Share

Bab 89

Penulis: Kak Han
last update Tanggal publikasi: 2026-03-28 14:44:58

Langkah kaki Maudy terasa berat, seolah-olah lantai rumah sakit yang dingin itu telah berubah menjadi lumpur yang mengisap seluruh tenaganya. Ia membiarkan Rio menuntun bahunya, bukan karena ia menerima kehadiran pria itu, melainkan karena jiwanya telah mencapai titik nadir. Kehampaan yang ditinggalkan ayahnya terasa jauh lebih besar daripada kemarahan yang ia miliki terhadap Rio saat ini.

“Bayu, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu dan berpihak pada Rio. Tapi saat ini aku benar benar
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 90

    Angin pemakaman berhembus pelan, menerbangkan kelopak bunga kamboja yang jatuh di atas tanah merah yang masih basah. Maudy duduk bersimpuh, jemarinya yang pucat gemetar saat menyentuh nisan kayu ayahnya. Di belakangnya, Rio berdiri dengan tegak, sesekali merapikan jas hitamnya sembari memasang raut wajah prihatin yang sempurna di depan para pelayat yang mulai berpamitan.​"Sabar, Bu. Tidak perlu risau dengan hari esok. Masih ada aku di sini,” ucap Rio lembut sambil merangkul bahu Ibu Maudy yang masih terisak.​Ibu Maudy mendongak, menatap Rio dengan tatapan penuh syukur yang mengharukan. "Terima kasih, Rio. Ibu tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada kamu. Di saat kami jatuh seperti ini, hanya kamu yang benar-benar membuktikan bakti kamu sebagai menantu."​Rio melirik sekilas ke arah Maudy yang masih membisu, lalu ia merendahkan suaranya, sengaja agar Maudy bisa mendengar. "Itu sudah kewajiban Rio, Bu. Rio tidak mau Maudy dan Ibu menderita lebih jauh lagi. Apalagi setelah semua ke

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 89

    Langkah kaki Maudy terasa berat, seolah-olah lantai rumah sakit yang dingin itu telah berubah menjadi lumpur yang mengisap seluruh tenaganya. Ia membiarkan Rio menuntun bahunya, bukan karena ia menerima kehadiran pria itu, melainkan karena jiwanya telah mencapai titik nadir. Kehampaan yang ditinggalkan ayahnya terasa jauh lebih besar daripada kemarahan yang ia miliki terhadap Rio saat ini.“Bayu, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu dan berpihak pada Rio. Tapi saat ini aku benar benar merasa di titik lemah. Aku bahkan tidak sanggup berkata kata. Bapak satu satunya yang memahami posisi dan isi hatiku, tapi sekarang beliau pergi,” ucap Maudy di dalam hati, sembari melirik sekilas ke arah Bayu.Pandangan mata keduanya sempat bertemu. Dan Bayu bisa merasakan apa yang Maudy rasakan, meski tidak terucap satu kata pun dari Maudy. Biar bagaimanapun, pada saat itu status Rio masih lebih kuat daripada dirinya yang tidak punya hubungan resmi secara hukum. Meskipun dirinya adalah ayah b

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 88

    Suasana di koridor rumah sakit itu terasa begitu berat, seolah dinding-dinding putih di sekelilingnya ikut meratap. Isak tangis Maudy yang semula histeris kini berubah menjadi rintihan lemah yang menyayat hati. Di tengah kekacauan emosi itu, sebuah langkah kaki yang mantap dan berwibawa terdengar mendekat.​Rio muncul dari balik belokan koridor. Ia tidak berlari, tapi langkahnya cepat dan terukur. Wajahnya yang biasanya angkuh kini dia rubah sedemikian rupa. Sepasang matanya dibuat tampak redup, bibirnya terkatup rapat dengan gurat kesedihan yang sangat meyakinkan. Ia berhenti tepat di depan pintu ruangan Bapak Maudy. Dia menarik napas panjang seolah-olah dadanya sesak oleh duka yang hebat.​Begitu melihat Bayu masih berdiri di sana meski telah diusir oleh Ibu Maudy, kilatan kebencian sempat melintas di mata Rio. Namun dengan sangat cepat ia memadamkannya. Baginya, kematian Bapak Maudy bukan sekadar tragedi, melainkan sebuah panggung sandiwara yang sempurna untuk melancarkan serangan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 87

