LOGINKetegangan di dalam ruangan ber-AC itu mendadak meningkat hingga ke titik yang mencekam. Aroma amarah yang dibawa oleh Pradipta berkelindan dengan hawa dingin yang dipancarkan oleh tatapan mata ketiga preman berbadan tegap di belakangnya.Rio merasakan keringat dingin mulai merembes keluar dari pori-pori kulitnya, membasahi kerah kemeja mahalnya. Di dalam dadanya, jantung Rio berdegup kencang dibayangi kepanikan yang luar biasa. Fakta yang sebenarnya adalah, uang lima ratus juta rupiah yang ditransfer oleh Alena beberapa waktu lalu sudah tidak lagi utuh di dalam rekeningnya.Begitu dana segar itu masuk, Rio yang memang sedang terlilit masalah finansial pasca-perceraian dengan Maudy langsung menggunakannya tanpa berpikir panjang. Sebagian besar dari uang itu telah ia bayarkan sebagai uang muka untuk membeli sebuah rumah baru yang akan ia gunakan sebagai tempat tinggal sekaligus lambang gengsinya yang runtuh. Sementara sisa dari uang tersebut sengaja ia simpan rapat-rapat di rekening
Sementara itu, di lain tempat, di dalam rumah Baru milik Rio terasa begitu mencekam. Alena berjalan masuk dengan langkah yang menghentak kasar, membanting tas brand mewah miliknya ke atas sofa kulit hingga menimbulkan suara dentuman yang cukup keras. Napasnya memburu panas, dan sepasang matanya menyiratkan kobaran amarah serta rasa malu yang belum juga padam setelah diusir oleh Maudy beberapa jam yang lalu.Rio yang sedang duduk santai, menyunggingkan senyum tipis, seolah sudah bisa menebak apa yang baru saja terjadi."Bagaimana? Dari wajahmu, sepertinya pertunjukan besarmu tidak berjalan sesuai skenario kita," sindir Rio, nadanya terdengar begitu tenang tanpa beban.Alena melangkah lebar, memangkas jarak lalu memukul permukaan meja kerja Rio dengan kedua telapak tangannya. "Ini semua karena ide bodohmu, Rio! Rencanamu gagal total! Maudy datang ke rumah Bayu, tapi dia sama sekali tidak histeris atau memaki Bayu seperti yang kamu katakan. Perempuan sialan itu justru tahu kalau ini s
Maudy terdiam cukup lama setelah Bayu menyelesaikan rincian rencana gilanya. Maudy menarik napasnya dalam-dalam, membiarkan pasokan udara dingin dari AC mobil memenuhi paru-parunya, mencoba menjernihkan isi kepalanya yang sempat ikut terombang-ambing oleh skenario balas dendam tersebut. Ia menatap jemari tangannya yang masih berada di dalam genggaman hangat Bayu, lalu perlahan-lahan memutar kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata pria di sampingnya itu.Ada riak ketegasan yang sangat tenang, namun tak terbantahkan, memancar dari sepasang mata jernih Maudy."Tidak, Bayu. Aku tidak setuju dengan ide gila itu!” seru Maudy dengan nada datar, tenang, dan penuh akan penolakan yang mutlak.“Loh, kenapa sayang?” tanya Bayu.Maudy perlahan menarik tangannya dari genggaman Bayu, lalu membetulkan posisi duduknya agar menghadap penuh ke arah kekasihnya. "Rencanamu itu memang terdengar sangat cerdas dan instan untuk menghancurkan mereka dalam semalam. Tapi, pernahkah kamu memikirkan apa ya
Di tengah keheningan mobil yang masih diselimuti oleh aura kemarahan yang pekat, roda kemudi di tangan Bayu bergerak dengan ritme yang lambat dan konstan. Tatapan matanya yang semula tajam menatap jalanan aspal, perlahan-lahan mulai melunak. Riak amarah yang tadi membakar rahang tegasnya kini mendadak memudar, digantikan oleh kilat jenaka yang mendadak melintas di sepasang manik matanya.Otak Bayu mulai menyusun sebuah rencana baru. Sebuah ide yang bisa dikatakan cukup konyol, ekstrem, tapi memiliki daya hancur yang luar biasa instan untuk mematahkan sayap kedua musuh mereka sekaligus.Sebuah senyuman simpul yang teramat misterius perlahan-lahan terukir di sudut bibir Bayu. Ia bahkan sempat terkekeh rendah, sebuah suara tawa yang terdengar begitu renyah di dalam kabin mobil yang sunyi.Perubahan drastis pada ekspresi wajah Bayu itu tentu tidak luput dari perhatian Maudy. Wanita itu mengernyitkan dahi indahnya dalam-dalam, menatap Bayu dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa heran
