Share

Bab 141

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-04-13 19:00:09

Maudy segera memutar tubuhnya, mencoba melepaskan diri dari dekapan hangat Bayu yang mulai terasa berbahaya bagi konsentrasinya. Ia melangkah menuju meja kerja besar milik Bayu, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan kayu jati yang dingin itu, berusaha keras mengatur ritme napasnya yang masih sedikit berantakan.

​"Sudahlah, jangan bahas soal pipi merah, soal cemburu atau hal konyol lainnya! Aku ke sini untuk bekerja, Bayu. Aku butuh kepastian, butuh penghasilan. Nantinya, posisi apa yang akan aku
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 146

    Keheningan emosional di dalam ruangan itu mendadak pecah oleh suara hantaman keras pada pintu. Brak! Brak! Brak! Suara gedoran itu bukan lagi ketukan sopan seorang sekretaris, melainkan sebuah ledakan amarah yang sangat Maudy kenali suaranya.​"Maudy! Buka pintunya! Aku tahu kamu di dalam dengan laki-laki itu! Keluar kamu!" Teriakkan Rio menggema hingga ke selasar luar, memicu ketegangan instan di lantai eksekutif.​Maudy tersentak, tubuhnya menegang dan wajahnya memucat seketika. Refleks, dia menatap pintu dan kembali menatap Bayu dengan tatapan penuh kecemasan. Beruntung, Bayu memiliki insting yang kuat untuk selalu mengunci pintu setiap kali mereka sedang berdua. Jika tidak, Rio pasti sudah masuk dan mungkin membawa ponselnya untuk merekam posisi mereka yang sangat dekat, lalu menyebarkannya ke media sosial dengan narasi perselingkuhan yang keji.​Rupanya, pengangkatan Maudy sebagai CEO telah bocor dalam hitungan menit. Seorang staf lama yang masih menjadi antek antek Rio, telah

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 145

    Setelah berdebat kecil dengan Cindy, Maudy dan Bayu kemudian masuk ke ruang CEO tersebut. Keheningan mendadak menyelimuti ruangan luas itu. Maudy tidak segera melangkah menuju kursi kulit yang berada di balik meja kebesarannya. DIa hanya berdiri terpaku di tengah ruangan, memandangi setiap jengkal furnitur yang masih tertata di posisi yang sama seperti saat ia meninggalkannya dulu. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Yakni suasana hatinya yang kini jauh lebih berat.​Matanya seketika berkaca-kaca menatap permukaan meja kerja yang mengkilap, lalu perlahan beralih menatap Bayu yang berdiri tak jauh darinya. Bayu, yang selalu peka terhadap setiap perubahan suasana hati Maudy, segera menyadari ada riak kesedihan di balik wajah tegar wanita itu. Ia melangkah perlahan, mendekati Maudy. Namun tetap menjaga jarak yang sopan agar tidak mengganggu lamunannya.​"Maudy? Kenapa kamu diam saja? Kamu tidak suka dengan tata letak ruangannya? Jika kamu tidak suka, Aku bisa menyuruh orang untuk mengubah s

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 144

    Langkah kaki Bayu dan Maudy yang berirama di atas lantai marmer terdengar begitu mantap saat mereka meninggalkan area ruang rapat. Di sepanjang koridor, beberapa staf yang berpapasan masih menyempatkan diri untuk mengangguk dengan hormat, merasakan aura otoritas yang kembali terpancar dari sosok Maudy.​Bayu berjalan sedikit di depan, tangannya sesekali memberikan gestur penunjuk jalan seolah dia sedang menyambut tamu paling agung di kantornya sendiri. Maudy mengikuti di sampingnya dengan dagu yang tetap tegak, meski di dalam hati ia masih mencoba mencerna kejutan jabatan CEO yang baru saja diberikan Bayu secara mendadak.​Tak lama kemudian, mereka tiba di area eksekutif, area di mana meja kerja Cindy berada. Begitu mendengar suara langkah kaki yang mendekat, Cindy segera membenahi posisi duduknya. Ia memasang senyum paling manis yang ia miliki, lalu berdiri dengan sigap saat melihat Bayu muncul di tikungan koridor.​"Pak Bayu, selamat siang. Ada beberapa jadwal telepon yang…" ucapan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 143

