แชร์

Bab 8

ผู้เขียน: Kak Han
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-20 23:18:50

Sayangnya, Bayu menarik pusakanya sesaat bukan untuk menyelesaikan permainan, melainkan untuk berpindah posisi. Dengan postur tubuhnya yang berotot, dengan mudah dia mengangkat tubuh Maudy, dan memposisikan dia di atas tubuhnya.

Mata Maudy terbelalak. Selama bermain dengan Rio, dia bahkan tidak pernah berada di posisi itu. Bukan karena tidak mau, tapi karena Rio selalu muncrat duluan. Padahal, selama ini Maudy menginginkan mencoba banyak gaya.

“Kenapa Bu Maudy? Apa Ibu keberatan ganti posisi?”
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 81

    Suasana di dalam kamar rawat itu mendadak hening, seolah oksigen di sana tersedot habis oleh ketegangan yang baru saja diciptakan Bayu. Bayu tidak membalas makian Ibu Maudy, tidak pula mencoba bersujud memohon kepercayaan Maudy. Sebaliknya, ia melangkah tenang, hampir terlalu santai, menggandeng wanita yang usai bersimpuh di kakinya itu.​Dengan gerakan yang tegas tapi tidak kasar, Bayu menggandeng tangan wanita itu. Ia membantunya berdiri, seolah-olah seorang pria yang sedang bersikap ksatria kepada kekasihnya. Namun, arah langkah Bayu membuat jantung semua orang di ruangan itu berdegup kencang. Ia menuntun wanita itu menuju jendela besar di sudut kamar.​Srak!​Bayu menggeser jendela kaca tersebut hingga terbuka lebar. Angin kencang dari ketinggian lantai tujuh langsung merangsek masuk, menerbangkan tirai putih kamar rawat inap dan membuat suhu ruangan turun seketika. Aroma antiseptik rumah sakit kini bercampur dengan bau hujan yang baru saja reda di luar sana.​Wanita itu membeku.

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 80

    Bayu menatap wanita asing yang sedang menangis tersedu-sedu di kakinya itu dengan tatapan yang sangat datar, seolah sedang mencoba mencerna sandiwara murahan macam apa yang sedang dimainkan di hadapannya ini. Setelah itu, pandangannya berpisah ke arah Maudy untuk memberinya penjelasan."Maudy, tatap aku, dengarkan aku. Aku bersumpah demi nyawaku dan demi bayi yang kamu kandung, aku tidak mengenal wanita ini. Aku tidak pernah melihatnya seumur hidupku. Ini jebakan, Maudy!” seru Bayu. Suaranya terdengar rendah tapi penuh penekanan. Ia mengabaikan isak tangis wanita di lantai itu dan beralih sepenuhnya pada Maudy.​Maudy menarik napas gemetar, matanya berkaca-kaca. "Tapi Bayu... dia tahu namamu. Dia bahkan tau dimana kontrakanmu. Bagaimana mungkin dia bisa sejauh ini kalau tidak ada apa-apa?" sahut Maudy. Tapi belum sampai Bayu menjawab, perempuan itu kembali menyela.​"Mas Bayu... jahat sekali kamu! Kalau kamu memang tidak mau mengakuinya, lebih baik aku mati saja! Aku akan lompat dari

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 79

    Setelah diusir dengan tidak hormat dari kamar perawatan, Rio tidak lantas melangkah menuju parkiran. Amarahnya yang meluap-luap justru berubah menjadi kalkulasi licik yang dingin. Ia berdiri di sudut koridor yang agak sepi, memperbaiki kerah jasnya yang sedikit miring, lalu melirik ke arah Ibu Maudy yang tampak berdiri kaku dengan wajah yang masih merah padam akibat pengusiran dokter tadi.​Rio tahu betul kelemahan Ibu mertuanya ini adalah martabat dan gaya hidup jauh yang tinggi. Dengan langkah yang tenang dan penuh percaya diri, Rio mendekati Ibu Maudy.​"Bu, bisa kita bicara sebentar? Berdua saja, di tempat yang lebih tenang," bisik Rio dengan nada yang mendadak lembut, tapi sarat akan manipulasi.​Ibu Maudy menoleh, matanya masih memancarkan kekesalan. Lalu dia menanggapi ajakan Rio.“Mau bicara apa Rio? Hari ini Ibu benar-benar malu. Bisa bisanya Bapaknya Maudy membela pelayan itu!" seru Ibunya Maudy dengan wajah yang sangat kesal.“Maka dari itu, ngomongnya jangan di sini. Nanti

