Share

5. Kau Masih Istriku!

Author: prasidafai
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-24 15:21:28

“Mama, Sera, jangan bicara seperti itu pada Kak Naomi.” Lucy mencoba melerai. “Kak Naomi sudah sangat baik padaku.”

Lucy mengalihkan tatapannya pada Naomi.

“Kak Naomi, maaf jadi seperti ini. Aku sebenarnya tidak berniat memberitahu soal tamu laki-laki Kak Naomi, hanya saja waktu itu aku mengigau dan keceplosan memberitahu Kak Raiden,” lanjut Lucy dengan mata berkaca-kaca.

“Tidak perlu meminta maaf pada Naomi, Lucy,” tegur Raiden lembut. “Memang sudah seharusnya kau memberitahuku, bahwa istri yang aku nikahi ini, bukan lagi wanita yang dulu aku cintai.”

Fitnah keji Lucy menyebar dengan cepat hingga ke telinga para istri perwira.

Saat ada kegiatan khusus istri perwira, Naomi tidak lagi mendapat sambutan hangat dari mereka.

“Ya, begitulah wanita licik. Dia selingkuh dengan pria lain hingga hamil, dan memanfaatkan statusnya sebagai istri Mayor Raiden. Kita semua tahu, perceraian dalam keluarga militer hampir mustahil dikabulkan,” bisik salah satu istri perwira.

Mereka berbisik dengan suara yang bisa didengar oleh Naomi. Bahkan sengaja meliriknya beberapa kali dengan tatapan sinis.

“Hampir mustahil dikabulkan, bukan berarti tidak bisa dikabulkan sama sekali,” balas Naomi sambil mengepalkan tangan dengan kuat.

Sepulangnya Naomi dari kegiatan, dia tidak langsung pulang ke rumah. Naomi pergi ke suatu tempat hingga malam tiba.

“Dari mana saja kamu?” tanya Raiden saat melihat Naomi baru saja turun dari sebuah mobil. “Siapa dia?!”

Raiden menunjuk mobil itu.

“Sopir taksi daring. Kau mau menginterogasinya?” jawab Naomi lelah sambil mengulurkan sebuah dokumen. “Aku baru saja menemui pengacara untuk membuat surat pengajuan cerai. Besok aku minta waktumu sebentar untuk menghadap Letkol Marius, supaya Letkol Marius bersedia memberikan surat izin perceraian pada kita.”

Raiden memelotot. “Kau ingin bercerai dariku supaya bisa menikah dengan selingkuhanmu? Ayah bayi ini?! Tidak akan aku kabulkan, Naomi!”

Darah dalam tubuh Naomi mendidih.

“Kalau kau sangat yakin aku selingkuh dan bayi ini bukan anakmu, kenapa kau masih ingin mempertahankan pernikahan ini?” Naomi bertanya, dadanya naik turun dengan cepat. “Kau takut promosi jabatanmu terganggu karena kasus ini?!”

Raiden melingkarkan tangan besarnya pada leher kecil Naomi dan menekannya dengan kuat.

Napas Naomi tercekat.

“Kau sudah merusak kepercayaanku. Biarlah aku tanggung dan hidupi anak haram dalam kandunganmu, asal kau tidak bisa bersatu bersama selingkuhanmu!” jawab Raiden penuh penekanan.

Raiden merebut dokumen di tangan Naomi dan membakarnya di halaman depan rumah dinas mereka malam itu juga.

Naomi gagal mengajukan cerai ke Letkol Marius, selaku atasan Raiden. Pria itu juga menjadi lebih posesif dengan tidak mengizinkan Naomi keluar rumah.

Suatu pagi, Raiden terbangun lebih pagi dari biasanya karena perasaan was-was yang tidak kunjung hilang dari benaknya sejak Naomi menyerahkan surat pengajuan perceraian.

Ketika Raiden menoleh ke sebelahnya, pria itu terbelalak mendapati Naomi tidak berada di sana, padahal jam masih menunjukkan pukul tiga pagi.

“Naomi?!” panggil Raiden seraya mengernyitkan dahi dan mencari ke dapur.

