INICIAR SESIÓN“Mama, Sera, jangan bicara seperti itu pada Kak Naomi.” Lucy mencoba melerai. “Kak Naomi sudah sangat baik padaku.”
Lucy mengalihkan tatapannya pada Naomi. “Kak Naomi, maaf jadi seperti ini. Aku sebenarnya tidak berniat memberitahu soal tamu laki-laki Kak Naomi, hanya saja waktu itu aku mengigau dan keceplosan memberitahu Kak Raiden,” lanjut Lucy dengan mata berkaca-kaca. “Tidak perlu meminta maaf pada Naomi, Lucy,” tegur Raiden lembut. “Memang sudah seharusnya kau memberitahuku, bahwa istri yang aku nikahi ini, bukan lagi wanita yang dulu aku cintai.” Fitnah keji Lucy menyebar dengan cepat hingga ke telinga para istri perwira. Saat ada kegiatan khusus istri perwira, Naomi tidak lagi mendapat sambutan hangat dari mereka. “Ya, begitulah wanita licik. Dia selingkuh dengan pria lain hingga hamil, dan memanfaatkan statusnya sebagai istri Mayor Raiden. Kita semua tahu, perceraian dalam keluarga militer hampir mustahil dikabulkan,” bisik salah satu istri perwira. Mereka berbisik dengan suara yang bisa didengar oleh Naomi. Bahkan sengaja meliriknya beberapa kali dengan tatapan sinis. “Hampir mustahil dikabulkan, bukan berarti tidak bisa dikabulkan sama sekali,” balas Naomi sambil mengepalkan tangan dengan kuat. Sepulangnya Naomi dari kegiatan, dia tidak langsung pulang ke rumah. Naomi pergi ke suatu tempat hingga malam tiba. “Dari mana saja kamu?” tanya Raiden saat melihat Naomi baru saja turun dari sebuah mobil. “Siapa dia?!” Raiden menunjuk mobil itu. “Sopir taksi daring. Kau mau menginterogasinya?” jawab Naomi lelah sambil mengulurkan sebuah dokumen. “Aku baru saja menemui pengacara untuk membuat surat pengajuan cerai. Besok aku minta waktumu sebentar untuk menghadap Letkol Marius, supaya Letkol Marius bersedia memberikan surat izin perceraian pada kita.” Raiden memelotot. “Kau ingin bercerai dariku supaya bisa menikah dengan selingkuhanmu? Ayah bayi ini?! Tidak akan aku kabulkan, Naomi!” Darah dalam tubuh Naomi mendidih. “Kalau kau sangat yakin aku selingkuh dan bayi ini bukan anakmu, kenapa kau masih ingin mempertahankan pernikahan ini?” Naomi bertanya, dadanya naik turun dengan cepat. “Kau takut promosi jabatanmu terganggu karena kasus ini?!” Raiden melingkarkan tangan besarnya pada leher kecil Naomi dan menekannya dengan kuat. Napas Naomi tercekat. “Kau sudah merusak kepercayaanku. Biarlah aku tanggung dan hidupi anak haram dalam kandunganmu, asal kau tidak bisa bersatu bersama selingkuhanmu!” jawab Raiden penuh penekanan. Raiden merebut dokumen di tangan Naomi dan membakarnya di halaman depan rumah dinas mereka malam itu juga. Naomi gagal mengajukan cerai ke Letkol Marius, selaku atasan Raiden. Pria itu juga menjadi lebih posesif dengan tidak mengizinkan Naomi keluar rumah. Suatu pagi, Raiden terbangun lebih pagi dari biasanya karena perasaan was-was yang tidak kunjung hilang dari benaknya sejak Naomi menyerahkan surat pengajuan perceraian. Ketika Raiden menoleh ke sebelahnya, pria itu terbelalak mendapati Naomi tidak berada di sana, padahal jam masih menunjukkan pukul tiga pagi. “Naomi?!” panggil Raiden seraya mengernyitkan dahi dan mencari ke dapur. Namun Naomi juga tidak ada di dapur. Atau bahkan di mana pun. Jantung Raiden berdegup kencang penuh waspada sekaligus panik. Dia kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya dan menelepon Naomi. “Di mana kau?” tanya Raiden tajam begitu Naomi menerima panggilannya. “Aku kira kau tidak akan menyadari kalau aku tidak ada di rumah,” sahut Naomi dari ujung telepon. “Sebentar lagi aku akan melahirkan. Jadi aku pergi ke tempat bibiku untuk menenangkan diri dan melahirkan di sana.” “Aku tidak mengizinkanmu. Kembali ke rumah sekarang!” perintah Raiden penuh penekanan. “Aku tahu alasanmu sebenarnya pergi dari rumah. Kau ingin