Compartir

Bab 330

Autor: Kak Han
last update Fecha de publicación: 2026-06-14 23:29:28

Keheningan di ruang tengah itu kini terasa semakin mencekam, kontras dengan cerahnya sinar matahari pagi yang menembus kaca jendela. Maudy masih terpaku, matanya menatap lurus ke arah ponsel hitam di atas meja yang layarnya baru saja meredup. Kata pertama yang sempat ia tangkap dalam pratinjau pesan singkat tadi terus berputar-putar di kepalanya, memicu berbagai spekulasi yang membuat dadanya terasa sesak.

​Belum sempat Maudy menyuarakan pertanyaan yang sudah tertahan di ujung lidahnya, benda p
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
Alan Nasution
novel pasaran,sblum nikah aja,mslahnya gak ribet,bgtu nikah mslahnya lngsung datang giliran.buat konflik yg relate sma khidupan lbih asik,dri pda yg cnderung dipksakan
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 337

    Tiga hari telah berlalu sejak ketegangan di rumah sakit malam itu. Waktu bergerak membawa perubahan perlahan pada ritme kehidupan masing-masing. Dara, yang kondisi fisiknya sempat menurun drastis, akhirnya dinyatakan membaik oleh tim dokter dan diperbolehkan pulang untuk menjalani rawat jalan di rumah. Bersamaan dengan itu, masa cuti singkat yang diambil Bayu pun resmi berakhir.​Pagi itu, suasana di dalam rumah Bayu dan Maudy kembali dipenuhi oleh kesibukan yang produktif. Bayu telah kembali ke dalam setelan jas formalnya yang pas dan gagah, bersiap memimpin kembali gurita bisnis perusahaannya yang sempat ditinggalkan. Sementara Maudy, dengan blus kerja yang elegan dan rambut yang tertata rapi, juga bersiap untuk kembali mengelola perusahaan keluarganya yang membutuhkan sentuhan tangannya pasca-insiden beberapa waktu lalu.​Sebelum melangkah keluar rumah, Bayu sempat menahan pinggang Maudy di dekat pintu utama, memberikan kecupan hangat di kening sang istri yang kini menjadi ritual w

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 336

    Di lain tempat, Bayu dan Maudy sedang duduk santai di kamarnya. Mereka sama sama melepas penat setelah hampir seharian mengurusi Dara di rumah sakit. Maudy menyandarkan kepalanya di dada bidang Bayu. “Mas, gimana kalau habis ini, bu Silvy kembali menelpon kamu dan meminta kamu untuk kembali ke rumah sakit menemani Dara?” tanya Maudy. Dia masih resah memikirkan tentang masalah keluarga mendiang Baron.“Oh tidak bisa! Malam ini aku ada proyek penting yang tidak bisa diganggu siapapun!”“Proyek penting apa Mas? BUkannya kamu masih mengambil cuti?” sahut maudy dengan polos. Dia sampai tidak sadar jika suaminya sedang menggodanya.“Tentu saja proyek untuk mencetak generasi penerus kita!” celetuk Bayu sambil mencolek ujung hidung istrinya.“Maaass, aku lagi serius nih! Kalau beneran SIlvy nelpon atau datang ke sini lagi dan meminta kamu ke rumah sakit lagi, gimana?” “Aku akan tolak. Bukan akuk tidak peduli, tapi memberikan kepedulian pada orang lain juga harus melihat waktu dan kondisi. C

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 335

    Di dalam kamar rawat inap nomor yang tenang, suara dengung halus dari alat pemantau medis menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan. Dara telah tertidur lelap dengan selang infus yang menempel di punggung tangan mungilnya, menyiratkan kedamaian setelah badai demamnya perlahan mereda.​Silvy duduk di kursi di samping ranjang, matanya lurus menatap wajah putrinya sembari sesekali mengusap punggung tangan Dara. Di sudut ruangan, ibunya, yang bernama Ani, perlahan bangkit dari sofa. Bukannya menunjukkan rasa syukur karena cucunya sudah tenang, wajah wanita paruh baya itu justru mengeras, memancarkan gurat ketidakpuasan yang mendalam.​Ani melangkah mendekati putrinya, lalu berdiri di samping ranjang dengan kedua tangan bersedekap di dada.​"Silvy, Ibu benar-benar tidak habis pikir denganmu. Kenapa kamu membiarkan Bayu dan Maudy pulang begitu saja? Harusnya kamu tahan Pak Bayu di sini. Biarkan dia tahu rasa bagaimana repotnya menjaga anak yang sakit akibat urusan pribadinya,” uca

