แชร์

Bab 325

ผู้เขียน: Kak Han
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-11 19:29:24

Pagi itu, matahari terbit dengan pendar cahaya yang lembut, menembus sisa-sisa kabut yang menyelimuti pelataran rumah Maudy. Tidak ada karpet merah yang membentang luas, tidak ada deretan papan bunga ucapan selamat yang memenuhi jalanan, dan tidak ada alunan musik megah yang menggema ke sekeliling lingkungan. Yang terdengar hanyalah suara gesekan dedaunan yang ditiup angin pagi, menciptakan suasana yang teramat khidmat, tenang, dan bersahaja.

​Di dalam ruang tengah yang telah ditata ulang, sebu
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
bahtiar
chapter 325, udah ending apa blum ya?
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 325

    Pagi itu, matahari terbit dengan pendar cahaya yang lembut, menembus sisa-sisa kabut yang menyelimuti pelataran rumah Maudy. Tidak ada karpet merah yang membentang luas, tidak ada deretan papan bunga ucapan selamat yang memenuhi jalanan, dan tidak ada alunan musik megah yang menggema ke sekeliling lingkungan. Yang terdengar hanyalah suara gesekan dedaunan yang ditiup angin pagi, menciptakan suasana yang teramat khidmat, tenang, dan bersahaja.​Di dalam ruang tengah yang telah ditata ulang, sebuah meja kayu panjang berlapis kain putih bersih diletakkan di bagian tengah. Di sekelilingnya, hanya ada beberapa kursi yang disediakan untuk keluarga inti serta petugas pencatatan sipil dari lembaga resmi negara. Meskipun ruangan itu tampak lengang tanpa dekorasi bunga yang mewah, kesucian dari momen yang akan berlangsung terasa begitu nyata menghinggapi dada siapa pun yang hadir.​Maudy melangkah turun dari tangga dengan ritme yang sangat lambat. Ia mengenakan gaun putih polos berbahan satin t

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 324

    Keheningan yang mencekam kembali mengendap di dalam ruang tamu, begitu tebal hingga detak jarum jam dinding pun terdengar bagai ketukan yang mengintimidasi. Silvy masih berdiri dengan bahu yang naik-turun, mengatur napasnya yang sesak setelah menumpahkan seluruh kemarahan dan luka batinnya di hadapan Bayu dan Maudy. Di sisi lain, Bayu hanya bisa terdiam dengan rahang yang mengeras, sementara Maudy menundukkan kepala, membiarkan jemarinya saling meremas satu sama lain di atas pangkuan.​Di tengah-tengah ketegangan yang nyaris mencapai titik didih itu, tiba-tiba sebuah suara dering ponsel yang nyaring memecah keheningan. Bunyi itu berasal dari dalam tas kecil yang dicengkeram erat oleh Silvy.​Dengan gerakan yang kaku dan gemetar, Silvy merogoh tasnya. Begitu melihat nama Ibunya tertera di layar ponselnya, kepanikan yang berbeda seketika menyapu wajah kuyunya. Ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya dengan terburu-buru.​"Halo, Ibu? Ada apa?" tanya Silvy, suar

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 323

    Suasana di dalam ruang tamu yang semula sudah tegang kini mendadak terasa makin menghimpit dada. Di bawah pendar lampu gantung yang benderang, sosok yang berdiri di ambang pintu dengan napas yang tersengal menahan amarah dan duka itu akhirnya terlihat jelas.​Wanita itu adalah Silvy.​Istri dari mendiang Baron itu datang tanpa mengenakan riasan sama sekali. Wajahnya yang biasa tampak anggun kini terlihat teramat kuyu, dengan kantung mata yang menghitam dan membengkak akibat tangisan yang tak kunjung reda selama tiga hari berturut-turut. Pakaian hitam yang ia kenakan tampak kusut, mencerminkan betapa hancur dan tidak terurusnya hidup wanita itu sejak sang suami pergi untuk selamanya.​Maudy yang mengenali sosok itu langsung bangkit berdiri dari sofanya dengan gerakan lambat. Sepasang matanya membelalak tidak percaya menatap kedatangan Silvy yang begitu mendadak, apalagi dengan kalimat pembuka yang terasa seperti hantaman godam di dada mereka.​"Bu Silvy..." bisik Maudy teramat lirih, su