nekat hidup bersama selingkuhanmu, walau kau tidak bisa bercerai dariku, bukan?!” Naomi terdiam. “Dasar wanita murahan! Ingat, Naomi. Kemana pun kau pergi, kau masih istriku!” bentak Raiden lagi. “Jika sudah puas tidur bersama pria selingkuhanmu, segera pulang ke rumah!” Raiden menutup panggilan teleponnya sebelum Naomi sempat merespons apa pun. Pria itu berpikir, dengan begitu Naomi akan takut dan kembali. Namun sampai hari berganti, Naomi masih belum pulang ke rumah. Raiden menghubungi Naomi kembali. “Kapan kamu sampai di rumah?” Naomi menghela napas pelan. “Aku tidak akan kembali ke rumah dinasmu, Raiden,” jawab Naomi. “Pulang, Naomi! Kamu adalah istri seorang perwira, tugasmu adalah menaati titahku tanpa banyak membantah!” bentak Raiden. “Walaupun kau sudah kotor karena disentuh pria lain, aku tidak keberatan memeliharamu dan anak haram itu.” Naomi memejamkan mata dan menyandarkan punggung ke sofa saat Raiden lagi-lagi menutup panggilannya secara sepihak. Raiden terbiasa hidup dikelilingi oleh bawahannya yang selalu mematuhi perintahnya. Hingga tanpa sadar, Raiden memperlakukan Naomi sama seperti mereka. Termasuk saat Raiden tidak lagi mengizinkannya keluar rumah setelah Naomi nekat menyerahkan surat pengajuan cerai. Rumah selalu dalam keadaan terkunci dari luar saat Raiden bertugas. Lucy yang memegang kunci cadangannya. Namun gadis itu pun sangat patuh pada Raiden. Meski begitu, Naomi tidak kehilangan akal. Malam itu, Naomi menelepon Jenderal Vance Frances, ayah kandungnya yang dikenal sebagai legenda hidup di Markas Besar Tentara Nasional Alveris dan menceritakan semua keluh kesahnya sambil menangis. “Putri sulungku tidak pernah menangis sebelumnya,” komentar Vance di ujung telepon dengan suara serak menahan emosi. “Jika kau memang ingin bercerai dengan Raiden, ada satu cara yang cukup ekstrem untuk berpisah dengannya, Naomi.” “Bagaimana caranya?” tanya Naomi sambil mengusap air mata dengan punggung tangan. “Kita bunuh Naomi Frances. Setelah itu, kau bisa memulai hidup dengan identitas baru,” jawab Vance. “Apa yang Raiden lakukan padamu, tidak bisa dimaafkan. Bahkan, perceraian saja terlalu baik untuknya!” Vance tidak bisa menyembunyikan amarahnya. “Papa akan mengurus kematian palsumu. Kau ikuti saja instruksi dari Papa,” sambungnya.Vance terdiam lama. Sorot mata pria paruh baya itu bergetar saat menatap putrinya sendiri yang kini duduk di samping ranjang dengan air mata membasahi pipi. Naomi menunduk, masih menggenggam tangan Vance erat-erat seolah takut pria itu kembali jatuh sakit kalau dia melepaskannya. Monitor jantung di samping ranjang terus berbunyi stabil. Beberapa detik berlalu sebelum Vance akhirnya mengembuskan napas panjang. “Sepertinya kamu yang terlalu emosional, Naomi.” Salah satu sudut bibir Vance terangkat tipis. “Bukan Papa.” Naomi langsung menghapus sisa air matanya sambil mengalihkan pandangan sesaat. Wanita itu mendecakkan lidah pelan. “Sebelum Papa yang emosional dan drop lagi,” balas Naomi lirih, “lebih baik aku duluan yang emosional.” Vance tersenyum miring. Senyum kecil itu membuat wajah pria paruh baya tersebut tampak sedikit lebih hidup dibanding beberapa menit lalu. Naomi menghela napas pelan sambil kembali duduk tegak. Ruangan itu akhirnya terasa sedikit lebih
Kalimat itu langsung membuat tenggorokan Naomi terasa tercekat.Wanita itu menggigit bibir bawahnya keras, berusaha menahan sesuatu yang sejak tadi terus menekan dadanya dari dalam.Ruangan mendadak terasa terlalu sunyi.Monitor jantung masih berbunyi stabil di samping ranjang, tetapi suara itu justru membuat suasana semakin sesak.Brandon yang berdiri tidak jauh dari pintu langsung memahami situasinya tanpa perlu diberi tahu.Pria itu segera berdeham pelan lalu mengarahkan dokter dan perawat keluar.“Dok, bisa kita bicara di luar?” tanya Brandon tenang.Dokter mengangguk tipis.Satu per satu mereka keluar dari kamar bersama Brandon tanpa banyak bicara, memberi ruang bagi Naomi dan Vance.Pintu kamar akhirnya tertutup pelan.Naomi menunduk beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan dengan mata mulai berkaca-kaca,“Aku baik-baik
