Share

Bab 63

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-03-18 14:47:06

Bayu melipat kembali ponselnya dengan gerakan perlahan, seolah sedang menyimpan sebuah senjata pusaka ke dalam sarungnya. Ia menatap wajah Haris yang kini pucat pasi, bintik-bintik keringat dingin mulai muncul di dahi pria tua yang tadi begitu pongah itu. Bibir Haris kelu, matanya tak berkedip menatap Bayu, seakan sedang melihat hantu yang bangkit dari kubur setelah dua puluh tahun terkubur dalam-dalam.

“Bayu? Dia anaknya Baskoro? Nggak munghat! Bukankah anak itu sudah aku buang ke rumah sakit
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 78

    Suasana di dalam kamar perawatan Maudy itu mendadak bising oleh adu mulut. Suara bentakan Ayah Maudy yang mengusir Rio masih menyisakan gema di sudut-sudut ruangan itu.Ketegangan memuncak hingga akhirnya pintu kamar terbuka kasar dari luar.​Seorang dokter yang menangani Maudy datang bersama dua orang perawat. Mereka masuk dengan langkah cepat. Wajah sang dokter tampak sangat tidak senang melihat kerumunan orang yang menciptakan kegaduhan di zona pemulihan pasien. Ia segera menghampiri monitor di samping ranjang Maudy yang mengeluarkan bunyi alarm peringatan karena detak jantung pasien yang meningkat drastis.​"Apa yang terjadi di sini? Pasien baru saja mendapatkan kestabilan cairannya, dan sekarang kalian membuatnya muntah lagi? Lihat grafik ini, tekanan darahnya melonjak! Kalian ingin membunuh pasien atau menyembuhkannya?” Suara Dokter itu menggelegar, tenang tapi penuh otoritas yang membungkam semua orang.​Maudy terbatuk-batuk lemas, air matanya bercampur dengan sisa cairan yang i

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 77

    “Tenang Maudy. Jangan panik,” bisik Bayu berusaha menenangkan Maudy. Tapi setelah itu Bayu perlahan melepaskan genggaman tangan Maudy. Ia berdiri dengan tenang. Akan tetapi aura yang terpancar dari tubuhnya mendadak berubah. Tidak ada lagi kelembutan yang ia tunjukkan pada Maudy tadi. Karena yang tersisa hanyalah tatapan sedingin es yang menghujam langsung ke manik mata Rio.​Tanpa memedulikan tatapan sinis Ibu Maudy atau kehadiran dua pengawal Rio yang siap menyerangnya, Bayu melangkah maju. Ia memangkas jarak di antara mereka hingga hanya tersisa beberapa sentimeter. Rio tetap berdiri tegak dengan dagu terangkat, mencoba mempertahankan harga dirinya yang mulai retak di hadapan pria yang ia anggap remeh.​Bayu mencondongkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Rio. Suaranya sangat rendah, hampir berupa bisikan. Namun setiap kata yang keluar terasa seperti hantaman godam yang berat.​"Tertawalah sepuasnya sekarang, Rio. Tertawalah sebelum kamu tidak punya lagi teman untuk diajak

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 76

    Suasana hangat yang baru saja tercipta di dalam kamar perawatan Maudy itu mendadak menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk. Bayu baru saja hendak membetulkan letak bantal Maudy ketika daun pintu ganda itu dihentakkan terbuka dari luar. Bunyi dentuman pintu yang membentur dinding pembatas menggema keras di seluruh ruangan, memutus tawa kecil Maudy yang sedetik lalu masih terdengar.​Di ambang pintu, berdirilah pria yang masih sah menjadi suami Maudy. Rio, Napasnya memburu, jasnya tampak sedikit berantakan, dan matanya merah menyala penuh amarah yang tertahan. Ia tidak datang sendirian. Dua orang berbadan tegap tampak berdiri di belakangnya, memberikan kesan intimidasi yang nyata. Rio mendapatkan informasi ini dari kaki tangannya yang terus mengintai gerak-gerik Bayu sejak dari kontrakan kumuh itu. ​"Bagus sekali. Istriku sedang terbaring sakit, dan tikus selokan ini berani mengambil kesempatan!" seru Rio, suaranya rendah tapi tajam seperti sembilu. Ia melangkah masuk dengan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 75

