MasukPagi itu, rintik gerimis yang membasahi kaca-kaca jendela gedung perkantoran mewah milik Bayu seolah menambah kesan dingin dan kaku pada suasana di lantai eksekutif. Di dalam ruang kerja utamanya yang luas, Bayu berdiri tegak memunggungi meja kerjanya. Kedua tangannya terlipat di balik punggung, sementara pandangan matanya menatap lurus ke arah pemandangan kota yang samar tertutup kabut tipis.Suara ketukan pintu yang teratur memecah kesunyian ruangan tersebut. Setelah Bayu memberikan izin masuk dengan gumaman rendah, Cindy membuka pintu ruangan itu lebar-lebar, mempersilakan dua orang tamu yang sudah dijadwalkan hadir pagi ini untuk melangkah masuk.Pradipta berjalan paling depan dengan langkah yang sengaja dibuat tenang tapi diliputi ketegangan yang tertahan. Di sampingnya, Alena melangkah dengan kepala yang tertunduk dalam-dalam. Tidak ada lagi langkah angkuh, riasan wajah yang mencolok, atau pakaian seksi yang ia kenakan kemarin siang. Hari ini, Alena tampak begitu sederhana d
Keesokan harinya, dii dalam ruangan Alena, koper-koper besar sudah berdiri berjajar di dekat pintu, menjadi penanda bahwa beberapa jam lagi kehidupan Pradipta dan putrinya di kota itu akan segera berakhir untuk selamanya.Alena duduk bersandar di kepala ranjang, menatap kosong ke arah deretan koper tersebut. Matanya masih tampak sembap dan lingkaran hitam di bawah matanya mempertegas bahwa ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata sepanjang malam. Rasa malu, hancur, dan penyesalan yang mendalam masih menggunung di dalam dadanya.Pradipta melangkah lambat mendekati putrinya. Ia membawa dua cangkir teh hangat, meletakkannya di atas meja kecil, lalu mendudukkan dirinya di tepi kasur, tepat di samping Alena. Pria paruh baya itu mengembuskan napas panjang, gurat-gurat kelelahan dan beban berat di wajahnya tampak sedikit melunak pagi ini."Alena..." panggil Pradipta, suaranya mengalun sangat rendah dan lambat di tengah keheningan pagi yang sunyi. "Sebelum kita benar-benar pergi dari kota
Mendengar penuturan Maudy yang begitu mengejutkan, gerakan tangan Bayu yang semula hendak merapikan lembaran berkas di pangkuannya seketika terhenti.Bayu mendongakkan kepala sepenuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Maudy untuk mencari tanda-tanda apakah wanita itu sedang bercanda. Namun, yang ia dapati hanyalah binar kepuasan yang tulus dan jujur."Rio dihajar preman? Oleh perintah ayah Alena?" tanya Bayu dengan pelan dan terkejut.Maudy mengangguk perlahan, lalu mulai mengurai kembali seluruh cerita yang baru saja dia dengar dari seberang telepon. Maudy menceritakan bagaimana Lyra membeberkan kronologi penggerebekan itu dengan sangat mendetail, tentang bagaimana marahnya Pradipta saat mengetahui uang perusahaan keluarga mereka senilai lima ratus juta rupiah dikuras habis oleh Alena demi mendanai obsesi gilanya, dan bagaimana uang itu ternyata sudah habis diputar oleh Rio untuk membayar uang muka sebuah rumah baru.Bayu mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggung
Ketegangan di dalam ruangan ber-AC itu mendadak meningkat hingga ke titik yang mencekam. Aroma amarah yang dibawa oleh Pradipta berkelindan dengan hawa dingin yang dipancarkan oleh tatapan mata ketiga preman berbadan tegap di belakangnya.Rio merasakan keringat dingin mulai merembes keluar dari pori-pori kulitnya, membasahi kerah kemeja mahalnya. Di dalam dadanya, jantung Rio berdegup kencang dibayangi kepanikan yang luar biasa. Fakta yang sebenarnya adalah, uang lima ratus juta rupiah yang ditransfer oleh Alena beberapa waktu lalu sudah tidak lagi utuh di dalam rekeningnya.Begitu dana segar itu masuk, Rio yang memang sedang terlilit masalah finansial pasca-perceraian dengan Maudy langsung menggunakannya tanpa berpikir panjang. Sebagian besar dari uang itu telah ia bayarkan sebagai uang muka untuk membeli sebuah rumah baru yang akan ia gunakan sebagai tempat tinggal sekaligus lambang gengsinya yang runtuh. Sementara sisa dari uang tersebut sengaja ia simpan rapat-rapat di rekening