Dada wanita itu langsung terasa sesak.Jari-jari wanita itu mengencang di tali tas laptop, sementara napasnya mulai memburu di balik masker yang menutupi setengah wajahnya.Beberapa detik Naomi hanya diam membelakangi Raiden.Perlahan Naomi menoleh. Tatapan wanita itu jatuh pada tangan Raiden yang masih menggenggam pergelangan tangannya erat, seolah pria itu takut Naomi benar-benar pergi menjauh lagi.Naomi menghempaskan tangan Raiden.“Kamu tidak mengakuinya saat dia masih di dalam kandunganku, bahkan kamu menghina dia sebagai anak haram!” desis Naomi penuh penekanan.Raiden membeku.Wajah pria itu seketika memucat. Raiden mendadak lemas, seolah seluruh tenaganya direnggut hanya dengan satu kalimat Naomi tadi.Ingatan tentang hari itu kembali menghantam kepalanya tanpa ampun.Tatapan Naomi yang penuh luka, tangisan yang mati-matian Naomi tahan, dan dirinya s
Jam di dinding kamar Vance menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh menit ketika Aveline akhirnya menyerah pada kantuknya. Aveline tertidur pulas di sofa panjang dekat jendela. Tubuh kecil itu meringkuk di balik selimut sambil memeluk stiker kelinci yang sejak tadi tidak dilepaskannya. Rambutnya sedikit berantakan menutupi dahi. Naomi berdiri di samping sofa beberapa detik lebih lama. Tatapannya melunak. Perlahan wanita itu membenarkan posisi selimut Aveline sampai menutupi bahunya, lalu menyingkirkan beberapa helai rambut dari wajah putrinya. “Ave tidur yang nyenyak ya,” bisik Naomi lirih. Naomi membungkuk, mengecup kening putrinya lama sebelum akhirnya berdiri lagi. Pandangan Naomi sempat berpindah pada Vance yang masih terbaring diam di ranjang perawatan. Pria paruh baya itu masih belum sadar. Namun entah kenapa, ruangan tadi terasa jauh lebih hidup sejak ada Aveline di sana. Naomi mengembuskan napas pelan lalu mengambil tas dan laptopnya dari meja kecil dekat
Dokter itu melirik Naomi, seolah memastikan apakah wanita itu boleh mendengar tentang kondisi Vance atau tidak.“Dia aman,” sela Brandon meyakinkan.Dokter itu akhirnya menganggguk.“Jenderal Vance sudah melewati masa kritis.”Naomi mengembuskan napas lega.Namun sebelum rasa lega itu benar-benar terbentuk, dokter tersebut melanjutkan kalimatnya.“Tetapi sampai sekarang beliau masih belum sadarkan diri.”Naomi terdiam beberapa detik di depan pintu ruang VVIP itu.Setelah dokter itu pergi, Brandon mempersilakan, “Silakan.”Naomi mengangguk sambil mengerjapkan mata beberapa kali.Wanita itu menggenggam erat handle pintu, sementara napasnya terasa sedikit berat di balik masker.Di sampingnya, Aveline mendongak bingung.“Mama?” panggil gadis kecil itu pelan.Naomi akhirnya tersadar dari lamunannya. Wanita it
Naomi mengangkat kedua alisnya. “Pindah rumah sakit?” ulang wanita itu pelan, jelas terkejut. Tatapan Naomi langsung beralih pada Brandon, meminta penjelasan lebih lanjut. “Tidak dijelaskan alasan dan ke mana Mayor dipindahkan. Data seorang Mayor pasti bersifat rahasia,” jelas Brandon. Naomi terdiam beberapa detik. Wanita itu melirik Aveline yang masih berdiri di depannya dengan wajah kecewa. Naomi mengembuskan napas perlahan. “Mama juga tidak tahu, Ave.” Aveline langsung menegakkan badannya dengan wajah penuh solusi yang dia pikir sangat jenius. “Coba telepon, Ma!” usul Aveline. Naomi refleks melirik ponselnya sendiri yang tergeletak di atas meja. Brandon ikut melirik, diam-diam penasaran apakah Naomi benar-benar akan melakukannya. Aveline menggu