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 322

    Tiga hari telah berlalu sejak malam mencekam yang merenggut nyawa Baron. Setelah melalui serangkaian perawatan intensif, proses bilas lambung, dan observasi ketat dari tim dokter spesialis toksikologi, para korban keracunan massal perlahan-lahan dinyatakan membaik. Akhirnya, pada siang hari yang terik itu, pihak Rumah Sakit memperbolehkan sebagian besar pasien untuk pulang ke rumah masing-masing, termasuk Bayu dan Maudy.​Langkah kaki mereka saat keluar dari pintu lobi rumah sakit terasa begitu berat. Harusnya, jika semuanya berjalan sesuai rencana semula, tiga hari kemarin adalah waktu di mana mereka berdua sibuk melakukan gladi bersih, mengecek sentuhan akhir dekorasi gedung, dan menyortir kembali daftar tamu VIP. Namun kenyataannya, semua urusan pernikahan itu terbengkalai total. Berkas-berkas penting menumpuk tanpa tersentuh di sudut meja, koordinasi dengan pihak wedding organizer terputus, dan atmosfer kebahagiaan yang harusnya membumbung tinggi justru menguap, digantikan oleh

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 321

    Kabar mengenai penangkapan Rio di gang buntu pasar tradisional langsung menyebar cepat malam itu. Bagi Bayu, tertangkapnya sang mantan suami Maudy setidaknya membawa satu titik kejelasan hukum. Otak kriminal yang telah meracuni hari bahagia mereka kini sudah mengenakan rompi tahanan, mendekam di balik jeruji besi Mapolres untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kejinya."Aku lega sekali Bayu, akhirnya Rio tertangkap juga. Selama ini dia selalu melarikan diri dari kejaran hukum. Sekarang dia kena batunya," ujar Maudy dengan pwnuh kelegaan meski tangannya masih tertempel selang infus."Benar. Sekarang dia sudah tidak punya kekuatan untuk melawan. Dan sekarang, sudah tidak ada lagi yang mengganggu ketenangan kita," sahut Bayu sambil mengelus punggung tangan Maudy.​Satu masalah besar yang mengancam nyawa mereka memang telah selesai, tapi roda kehidupan tidak lantas berjalan mulus begitu saja. Badai yang ditinggalkan oleh semprotan racun saraf Rio di pekuburan ternyata menorehkan luka yang

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bayu 320

    Langkah kaki Rio yang terburu-buru terasa semakin berat saat ia mencoba menyelinap di antara lorong-lorong sempit pasar tradisional yang becek. Bau amis dari los ikan dan aroma sayuran busuk yang menyengat hidung sama sekali tidak meredakan rasa panik yang menjalar di sekujur tubuhnya. Keringat dingin terus mengucur deras dari dahi, membasahi masker medis yang menutup paruh wajahnya.​Setiap beberapa langkah, Rio melirik ke belakang melalui sudut matanya. Di antara kerumunan ibu-ibu yang berbelanja, ia bisa melihat siluet dua orang pria berjaket kulit dengan langkah konstan yang sengaja menjaga jarak. Mereka adalah tim buser sudah mulai menyisir area pasar. Polisi tidak langsung menerjang karena kondisi pasar yang terlalu ramai, mereka sedang menunggu momentum di tempat yang agak lengang.​Rio membelokkan tubuhnya ke sebuah gang buntu di dekat tempat pembuangan sampah pasar. Napasnya memburu kasar, terdengar parau dan putus asa. Ia bersandar pada dinding batako yang berlumut.​Di dala

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status