Share

Bab 91

Auteur: Kak Han
last update Date de publication: 2026-03-29 19:13:08

Malam pertama setelah pemakaman, suasana rumah duka yang seharusnya tenang justru terasa mencekam. Karangan bunga yang berjajar di halaman mulai layu, menebarkan aroma kematian yang bercampur dengan bau hio yang masih menyala di ruang tengah. Maudy duduk bersandar di kursi kayu, menatap kosong ke arah foto almarhum ayahnya yang berbingkai hitam.

​Ibu Maudy sudah masuk ke kamar lebih awal karena kelelahan, meninggalkan Maudy berdua dengan Rio di ruang tamu yang temaram. Rio tidak lagi memasang w
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 93

    Pada saat yang bersamaan, ​Rio juga membanting ponsel Maudy ke lantai hingga layarnya retak seribu. Ia menatap Maudy yang kini terisak hebat di atas ranjang.​"Mulai besok, aku akan tinggal di sini. Ibu kamu juga sudah setuju. Jadi, jangan harap ada ruang rahasia lagi untukmu dan pria sampah itu. Kamu akan terus berada di bawah pengawasanku, 24 jam!” seru Rio sembari menatap tajam ke arah Maudy. Yang menandakan ucapannya tidak main main. ​Rio melangkah keluar kamar dan mengunci pintunya dari luar, meninggalkan Maudy dalam kesunyian yang menyesakkan, sementara di luar sana, Bayu mengepalkan tinjunya hingga berdarah, menyadari bahwa perang terbuka kini benar-benar telah dimulai.Malam itu, suasana di meja makan terasa begitu menyesakkan bagi Maudy. Aroma nasi goreng yang biasanya menggugah selera kini justru memicu rasa mual yang hebat di perutnya. Bukan hanya karena kehamilannya, tapi karena kehadiran Rio yang duduk dengan begitu santai di kursi yang biasanya ditempati oleh mendiang b

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 92

    ​"Jujur, Bu... semalam Rio tidak bisa tidur. Rio terus memikirkan betapa bodohnya Rio dulu karena sempat menyakiti hati Maudy. Rio menyesal sekali sudah membiarkan ego Rio menghancurkan kebahagiaan kami," ucap Rio, suaranya sedikit bergetar, akting yang sempurna untuk meyakinkan Ibu Maudy.​Ibu Maudy menoleh. Tanpa butuh waktu lama, dia tersentuh oleh pengakuan itu. "Sudahlah, Rio. Semua orang pernah salah. Yang penting sekarang kamu ada di sini untuk Maudy,” jawab Ibu Maudy.Akting Rio tidak hanya sampai di situ. ​Rio meraih tangan Ibu Maudy, menggenggamnya dengan ketulusan yang palsu. "Rio janji, Bu. Di depan jenazah Bapak kemarin Rio sudah bersumpah. Rio akan menebus semua kesalahan itu. Rio ingin menjaga Maudy dan calon anak kami dengan seluruh hidup Rio. Rio tidak mau Maudy merasa sendirian lagi, apalagi di masa-masa sulit seperti ini.”​Maudy yang berdiri mematung di dekat tangga hanya bisa mencengkeram pegangan kayu dengan kuat. Perutnya terasa mual mendengar kata-kata manis

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 91

    Malam pertama setelah pemakaman, suasana rumah duka yang seharusnya tenang justru terasa mencekam. Karangan bunga yang berjajar di halaman mulai layu, menebarkan aroma kematian yang bercampur dengan bau hio yang masih menyala di ruang tengah. Maudy duduk bersandar di kursi kayu, menatap kosong ke arah foto almarhum ayahnya yang berbingkai hitam.​Ibu Maudy sudah masuk ke kamar lebih awal karena kelelahan, meninggalkan Maudy berdua dengan Rio di ruang tamu yang temaram. Rio tidak lagi memasang wajah sedu sedan. Ia duduk di sofa seberang Maudy, melonggarkan dasinya dengan gerakan kasar, lalu menyandarkan punggungnya dengan angkuh.​"Maudy," panggil Rio, suaranya tidak lagi lembut. Nada bicaranya kini datar dan menuntut.​Maudy tidak menyahut. Ia masih tenggelam dalam dukanya.​"Aku bicara padamu, Maudy. Tatap aku," perintah Rio lebih tegas.​Maudy perlahan mengangkat kepalanya, menatap pria yang selama beberapa hari ini dipuja ibunya sebagai pahlawan. "Apa lagi, Rio? Aku lelah. Aku ing