    “Bayu, kamu belum jawab pertanyaanku,”“Yang mana, sayang?” sahut Bayu dengan santai.“Soal pekerjaan. Sebenarnya kamu mau memberi posisi apa padaku?” tanya Maudy.“Nanti kamu juga akan tahu sendiri.”​Begitu pintu lift terbuka, keheningan mendadak jatuh. Puluhan pasang mata tertuju pada sosok Maudy yang berjalan di samping Bayu. Bagi sebagian besar orang di sana, wajah Maudy adalah wajah yang membawa kejayaan perusahaan ini di masa lalu. Beberapa manajer senior tampak mengangguk hormat, memberikan senyum hangat yang menyiratkan kerinduan akan kepemimpinan Maudy yang bijak.​Namun, di sudut meja yang lain, kasak-kusuk mulai terdengar. Suara bisikan yang tajam seperti sembilu merayap di antara kursi-kursi.​"Ternyata rumor itu bukan isapan jempol semata. Lihat bagaimana mereka berjalan beriringan. Mereka pasti sudah berselingkuh sejak Pak Bayu masih menjadi OB di sini dulu,” bisik seorang pria paruh baya dari jajaran direksi kepada rekan di sebelahnya.​"Iya, betul. Kalau tidak ada hub

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 142

    Di luar ruangan, suasana meja sekretaris yang biasanya tertata rapi kini tampak tegang. Cindy berkali-kali melirik jam tangan peraknya dengan perasaan gelisah yang mulai membakar dadanya. Satu jam. Sudah tepat satu jam pintu jati besar itu tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Sebagai sekretaris, ia tahu persis bahwa jadwal Bayu pagi ini seharusnya hanya berisi peninjauan berkas internal, bukan pertemuan maraton yang menghabiskan waktu selama itu.​"Apa yang sebenarnya mereka lakukan di dalam?" bisik Cindy dengan nada dengki. Jemarinya yang lentik mengetuk-ngetuk permukaan meja kerja dengan ritme yang tidak beraturan. Ia merasa dikhianati. Baginya, setiap menit yang dihabiskan Bayu bersama Maudy adalah ancaman bagi rencana-rencana besar yang sudah dia susun dalam kepalanya. Cindy berniat bangkit, ingin mencari-cari alasan, mungkin membawakan kopi atau menanyakan tanda tangan darurat, hanya untuk merusak kebersamaan mereka.​Namun, sebelum ia sempat melangkah, suara kunci yang diput

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 141

    Maudy segera memutar tubuhnya, mencoba melepaskan diri dari dekapan hangat Bayu yang mulai terasa berbahaya bagi konsentrasinya. Ia melangkah menuju meja kerja besar milik Bayu, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan kayu jati yang dingin itu, berusaha keras mengatur ritme napasnya yang masih sedikit berantakan.​"Sudahlah, jangan bahas soal pipi merah, soal cemburu atau hal konyol lainnya! Aku ke sini untuk bekerja, Bayu. Aku butuh kepastian, butuh penghasilan. Nantinya, posisi apa yang akan aku pegang di perusahaan ini? Aku cukup sadar diri bahwa situasiku sekarang tidak lagi sama seperti saat aku menjadi CEO dulu. Aku tidak berharap jabatan tinggi secara instan,” cakap Maudy. Nada suaranya berusaha dibuat setegas mungkin meski getaran di hatinya akibat sentuhan Bayu masih terasa. Maudy kemudian berpindah posisi sebelum melanjutkan kalimatnya. Dia berbalik, menatap Bayu yang masih berdiri di tempatnya semula. "Aku punya pengalaman dalam manajemen operasional, aku juga bisa menangani

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 77

    “Tenang Maudy. Jangan panik,” bisik Bayu berusaha menenangkan Maudy. Tapi setelah itu Bayu perlahan melepaskan genggaman tangan Maudy. Ia berdiri dengan tenang. Akan tetapi aura yang terpancar dari tubuhnya mendadak berubah. Tidak ada lagi kelembutan yang ia tunjukkan pada Maudy tadi. Karena yang t

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 76

    Suasana hangat yang baru saja tercipta di dalam kamar perawatan Maudy itu mendadak menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk. Bayu baru saja hendak membetulkan letak bantal Maudy ketika daun pintu ganda itu dihentakkan terbuka dari luar. Bunyi dentuman pintu yang membentur dinding pembatas

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 75

    “Udah, jangan malu. Kalau mau ngajak ketemu, harusnya di hotel dong. Jangan di rumah sakit begini. Kan nggak seru..” cerocos Bayu yang masih terus berusaha menggoda Maudy agar kembali ceria.“Emangnya kamu berani ketemuan sama aku di hotel? Kamu nggak takut sama Ibuku?” sahut Maudy dengan ceria. Se

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 74

    Pagi itu, Bayu sedang terduduk di lantai kontrakannya yang sempit, dikelilingi oleh tumpukan berkas kusam yang menjadi saksi bisu perjuangannya selama ini. Di tangannya, sebuah map plastik berisi bukti transfer gelap dan rekaman saksi kunci sudah siap untuk diserahkan ke markas kepolisian. Hari ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status