Namun Naomi juga tidak ada di dapur. Atau bahkan di mana pun.

Jantung Raiden berdegup kencang penuh waspada sekaligus panik. Dia kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya dan menelepon Naomi.

“Di mana kau?” tanya Raiden tajam begitu Naomi menerima panggilannya.

“Aku kira kau tidak akan menyadari kalau aku tidak ada di rumah,” sahut Naomi dari ujung telepon. “Sebentar lagi aku akan melahirkan. Jadi aku pergi ke tempat bibiku untuk menenangkan diri dan melahirkan di sana.”

“Aku tidak mengizinkanmu. Kembali ke rumah sekarang!” perintah Raiden penuh penekanan. “Aku tahu alasanmu sebenarnya pergi dari rumah. Kau ingin nekat hidup bersama selingkuhanmu, walau kau tidak bisa bercerai dariku, bukan?!”

Naomi terdiam.

“Dasar wanita murahan! Ingat, Naomi. Kemana pun kau pergi, kau masih istriku!” bentak Raiden lagi. “Jika sudah puas tidur bersama pria selingkuhanmu, segera pulang ke rumah!”

Raiden menutup panggilan teleponnya sebelum Naomi sempat merespons apa pun. Pria itu berpikir, dengan begitu Naomi akan takut dan kembali.

Namun sampai hari berganti, Naomi masih belum pulang ke rumah.

Raiden menghubungi Naomi kembali. “Kapan kamu sampai di rumah?”

Naomi menghela napas pelan.

“Aku tidak akan kembali ke rumah dinasmu, Raiden,” jawab Naomi.

“Pulang, Naomi! Kamu adalah istri seorang perwira, tugasmu adalah menaati titahku tanpa banyak membantah!” bentak Raiden. “Walaupun kau sudah kotor karena disentuh pria lain, aku tidak keberatan memeliharamu dan anak haram itu.”

Naomi memejamkan mata dan menyandarkan punggung ke sofa saat Raiden lagi-lagi menutup panggilannya secara sepihak.

Raiden terbiasa hidup dikelilingi oleh bawahannya yang selalu mematuhi perintahnya. Hingga tanpa sadar, Raiden memperlakukan Naomi sama seperti mereka.

Termasuk saat Raiden tidak lagi mengizinkannya keluar rumah setelah Naomi nekat menyerahkan surat pengajuan cerai. Rumah selalu dalam keadaan terkunci dari luar saat Raiden bertugas.

Lucy yang memegang kunci cadangannya. Namun gadis itu pun sangat patuh pada Raiden.

Meski begitu, Naomi tidak kehilangan akal.

Malam itu, Naomi menelepon Jenderal Vance Frances, ayah kandungnya yang dikenal sebagai legenda hidup di Markas Besar Tentara Nasional Alveris dan menceritakan semua keluh kesahnya sambil menangis.

“Putri sulungku tidak pernah menangis sebelumnya,” komentar Vance di ujung telepon dengan suara serak menahan emosi. “Jika kau memang ingin bercerai dengan Raiden, ada satu cara yang cukup ekstrem untuk berpisah dengannya, Naomi.”

“Bagaimana caranya?” tanya Naomi sambil mengusap air mata dengan punggung tangan.

“Kita bunuh Naomi Frances. Setelah itu, kau bisa memulai hidup dengan identitas baru,” jawab Vance. “Apa yang Raiden lakukan padamu, tidak bisa dimaafkan. Bahkan, perceraian saja terlalu baik untuknya!”

Vance tidak bisa menyembunyikan amarahnya.