    Namun raut terkejut pada Ibunya Maudy itu hanya untuk beberapa detik. Bukannya berterima kasih pada Bayu, atau menyesal telah merendahkan Bayu yang muncul di wajah Ibunya Maudy, melainkan gumpalan kebencian baru yang lebih pekat dan tudingan lebih buruk yang muncul.​"Bayu? Dari mana pelayan rendahan itu punya uang ratusan juta dalam sekejap? Maudy, kamu jangan mau dibodohi! Kalaupun benar dia yang membayar, Ibu justru makin ngeri. Itu pasti uang haram! Uang hasil kerja gelap atau hasil mencuri dari majikannya! Kamu mau nyawa Bapak diselamatkan pakai uang kotor seperti itu?" bentak Ibu Maudy, bibirnya bergetar karena emosi yang meluap.​"Ibu! Bayu tidak seperti itu!" bantah Maudy, suaranya melemah karena rasa lelah yang luar biasa.​"Halah! Jangan bela pencuri itu di depan Ibu! Ibu tidak sudi berterima kasih kalau memang dia pakai cara kotor untuk pamer di depan kita. Dia sengaja ingin membeli harga diri keluarga kita dengan uang haramnya! Setelah ini Ibu akan minta Rio mengembalikan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 86

    Maudy memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menahan gejolak amarah yang hampir meledak di dadanya. Suara ibunya yang terus-menerus memuji Rio terasa seperti duri yang ditusukkan ke telinganya.​"Bukan Rio, Bu. Bukan dia," sela Maudy dengan suara bergetar, namun tetap berusaha rendah agar tidak memancing keributan di depan ruang operasi.​Ibunya menoleh dengan tatapan meremehkan, satu alisnya terangkat tinggi. "Kalau bukan dia, lalu siapa? Malaikat turun dari langit? Jangan naif, Maudy. Di dunia ini tidak ada yang memberikan uang ratusan juta cuma-cuma tanpa alasan. Rio itu masih suamimu, dia punya tanggung jawab, dan dia punya uangnya. Ya sudahlah, yang jelas dia adalah dewa penyelamat bagi kita sekarang. Kita berhutang nyawa padanya!"​Ibu Maudy mengibaskan tangannya seolah ingin mengusir perdebatan itu. "Dan yang jelas, pasti bukan pria sampah pujaanmu itu yang melunasi! Mana mungkin si Bayu itu punya uang sebanyak itu? Untuk makan besok saja dia mungkin harus menguras keringat le

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 85

    ​Rio melempar senyum kemenangan yang sangat tipis, sebuah seringai yang hanya ditujukan untuk meruntuhkan mental Bayu. Sementara itu, Ibu Maudy terus menghujani Bayu dengan kata-kata kasar, menyanjung Rio setinggi langit seolah pria itu adalah pahlawan yang baru saja dibebaskan dari fitnah.​Bayu tidak membalas. Ia memilih untuk menarik napas panjang dan memutar langkahnya. Namun, ia tidak pergi meninggalkan rumah sakit. Ia justru melangkah menuju bagian administrasi yang terletak di lantai dasar, jauh dari keributan di depan ruang ICU.​Di depan loket administrasi, Bayu mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam legam yang selama ini ia simpan rapat-rapat.​"Lakukan pelunasan untuk seluruh biaya pasien di kamar Melati B1. Jika memang dibutuhkan tindakan medis seperti operasi atau apapun, lakukan. Saya yang akan menanggung biayanya," ucap Bayu dengan suara rendah kepada petugas administrasi. "​Beberapa saat kemudian, Bayu kembali ke lantai atas. Ia melihat Ibu Maudy sedang sibuk berbic

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status