ログインKeheningan emosional di dalam ruangan itu mendadak pecah oleh suara hantaman keras pada pintu. Brak! Brak! Brak! Suara gedoran itu bukan lagi ketukan sopan seorang sekretaris, melainkan sebuah ledakan amarah yang sangat Maudy kenali suaranya."Maudy! Buka pintunya! Aku tahu kamu di dalam dengan laki-laki itu! Keluar kamu!" Teriakkan Rio menggema hingga ke selasar luar, memicu ketegangan instan di lantai eksekutif.Maudy tersentak, tubuhnya menegang dan wajahnya memucat seketika. Refleks, dia menatap pintu dan kembali menatap Bayu dengan tatapan penuh kecemasan. Beruntung, Bayu memiliki insting yang kuat untuk selalu mengunci pintu setiap kali mereka sedang berdua. Jika tidak, Rio pasti sudah masuk dan mungkin membawa ponselnya untuk merekam posisi mereka yang sangat dekat, lalu menyebarkannya ke media sosial dengan narasi perselingkuhan yang keji.Rupanya, pengangkatan Maudy sebagai CEO telah bocor dalam hitungan menit. Seorang staf lama yang masih menjadi antek antek Rio, telah
Setelah berdebat kecil dengan Cindy, Maudy dan Bayu kemudian masuk ke ruang CEO tersebut. Keheningan mendadak menyelimuti ruangan luas itu. Maudy tidak segera melangkah menuju kursi kulit yang berada di balik meja kebesarannya. DIa hanya berdiri terpaku di tengah ruangan, memandangi setiap jengkal furnitur yang masih tertata di posisi yang sama seperti saat ia meninggalkannya dulu. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Yakni suasana hatinya yang kini jauh lebih berat.Matanya seketika berkaca-kaca menatap permukaan meja kerja yang mengkilap, lalu perlahan beralih menatap Bayu yang berdiri tak jauh darinya. Bayu, yang selalu peka terhadap setiap perubahan suasana hati Maudy, segera menyadari ada riak kesedihan di balik wajah tegar wanita itu. Ia melangkah perlahan, mendekati Maudy. Namun tetap menjaga jarak yang sopan agar tidak mengganggu lamunannya."Maudy? Kenapa kamu diam saja? Kamu tidak suka dengan tata letak ruangannya? Jika kamu tidak suka, Aku bisa menyuruh orang untuk mengubah s
Langkah kaki Bayu dan Maudy yang berirama di atas lantai marmer terdengar begitu mantap saat mereka meninggalkan area ruang rapat. Di sepanjang koridor, beberapa staf yang berpapasan masih menyempatkan diri untuk mengangguk dengan hormat, merasakan aura otoritas yang kembali terpancar dari sosok Maudy.Bayu berjalan sedikit di depan, tangannya sesekali memberikan gestur penunjuk jalan seolah dia sedang menyambut tamu paling agung di kantornya sendiri. Maudy mengikuti di sampingnya dengan dagu yang tetap tegak, meski di dalam hati ia masih mencoba mencerna kejutan jabatan CEO yang baru saja diberikan Bayu secara mendadak.Tak lama kemudian, mereka tiba di area eksekutif, area di mana meja kerja Cindy berada. Begitu mendengar suara langkah kaki yang mendekat, Cindy segera membenahi posisi duduknya. Ia memasang senyum paling manis yang ia miliki, lalu berdiri dengan sigap saat melihat Bayu muncul di tikungan koridor."Pak Bayu, selamat siang. Ada beberapa jadwal telepon yang…" ucapan
“Bayu, kamu belum jawab pertanyaanku,”“Yang mana, sayang?” sahut Bayu dengan santai.“Soal pekerjaan. Sebenarnya kamu mau memberi posisi apa padaku?” tanya Maudy.“Nanti kamu juga akan tahu sendiri.”Begitu pintu lift terbuka, keheningan mendadak jatuh. Puluhan pasang mata tertuju pada sosok Maudy yang berjalan di samping Bayu. Bagi sebagian besar orang di sana, wajah Maudy adalah wajah yang membawa kejayaan perusahaan ini di masa lalu. Beberapa manajer senior tampak mengangguk hormat, memberikan senyum hangat yang menyiratkan kerinduan akan kepemimpinan Maudy yang bijak.Namun, di sudut meja yang lain, kasak-kusuk mulai terdengar. Suara bisikan yang tajam seperti sembilu merayap di antara kursi-kursi."Ternyata rumor itu bukan isapan jempol semata. Lihat bagaimana mereka berjalan beriringan. Mereka pasti sudah berselingkuh sejak Pak Bayu masih menjadi OB di sini dulu,” bisik seorang pria paruh baya dari jajaran direksi kepada rekan di sebelahnya."Iya, betul. Kalau tidak ada hub
