ANMELDEN“Apa?!” Nicolle tidak bisa menahan diri untuk tidak memekik.
Nicolle langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Meski terlambat, karena reaksi spontan tanpa filter itu sudah terdengar. Sama sekali tidak mencerminkan seorang dokter yang menerima laporan kondisi pasien. Lebih mirip seorang istri yang baru saja mendapat kabar buruk tentang suaminya. Nicolle mengerjapkan mata beberapa kali. Dia berusaha mengontrol dan merapikan rauNaomi membuka mulut.Namun sebelum sempat menjawab, ponselnya berdering nyaring. Getaran itu memecah ketegangan yang menyelimuti koridor.Naomi menunduk.Nama yang muncul di layar membuat dahinya sedikit mengendur.[Mayor Raiden.]Olivia ikut melirik layar ponsel itu.“Dari Mayor Raiden?” tebak Olivia.“Iya.” Naomi mengangguk pelan.“Kalau begitu saya lanjut bekerja dulu, Dokter.”Tanpa menunggu jawaban, Olivia langsung berbalik.Beberapa langkah kemudian wanita itu masih sempat melambaikan tangannya.“Dokter berutang cerita pada saya!” teriak Olivia.“Ya, ya.” Naomi tidak bisa menahan senyum tipis.Naomi mengangkat ponselnya.“Ya, Raiden?” Naomi menempelkan ponsel ke telinga sambil menatap lobi rumah sakit yang terlihat ramai dari kejauhan.Namun senyum kecil yang sempat muncul itu lenyap hanya dalam hitungan detik.Wajah Naomi dengan cepat
Sesuatu menghimpit dada Naomi. Tatapannya masih terpaku pada pintu ruangan tempat Clara dirawat.Naomi memang belum lama mengenal Clara. Bahkan beberapa minggu lalu mereka masih saling menatap sinis hampir setiap kali bertemu.Namun sekarang, wanita itu terbaring tidak sadarkan diri. Naomi tidak bisa menghentikan satu pikiran yang terus berputar di kepalanya.‘Clara mengalami semua ini karena aku,’ batin Naomi sambil mengepalkan tangan.“Bagaimana dengan keluarganya?” Raiden menatap Henry dengan wajah serius. “Apa mungkin ada yang datang?”Naomi menoleh sekilas. Dia tahu apa yang sedang dipikirkan Raiden.Dalam situasi seperti ini, emosi keluarga korban bisa meledak kapan saja.Jika keluarga Clara tahu bahwa kecelakaan ini mungkin berkaitan dengan konflik Naomi dengan seseorang, bukan tidak mungkin mereka akan menyalahkan Naomi.Meski Naomi tidak terlibat secara langsung.Henry menggeleng pelan. “Tidak
Raiden perlahan melepaskan pelukannya. Kedua tangan pria itu berpindah ke bahu Naomi.Tatapan mereka bertemu di bawah sorot lampu helipad yang terang.“Jangan bicara sembarangan,” pinta Raiden. “Tidak akan ada yang berani melakukan hal buruk padamu, selama kamu ada di bawah pengawasanku.”Naomi tahu pria itu tidak menyukai kalimat yang baru saja dia ucapkan.Kalimat tentang dirinya yang bisa saja mati. Karena itu, Naomi hanya tersenyum tipis.Senyum kecil yang tidak berhasil menghilangkan kekhawatiran dari wajah Raiden.Beberapa saat kemudian, mereka meninggalkan rumah sakit.Karena Raiden sedang berada di Palvenia, pria itu bersikeras mengantar Naomi kembali ke rumah yang dulu pernah ditempati Naomi dan Aveline.Rumah itu masih sama. Tenang, sepi, dan penuh kenangan.Begitu masuk ke dalam, Naomi baru saja meletakkan tasnya ketika Raiden sudah bergerak lebih
