共有

Bab 88

作者: Kak Han
last update 公開日: 2026-03-28 14:44:19

Suasana di koridor rumah sakit itu terasa begitu berat, seolah dinding-dinding putih di sekelilingnya ikut meratap. Isak tangis Maudy yang semula histeris kini berubah menjadi rintihan lemah yang menyayat hati. Di tengah kekacauan emosi itu, sebuah langkah kaki yang mantap dan berwibawa terdengar mendekat.

​Rio muncul dari balik belokan koridor. Ia tidak berlari, tapi langkahnya cepat dan terukur. Wajahnya yang biasanya angkuh kini dia rubah sedemikian rupa. Sepasang matanya dibuat tampak redup
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 96

    Rio bergerak dengan penuh ambisi, mencoba mendominasi setiap inci tubuh Maudy yang kaku bagai es. Ada ego yang besar di dalam dada Rio malam itu. Dia bukan hanya ingin mengambil haknya, tetapi dia ingin membuktikan bahwa dia jauh lebih hebat dari Bayu dalam segala hal, termasuk di atas ranjang.​Rio menyentuh Maudy dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat, mencoba meniru kelembutan yang mungkin pernah diberikan Bayu. Rio memperhatikan setiap nafas Maudy, mencoba mempelajari titik lemah istrinya, seolah sedang melakukan sebuah eksperimen kompetitif. Dia ingin Maudy mendesah, ingin Maudy mengakui kehebatannya, dan ingin menghapus bayang-bayang Bayu dari ingatan istrinya.​"Lihat aku, Maudy. Lihat, siapa yang sedang bersamamu sekarang? Bukan pelayan rendahan itu, tapi suamimu,” bisik Rio dengan suara serak yang dipaksakan.​Maudy tetap memalingkan wajahnya ke samping, menatap gorden jendela yang tertiup angin kecil. Matanya kosong, tidak ada kilat gairah, yang ada hanyalah genangan air

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 95

    ​Maudy menoleh, matanya berkaca-kaca karena kecewa, tertekan dan juga bercampur amarah. "Kamu bukan kepala keluarga di sini. Kamu hanya menumpang di sini, Rio! Ini rumah Bapak. Kamu tidak punya hak untuk mengaturku!" tegas Maudy.​Rio terkekeh tipis, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan tudingan Maudy. "Menumpang? Sebutlah sesukamu. Tapi faktanya, Ibumu yang memintaku tinggal di sini. Beliau memercayakan keselamatanmu dan martabat keluarga ini padaku. Apa kamu tega menghancurkan satu-satunya harapan yang membuat Ibu tetap kuat setelah pemakaman kemarin? Atau, kamu ingin melihat Ibumu juga menyusul untuk di makamkan?” ujar ​Rio sambil menatap Maudy dengan pandangan yang mengunci.“Jangan bicara sembarangan! Setelah kamu menghilangkan nyawa orang tua Bayu, lalu nyawa Bapakku, tidak aku biarkan kamu merenggut nyawa Ibuku!” bentak Maudy. Dia memang kesal pada Ibunya yang memihak pada Rio. Tapi Maudy yakin Ibunya hanya masih buta pada kebenaran saja. "Baiklah, jika kamu menola

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 94

    Pada hari itu, lampu sorot kamera televisi dan kilatan flash dari para jurnalis memenuhi aula gedung perusahaan megah tempat acara serah terima aset milik mendiang orang tua Bayu sedang berlangsung. Di layar televisi yang menyala di ruang tengah rumah Maudy, sosok Bayu tampak berdiri tegap. Ia mengenakan setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna, memancarkan aura kepemimpinan yang selama ini tersembunyi di balik kesederhanaannya.​Seorang pejabat hukum membacakan surat keputusan pengadilan yang menyatakan bahwa seluruh aset keluarga mendiang orang tua Bayu, termasuk perusahaan tekstil raksasa dan properti di pusat kota, serta rumah dan tanah yang dulu ditempati keluarga Haris, kini resmi dikembalikan kepada Bayu sebagai ahli waris tunggal.​Maudy, yang terduduk di depan televisi dengan napas tertahan, merasa jantungnya berdegup kencang. Ada rasa bangga sekaligus haru yang membuncah. Ia segera menoleh ke arah ibunya yang sedang melipat pakaian di sofa.​"Ibu...