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 90

    Angin pemakaman berhembus pelan, menerbangkan kelopak bunga kamboja yang jatuh di atas tanah merah yang masih basah. Maudy duduk bersimpuh, jemarinya yang pucat gemetar saat menyentuh nisan kayu ayahnya. Di belakangnya, Rio berdiri dengan tegak, sesekali merapikan jas hitamnya sembari memasang raut wajah prihatin yang sempurna di depan para pelayat yang mulai berpamitan.​"Sabar, Bu. Tidak perlu risau dengan hari esok. Masih ada aku di sini,” ucap Rio lembut sambil merangkul bahu Ibu Maudy yang masih terisak.​Ibu Maudy mendongak, menatap Rio dengan tatapan penuh syukur yang mengharukan. "Terima kasih, Rio. Ibu tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada kamu. Di saat kami jatuh seperti ini, hanya kamu yang benar-benar membuktikan bakti kamu sebagai menantu."​Rio melirik sekilas ke arah Maudy yang masih membisu, lalu ia merendahkan suaranya, sengaja agar Maudy bisa mendengar. "Itu sudah kewajiban Rio, Bu. Rio tidak mau Maudy dan Ibu menderita lebih jauh lagi. Apalagi setelah semua ke

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 89

    Langkah kaki Maudy terasa berat, seolah-olah lantai rumah sakit yang dingin itu telah berubah menjadi lumpur yang mengisap seluruh tenaganya. Ia membiarkan Rio menuntun bahunya, bukan karena ia menerima kehadiran pria itu, melainkan karena jiwanya telah mencapai titik nadir. Kehampaan yang ditinggalkan ayahnya terasa jauh lebih besar daripada kemarahan yang ia miliki terhadap Rio saat ini.“Bayu, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu dan berpihak pada Rio. Tapi saat ini aku benar benar merasa di titik lemah. Aku bahkan tidak sanggup berkata kata. Bapak satu satunya yang memahami posisi dan isi hatiku, tapi sekarang beliau pergi,” ucap Maudy di dalam hati, sembari melirik sekilas ke arah Bayu.Pandangan mata keduanya sempat bertemu. Dan Bayu bisa merasakan apa yang Maudy rasakan, meski tidak terucap satu kata pun dari Maudy. Biar bagaimanapun, pada saat itu status Rio masih lebih kuat daripada dirinya yang tidak punya hubungan resmi secara hukum. Meskipun dirinya adalah ayah b

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 88

    Suasana di koridor rumah sakit itu terasa begitu berat, seolah dinding-dinding putih di sekelilingnya ikut meratap. Isak tangis Maudy yang semula histeris kini berubah menjadi rintihan lemah yang menyayat hati. Di tengah kekacauan emosi itu, sebuah langkah kaki yang mantap dan berwibawa terdengar mendekat.​Rio muncul dari balik belokan koridor. Ia tidak berlari, tapi langkahnya cepat dan terukur. Wajahnya yang biasanya angkuh kini dia rubah sedemikian rupa. Sepasang matanya dibuat tampak redup, bibirnya terkatup rapat dengan gurat kesedihan yang sangat meyakinkan. Ia berhenti tepat di depan pintu ruangan Bapak Maudy. Dia menarik napas panjang seolah-olah dadanya sesak oleh duka yang hebat.​Begitu melihat Bayu masih berdiri di sana meski telah diusir oleh Ibu Maudy, kilatan kebencian sempat melintas di mata Rio. Namun dengan sangat cepat ia memadamkannya. Baginya, kematian Bapak Maudy bukan sekadar tragedi, melainkan sebuah panggung sandiwara yang sempurna untuk melancarkan serangan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status