“Papa akan mengurus kematian palsumu. Kau ikuti saja instruksi dari Papa,” sambungnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (4)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
Raiden cemburu buta... sampai tega nyakitin istri dan calon buah hati nya
goodnovel comment avatar
rianur378
ach,,, syukur lah,,, ayah nya Naomi punya ide yang bagus,,, kematian palsu,,, Good Job Ayah
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
nasib Naomi setragis Sydney, disia-siakan oleh suami sendiri saat mengandung.
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   228. Satu Kali Lagi

    Tasya perlahan menghentikan gerakan tangannya. Pisau yang sedari tadi digunakan untuk mengiris lemon diletakkan pelan di atas talenan. Suara kecil dari logam yang menyentuh kayu terdengar begitu jelas di tengah dapur yang mendadak sunyi. Wanita paruh baya itu berbalik. Wajahnya dipenuhi penyesalan. Mata Tasya yang mulai memerah menatap Naomi cukup lama sebelum akhirnya mengembuskan napas berat. “Sejak sebelum kita bertemu di pemakaman dan melihat Dante,” ucap Tasya lirih, “Mama sebenarnya sudah menyadari kalau kamu adalah Naomi.” Naomi membeku. Bibirnya sedikit terbuka. Jantung wanita itu berdetak lebih cepat. Tasya menundukkan kepala sesaat. Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya. “Itu sebabnya, waktu itu Mama memaksamu mengantar Mama pulang,” lanjut Tasya sambil menggenggam kedua tangan Naomi yang mulai dingin. Naomi menatap wajah wanita paruh baya itu tanpa berkedip. “Mama sengaja memasak ayam kukus lemon …” Tasya tersenyum pahit. “Makanan kesukaanmu.” Naomi m

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   227. Misi Raiden Setelah Menikah

    Malam itu adalah malam terakhir mereka menginap di vila kecil yang menghadap laut. Selama satu minggu penuh, Naomi dan Raiden meninggalkan segala urusan dunia, hanya berdua untuk saling menikmati. Tidak ada panggilan kerja, tidak ada jadwal, hanya hembusan angin laut dan suara ombak yang menemani setiap detik keintiman mereka. Tubuh Naomi masih persis seperti yang Raiden ingat. Lembut, hangat, dan begitu responsif di bawah sentuhannya. Begitu pula tubuh Raiden. Otot-otot pria itu tegang dan kulitnya yang terbakar oleh sentuhan Naomi, semuanya masih sama seperti dulu, bahkan lebih kuat dan penuh hasrat setelah sekian lama menahan rindu. Kini, di ranjang besar yang berantakan, Raiden berbaring telentang di samping Naomi dengan napas terengah-engah. Dada bidangnya naik turun cepat, keringat menetes di pelipis dan lehernya. Tangan kanan Raiden masih berada di pinggang Naomi, jari-jarinya sesekali mengusap kulit halus istrinya. Naomi menoleh, rambutnya yang acak-acakan menjuntai di b

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   226. Pesta Sehari Penuh

    Air mata Naomi terus mengalir. Dada Naomi terasa sesak oleh begitu banyak perasaan yang bercampur menjadi satu. Tidak pernah sekalipun Naomi membayangkan bahwa pria yang dulu pernah melepaskannya kini berdiri di hadapannya sambil mengucapkan janji yang begitu indah. Janji yang jauh lebih hangat, lebih dewasa, dan jauh lebih berarti daripada janji yang pernah mereka ucapkan bertahun-tahun lalu. “Kini giliran mempelai wanita.” Pendeta tersenyum lembut. Naomi menarik napas panjang. Dia menggenggam kedua tangan Raiden lebih erat. Tatapan mereka bertemu. Senyum tipis menghiasi bibir Naomi. “Raiden, suamiku.” Raiden terkekeh pelan mendengar panggilan itu. Naomi ikut tersenyum. “Kalau ada seseorang yang mengatakan kepadaku bertahun-tahun lalu bahwa suatu hari aku akan kembali berdiri di altar ini bersamamu, mungkin aku akan menangis karena me

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   225. Jauh Lebih Indah

    Naomi membeku. Wanita itu menutupi mulut, sementara matanya membelalak.Semua ini benar-benar di luar dugaannya.Jantung Naomi berdetak begitu cepat hingga telinganya sendiri seolah dapat mendengar iramanya.Hening hanya berlangsung beberapa detik. Lalu dari berbagai sudut studio terdengar sorakan.“Terima!”“Terima!”“Terima!”Naomi menoleh ke kanan dan ke kiri. Barulah saat itu dia benar-benar memperhatikan wajah-wajah yang sejak tadi duduk di dalam studio.“Papa?”Vance berdiri sambil tersenyum lebar dan mengacungkan kedua ibu jarinya.Di sampingnya, Brandon ikut bertepuk tangan.Alex sudah berdiri sambil bersiul keras.Olivia melambaikan kedua tangannya dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca.Clara tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk penuh semangat.Di baris belakang, Tasya duduk dengan mata sembap, tetapi kali ini senyumnya jauh lebih tenang.

