แชร์

Bab 141

ผู้เขียน: Kak Han
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-13 19:00:09

Maudy segera memutar tubuhnya, mencoba melepaskan diri dari dekapan hangat Bayu yang mulai terasa berbahaya bagi konsentrasinya. Ia melangkah menuju meja kerja besar milik Bayu, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan kayu jati yang dingin itu, berusaha keras mengatur ritme napasnya yang masih sedikit berantakan.

​"Sudahlah, jangan bahas soal pipi merah, soal cemburu atau hal konyol lainnya! Aku ke sini untuk bekerja, Bayu. Aku butuh kepastian, butuh penghasilan. Nantinya, posisi apa yang akan aku
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 343

    Di belahan kota yang lain, jarum jam bergerak tenang mendekati waktu makan malam. Bayu baru saja menginjakkan kakinya di dalam rumah setelah menembus kemacetan kota. Kemeja kerjanya sudah sedikit dilonggarkan, namun gurat ketegasan di wajahnya tidak memudar. Di dalam kamar utama, Maudy sudah terlihat anggun mengenakan gaun semi-formal bernuansa pastel, siap untuk menghadiri acara syukuran paman kandungnya malam ini.​Melihat suaminya baru pulang, Maudy tersenyum hangat dan melangkah mendekat. "Mas baru pulang? Ayo cepat bersiap, aku sudah menyiapkan kemeja batikmu di atas tempat tidur. Kita tidak enak kalau datang terlambat ke rumah Paman Heru."​Namun, alih-alih langsung bergegas ke kamar mandi atau meraih kemeja batiknya, Bayu justru menatap Maudy dengan pandangan mata yang dalam dan serius. Pria itu meraih kedua tangan Maudy, menggenggamnya dengan lembut, lalu menuntun istrinya untuk duduk bersama di sofa panjang yang terletak di sudut kamar mereka.​Maudy mengernyitkan alisnya, me

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 342

    Suasana di dalam ruang tengah rumah peninggalan Baron itu kian memanas, terasa begitu menyesakkan hingga oksigen seolah enggan singgah. Ani terbelalak, wajah paruh bayanya memerah padam menahan syok dan amarah yang meluap. Seumur hidupnya, Silvy tidak pernah sekalipun meninggikan suara, sampai membentaknya seperti ini.​"Silvy! Berani-beraninya kamu membentak Ibu?! Ibu ini orang tuamu! Semua yang Ibu lakukan itu demi kebaikanmu dan anakmu! Kamu benar-benar sudah buta karena mengemis belas kasihan pada Pak Bayu sampai tega memperlakukan Ibumu sendiri seperti ini?!" pekik Ani dengan suara bergetar karena tersinggung. ​"Demi kebaikan atau demi uang bulanan Ibu?!" balas Silvy dengan sisa-sisa keberaniannya, meskipun air matanya kini ikut luruh karena mendurhakai ibunya sendiri.​Di atas karpet, Dara yang menyisakan trauma mendalam pasca-kematian ayahnya kian histeris. Anak kecil itu menekuk kedua lututnya, menyembunyikan wajah di balik lengan mungilnya yang gemetar. Melihat dua orang d

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 341

    Langkah kaki Silvy terasa begitu goyah saat ia menuruni anak tangga menuju lantai dasar gedung kantor Bayu. Angin sore yang berembus di luar gedung perlahan mengeringkan sisa air mata di pipinya. Di dalam taksi yang membawanya pulang, Silvy terdiam menatap jalanan kota yang mulai dipadati kendaraan. Pikiran wanita itu berkecamuk. Ia tahu betul, kegagalannya membawa Bayu pulang malam ini akan memicu amarah baru dari ibunya, Ani.​Namun, ada satu hal yang berbeda dari diri Silvy sore ini. Ketegasan sorot mata Bayu dan pengingat tentang batas rumah tangga pria itu seolah menampar kewarasan Silvy yang sempat mati suri. Ia sadar, memeras emosi Bayu demi menuruti kepanikan rumahnya adalah tindakan yang keliru. Kali ini, di dalam benaknya yang mulai mendingin, Silvy membulatkan tekad. Dia tidak akan lagi membiarkan dirinya menjadi boneka yang disetir oleh hasutan penuh keserakahan sang ibu. Apapun yang dikatakan Ani di rumah nanti, ia akan teguh berdiri pada pemikirannya sendiri.​​Begitu p