    “Udah, jangan malu. Kalau mau ngajak ketemu, harusnya di hotel dong. Jangan di rumah sakit begini. Kan nggak seru..” cerocos Bayu yang masih terus berusaha menggoda Maudy agar kembali ceria.“Emangnya kamu berani ketemuan sama aku di hotel? Kamu nggak takut sama Ibuku?” sahut Maudy dengan ceria. Seolah dia tidak usai mengalami dehidrasi parah.“Siapa takut? Lihat saja, nanti kalau aset keluargaku sudah resmi kembali ke tanganku, jangankan ngajak kamu ke hotel, ngajak kamu nikah pun Ibu kamu pasti setuju..”“Pede banget…”“Pede lah, aku kan ganteng. Kuat dan tahan lama. Sampai sampai…”“Iiih Bayu, udah! Jangan diterusin!” Keduanya terus saja bercanda tawa saling menggoda. Hingga membuat Maudy lupa jika dirinya sedang dipasang jarum infus di tangannya.​Maudy menyandarkan kepalanya di bantal yang ditinggikan, menatap Bayu dengan mata yang masih sayu namun binar kebahagiaannya mulai kembali. Rasa mual yang menyiksa sejak semalam mendadak surut, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 74

    Pagi itu, Bayu sedang terduduk di lantai kontrakannya yang sempit, dikelilingi oleh tumpukan berkas kusam yang menjadi saksi bisu perjuangannya selama ini. Di tangannya, sebuah map plastik berisi bukti transfer gelap dan rekaman saksi kunci sudah siap untuk diserahkan ke markas kepolisian. Hari ini seharusnya menjadi hari di mana ia mengetuk palu keadilan untuk menyeret Rio ke balik jeruji besi atas percobaan pembunuhan yang menimpanya semalam.​Namun, sebuah getaran dari ponsel usangnya mengubah segalanya. Sebuah pesan dari seseorang yang dia mintai tolong untuk diam diam menjaga Maudy tanpa sepengetahuan Maudy, tiba tiba muncul di layar ponselnya. "Maudy dilarikan ke Rumah Sakit. Kondisinya sangat lemah, terus-menerus muntah sejak tadi malam." tulis penjaga rahasia tersebut.​Seketika, fokus Bayu pecah. Keadilan yang sudah di depan mata mendadak terasa tidak sepenting nyawa wanita yang ia cintai. Tanpa berpikir dua kali, Bayu menyambar jaket lusuhnya dan melemparkan map berisi bukt

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 73

    Ayah Maudy berdiri mematung di sisi ranjang, menatap wajah putrinya yang gelisah dalam tidur, sementara Ibunya masih duduk kaku dengan tangan bersedekap, raut wajahnya mengeras setelah mendengar igauan Maudy yang menyebut nama Bayu.​"Dengar itu, Bu. Maudy tidak sedang mengada-ada. Dalam tidurnya pun, hatinya mencari Bayu. Mungkin ini bukan sekadar mual biasa. Bayi di dalam kandungannya seolah memiliki ikatan batin, dia ingin ayahnya ada di sini,” bisik Ayah Maudy dengan suara berat yang sarat akan keprihatinan.​Ibu Maudy mendengus, memalingkan wajah dengan sinis sambil menanggapi ucapan suaminya. "Bapak angan bicara mitos. Itu cuma igauan biasa karena Maudy terlalu banyak memikirkan laki-laki itu belakangan ini. Pikiran bawah sadarnya sedang kacau, itu saja. Tidak ada hubungannya dengan bayi atau ikatan batin apa pun. Maudy hanya butuh istirahat total, bukan butuh kehadiran orang yang hanya membawa masalah ke keluarga kita!” tegas Ibunya Maudy.​"Tapi kondisinya tidak membaik, Bu!

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status