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   224. Sangat Terlambat

    “Apa yang dia punya dibanding aku?”Rahang Raiden masih mengeras saat mengucapkan kalimat itu.Naomi justru tersenyum semakin lebar.Wanita itu mendongak, lalu mengangkat kedua tangannya untuk memegang rahang Raiden.Dengan gemas, Naomi menarik wajah pria itu hingga sedikit menunduk. Jarak mereka kembali menjadi begitu dekat.“Bercanda,” bisik Naomi dengan nada jahil.Raiden masih menatapnya tanpa berkedip.“Lagipula, aku tidak mungkin balas menciummu kalau punya pria lain,” lanjut Naomi sambil tersenyum tipisBeberapa detik berlalu.Raiden mengembuskan napas panjang.“Kurang ajar.”Naomi terkekeh puas.“Aku cuma–”Belum sempat kalimatnya selesai, Raiden sudah kembali mendekat, berniat mencuri satu kecupan lagi.“Ehem!”Suara deham yang sengaja dikeraskan membuat keduanya langsung membeku.Naomi dan Raiden spontan menjauh. Mereka menoleh ber

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   223. Dibanding Aku

    “Mari, ikut saya, Bu. Kita akan menyusul Sera.” Brandon membukakan pintu mobil untuk Tasya. Wanita paruh baya itu mengangguk pelan. Wajahnya masih sembap akibat terlalu lama menangis. “Terima kasih.” Brandon membantu Tasya masuk ke kursi penumpang sebelum mengitari mobil menuju kursi pengemudi. Mobil perlahan meninggalkan halaman apartemen, mengikuti arah ambulans yang telah lebih dahulu membawa Sera. Tatapan Tasya kosong mengarah ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, tetapi semuanya tampak buram di balik genangan air mata yang terus mengisi pelupuk matanya. Brandon beberapa kali melirik ke arah Tasya. “Ibu butuh sesuatu?” Tasya menggeleng pelan. “Saya hanya sedang berpikir, sebenarnya sejak kapan saya gagal menjadi seorang ibu.” Brandon mengembuskan napas panjang. “Saya rasa bukan Ibu yang gagal

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   44. Anak Haram

    Lampu lalu lintas di persimpangan jalan menyala merah. Nicolle terlambat menyadari, setengah detik sebelum akhirnya kakinya menginjak rem dengan cukup keras untuk membuat tubuhnya terdorong ke depan. Dari belakang, klakson panjang langsung menyalak.

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   42. Raiden Tertembak

    “Apa?!” Nicolle tidak bisa menahan diri untuk tidak memekik. Nicolle langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Meski terlambat, karena reaksi spontan tanpa filter itu sudah terdengar. Sama sekali tidak mencerminkan seorang dokter yang menerima laporan kondisi

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   6. Tamu Laki-Laki Naomi

    Raiden berjalan menaiki tiga anak tangga menuju pintu utama. Dia sempat berhenti di gagang pintu, mendadak ragu untuk masuk. Biasanya, Naomi akan berdiri di balik pintu utama setiap kali Raiden pulang. Wanita itu akan tersenyum lembut, lalu mengatakan sesuatu. “Raiden? Kau pulang lebih cepat ha

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   4. Kamar Bayi Kita Bagaimana?

    Lucy mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Naomi. Senyum gadis yang berusia tiga tahun lebih muda dari Naomi itu begitu lebar dan cerah.Namun Naomi tidak tergerak untuk menyambut uluran tangannya. Tatapan Naomi kembali ke manik cokelat Raiden.“Bagaimana dengan aku?” tanya Naomi menahan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status