Sementara itu, di lain tempat, di dalam rumah Baru milik Rio terasa begitu mencekam. Alena berjalan masuk dengan langkah yang menghentak kasar, membanting tas brand mewah miliknya ke atas sofa kulit hingga menimbulkan suara dentuman yang cukup keras. Napasnya memburu panas, dan sepasang matanya menyiratkan kobaran amarah serta rasa malu yang belum juga padam setelah diusir oleh Maudy beberapa jam yang lalu.Rio yang sedang duduk santai, menyunggingkan senyum tipis, seolah sudah bisa menebak apa yang baru saja terjadi."Bagaimana? Dari wajahmu, sepertinya pertunjukan besarmu tidak berjalan sesuai skenario kita," sindir Rio, nadanya terdengar begitu tenang tanpa beban.Alena melangkah lebar, memangkas jarak lalu memukul permukaan meja kerja Rio dengan kedua telapak tangannya. "Ini semua karena ide bodohmu, Rio! Rencanamu gagal total! Maudy datang ke rumah Bayu, tapi dia sama sekali tidak histeris atau memaki Bayu seperti yang kamu katakan. Perempuan sialan itu justru tahu kalau ini s
Maudy terdiam cukup lama setelah Bayu menyelesaikan rincian rencana gilanya. Maudy menarik napasnya dalam-dalam, membiarkan pasokan udara dingin dari AC mobil memenuhi paru-parunya, mencoba menjernihkan isi kepalanya yang sempat ikut terombang-ambing oleh skenario balas dendam tersebut. Ia menatap jemari tangannya yang masih berada di dalam genggaman hangat Bayu, lalu perlahan-lahan memutar kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata pria di sampingnya itu.Ada riak ketegasan yang sangat tenang, namun tak terbantahkan, memancar dari sepasang mata jernih Maudy."Tidak, Bayu. Aku tidak setuju dengan ide gila itu!” seru Maudy dengan nada datar, tenang, dan penuh akan penolakan yang mutlak.“Loh, kenapa sayang?” tanya Bayu.Maudy perlahan menarik tangannya dari genggaman Bayu, lalu membetulkan posisi duduknya agar menghadap penuh ke arah kekasihnya. "Rencanamu itu memang terdengar sangat cerdas dan instan untuk menghancurkan mereka dalam semalam. Tapi, pernahkah kamu memikirkan apa ya
Keheningan di kamar hotel itu terasa begitu pekat, seolah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot oleh pengakuan mengerikan yang baru saja terlontar. Maudy masih mematung di tepi ranjang. Tatapannya kosong, tertuju pada foto yang tergeletak di lantai. Foto yang kini tampak seperti potongan bukt
Maudy hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Bayu, lalu beralih menatap Lyra dengan raut wajah tidak enak hati. "Maaf ya, Lyra. Bayu memang begitu, dia OB yang sedikit bandel di sini. Jangan dimasukkan ke hati ucapan lancangnya tadi," ucap Maudy meminta maaf pada Lyra. Lyra hanya tertawa k
Bayu menepi di bawah pohon rindang yang agak jauh dari butik itu. Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Rio tengah tertawa mesra bersama wanita itu. Jarinya gemetar, berada hanya beberapa milimeter di atas tombol Kirim ke kontak Maudy. "Kalau aku kirim sekarang, apa yang terjadi?Bu Mau
Mobil yang dikendarai Ayah dan Ibu Maudy melaju menembus kesunyian malam. Namun suasana di dalamnya jauh dari kata tenang. Begitu gang sempit kontrakan Bayu menghilang dari spion, Ibu Maudy tiba-tiba melepaskan pegangan di pelipisnya. Ia duduk tegak, napasnya kembali teratur, dan sorot matanya yang