Di luar ruangan, suasana meja sekretaris yang biasanya tertata rapi kini tampak tegang. Cindy berkali-kali melirik jam tangan peraknya dengan perasaan gelisah yang mulai membakar dadanya. Satu jam. Sudah tepat satu jam pintu jati besar itu tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Sebagai sekretaris, ia tahu persis bahwa jadwal Bayu pagi ini seharusnya hanya berisi peninjauan berkas internal, bukan pertemuan maraton yang menghabiskan waktu selama itu."Apa yang sebenarnya mereka lakukan di dalam?" bisik Cindy dengan nada dengki. Jemarinya yang lentik mengetuk-ngetuk permukaan meja kerja dengan ritme yang tidak beraturan. Ia merasa dikhianati. Baginya, setiap menit yang dihabiskan Bayu bersama Maudy adalah ancaman bagi rencana-rencana besar yang sudah dia susun dalam kepalanya. Cindy berniat bangkit, ingin mencari-cari alasan, mungkin membawakan kopi atau menanyakan tanda tangan darurat, hanya untuk merusak kebersamaan mereka.Namun, sebelum ia sempat melangkah, suara kunci yang diput
Maudy segera memutar tubuhnya, mencoba melepaskan diri dari dekapan hangat Bayu yang mulai terasa berbahaya bagi konsentrasinya. Ia melangkah menuju meja kerja besar milik Bayu, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan kayu jati yang dingin itu, berusaha keras mengatur ritme napasnya yang masih sedikit berantakan."Sudahlah, jangan bahas soal pipi merah, soal cemburu atau hal konyol lainnya! Aku ke sini untuk bekerja, Bayu. Aku butuh kepastian, butuh penghasilan. Nantinya, posisi apa yang akan aku pegang di perusahaan ini? Aku cukup sadar diri bahwa situasiku sekarang tidak lagi sama seperti saat aku menjadi CEO dulu. Aku tidak berharap jabatan tinggi secara instan,” cakap Maudy. Nada suaranya berusaha dibuat setegas mungkin meski getaran di hatinya akibat sentuhan Bayu masih terasa. Maudy kemudian berpindah posisi sebelum melanjutkan kalimatnya. Dia berbalik, menatap Bayu yang masih berdiri di tempatnya semula. "Aku punya pengalaman dalam manajemen operasional, aku juga bisa menangani
Bayu tidak langsung memutar kemudi ke arah kediaman Rio. Ia justru membelokkan mobil ke sebuah area rindang dan berhenti tepat di depan sebuah kedai bubur ayam langganan yang cukup legendaris namun tersembunyi."Turun, Tuan Putri. Waktunya mengisi bahan bakar," ujar Bayu sambil mematikan mesin.M
Suasana teras yang tadi sempat mencair karena candaan Bayu, mendadak berubah menjadi kaku begitu deru motor pria itu menjauh. Maudy masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai, berharap bisa langsung menuju kamar dan menenggelamkan diri di balik selimut. Namun, Ayah dan Ibunya sudah menunggu di ruan
Tok... tok... tok...Terdengar ketukan di pintu depan yang cukup keras, dan seketika memutus ketegangan yang menggantung di antara Maudy dan kedua orang tuanya. Maudy sedikit lega, karena dia punya waktu untuk menunda jawabannya.“Siapa yang datang bertamu malam begini?” tanya Ibunya Maudy.“Biar
Bayu mengeratkan pelukannya, merasakan bahu Maudy yang masih berguncang hebat. Ia membiarkan wanita itu menumpahkan segala sesak yang menghimpit dada. Di kamar hotel yang sunyi itu, hanya suara isak tangis Maudy yang memecah keheningan, meratapi nasibnya yang seolah sedang dipermainkan oleh tangan







