MasukMata Arka menyalang merah, dipenuhi amarah yang membakar seluruh isi dadanya. Menyaksikan kondisi adik bungsu yang selama ini ia jaga dan lindungi dalam keadaan hancur tak berdaya, pertahanan emosinya runtuh sepenuhnya. Tanpa membuang waktu, Arka membalikkan badan dan melangkah lebar menuju area luar rumah tua, di mana beberapa personel polisi sedang berusaha menggiring Evan yang tangannya sudah terborgol ke dalam mobil tahanan."Mana bajingan itu?! Aku akan menghajarnya sampai mampus!" teriak Arka dengan dendam membara di dada.Dengan napas memburu, Arka menerobos barisan petugas. Jemarinya mengepal kencang, siap mendaratkan pukulan bertubi-tubi ke wajah Evan yang tampak pucat pasi. Langkah Arka diikuti oleh Bagas, Cakra, dan Daffa yang juga diselimuti aura permusuhan yang sama pekatnya."Mas Arka, tahan! Jangan main hakim sendiri!" seru seorang perwira polisi seraya merentangkan kedua tangan, membendung pergerakan Arka. Dua personel tim taktis lainnya dengan sigap menahan dada da
Legat dalam dada Evan hanya bertahan beberapa menit. Saat napasnya mulai teratur dan jemarinya baru saja selesai menghapus seluruh rekam jejak digital dari ponselnya, suara yang sangat ia takuti kembali membelah keheningan sore.Wiuww... wiuww... wiuww...Suara lengkingan sirine polisi itu mendadak terdengar lagi, dan kali ini terasa jauh lebih dekat, makin nyaring, serta memburu dari arah persimpangan jalan.Rombongan armada kepolisian tersebut sebenarnya tidak melintas secara kebetulan. Tim penyidik siber Polda sebelumnya telah berhasil memetakan titik koordinat terakhir dari sinyal pemancar singkat ponsel Evelyn sebelum perangkat itu mati total. Hanya saja, karena kawasan pemukiman tua di pinggiran kota itu dipenuhi oleh lorong-lorong sempit dan bangunan terbengkalai, mereka sempat melewati lokasi yang tepat pada putaran pertama.Namun pada penyisiran putaran kedua ini, barisan kendaraan taktis kepolisian itu langsung berbelok tepat ke arah jalan setapak menuju rumah tua terbe
Napas Evan memburu kencang saat kakinya sudah bersiap memanjat meja dapur untuk melompat ke arah lubang atap belakang. Namun, tepat sebelum ia melayangkan tubuhnya, pendengarannya menagkap sesuatu yang janggal. Lengkingan sirine yang semula meraung nyaring di dekat halaman rumah tua itu perlahan-lahan mulai meredup dan suaranya terdengar makin menjauh.Evan membeku di tempat, mengerutkan dahi dalam kebingungan yang mencekam.“Kok suara sirine mobil polisi itu kayak menjauh? Apa mereka hanya lewat saja? Aku harus pastikan dulu!”Dengan gerakan amat perlahan dan napas yang ditahan rapat-rapat, Evan merayap kembali menuju area depan. Ia menempelkan wajahnya pada celah papan jendela kayu yang lapuk, mengintip ke arah jalanan kecil di luar. Di sana, pendar lampu darurat merah-biru dari tiga mobil patroli polisi tampak melaju sedang membelah remang sore, bergerak melewati bangunan tua itu tanpa sempat berbelok atau melambat sedikit pun.Rombongan polisi itu memang sedang dikerahkan secar