Naomi membeku.Sementara itu, Dante justru tertawa.“Lihat wajahmu,” gumam Dante.Jantung Naomi berdebar sangat kencang.Darah seolah mengalir mundur dari wajahnya. Tubuhnya terasa ringan sekaligus lemas.Namun bertahun-tahun hidup dalam kebohongan membuat Naomi terbiasa menyembunyikan kepanikan.Naomi perlahan menarik napas, memaksa dirinya tetap tenang.“Aku tidak mengerti kenapa kamu menyebut nama mendiang kakakku,” tukas Naomi.Tatapan Dante semakin dalam. Lalu pria itu tersenyum licik.“Awalnya aku juga menyangkal itu. Namun kemudian aku mengingat sesuatu,” balas Dante. “Malam itu kamu bilang bahwa dirimu yang sekarang bukanlah dirimu yang sebenarnya. Kamu bilang ada banyak masa lalu yang kamu sembunyikan. Itu alasanmu untuk terus mendorongku menjauh. Sekarang semuanya menjadi jelas.”Dante tertawa pelan.Naomi ingat dia pernah mengatakan hal itu saat Dante terus mendesaknya membe
Seakan bisa mendengar gumaman itu, Dante langsung menoleh.Tatapan mereka bertemu. Jantung Naomi spontan berdegup lebih keras.Dante melambaikan salah satu tangannya untuk menyapa. Pria itu berjalan lurus ke arah Naomi.“Nao?” Suara Raiden terdengar dari ponsel.Naomi tersentak. Dia hampir lupa kalau panggilan video mereka masih tersambung.Di layar, Raiden sudah duduk tegak di atas ranjang. Tatapannya menajam.“Dokter Nicolle,” panggil Raiden lebih tegas. “Jangan matikan panggilan video kita.”Naomi membuka mulut untuk menjawab. Namun pada saat yang sama layar ponselnya berkedip, lalu mati sepenuhnya.Naomi membeku. Dia menekan tombol daya beberapa kali, tetapi tidak ada respons.Baru saat itulah Naomi teringat sesuatu. Hari ini dia sama sekali belum mengisi daya ponselnya.“Nicolle.” Suara berat Dante terdengar dari depan meja.Naomi mengangkat kepala.Pria itu sudah berdiri
Naomi mengernyitkan dahi.Clara tampak sedikit salah tingkah.“Saya tahu itu bersifat pribadi,” jelas Clara. “Kalau Dokter tidak mau menjawab juga tidak apa-apa.”Naomi menatapnya beberapa saat. “Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”Clara menghela napas panjang. Tatapannya beralih pada beberapa pasien yang sedang berjalan santai di jalur setapak.“Kalau memang hubungan Dokter dan Mayor sangat dekat ...” Clara menggigit bibir bawahnya sejenak. “Saya punya teori kenapa Tuan Dante melakukan itu.”Naomi terdiam. Keningnya berkerut semakin dalam.Kata-kata Clara berputar di kepalanya beberapa kali sebelum sebuah kemungkinan muncul.Lalu pada saat yang hampir bersamaan …“Karena Dante cemburu?” tanya Naomi.“Karena Tuan Dante cemburu,” sambung Clara.Keduanya spontan saling menatap.Mata Clara membola. Wanita itu langsung mengangguk beberapa kali.“Tidak ada alasan lain
Pagi itu, Lucy hampir menjatuhkan ponselnya sendiri. Wanita itu baru saja mengenakan cardigan krem dan bersiap berangkat menuju sekolah sementara untuk mengajar anak-anak korban perang ketika notifikasi pesan dari Dante muncul di layar. [Sebenarnya kamu bisa membujuk Jenderal Viktor atau tidak?]
Dante bukan orang yang terbiasa bersabar.Namun pagi itu dia sudah cukup sabar duduk di berhadapan dengan Nicolle selama sepuluh menit, pura-pura membaca dokumen di tangannya, sambil memperhatikan dari sudut mata bagaimana wanita itu memeriksa layar ponselnya untuk ketiga kalinya da
Nicolle mengepalkan tangan kuat-kuat di balik cardigan tipisnya. Namun wajahnya tetap datar.Tidak ada satu pun emosi yang dia biarkan lolos di depan Lucy.Lucy tampak puas melihat reaksi kecil itu. Wanita itu segera mengeluarkan ponselnya sambil terkekeh pelan.“Jangan marah dulu, Dokter,” ucap Lu
Pukul 10 tepat.Ketika pintu ruangan 112 terbuka, udara di dalam langsung terasa berbeda.Nicolle melangkah masuk dengan wajah dingin dan punggung tegak. Namun, begitu matanya bertemu Raiden, suasana mendadak menjadi canggung.Bayangan kemarin siang muncu







