MasukSore harinya, sekitar pukul lima, deru mobil Bayu terdengar memasuki garasi rumah. Setelah seharian penuh bergelut dengan tumpukan berkas dan koordinasi intensif bersama Andra di kantor, pria tegap itu melangkah masuk ke dalam rumah. Seperti biasa, hal pertama yang dicarinya adalah keberadaan sang istri dan anak-anaknya.Namun, saat melewati area ruang tengah menuju tangga, Ibu Maudy yang sedang duduk di sofa ruang tamu memanggilnya dengan suara lembut namun terkesan serius."Bayu, bisa bicara sebentar, Nak?" panggil Ibu Maudy.Bayu menghentikan langkahnya, lalu mengangguk sopan. Pria itu meletakkan tas kerjanya di atas meja dekat pintu, memutar gulungan kemejanya sedikit, lalu mendekati ibu mertuanya dan duduk di sofa seberang."Iya, Ibu. Ada apa? Maudy mana, Bu?" tanya Bayu dengan nada khawatir yang langsung kentara di wajahnya."Maudy ada di kamar atas, baru saja menidurkan Evelyn," sahut Ibu mertuanya dengan tenang. "Ibu sengaja memanggilmu sebelum kamu naik ke atas. Ibu mau
Sejak malam pertemuan dengan Tasya di restoran itu, Maudy jadi lebih sering termenung. Wanita lembut itu lebih banyak diam di sudut ruang keluarga, memandangi keranjang bayi tempat Evelyn tertidur pulas atau memperhatikan keempat jagoan kembarnya yang sedang bermain di atas karpet. Ada rasa bersalah yang diam-diam menyelinap dan menggerogoti hatinya. Maudy merasa seolah-olah kebahagiaan dan riuhnya rumah tangganya selama ini secara tidak sengaja telah pamer dan menyakiti perasaan Tasya.Siang itu, ketika Bayu sedang berada di kantor dan si kembar empat sedang tidur siang didampingi para suster, Ibu Maudy mendekati putrinya yang sedang duduk melamun di teras samping. Ibu membawa segelas teh hangat manis, lalu mendudukkan diri di sebelah Maudy."Maudy..." panggil Ibunya dengan suara lembut penuh kasih sayang.Maudy tersentak kecil dari lamunannya, lalu menoleh dan menyunggingkan senyum tipis yang tampak lelah. "Eh, Ibu... Kok belum tidur siang?"Ibu membelai lembut rambut Maudy, me
Keesokan harinya di kantor, suasana ruang kerja komisaris terasa sangat hening. Jam dinding baru menunjukkan pukul delapan pagi, namun Andra sudah berdiri di depan meja kerja Bayu. Wajah CEO muda itu tampak sangat pucat, dengan lingkaran hitam di bawah matanya yang menandakan ia sama sekali tidak bisa tidur nyenyak semalaman.Sejak melangkah keluar dari restoran semalam, Andra terpaksa memendam rapat-rapt rasa penasarannya. Ia tidak berani mengajukan satu pertanyaan pun pada Tasya karena melihat kondisi istrinya yang begitu rapuh dan terus menangis diam-diam hingga tertidur.Bayu yang baru saja meletakkan tas kerjanya langsung memahami situasi saat melihat kedatangan Andra. Pria itu menunjuk kursi di hadapannya."Duduk dulu, Ndra. Kamu kelihatan kacau sekali," tutur Bayu tenang seraya menuangkan segelas air putih dan menggesernya ke arah Andra.Andra mendudukkan diri dengan layu. Pria itu memegang gelas dengan kedua tangannya yang sedikit gemetar, lalu menatap Bayu dengan pandanga