Setiap kali pandangannya mendarat pada nominal satu miliar rupiah di layar ponselnya, dada Evan berdebar keras. Uang sebesar itu bisa mengubah jalan hidupnya secara instan. Namun, makin ia merenungkannya, makin keras pula logika bertahan hidupnya menampar kesadaran tersebut. Menyerahkan Evelyn kepada Bayu demi mengincar uang itu bukanlah jalan keluar yang aman, melainkan pintu menuju kehancuran dari dua arah sekaligus.Di satu sisi, Rio adalah sosok bertangan dingin yang tidak pernah memberi ampun kepada siapa pun yang membelot. Pengkhianatan terhadap Rio sama saja dengan mencetak tiket mati. Karena jaringan gelap pria itu pasti akan memburunya ke mana pun ia melarikan diri. Di sisi lain, jika enyerahkan Evelyn langsung ke tangan Bayu juga mengandung risiko yang tak kalah fatal. Bayu bukanlah orang sembarangan. Jika Papanya Evelyn itu mengetahui bahwa pria dewasa di hadapannya inilah yang telah memanipulasi, membohongi, dan menyekap putri tunggalnya hingga trauma berat, Bayu dipasti
Kebenaran bahwasanya Evelyn sengaja melarikan diri meremukkan mental Bayu hingga ke titik terendah. Pria paruh baya yang biasanya berdiri tegar penuh wibawa itu kini terduduk kaku di sudut ruang kerjanya, menatap kosong ke arah lantai. Tatapannya meredup, digantikan oleh keputusasaan dan penyesalan yang amat pekat. Ia tak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri atas segala aturan ketat dan tembok perlindungan tinggi yang selama ini ia bangun di sekeliling putri tunggalnya."Papa yang salah..." bisik Bayu dengan suara parau yang tersedak duka. "Papa yang bikin dia merasa tertekan sampai harus kabur sama bajingan itu... Papa yang gagal menjaga dia."Kondisi Maudy tidak kalah hancurnya. Begitu kesadarannya pulih usai pengaruh obat penenang mereda, tangisnya kembali pecah saat mendengar penuturan lengkap dari Putri. Maudy meratapi ketidakmampuannya sebagai seorang ibu. Rasa bersalah menggerogoti dadanya karena ia merasa gagal menjadi sosok teman yang aman bagi Evelyn, sampai-sampai put
Ketiadaan Evelyn beserta Arka, Bagas, Cakra, dan Daffa di sekolah pada hari pertama setelah libur singkat seketika memicu kasak-kusuk di antara para siswa. Keempat saudara kembar yang biasanya selalu terlihat mengawal adik perempuan mereka di area koridor dan parkiran kini sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Tak butuh waktu lama, rumor mengenai hilangnya Evelyn menyebar bagaikan api menyambar jerami di lingkungan SMA tempat mereka menuntut ilmu.Kabar angin yang berembus makin kencang itu akhirnya mendarat di telinga Putri. Gadis itu terduduk kaku di bangkunya, merasa seperti dihantam gada besar tepat di dada.Seketika, memori malam itu berputar hebat di kepalanya. Putri teringat jelas pada pesan singkat dari Evelyn beberapa hari lalu—sebuah pertanyaan pengandaian yang ganjil mengenai apa yang akan ia lakukan jika diajak bertemu seorang pria secara sembunyi-sembunyi pada tengah malam. Saat itu, Putri meresponsnya dengan teguran keras dan peringatan akan bahayanya tindaka
"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!" Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar.
Ponsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang. “Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan.
Satu jam sudah Bayu berdiri di balik pintu. Sementara Maudy, dia tetap pada posisinya. Duduk bertekuk lutut di sudut kasur. Tidak bergerak dan juga tidak ada niatan merealisasikan ancamannya.Kaki Bayu mulai merasa pegal. Sejak tadi dia sudah berusaha mengabaikan rasa pegalnya,, tapi kali itu dia s
“Saya cuma mau membantu Bu Maudy berdiri. Lantai itu kotor, dan harus saya pel,” ucap Bayu dengan pelan sambil mulai duduk di dekat Maudy. Dia juga sedikit mengulurkan tangan, barangkali Maudy meraihnya. Akan tetapi, yang ada Maudy menepis tangannya dengan kasar lalu melempar sebuah brosur tebal k