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 93

    Pada saat yang bersamaan, ​Rio juga membanting ponsel Maudy ke lantai hingga layarnya retak seribu. Ia menatap Maudy yang kini terisak hebat di atas ranjang.​"Mulai besok, aku akan tinggal di sini. Ibu kamu juga sudah setuju. Jadi, jangan harap ada ruang rahasia lagi untukmu dan pria sampah itu. Kamu akan terus berada di bawah pengawasanku, 24 jam!” seru Rio sembari menatap tajam ke arah Maudy. Yang menandakan ucapannya tidak main main. ​Rio melangkah keluar kamar dan mengunci pintunya dari luar, meninggalkan Maudy dalam kesunyian yang menyesakkan, sementara di luar sana, Bayu mengepalkan tinjunya hingga berdarah, menyadari bahwa perang terbuka kini benar-benar telah dimulai.Malam itu, suasana di meja makan terasa begitu menyesakkan bagi Maudy. Aroma nasi goreng yang biasanya menggugah selera kini justru memicu rasa mual yang hebat di perutnya. Bukan hanya karena kehamilannya, tapi karena kehadiran Rio yang duduk dengan begitu santai di kursi yang biasanya ditempati oleh mendiang b

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 92

    ​"Jujur, Bu... semalam Rio tidak bisa tidur. Rio terus memikirkan betapa bodohnya Rio dulu karena sempat menyakiti hati Maudy. Rio menyesal sekali sudah membiarkan ego Rio menghancurkan kebahagiaan kami," ucap Rio, suaranya sedikit bergetar, akting yang sempurna untuk meyakinkan Ibu Maudy.​Ibu Maudy menoleh. Tanpa butuh waktu lama, dia tersentuh oleh pengakuan itu. "Sudahlah, Rio. Semua orang pernah salah. Yang penting sekarang kamu ada di sini untuk Maudy,” jawab Ibu Maudy.Akting Rio tidak hanya sampai di situ. ​Rio meraih tangan Ibu Maudy, menggenggamnya dengan ketulusan yang palsu. "Rio janji, Bu. Di depan jenazah Bapak kemarin Rio sudah bersumpah. Rio akan menebus semua kesalahan itu. Rio ingin menjaga Maudy dan calon anak kami dengan seluruh hidup Rio. Rio tidak mau Maudy merasa sendirian lagi, apalagi di masa-masa sulit seperti ini.”​Maudy yang berdiri mematung di dekat tangga hanya bisa mencengkeram pegangan kayu dengan kuat. Perutnya terasa mual mendengar kata-kata manis

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 91

    Malam pertama setelah pemakaman, suasana rumah duka yang seharusnya tenang justru terasa mencekam. Karangan bunga yang berjajar di halaman mulai layu, menebarkan aroma kematian yang bercampur dengan bau hio yang masih menyala di ruang tengah. Maudy duduk bersandar di kursi kayu, menatap kosong ke arah foto almarhum ayahnya yang berbingkai hitam.​Ibu Maudy sudah masuk ke kamar lebih awal karena kelelahan, meninggalkan Maudy berdua dengan Rio di ruang tamu yang temaram. Rio tidak lagi memasang wajah sedu sedan. Ia duduk di sofa seberang Maudy, melonggarkan dasinya dengan gerakan kasar, lalu menyandarkan punggungnya dengan angkuh.​"Maudy," panggil Rio, suaranya tidak lagi lembut. Nada bicaranya kini datar dan menuntut.​Maudy tidak menyahut. Ia masih tenggelam dalam dukanya.​"Aku bicara padamu, Maudy. Tatap aku," perintah Rio lebih tegas.​Maudy perlahan mengangkat kepalanya, menatap pria yang selama beberapa hari ini dipuja ibunya sebagai pahlawan. "Apa lagi, Rio? Aku lelah. Aku ing

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status