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 78

    Suasana di dalam kamar perawatan Maudy itu mendadak bising oleh adu mulut. Suara bentakan Ayah Maudy yang mengusir Rio masih menyisakan gema di sudut-sudut ruangan itu.Ketegangan memuncak hingga akhirnya pintu kamar terbuka kasar dari luar.​Seorang dokter yang menangani Maudy datang bersama dua orang perawat. Mereka masuk dengan langkah cepat. Wajah sang dokter tampak sangat tidak senang melihat kerumunan orang yang menciptakan kegaduhan di zona pemulihan pasien. Ia segera menghampiri monitor di samping ranjang Maudy yang mengeluarkan bunyi alarm peringatan karena detak jantung pasien yang meningkat drastis.​"Apa yang terjadi di sini? Pasien baru saja mendapatkan kestabilan cairannya, dan sekarang kalian membuatnya muntah lagi? Lihat grafik ini, tekanan darahnya melonjak! Kalian ingin membunuh pasien atau menyembuhkannya?” Suara Dokter itu menggelegar, tenang tapi penuh otoritas yang membungkam semua orang.​Maudy terbatuk-batuk lemas, air matanya bercampur dengan sisa cairan yang i

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 77

    “Tenang Maudy. Jangan panik,” bisik Bayu berusaha menenangkan Maudy. Tapi setelah itu Bayu perlahan melepaskan genggaman tangan Maudy. Ia berdiri dengan tenang. Akan tetapi aura yang terpancar dari tubuhnya mendadak berubah. Tidak ada lagi kelembutan yang ia tunjukkan pada Maudy tadi. Karena yang tersisa hanyalah tatapan sedingin es yang menghujam langsung ke manik mata Rio.​Tanpa memedulikan tatapan sinis Ibu Maudy atau kehadiran dua pengawal Rio yang siap menyerangnya, Bayu melangkah maju. Ia memangkas jarak di antara mereka hingga hanya tersisa beberapa sentimeter. Rio tetap berdiri tegak dengan dagu terangkat, mencoba mempertahankan harga dirinya yang mulai retak di hadapan pria yang ia anggap remeh.​Bayu mencondongkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Rio. Suaranya sangat rendah, hampir berupa bisikan. Namun setiap kata yang keluar terasa seperti hantaman godam yang berat.​"Tertawalah sepuasnya sekarang, Rio. Tertawalah sebelum kamu tidak punya lagi teman untuk diajak

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 76

    Suasana hangat yang baru saja tercipta di dalam kamar perawatan Maudy itu mendadak menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk. Bayu baru saja hendak membetulkan letak bantal Maudy ketika daun pintu ganda itu dihentakkan terbuka dari luar. Bunyi dentuman pintu yang membentur dinding pembatas menggema keras di seluruh ruangan, memutus tawa kecil Maudy yang sedetik lalu masih terdengar.​Di ambang pintu, berdirilah pria yang masih sah menjadi suami Maudy. Rio, Napasnya memburu, jasnya tampak sedikit berantakan, dan matanya merah menyala penuh amarah yang tertahan. Ia tidak datang sendirian. Dua orang berbadan tegap tampak berdiri di belakangnya, memberikan kesan intimidasi yang nyata. Rio mendapatkan informasi ini dari kaki tangannya yang terus mengintai gerak-gerik Bayu sejak dari kontrakan kumuh itu. ​"Bagus sekali. Istriku sedang terbaring sakit, dan tikus selokan ini berani mengambil kesempatan!" seru Rio, suaranya rendah tapi tajam seperti sembilu. Ia melangkah masuk dengan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status