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 334

    Waktu seolah merayap dengan sangat lambat di selasar rumah sakit yang sunyi. Suara langkah kaki para perawat yang sesekali melintas dan dengung lampu neon di langit-langit koridor menjadi satu-satunya irama yang menemani Bayu dan Maudy. Di sela-sela kepala Maudy yang masih bersandar di bahunya, Bayu terus memantau pintu ruang pemeriksaan dengan tatapan waspada.​Hampir satu jam berlalu, suasana di koridor itu akhirnya terusik oleh suara pintu yang terbuka perlahan. Dokter spesialis anak, seorang pria paruh baya dengan garis wajah lelah namun tenang, melangkah keluar sambil melepas masker bedahnya. Di belakangnya, dua perawat tampak mendorong brankar yang sudah disesuaikan dengan posisi tidur yang lebih nyaman.​Dara tampak jauh lebih tenang. Wajahnya yang semula memerah karena demam tinggi kini sedikit lebih pucat, namun napasnya sudah jauh lebih teratur. Matanya terpejam, tertidur pulas akibat pengaruh obat penenang yang diberikan dokter agar suhu tubuhnya bisa turun dengan lebih efe

  • Mau Lagi, Nyonya?   bab 333

    Langkah kaki mereka menyusuri selasar rumah sakit terasa begitu panjang dan sunyi. Suara roda brankar yang membawa Dara ke dalam ruang pemeriksaan darurat menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan di antara Bayu dan Maudy. Setelah melewati ketegangan di rumah mendiang Baron, suasana di sekitar pasangan pengantin baru ini kini berubah menjadi sedikit canggung dan diselimuti beban pikiran masing-masing.“Dok, tolong obati putri saya,” pinta Silvy pada Dokter.​Dokter spesialis anak segera mengambil alih situasi begitu mereka tiba. Dara, yang tangannya masih enggan melepas genggaman Bayu, akhirnya bisa ditenangkan setelah Bayu membisikkan janji bahwa ia tidak akan pergi menjauh dari area ruangan tersebut. Pintu ruang pemeriksaan pun ditutup rapat, menyisakan Bayu, Maudy, dan Silvy yang duduk terpisah di deretan kursi tunggu koridor yang dingin.​Melihat Silvy yang duduk tertunduk sembari meremas tisu di sudut lain, Bayu perlahan menoleh ke arah Maudy. Wanita yang baru ia nikahi

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 332

    Cengkeraman tangan Silvy di lengan Bayu terasa semakin erat, bergetar hebat seiring dengan tangisnya yang kian pecah memenuhi seisi ruangan. Waktu seolah berjalan begitu cepat, tidak memberikan celah sedikit pun bagi Bayu untuk memikirkan konsekuensi hukum atau bahkan memikirkan jika hari itu Maudy dan Bayu masih sedang menikmati masa masa pengantin baru.Desakan Silvy yang begitu menggebu-gebu di pagi pertama pernikahannya ini membuat Bayu benar-benar berada di posisi paling sulit dalam hidupnya.​Maudy yang berdiri tepat di belakang Bayu memperhatikan setiap gerak-gerik Silvy dengan tatapan yang beralih menjadi dingin. Ada setitik rasa kesal yang perlahan merayap di dalam lubuk hati Maudy. Sebagai seorang istri yang baru saja melewati malam pertama, ia merasa tindakan Silvy sudah terlalu jauh. Silvy seolah-olah terus memanfaatkan tragedi kematian Baron sebagai senjata emosional yang kuat untuk menekan, mendikte, dan menarik Bayu ke dalam urusan pribadinya secara paksa.​Namun, keti

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status