu seolah menghentikan waktu, membuat riuh rendah dunia di luar ruangan sana terasa sangat jauh. Napas mereka memburu, saling bersahutan di tengah keheningan ruang kerja yang luas. Bayu masih enggan melepaskan dekapannya, seolah ingin memastikan bahwa Maudy benar-benar berada dalam jangkauan perlindungannya. Namun, momen privasi yang intim itu mendadak pecah oleh suara ketukan pintu yang tajam dan beruntun.​Tok! Tok! Tok!​Maudy tersentak. Kesadarannya kembali seketika. Dengan napas yang masih tersengal, dia segera mendorong bahu Bayu, menciptakan jarak di antara mereka. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena amarah, melainkan karena rasa terkejut yang bercampur dengan kecemasan akan harga dirinya jika ada yang melihat mereka dalam keadaan seperti ini.​"Maudy, tunggu..." bisik Bayu, suaranya terdengar serak dan berat.​Maudy tidak menggubris. Dengan gerakan cepat dan sedikit panik, dia segera menghampiri cermin besar yang tergantung di dindin

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 138

    ​Maudy mengepalkan tangannya di samping tubuh. Rasanya sungguh ironis. Di gedung di mana dia dulu memutuskan kebijakan-kebijakan besar, di mana dia dulu dihormati sebagai puncak pimpinan. Tapi kini dia harus berhadapan dengan seorang sekretaris yang baru seumur jagung tapi memiliki keangkuhan setinggi langit. Maudy ingin sekali membalas, ingin sekali menyebutkan bahwa ia tahu setiap sudut rahasia perusahaan ini, bahkan kode akses lift pribadi Bayu yang ada di balik punggung Cindy.​Namun, Maudy teringat posisinya. Ia adalah istri sah Rio yang masih resmi di mata hukum. Jika dia membuat keributan di sini, atau jika dia terang-terangan menunjukkan kedekatannya dengan Bayu, maka Cindy yang jelas-jelas terlihat licik ini, pasti akan menggunakan informasi itu untuk bergosip. Dan gosip di kantor sebesar ini bisa sampai ke telinga Rio dalam hitungan jam.​"Kamu sekretaris baru, kan? Namamu Cindy. Saya sarankan, sebagai orang baru, belajarlah untuk tidak menilai buku dari sampulnya. Dan bela

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 101

    ​Seketika, kolom komentar pada siaran langsung itu meledak. Ribuan pasang mata terpaku pada wajah Rio yang mendadak pias.​Rio tidak bisa menyembunyikan ekspresinya. Wajahnya memerah padam antara malu dan murka. Ia segera bersilat lidah, berteriak di depan ponselnya untuk menyelamatkan sisa-sisa ha

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 100

    Suasana di dalam ruang perawatan itu mendadak berubah menjadi panggung sandiwara yang menjijikkan. Rio, yang sempat pucat karena cengkeraman tangan Bayu, tiba-tiba menyeringai licik. Dengan gerakan tangkas, dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel pintar model terbaru miliknya. Hanya den

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 99

    Belum sampai Rio dan Ibu mertuanya pergi, terdengar derap langkah kaki yang mantap dan berwibawa di koridor rumah sakit. Pintu ruangan terbuka lebar dengan sentakan kasar, memperlihatkan sosok Bayu yang berdiri tegak dengan setelan jas hitam rapi yang membalut tubuh tegapnya. Di belakangnya, bebera

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 98

    Bau karbol yang menyengat di ruang pemeriksaan UGD seolah mencekik pernapasan Maudy. Ia terbaring lemah di atas brankar dengan wajah sepucat kertas, sementara dokter spesialis kandungan yang menanganinya baru saja meletakkan stetoskop dan melepas sarung tangan karetnya. Suasana ruangan itu sunyi, h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status