Begitu pagutan hangat itu terlepas, napas Maudy terdengar sedikit memburu. Sisa-sisa kejengkelannya telah lumat, digantikan oleh semburat merah yang menjalar pasrah di sepasang pipinya. Tatapan mata Bayu yang kini melunak dan dipenuhi binar jenaka membuat Maudy hanya bisa mendengus pelan, lalu memukul pelan dada bidang pria itu sebagai bentuk protes terakhirnya.“Sudah Bayu, cepat mandi sana!” tegas Maudy.Bayu terkekeh rendah, suara tawa basahnya yang khas bergetar menenangkan dada Maudy. "Perintah dilaksanakan, Permaisuri. Aku akan membersihkan diri sekarang juga dari ujung kepala sampai ujung kaki, sampai tidak ada satu pun sisa debu dari luar yang tertinggal."Dengan gerakan yang tangkas, Bayu bangkit dari tepi ranjang. Ia menyambar handuk bersih yang tergantung di dekat lemari, lalu melangkah bergegas menuju kamar mandi yang terletak di sudut ruangan. Tak lama kemudian, terdengar bunyi gemercik air shower yang jatuh menghantam lantai porselen, memecah kesunyian kamar utama ters
"Sudah kukatakan sejak awal jika aku tahu semuanya," Jawab Maudy, jemarinya kini mengusap punggung tangan Bayu dengan kelembutan yang menenangkan.“Maksud kamu?” "Aku tidak butuh penjelasan panjang lebar darimu yang sedang pening seperti ini. Asisten rumah tanggamu... Bibi... sudah menceritakan seluruh kronologi kejadiannya padaku di bawah tadi sebelum aku melangkah naik ke lantai atas,” jawab Maudy.Seketika itu juga, Bayu langsung terdiam seribu bahasa. Seluruh otot tubuhnya yang sejak tadi menegang kaku perlahan-lahan mengendur, dan sepotong beban seberat berton-ton yang menghimpit dadanya mendadak menguap tanpa sisa. Rasa lega yang luar biasa teramat besar mengalir di dalam sekujur tubuhnya, membuat napasnya yang sempat memburu kini kembali teratur.Rupanya, firasat buruk yang membawa Maudy datang ke rumah ini tidak langsung membuatnya bertindak gegabah. Sebelum kakinya menginjak anak tangga menuju kamar utama, Maudy yang melihat wajah pucat dan ketakutan sang asisten telah l
Keheningan di kamar hotel itu terasa begitu pekat, seolah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot oleh pengakuan mengerikan yang baru saja terlontar. Maudy masih mematung di tepi ranjang. Tatapannya kosong, tertuju pada foto yang tergeletak di lantai. Foto yang kini tampak seperti potongan bukt
Maudy hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Bayu, lalu beralih menatap Lyra dengan raut wajah tidak enak hati. "Maaf ya, Lyra. Bayu memang begitu, dia OB yang sedikit bandel di sini. Jangan dimasukkan ke hati ucapan lancangnya tadi," ucap Maudy meminta maaf pada Lyra. Lyra hanya tertawa k
Bayu menepi di bawah pohon rindang yang agak jauh dari butik itu. Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Rio tengah tertawa mesra bersama wanita itu. Jarinya gemetar, berada hanya beberapa milimeter di atas tombol Kirim ke kontak Maudy. "Kalau aku kirim sekarang, apa yang terjadi?Bu Mau
Mobil yang dikendarai Ayah dan Ibu Maudy melaju menembus kesunyian malam. Namun suasana di dalamnya jauh dari kata tenang. Begitu gang sempit kontrakan Bayu menghilang dari spion, Ibu Maudy tiba-tiba melepaskan pegangan di pelipisnya. Ia duduk tegak, napasnya kembali teratur, dan sorot matanya yang