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 340

    Keheningan kembali merayap di antara dinding kaca ruang kerja yang luas itu. Bayu masih terdiam, tidak mengekspresikan emosi apa pun yang bisa dibaca. Dalam hati, Bayu mengembus napas pendek. Tebakannya sama sekali tidak meleset, kedatangan Silvy memang bertujuan untuk menariknya kembali ke dalam pusaran duka dan trauma yang dialami Dara, persis seperti skenario yang dikhawatirkan Maudy semalam.​Bayu tidak langsung menjawab. Pria tegap itu berdiri diam, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menimbang-nimbang keputusan di dalam kepalanya. Logikanya berputar cepat. Di satu sisi, nuraninya sebagai seorang pria yang menghormati mendiang rekan bisnisnya merasa iba pada kondisi Dara. Namun di sisi lain, batas tegas yang telah dia janjikan kepada Maudy semalam terus berdengung di telinganya bagai sebuah alarm peringatan.​Di tengah keheningan dan kebimbangan yang mencekam itu, tiba-tiba terdengar suara getaran pendek dari atas meja kerja Bayu.Drrttt…drrttt…​Bayu mengalihkan pandan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 339

    Desakan yang bertubi-tubi dari ibunya serta tangis histeris Dara yang tak kunjung reda akhirnya meruntuhkan pertahanan mental Silvy. Berada di bawah tekanan emosional yang begitu hebat, logika sehatnya seolah lumpuh. Di tengah keputusasaan yang mendalam, wanita itu akhirnya menyerah pada keadaan. Siang itu, dengan langkah kaki yang terasa seberat timah dan hati yang didera rasa bersalah, Silvy terpaksa melangkah menuju gedung pencakar langit yang menjadi pusat dari gurita bisnis milik Bayu.​Gedung kantor pusat perusahaan Bayu berdiri megah di pusat kota, memancarkan atmosfer profesionalisme yang kaku dan dingin. Begitu melangkah masuk ke area lobi utama yang dilapisi marmer mengilat, Silvy langsung merasa terasing. Pakaian rumahnya yang buru-buru ia ganti dengan blus sederhana tampak sangat kontras dengan lalu-lalang para karyawan yang mengenakan setelan kerja necis dan formal.​Dengan sisa-sisa keberaniannya, Silvy menaiki lift menuju lantai teratas, tempat ruangan direksi berada. B

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 338

    Setelah melihat Silvy yang begitu keras kepala dan menolak mentah-mentah untuk memeras Bayu, Ani tidak menyerah begitu saja. Otak liciknya segera berputar mencari celah lain. Jika ia tidak bisa menggerakkan ibunya, maka ia akan menggunakan sang anak sebagai pion. Dara adalah kunci yang paling rapuh sekaligus paling ampuh untuk menarik kembali Bayu ke dalam lingkaran mereka.​Sore itu, saat Silvy sedang berada di dapur untuk menyiapkan makan malam, Ani melangkah pelan memasuki kamar Dara. Anak kecil itu baru saja terbangun dari tidur siangnya. Ia duduk terdiam di atas ranjang dengan boneka beruang di pelukannya, matanya yang bulat menatap kosong ke arah jendela.​Ani mendudukkan diri di tepi ranjang, lalu mengusap rambut cucunya dengan raut wajah yang sengaja dibuat layu dan penuh kesedihan palsu.​"Dara sayang... cucu Nenek yang kasihan. Dara rindu Papa, ya? Kasihan sekali cucu Nenek... sekarang sudah tidak ada Papa yang memeluk Dara lagi kalau malam," bisik Ani, suaranya mendayu-dayu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status