Maudy dan Tasya sama-sama terdiam saat Bayu dan Andra berdiri di dekat meja. Suasana ruangan VIP yang tadinya dipenuhi letupan emosi mendadak hening seketika. Maudy menarik napas panjang, menundukkan kepala seraya mengusap pelan dadanya yang terasa sesak, sementara Tasya menyapu air matanya dengan tisu seraya memalingkan wajah ke samping.Andra yang melihat kondisi istrinya menangis sesenggukan langsung merasa cemas luar biasa. Ia mendekati Tasya, merangkulkan tangannya di bahu sang istri dengan raut wajah penuh tanda tanya."Mas... kita pulang sekarang," bisik Tasya dengan suara parau dan serak. Tanpa menunggu jawaban dari Andra atau mengucapkan sepatah kata pun pada Bayu dan Maudy, Tasya mengambil tas tangannya lalu berdiri dan bergegas melangkah keluar dari ruangan VIP.Andra panik. Ia menatap Bayu dan Maudy dengan raut rasa bersalah yang amat sangat. "Pak Bayu, Bu Maudy... maafkan istri saya. Saya pamit dulu.""Tidak apa-apa, Ndra. Dampingi Tasya dulu, tenangkan dia," sahut Ba
Air mata yang sejak tadi ditahan Tasya akhirnya luruh melintasi pipinya. Rasa sesak yang membendung di dadanya pecah, meluapkan seluruh ganjalan batin yang selama bertahun-tahun ini ia simpan sendiri. Ruang makan privat yang tadinya tenang kini dipenuhi getaran emosi dan keheningan yang menyayat."Kamu tidak akan pernah tahu rasanya, Maudy," bisik Tasya dengan suara serak, napasnya tersendag-sendag. "Menjadi perempuan yang sudah menikah bertahun-tahun tapi tidak kunjung punya anak itu rasanya seperti berjalan di bawah pengawasan semua orang. Ke mana pun aku pergi, selalu ada mata yang memandang kasihan atau mulut yang bertanya tanpa perasaan."Tasya mengusap air matanya dengan kasar, namun lelehan bening itu terus saja mengalir."Setiap acara keluarga, setiap kali kumpul arisan, atau bahkan saat bertemu teman lama, pertanyaan pertama yang keluar dari mulut mereka selalu sama. Sudah isi belum? Kapan mau kasih cucu? Kok ditunda-tunda terus? Mereka bicara seolah-olah punya anak itu cu
Makan malam di ruangan VIP restoran tempat mereka berkumpul itu berlangsung dalam alunan musik instrumental yang lembut. Hidangan pembuka telah tersaji indah di atas meja, namun ketegangan samar masih menggantung di udara.Sesuai rencana awal, Bayu dengan lihai memberikan isyarat mata pada Andra. Pria itu tiba-tiba berdiri seraya tersenyum ramah. "Sya, Mas sama Pak Bayu mau ke area luar sebentar ya, ada urusan berkas kantor yang perlu dipastikan sebentar. Kalian ngobrol santai saja dulu."Andra menepuk pelan bahu istrinya, memberikan tatapan menenangkan sebelum akhirnya melangkah keluar ruangan mengekor di belakang Bayu. Kini, hanya tersisa Maudy dan Tasya yang duduk berhadapan di meja makan yang luas.Maudy meraih teko teh hangat, membuangkan cangkir untuk Tasya seraya menyunggingkan senyum paling tulus. "Diminum dulu tehnya, Sya. Ini chamomile, bagus buat bikin pikiran rileks."Tasya memandangi cangkir teh yang berasap tipis di hadapannya. Meski Maudy sudah berusaha bersikap san
“Simpan pertanyaanmu dan kembali lanjutkan pekerjaanmu!” titah Rio mengalihkan pertanyaan dari Bayu. Bayu tidak bisa mengelak. Dia lekas undur diri dan beranjak dari tempatnya berdiri. “Baik Pak Rio, saya akan kembali bekerja,” ucap Bayu sebelum dia melangkah pergi. Pintu ruangan tersebut kembali
"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!" Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar.
Ponsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang. “Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan.
“Saya cuma mau membantu Bu Maudy berdiri. Lantai itu kotor, dan harus saya pel,” ucap Bayu dengan pelan sambil mulai duduk di dekat Maudy. Dia juga sedikit mengulurkan tangan, barangkali Maudy meraihnya. Akan tetapi, yang ada Maudy menepis tangannya dengan kasar lalu melempar sebuah brosur tebal k







